Satu Motor

1363 Words
Tak terasa waktu terus berlalu, kini aku sudah memasuki semester dua di kelas X SMA. Bahkan sekarang aku mulai disibukkan dengan beragam macam tugas dari guru-guru di sekolahku. Seperti saat ini, setelah selesai menonton acara teater untuk memenuhi nilai mata pelajaran bahasa daerah, aku kembali disibukkan dengan mengerjakan tugas kelompok yang sampai harus membawa diriku pergi jauh dari pusat kota. Ya, sekarang aku akan membuat film yang mengandung unsur negosiasi untuk memenuhi nilai mata pelajaran bahasa Indonesia. Tugas ini dilakukan secara berkelompok dan parahnya aku harus kembali menguatkan hati karena satu kelompok lagi dengan Arfan, sosok laki-laki yang kini sedang aku coba hapus dari dalam hati dan pikiranku. Seperti rencana yang sudah didiskusikan bahwa pembuatan film itu akan berlangsung di rumah Nabila yang berada jauh dari pusat kota. Jarak rumah Nabila dengan sekolah cukup jauh. Anggota kelompokku memilih lokasi di rumah Nabila bukan tanpa alasan, karena pada kenyataannya memang hanya keadaan rumah Nabila yang cocok untuk dijadikan tempat pembuatan film negosiasi tersebut. Dalam kelompok bahasa Indonesia ini Arfan yang berperan sebagai ketua kelompok dengan anggota antara lain, aku, Nabila, Dewi, Husein, Hendra, Yuri, dan Nadya. Sejak aku tahu bahwa diriku kembali satu kelompok dengan Arfan, aku mulai kembali dilanda oleh perasaan tidak nyaman. Aku selalu berdo'a kepada Allaah agar aku tidak kembali berlemah hati jika berurusan dengan Arfan. Walau bagaimanapun jangan lupakan bahwa Arfan yang selalu berbicara lemah lembut terhadap semua perempuan, tidak kecuali kepadaku. Meski begitu, tetap saja aku merasa bahwa cara Arfan berinteraksi denganku lebih berbeda daripada berinteraksi dengan perempuan lainnya. Arfan akan lebih lemah lembut, sopan, dan canggung kepadaku. Cara Arfan bersikap keadaku seolah ia sangat menghormati dan menghargaiku sebagai wanita muslimah yang sedang berusaha menjaga diri. Hal inilah yang justru membuatku takut dan sulit untuk menguatkan hati agar bisa terhindar dari zina hati. Satu kekurangan yang aku sayangkan dari diri Arfan, yakni Arfan yang walaupun cukup baik dalam lisan dan perbuatannya, tapi ia belum hijrah dan masih terbawa arus oleh pergaulan teman di kelas. Contohnya, terbawa arus oleh sikap kurang baik karena terlalu banyak bergabung dengan Lia, Lala, Dewi, Angga, dll. Dengan kata lain Arfan masih belum bisa mengutamakan agama dalam hidupnya dan masih berada dalam fase terombang-ambing. Berbeda sekali dengan diriku yang justru lebih cenderung selalu berusaha lebih mengutamakan agama dibandingkan dengan yang lainnya. Bukan hanya itu, bahkan saat kegiatan pembuatan film di rumah Nabila pun Arfan yang notabennya sebagai ketua kelompok, ia justru malah mendukung kelalaian anggota kelompok lainnya yang mengulur-ngulur waktu sholat wajib menjadi di akhir waktu. Sedangkan aku yang saat itu memang sedang berhalangan untuk melakukan sholat, aku hanya bisa memperingati teman kelompokku semampuku saja. Walaupun bisa dikatakan gagal, tapi setidaknya aku sudah berusaha mengingatkan dan memberitahu mereka agar tidak mengakhirkan waktu sholat wajid. Hal ini benar-benar membuatku kecewa sekaligus sedih, terutama kepada Arfan. Terkadang aku juga merasa heran terhadap perasaanku sendiri, mengapa pula aku bisa menyukai Arfan dalam diam? Padahal jika dilihat-lihat saat itu Arfan sama sekali tidak terlihat agamais, bahkan sering berdekatan dengan perempuan nonmahrom ketika di sekolah, walaupun tidak sampai pacaran. Aku hanya merasa kagum kepada Arfan karena laki-laki itu termasuk laki-laki yang pintar dan selalu bersikap baik terhadap sesama, terutama kepada perempuan. Terlebih aku menyukai Arfan karena ia termasuk laki-laki yang cukup perhatian terhadap kebersihan. Selama di kelas, tak jarang aku memang memperhatikan gerak-gerik Arfan tanpa sengaja. Aku melihat Arfan selalu bersikap apik, rapih, dan bersih terhadap semua alat-alat kebutuhannya dan aku sangat menyukai laki-laki seperti itu. Mungkin hanya karena itulah aku bisa menyukai Arfan. Tapi aku tetap selalu merasa sedih, karena tidak seharusnya aku menyukai dan mencintai seorang laki-laki bukan karena agamanya. Padahal perkara agama yang mesti lebih diutamakan. Sedangkan Arfan? Aku merasa sedih pada diriku sendiri karena belum bisa menjaga pandanganku dari yang tidak halal. Hingga akhirnya benih rasa tidak halal itu tumbuh akibat dari perbuatanku sendiri. Allaah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya." (Q.S An-Nuur ayat 31). ...... Akhirnya waktu pulang pun tiba, kini aku dan kelompokku baru saja menyelesaikan pembuatan film negosiasi tepat di sore hari, meskipun belum selesai semuanya karena masih ada adegan-adegan yang belum sempat dibuat. Ketika sore itu sebelum pulang, ban motor Nadya tiba-tiba saja kempes dan harus di bawa ke bengkel terdekat dari rumah Nabila. Motor Nadya ini tadi digunakan untuk pergi menuju ke rumah Nabila denganku yang ikut dibonceng di motor tersebut. Nadya sengaja memberi aku tumpangan karena aku tidak memiliki motor. Jangankan memilikinya, mengendarainya saja aku belum bisa. Saat akan pulang karena motor Nadya masih berada di bengkel, jadilah saat akan pergi keluar dari perkomplekkan rumah Nabila, aku dan Nadya harus pergi ke bengkel terlebih dahulu, baru setelahnya pulang. Sedangkan Yuri, Dewi, dan Hendra yang saat itu membawa motor sendiri, mereka memutuskan untuk pulang lebih duhulu karena hari sudah semakin sore. Aku dan Nadya bingung bagaimana cara mengambil motor itu di bengkel karena jarak rumah Nabila dengan bengkel tersebut lumayan jauh meskipun bengkel itu adalah yang terdekat dari perkomplekkan rumah Nabila. Tidak mungkin jika aku dan Nadya harus berjalan kaki menuju bengkel itu, sedangkan hari sudah semakin sore. Pikirku, bisa-bisa menguras waktu dan kami berdua pulang malam hari. Aku dan Nadya memang takut pulang jika sampai terlalu malam, jangan lupakan letak rumah Nabila yang jauh dari pusat kota, sedangkan rumahku dan Nadya dekat dengan pusat kota. "Nadya, kamu ikut sama aja, aku yang antarkan kamu pakai motor aku ke bengkel. Setelah itu baru kita akan pulang sama-sama." Seloroh Husein, memberi saran. "Kalau aku sama kamu, terus gimana Haneefa?" tanya Nadya, terdengar mengkhawatirkanku. Husein menoleh ke arah Arfan yang dilihat laki-laki itu sedang duduk tenang di atas motornya, seolah keduanya telah merencanakan sesuatu. "Haneefa ikut sama Arfan, dibonceng sama Arfan pakai motor dia." Jawab Husein, kontan membuatku terkejut. "A-apa?" "Iya, Fa. Kamu ikut sama Arfan aja sampai bengkel. Setelah sampai di bengkel nanti, 'kan, Nadya ambil motornya lagi yang udah selesai diperbaiki, jadi nanti kamu bisa naik motor Nadya lagi untuk pulang. Gak selamanya sama Arfan, kok, tenang aja. Cuma sementara aja sampai bengkel." Seloroh Husein, seolah paham dengan kekhawatiranku yang akan duduk satu motor dengan Arfan. Mendengar perkataan Husein itu, aku pun hanya bisa terdiam tanpa berkomentar. Sedangkan Arfan yang masih duduk tenang di atas motornya, ia malah terlihat biasa saja. Namun walaupun begitu, aku tetap bisa melihat bahwa Arfan juga sedang menyimpan sesuatu di dalam benaknya setelah mendengar perkataan Husein. Hal itu cukup terlihat dari ekspresi wajah Arfan yang jelas berbeda saat melihat ke arahku. Satu hal yang mesti diketahui bahwa selama satu kelas, aku merasa Arfan ini semakin hari semakin bersikap berbeda terhadapku. Sejak aku mengetahui perasaanku terhadap Arfan, aku memang selalu menjaga jarak dengannya, tapi tidak dengannya. Namun, saat waktu semakin berlalu, apalagi di semester dua ini, Arfan malah ikut juga menjadi lebih menjaga jarak denganku. Bahkan aku sampai merasa bahwa Arfan ini sangat berbeda dengan Arfan yang duhulu. Meski demikian, Arfan masih tetap bersikap baik kepadaku. "Ayo, naik!" Seru Arfan lembut, saat aku baru saja berdiri tepat di samping motornya. Jujur saja, saat itu aku merasa sangat gugup karena ini adalah pertama kalinya aku harus satu motor dengan Arfan dan aku berjanji ini akan menjadi pertama dan terakhir kalinya satu motor dengan Arfan jika ia bukanlah jodohku. Dengan perlahan dan cukup hati-hati, meski ragu dan malu, aku mulai menaiki motor Arfan dan duduk di belakangnya dengan memberi jarak agar tidak terlalu dekat dan tidak bersentuhan. "Udah?" tanya Arfan, setelah merasakan motornya sudah ditumpangi olehku. "Hm, udah " Jawabku pelan, nyaris tak terdengar. Setelah mendengar jawabanku itu, Arfan pun mulai men-starter dan melajukan motornya menuju bengkel. Selama diperjalanan tidak ada obrolan di antara kami berdua. Hanya ada keheningan saja yang menyelimuti. Berbeda sekali dengan Husein dan Nadya yang satu motor dan terlihat asik mengobrol dan bercanda saat diperjalanan menuju bengkel. Sedangkan, aku dan Arfan cenderung sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku dan Arfan sendiri terlihat seperti tidak berani untuk memulai obrolan apapun. Saat itu dalam diam selain terus beristighfar kepada Allaah karena telah satu motor dengan laki-laki nonmahrom, aku juga dapat merasakan bahwa Arfan terlihat canggung terhadapku. Sejak saat itulah, aku dan Arfan untuk pertama kalinya dapat satu motor walaupun tidak lama karena setelahnya aku kembali satu motor dengan Nadya untuk pulang. Bagaikan Dandelion 10.04.21 Sfrdssyh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD