"Fa, mulai sekarang kamu jangan terlalu menganggap Arfan, jangan membuat dia berada pada sesuatu yang istimewa di dalam diri kamu. Kamu harus melawannya, melawan perasaan kamu terhadap Arfan. Buat diri kamu terbiasa dengan kehadiran Arfan, agar perlahan-lahan kamu juga bisa menganggap Arfan bukan apa-apa dan perasaan kamu terhadapnya juga perlahan ikut memudar." Kata Muthia lagi, berusaha menjelaskan.
Aku menatap Muthia, ragu.
Apakah aku bisa melakukan itu?
"Aku yakin, kamu pasti bisa." Kata Muthia, seolah bisa membaca isi pikiranku.
Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan di dalam otakku, aku pun mengangguk lemas.
"Baiklah, aku mau."
Tidak ada salahnya, 'kan, mencoba saran Muthia?
..........
Saat jam istirahat tiba, dengan perasaan tidak tenang aku berjalan menuju kelas Muthia yang berada tidak jauh dari kelasku. Ya, saat ini dengan terpaksa untuk membiasakan diriku terhadap keberadaan Arfan, aku mencoba untuk menyetujui saran Muthia dengan datang ke kelasnya untuk makan siang bersama di sana.
"Eh, Fa. Kamu mau kemana?" Tanya Risa, mendapatiku keluar dari kelas dan berjalan menuju kelas Muthia.
Saat ini Risa baru saja dari kantin membeli jajanan bersama Vina.
"Iya, Fa. Kamu mau kemana? Kenapa kamu bawa bekal makan kamu keluar kelas? Memangnya kamu mau makan dimana?" Tanya Vina beruntun, berdiri di samping Risa.
Aku menatap keduanya dengan sedikit gugup sembari menipiskan bibirku. "Mm, iya, nih. Aku mau pergi ke kelas Muthia, aku mau makan dengan Muthia dan Lyana di kelasnya." Jawabku kemudian, lirih.
Risa menatapku jengah. "Hah, aku kira kamu mau kemana. Ya udah, deh, kalau gitu, aku sama Vina mau ke kelas."
Aku mengangguk. "Iya, maaf, ya, aku gak bisa makan siang sama kalian di kelas seperti biasanya.," Ujarku, tidak enak hati karena biasanya aku selalu makan siang bersama Risa dan Vina di kelas kami.
Risa dan Vina mengangguk.
"Iya, gak apa-apa. Bukan masalah." Jawab Risa, mengerti.
Setelahnya Risa dan Vina pun akhirnya kembali masuk ke kelas dan meninggalkan aku yang masih berdiri di depan kelas tersebut. Sungguh, sebenarnya di dalam hatiku aku ingin sekali menyusul langkah kedua teman kelasku itu, namun di sisi lain aku teringat dengan perkataan Muthia padaku bahwa aku harus bisa membiasakan diri terhadap keberadaan Arfan jika ingin cepat melupakan perasaanku terhadapnya.
Huhh..
Aku membuang nafasku berat sebelum akhirnya kembali melangkah menuju kelas Muthia.
Saat tiba di depan pintu kelas Muthia yang setengah tertutup, beberapa kali aku menarik dan menghembuskan nafasku gugup. Sungguh, ini adalah pertama kalinya aku melakukan tindakan mendekati sesuatu yang berhubungan dengan Arfan.
Lama bergelut dengan rasa gugup dan malu, akhirnya dengan memberanikan diri aku mencoba mengetuk pintu kelas tersebut sebelum akhirnya aku membukanya sedikit dan mencondongkan sebagian kepalaku ke dalam kelas.
Tok.. tokk.. tokkk..
Ceklek.
"Assalamu'alaikum." Salamku, seraya mencondongkan sebagian kepalaku ke dalam kelas Muthia setelah membuka pintunya sedikit.
"Wa'alaikumussalam, eh, Haneefa." Jawab salam Annisa, terdengar ramah.
Annisa adalah teman satu kelas Muthia di kelas XI yang dahulunya juga merupakan teman satu kelasku di kelas X.
"Cari Muthia, ya?" Tanya Annisa padaku.
Annisa bisa merespon kedatanganku dengan cepat karena kebetulan dia duduk di meja paling depan dekat dengan pintu masuk kelasnya. Sedangkan saat itu keadaan kelas Muthia sedang cukup berisik, sehingga tidak ada yang menyadari kedatanganku selain yang berada di dekat pintu kelas saja seperti Annisa.
Aku mengangguk.
"Iya, aku mau makan siang sama Muthia dan Lyana di kelas ini." Jawabku tak kalah ramah.
Saat ini aku sudah membuka pintu kelas Muthia lebih lebar, bahkan tubuhku sudah bisa terlihat oleh Annisa.
"Oh, gitu. Ya udah, sini aja, Fa. Masuk." Annisa mempersilakan.
Belum sempat aku menjawab perkataan Annisa, tiba-tiba ada yang memanggil namaku.
"Haneefa!"
Kontan tubuhku sedikit terkejut saat tiba-tiba saja mendengar suara khas Muthia yang memanggilku dari bangkunya, sepertinya ia sudah sadar akan kehadiranku di kelasnya.
Setelah Muthia memanggilku, aku pun menoleh ke arahnya dan betapa terkejutnya aku saat melihat ke arah Muthia, ternyata tidak jauh dari mejanya, tepatnya di samping kiri meja Muthia terdapat Arfan dan teman laki-laki di kelasnya yang sedang berkumpul disatu meja. Entah itu meja siapa yang jelas di meja tersebut banyak sekali laki-laki berkumpul dan sedang asik mengobrol, termasuk Arfan.
Yang membuatku terkejut saat itu bukan hanya tentang keberadaan Arfan yang dekat dengan meja Muthia, akan tetapi tentang Arfan yang saat ini sedang melihat ke arahku dengan tatapan yang sulit untuk aku artikan setelah mendengar suara Muthia yang memanggil namaku tadi.
"Sini, Fa. Duduk di bangku yang ada di depanku. Udah aku siapkan untuk kamu dan kita makan sama-sama di sana.," Seloroh Muthia gembira, karena memang ini adalah pertama kalinya selama kelas XI aku mau main ke kelasnya.
Dengan langkah ragu dan malu, aku perlahan berjalan mendekati meja Muthia dan mulai menduduki bangku yang telah Muthia siapkan untukku.
"Waahh. Haneefa ini teman kamu, 'kan, Mut?" Tanya Aulia, duduk di belakang meja Muthia.
Muthia menoleh Aulia yang berada di belakang mejanya. "Iya, Haneefa sahabatku yang aku sering ceritakan ke kamu.,"
Setelah bicara begitu Aulia pun beranjak dari duduknya dan mulai berdiri di samping bangku yang aku duduki.
"Wahh, salam kenal, ya, Haneefa. Aku Aulia, teman satu kelas Muthia di kelas XI." Kata Aulia ramah, mengenalkan dirinya padaku meskipun tidak berniat berjabatan tangan.
Masih ingatkah dengan Aulia yang merupakan salah satu teman perempuan yang dekat dengan Arfan di kelas XI?
Aku tersenyum menatap Aulia. "Hai. Iya salam kenal juga, ya. Aku Haneefa."
"Kayaknya kamu pemalu, ya, sejak tadi aku melihat wajah kamu terlihat merah. Apa kamu gugup?" Goda Aulia, sembari mencolek lenganku.
Aku yang memang merasa malu dan gugup saat itu, belum lagi saat aku sempat melirik ke arah Arfan yang masih melihat ke arahku, aku menjadi salah tingkah tidak jelas. Aku merasa kelas ini asing bagiku, meskipun ada sebagian orang-orang yang aku kenal.
"Haneefa emang pemalu, Aulia. Jadi jangan menggodanya." Kata Muthia, menatapku geli.
"Jangan malu, dong, Fa. Kita ini, 'kan, sahabat kamu juga." Sambung Lyana menambahi, duduk di samping Muthia.
Aku tersenyum tipis dan canggung. "Iya."
Akhirnya setelah mengobrol ringan sebentar, aku, Muthia, dan Lyana mulai makan siang bersama di meja Muthia.
Pada saat makan siang itu, jujur saja, aku merasa tidak enak untuk makan, rasanya makanan yang masuk ke dalam mulutku begitu hambar. Aku merasa seperti itu karena aku masih merasa gugup dan malu. Sesekali aku juga melirik ke arah Arfan yang keberadaannya tidak jauh dariku saat itu. Ketika aku melirik ke arah Arfan, ternyata Arfan juga sempat melirik ke arahku, sehingga kami seperti sedang saling menatap dari jarak jauh sebelum akhirnya aku yang memutus tatapan itu.
Entahlah, melihat wajah Arfan rasanya hatiku kembali sakit, selain sakit, aku juga merindukan laki-laki itu.
Sungguh, aku tidak mengerti. Mengapa melupakan perasaan terhadap seseorang terasa begitu sulit?
Bagaikan Dandelion
25.05.2021
Follow The Author On i********: @sfrdssyh