Mencoba Melupakan Perasaan

1178 Words
Pagi sekali di hari jum'at, seperti biasa aku sudah sampai di sekolah. Namun ada yang berbeda dengan hari kemarin, sebab ketika tiba di kelas bukan keadaan yang sepi dan sunyi yang biasanya aku dapati, melainkan yang aku dapati adalah sapaan salam dari sepasang kekasih yang memang sudah berpacaran dari kelas X SMA. Sepasang kekasih itu adalah Rio dan Karin. Rio dan Karin ini adalah teman satu kelasku di kelas XI IPS 4, selain itu mereka juga cukup terkenal di sekolah sebagai pasangan istimewa karena hubungannya langgeng sampai saat ini di kelas XI. Meskipun banyak yang mendukung hubungan keduanya, tapi tentu saja tidak denganku. Nyatanya aku tetap tidak menyukai hubungan yang terikat karena pacaran dan aku tidak menyetujui hal itu, walaupun aku juga tidak langsung mengatakan itu kepada Rio dan Karin, melainkan aku hanya diam saja karena tidak tahu harus berbuat apa. Menasihati takut tersinggung, membiarkan malah semakin menjadi, dan sebenarnya aku juga belum memiliki mental yang cukup untuk menasihati keduanya. Jadilah aku hanya bisa mendo'akan, agar mereka segera menyadari kesalahan dan meninggalkannya. Aku hanya bisa diam, namun dengan keadaan hati yang mengingkari perbuatan mereka. 'Hai Haneefa." Sapa Karin ramah, ketika aku memasuki kelas. Karin saat itu sedang duduk satu meja dengan pacarnya, Rio. Aku pun tersenyum kepada Karin seraya mulai mendudukan diri di bangkuku yang berada tepat bersebrangan dengan meja Rio dan Karin. "Hai Rin." Balas sapaku, sembari tersenyum. "Aku gak disapa juga nih, Haneefa?" Tanya Rio, terdengar menggodaku seperti biasanya. Rio yang meskipun sudah memiliki pacar yakni Karin, tapi hal itu tidak membuat Rio kaku terhadap perempuan lain dan Karin sendiri tidak terlalu menganggap serius dan tetap memperbolehkan Rio berkomunikasi dengan perempuan lain asalkan masih dibatas yang wajar menurutnya. "Emangnya kamu ada nyapa aku, ya?" Timpalku cepat kepada Rio. Seketika tawa Rio menggema di kelas setelah mendengar pertanyaanku tersebut, membuat kelas sedikit berisik. "Ha ha ha ha, Haneefa.. Haneefa.. ternyata kamu cukup berani juga ya untuk menimpali ucapan aku." kata Rio. Aku mendelik mendengar itu. "Kenapa aku harus takut? Bukannya kamu juga makan nasi, ya? Kalau kamu makan daging kayak harimau, baru aku takut." Balasku ketus, meskipun sebenarnya tidak bermaksud demikian. Rio masih terkekeh ringan. "Ya.. ya.. baiklah. Terserah kamu aja." Rio beralih menatap Karin yang duduk di sampingnya dengan senyuman jahil yang masih sesekali melirik ke arahku. "Lihat sayang, teman perempuan kamu itu kayaknya udah mulai jadi ganas." Bisik Rio kepada Karin yang masih mampu terdengar olehku dan aku tahu maksud ucapannya. Rio sedang bermaksud untuk menggodaku. Mendengar ucapan pacarnya, Karin pun terkekeh. "Hi hi hi, kamu benar, Rio." Melihat dua sejoli itu yang malah asik menggodaku, aku pun mendengus sebal. "Hih, terserah kalian, deh!" Kataku kesal, seraya mulai membuka buku. "Singa betina." Timpa Rio setengah berbisik, kembali menggodaku. Kontan, aku kembali menoleh ke arah Rio dengan wajah gemas. "Ya ampun Rio, bisa diam, gak?! Ini masih pagi lho, ya." Desisku gemas yang malah semakin membuat Rio tertawa lepas. Bugh! "Aw!" Seketika aku dibuat terdiam setelah melihat apa yang baru saja terjadi, kemudian giliran aku yang tertawa lepas setelahnya. "Ha ha ha ha~" Mendengar aku tertawa, Rio menatapku dengan ekspresi wajah cemberut yang dibuat-buat. Sebelum akhirnya ia kembali menoleh ke arah pacarnya, Karin. "Sayang, kenapa kamu malah mukul aku? Ini sakit." Rengek Rio, terdengar manja kepada Karin yang memang tadi baru saja memukul kepala Rio menggunakan tempat pensil miliknya. "Itu hukuman untuk kamu. Siapa suruh kamu malah terus godain Haneefa, gak lihat apa tadi dia udah gemas karena perbuatan kamu itu." Jawab Karin, ketus. Melihat pertengkaran ringan itu dengan Karin yang malah membelaku, aku pun semakin tertawa lepas dan menatap ke arah Rio dengan lidah yang aku julurkan kepadanya, bermaksud meledeknya. Tak lupa, aku juga berucap tanpa suara kepada Rio dengan mengucapkan kalimat "rasain dimarahi pacar" untuk semakin meledeknya. Tentu saja itu membuat Rio mendelik kesal padaku. "Iya iya, maaf." Akhirnya Rio pun mengalah seraya masih mengusap kepalanya yang tadi dipukul menggunakan tempat pensil oleh Karin. Beberapa menit berlalu, keadaan kelas kembali hening. Rio dan Karin juga nampak mulai sibuk berdua di meja mereka, sedangkan aku di mejaku sendiri sudah seperti kacang saja, diam tanpa melakukan apapun dan tidak diacuhkan. Akhirnya untuk menghilangkan rasa kejenuhan, sembari menunggu kedatangan teman kelas yang lain dan bel masuk kelas berbunyi, aku seperti biasa memutuskan untuk keluar kelas, tepatnya ke kolam ikan yang berada di dekat masjid sekolah tak jauh dari letak kelasku. "Haneefa." Belum sempat aku berjalan menuju kolam ikan, tiba-tiba langkahku harus terhenti saat baru keluar dari ruang kelasku karena ada yang baru saja memanggil namaku. Mau tak mau aku pun menoleh ke arahnya. "Muthia." Ya, Muthia yang memanggilku. Mendengar aku menyahutinya, Muthia pun langsung berlari kecil dari depan kelasnya menuju padaku. "Yaa Allaah, aku kangen banget sama kamu, Haneefa." Tepat setelah sampai di hadapanku, Muthia langsung menghambur memeluk erat tubuhku dan dengan senang hati aku membalas pelukannya. "Aku juga kangen banget, Mut." Kataku, terharu. Muthia melerai pelukannya dan beralih menatapku sendu. "Apa kabar? Kamu betah, 'kan, ada di kelas baru?" Tanya Muthia. Tanpa permisi, aku tersenyum setelah mendengar pertanyaannya itu. "Ya, aku betah. Di kelasku sekarang semuanya more than better daripada kelas kita yang dulu." Mengerti maksud ucapanku, Muthia pun tersenyum haru. "Hm, i see." Aku mengusap bahu Muthia, lembut. "Yah.. begitulah." "Ohiya!" Pekik Muthia kemudian, seolah baru menyadari sesuatu. "Kamu bawa bekal makan untuk istirahat seperti biasanya, 'kan?" Keningku seketika mengercit ditanya seperti itu oleh Muthia. "Ya, aku bawa. Kenapa?" "Yes." Sorak Muthia, terlihat senang. "Bagus, kalau gitu nanti kamu datang ke kelasku ya di jam makan siang, istirahat kedua." Aku menatap Muthia, tak percaya. "Datang ke kelas kamu? Untuk apa?" Tanyaku, terkejut. Oh ayolah, jangan lupakan tentang keberadaan Arfan yang berada di kelas Muthia. Jika aku datang ke sana, sama saja aku bunuh diri. Bukankah saat ini aku sudah bertekad untuk menjauhi dan melupakan laki-laki itu? "Makan siang bersama aku dan Lyana, dong." Jawab Muthia, seringan kapas. "Mau ya?" Pintanya, penuh harap kepadaku. Aku menatap Muthia, ragu. "Mut.. tapi.." "Aku tahu, kamu pasti ragu karena ada Arfan di kelas aku, 'kan?" Sela Muthia bertanya, seolah mengetahui isi pikiranku. Aku menghela nafas. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih bertanya?" Aku balik bertanya,, dengan ekspresi wajah datar. "Ish!" Muthia menyenggol bahuku. "Ayolah Fa, sekali aja. Untuk kali ini kamu bisa, 'kan, anggap Arfan seperti makhluk halus? Maksudnya anggap aja gak ada kehadiran Arfan di kelas aku saat kamu datang ke sana nanti." Seloroh Muthia, menggebu-gebu. "Kamu pikir itu mudah?" Aku mendelik gemas pada sahabatku yang satu ini. "Ayolah Haneefa!" Rengek Muthia. "Sekali aja, ya?" Bingung harus berkata apa, aku pun hanya bisa terdiam. "Ck!" Muthia berdecak gemas melihat keterdiamanku. "Fa, dengarkan aku, ya. Bukankah kalau kamu mau melupakan Arfan, maka kamu juga harus melawannya?" Aku menatap Muthia, bingung. "Melawan, apa maksud kamu?" "Huhh.." Muthia membuang nafasnya, lelah. "Dengar, aku tahu memang gak mudah bagi seseorang untuk melupakan perasaannya terhadap orang lain, tapi kalau kamu terus menghindar dan menganggap Arfan seperti boomerang bagi diri kamu sendiri, bukankah hal itu malah akan semakin membuat kamu sulit untuk melupakan Arfan, ya? Terlebih mengenai perasaan kamu sama dia?" Seloroh Muthia, kontan membuatku terdiam mencerna ucapannya. - Bagaikan Dandelion -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD