Pagi ini aku sedang duduk di depan ruang kelas yang sudah satu minggu yang lalu kelas inilah yang membuat detak jantungku terus berdetak tidak tenang. Bagaimana tidak tenang, pasalnya ruang kelas yang aku maksudkan adalah ruang kelas ujian akhir semester satuku di kelas X. Sungguh, pagi ini aku datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya bersama dengan Lyana agar kami bisa kembali belajar terlebih dahulu di sekolah sebelum ujian dimulai. Seperti sekarang, disaat suasana sekolah masih nampak sepi dan sunyi, aku dan Lyana mulai sibuk membaca buku pelajaran untuk belajar dan menghafalkan ulang materi yang akan diujikan nanti.
Dengan duduk lesehan di teras depan kelas, aku dan Lyana nampak begitu serius membaca setiap tulisan yang ada dibuku kami.
"Hoaaammm~" Lyana menguap, setelah beberapa menit kami habiskan waktu berdua dalam diam dan hening dengan membaca buku.
"Masih belajar, ya, Fa?" Tanya Lyana, mau tak mau membuat aktivitasku yang sejak tadi sedang sibuk dengan buku terhenti dan beralih menolehnya.
Aku mengangguk. "Hmm, tapi aku rasa udah cukup, deh. Aku capek." Jawabku, mengundang kekehan kecil dari Lyana.
"Hihihihi, aku yakin semalaman pasti kamu udah habis-habisan belajar, 'kan?" Tanya Lyana, menebak.
Aku mengendikan bahuku. "Entahlah, aku gakk seambis itu kalau kamu lupa." Jawabku dengan nada cuek, membuat Lyana tersenyum.
"Semoga Allaah mudahkan ujian kita ya, Fa." Ujar Lyana.
Aku pun tersenyum mendengar ucapannya. "Hmm, aamiin. Semoga."
"Haneefa!! Lyana!!"
Antensiku dan Lyana saat itu juga langsung beralih pada seseorang yang baru saja berteriak memanggil nama kami. Setelah melihat siapa pemilik suara itu, aku dan Lyana pun tersenyum.
"Haiii." Sapa Muthia, setelah ia ikut bergabung duduk bersama denganku dan Lyana.
Ya, seseorang yang baru saja memanggil tadi adalah Muthia.
"Kalian lagi apa? Pagi banget kalian datang ke sekolah." Tambah Muthia, terheran.
"Iya, Mut. Kita sengaja datang lebih pagi ke sekolah karena mau hafalin ulang beberapa materi lagi sebelum ujian nanti." Jawab Lyana, mewakili.
Muthia menatap Lyana dengan seringaian jahil.
"Oohh, aku sekarang paham. Apa kalian juga lagi buat contekkan?" Tuduh Muthia, kontan membuatku dan Lyana menggelengkan kepala dengan cepat.
"Nggak, kita gak kayak gitu, ya. Enak aja kalau ngomong!" Kataku, sedikit sewot dan membuat Muthia terkekeh.
"Ih Haneefa, sensitif banget, sih. Aku, 'kan, cuma bercanda. Lagian mana ada seorang gadis sepolos Haneefa dan Lyana mau melakukan hal selicik itu. Benar, 'kan?" Goda Muthia, akhirnya.
"Ish! Apaan, sih!!" Gumamku, sebal.
"Main tuduh tanpa bukti, heuu~" Lyana menimpali seraya menjulurkan lidahnya kepada Muthia, mengejek.
"Ih, Lyana!" Balas Muthia, cemberut mendapat ejekan seperti itu.
"Aku, 'kan, cuma bercanda. Kalian, kok, sensitif. Ahh, aku tahu! Kalian pasti lagi pada pms, ya?" Seloroh Muthia, berakhir bertanya.
"Mut, jangan mulai, deh." Tegurku gemas kepada sahabatku yang satu ini yang memang sangat senang menggoda apalagi jika sedang bersama Lyana.
Muthia pun kembali terkekeh mendapat teguran gemas dariku.
"Maaf, hehe."
Setelah itu kami bertiga mulai kembali disibukkan dengan aktivitas masing-masing, yakni kembali membaca buku selagi jam bel masuk ujian belum berbunyi. Namun itu tidak berlangsung lama, setelah ruang kelasku mulai kedatangan sekelompok teman yang paling aku hindari akhir-akhir ini sejak kejadian TOD beberapa waktu yang lalu. Ya, sekelompok itu adalah mereka, yakni Lia, Lala, Dewi, Wita, Nadya, Hendra, Angga dan Arfan tentunya.
Melihat sosok Arfan, entah mengapa tanpa permisi ada sebuah denyutan ngilu di dalam hatiku. Segera aku memalingkan kembali wajahku pada buku agar tidak terlalu lama melihat mereka yang baru saja datang.
"Ujian hari ini kamu belajar sampai bab berapa, Ya?" Tanya Hendra kepada Lia saat mereka berjalan melewatiku, Muthia, dan Lyana yang masih duduk lesehan di lantai yang berada di depan kelas.
"Aku belajar semua bablah, Hen." Jawab Lia dengan suara samar terbawa angin karena ia sudah berjalan menjauh bersama sahabat-sahabatnya dariku yang masih bergeming di tempat bersama kedua sahabatku.
"Itu ... gengnya Lia, ya?" Tanya Lyana, memecahkan keheningan setelah kepergian Lia, dkk, dari hadapan kami bertiga.
Aku menoleh Lyana.
"Mereka gak buat geng, Ly." Jawabku, meralat.
"Ohya? Terus kenapa, ya? Kok, aku melihat mereka kayak gitu? Mereka kelihatan selalu bersama dan cuma mereka-mereka aja yang kelihatannya akrab sampai kayak gitu, sedangkan sama yang lain nggak gitu." Seloroh Lyana, mulai berspekulasi tentang teman-teman satu kelasku.
"Mereka emang begitu, Ly. Di kelas kita tuh pertemanan terbagi menjadi beberapa kubu, kubu Lia sama en de gengnya itu misalnya. Kayak yang kamu lihat barusan." Balas Muthia, kontan membuat Lyana menatapnya tak percaya.
"Jadi benar, mereka buat geng?" Tanya Lyana, terkejut.
"Bukan geng, Ly." Aku menimpali cepat, kembali meralat ucapannya.
Karena ucapanku itu, membuat Lyana seketika tersenyum malu.
"Iya bukan geng, tapi maksudnya, kubu?"
Muthia mengangguk. "Iya, kubu. Kubu Lia itulah yang paling sering banyak mendapat pujian, penghargaan dan penghormatan yang dilakukan oleh semua teman di kelas."
"Sehebat itu?" Lyana membeo tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Muthia.
"Ayolah Ly, kamu gak usah polos. Kamu tahu bukan kalau Lia, Lala dan Arfan, mereka kalau di kelas kayak apa? Mereka cukup pintar dan hal itulah yang membuat mereka banyak mendapatkan teman." Terang Muthia, gemas.
"Yaa Allaah ... terus kalian, gimana?" Tanya Lyana, terlihat ragu dan khawatir.
"Kita netral, gak ikut kubu manapun dan berteman dengan siapa aja di kelas." Jawabku, setelah lama terdiam.
......
Setelah melalui sesi satu dalam ujian mata pelajaran ekonomi, kini tibalah waktu istirahat, jeda menuju sesi kedua. Aku yang memang setiap ujian identik memakai waktu istirahat untuk kembali belajar, aku pun tidak memutuskan meninggalkan kelas meskipun sedang jam istirahat. Ketika bel istirahat berbunyi, kelas ujianku mulai kedatangan teman-teman Arfan, yakni Lala, Hendra, Dewi, dan Nadya. Perlu diketahui bahwa untuk ruang ujian kali ini aku hanya satu kelas dengan sebagian teman dari teman di kelasku. Sedangkan sebagian teman lainnya berada di kelas lain dan merupakan suatu hal yang tidak diinginkan olehku, yakni satu kelas dengan hampir semua teman-teman Lia yang bisa dikatakan cukup famous.
Selama di kelas ujian, aku hanya menghabiskan waktu di mejaku sendiri seraya membaca buku persiapan untuk ujian selanjutnya. Selama itu pula tidak jarang, sesekali aku melirik ke arah Lia, Arfan, dan kawan-kawannya yang saat ini sedang asik berkumpul di meja Lia sembari mengobrol dan bercanda bersama. Melihat semua itu, terbesit perasaan iri dalam hatiku melihat kedekatan mereka. Namun jika teringat dengan Muthia, rasa iri itu seketika berubah menjadi rasa kecewa, utamanya kecewa terhadap sosok yang selama ini aku sukai dalam diam.
Arfan.
Aku masih ingat dengan kejadian saat dimana Muthia menangis karena disebabkan oleh ulah mereka, tidak terkecuali oleh Arfan. Cukup sudah aku membiarkan hatinya terlena terhadap Arfan, aku tidak ingin lagi.
"Haneefa."
Mendengar ada seseorang yang tiba-tiba memanggil namaku, langsung saja aku menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut karena jangan lupakan bahwa sejak tadi aku sedang melamunkan mengenai Arfan dan kawan-kawannya.
"Raihan."
Aku bernafas lega karena ternyata Raihan yang baru saja memanggil namaku secara tiba-tiba tadi.
Raihan menatapku, heran. "Kenapa? Kenapa kamu kelihatan kaget kayak gitu?"
"Ish, gimana gak kaget, kamu tiba-tiba aja muncul di hadapan aku." Kataku menimpali cepat, mau tak mau membuat Raihan terkekeh.
"Baiklah-baiklah, maaf kalau aku udah buat kamu kaget."
Mendengar permintaan maaf itu, aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Namun senyum itu tidak berlangsung lama saat tiba-tiba mataku tidak sengaja menangkap sosok Arfan yang saat ini sedang melihat ke arahku dan Raihan dengan tatapan yang sulit untuk aku artikan.
Cukup lama aku membalas menatap Arfan dari jauh, sebelum akhirnya Arfan sendiri yang memutus saling menatap itu dan pergi keluar kelas meninggalkan Lia dan teman-temannya yang masih berada di kelas ujianku.
Melihat kepergian Arfan dengan ekspresi wajah yang aneh menurutku, yang tidak aku ketahui apa penyebabnya, hal itu cukup membuatku terdiam.
"Kamu belajar apa?" Tanya Raihan, mendudukkan dirinya di kursi yang berada di sampingku.
Atensiku kembali pada Raihan dan langsung menolehnya.
"Aku cuma baca ulang materi yang akan diujikan di sesi kedua." Jawabku sembari berusaha melupakan tentang Arfan yang pergi keluar kelas tadi.
Raihan tersenyum. "Apa semalam kamu gak belajar?"
"Belajar, cuma aku ingin aja ngulang supaya tambah hafal."
Mendengar jawabanku, Raihan mulai menatapku dengan ekspresi wajah yang cukup membuatku malu. Bagaimana tidak, kini posisi aku dan Raihan cukup berdekatan.
"Ke-kenapa?" Tanyaku, gugup.
Raihan menggelengkan kepalanya pelan.
"Nggak." Jawab Raihan, sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah lain dan itu membuatku seketika bisa bernafas lega.
Akhirnya Raihan berhenti menatapku.
"Haneefa, kamu ingat gak sama teman sekolah kita waktu masih SD?" Tanya Raihan, kemudian.
"Teman? Siapa?" Aku membeo, bingung.
"Zidane." Jawab Raihan, cepat. "Zidane si laki-laki pintar yang selalu mendapat peringkat satu di kelas."
Mendengar nama itu, aku pun terdiam sesaat untuk mengingatnya dan setelah mengingatnya, aku kembali menatap Raihan dengan bingung.
"Ya, aku ingat dia. Terus, kenapa?" Tanyaku, terkesan lemot.
"Ya gak apa-apa, sih. Aku cuma gak nyangka aja, ternyata dunia begitu sempit." Jawab Raihan, semakin membuatku merasa bingung.
"Dunia sempit?"
Raihan mengangguk. "Iya, kamu tahu, ternyata Zidane teman SD kita dulu satu SMP sama Arfan."
Deg.
Mendengar nama Arfan disebut, entah mengapa hatiku mulai merasa tidak tenang. Mengapa harus nama itu lagi yang disebut?
"Terus kenapa? Kenapa kalau Zidane pernah satu SMP sama Arfan?" Tanyaku, ragu.
"Kenapa kamu bertanya terus dan terus aja, Haneefa? Apa gak ada pertanyaan lain?" Seloroh Raihan terkekeh.
"Aku cuma cerita aja sama kamu." Tambah Raihan, beralih menatapku dengan senyuman.
Akhirnya aku pun hanya ber-oh ria menanggapi perkataan Raihan karena bingung harus berkata apa.
"Kalau kamu gak percaya Zidane pernah satu SMP sama Arfan, aku akan tanyakan langsung pada Arfan."
Aku pun seketika kembali menatap Raihan yang baru saja mengatakan hal yang paling tidak aku inginkan dan pada saat aku akan mencegah perbuatan Raihan yang hendak memanggil Arfan, sialnya Raihan sudah lebih duhulu berteriak memanggil nama Arfan yang kebetulan baru saja si pemilik nama itu kembali masuk kelas.
"Arfan!"
Setelah Raihan berhasil memanggil nama Arfan, saat itu juga dalam diam aku memejamkan kedua mataku sejenak sebelum akhirnya mataku melihat ke arah Arfan yang saat ini sedang berjalan mendekati mejaku yang dimana di sana ada aku dan Raihan sedang duduk satu meja.
Sungguh, melihat Arfan mendekat ke arahku, rasanya jantungku hampir berhenti berdetak. Pasalnya sejak dimana aku mengetahui bahwa Arfan menyukai Ghasanni melalui permainan TOD beberapa waktu yang lalu, sejak saat itu juga aku selalu menjauh dan semakin menjauhi Arfan. Lalu, ketika melihatnya mendekat ke arahku seperti saat ini, itulah hal yang paling tidak aku inginkan selama di kelas.
"Ya, kenapa?" Tanya Arfan langsung, setelah berdiri tepat di depan mejaku dan menghadap ke arah Raihan.
Dengan arah pandang yang tidak begitu aku fokuskan kepada Arfan, dalam diam aku mulai ketar-ketir tidak nyaman.
"Aku cuma ingin tanya, benar bukan kalau Zidane adalah teman kamu waktu di SMP?" tanya Raihan, to the point kepada Arfan.
Mendapat pertanyaan seperti itu, aku lirik sebentar kepada Arfan untuk melihat ekspresi wajahnya yang ternyata terlihat bingung.
"Zidane?" Arfan membeo, bingung.
"Iya, Zidane. Teman SMP kamu yang dikenal pintar, kamu ingat gak, Fan?" Raihan kembali mengajukan pertanyaan kepada Arfan.
Setelah beberapa saat terdiam, Arfan pun melirik padaku sekilas bertepatan ketika aku sedang meliriknya juga, sebelum akhirnya Arfan kembali menatap Raihan.
"Oh, Zidane. Iya, aku ingat dia. Dia adalah teman aku dulu di SMP." Jawab Arfan, kontan membuatku terkejut dalam diam.
Ternyata benar, dunia memang sempit.
"Tuh, 'kan, Fa? Benar bukan kata aku kalau Zidane memang pernah satu SMP sama Arfan." Kata Raihan yang ditujukan kepadaku dan aku hanya diam, tidak menanggapinya.
"Haneefa, kenap Zidane?" Tanya Arfan, yang entah kepada siapa.
"Iya, dulu Zidane adalah teman SD aku sama Haneefa." Jawab Raihan mewakili, membuat Arfan seketika terdiam walau sesaat.
"Oh." Gumam Arfan, menanggapi.
"Ya, dulu Zidane emang satu SMP sama aku." Tambah Arfan dengan wajah datar.
"Iya, kamu benar. Sebenarnya aku udah tahu soal itu. Cuma ya ... aku tadi bertanya lagi agar Haneefa percaya dengan itu." Raihan menimpali dengan nada sesantai mungkin, namun hal itu tidak melunturkan ekspresi wajah dingin dan datar milik Arfan.
Entahlah, melihat sikap Arfan seperti itu aku hanya merasa jika Arfan tidak suka melihat kedekatanku dengan Raihan seperti sekarang. Tapi ketika mengingat Arfan menyukai Ghasanni, tidak mungkin rasanya jika Arfan seperti itu kepadaku. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Lalu, apa yang membuat wajah Arfan bisa dingin dan datar seperti itu? Padahal biasanya ia tidak begitu.
Bagaikan Dandelion
10.04.21
Sfrdssyh