"Jadi kalian berdua mau langsung pulang aja setelah ini?" Tanya Nazla.
Sore ini setelah acara kumpul Rohis di sekolah selesai, aku, Lyana, dan Nazla bersiap untuk pulang. Saat itu kami masih berada di depan teras masjid sekolah untuk memakai sepatu yang telah kami lepas tadi sebelum memasuki masjid, kebetulan juga tempat rak sepatu berada tidak jauh dari tempat kami berdiri.
"Iya Naz, aku mau langsung pulang aja sama Lyana." Jawabku pada Nazla, masih duduk di teras masjid dengan Lyana di sampingku.
Nazla mengangguk.
"Hm, baiklah kalau gitu." Kata Nazla.
"Emang kamu gak akan langsung pulang, Naz?" Tanya Lyana.
"Pulang, kok. Aku juga pasti langsung pulang juga. Emangnya mau kemana lagi, 'kan?"
Mendengar jawaban Nazla, mau tak mau aku dan Lyana terkekeh.
"Iya juga.," Kata Lyana.
"Ehiya, Fa, ngomong-ngomong soal jilbab. Kapan kamu mau berencana pakai jilbab panjang sama seperti aku?" Tanya Nazla padaku, beralih topik setelah aku selesai memakai sepatu.
Mendengar pertanyaan itu, aku mulai menatap Nazla ragu.
Memang sejak kelas X semester 2, aku sudah merubah penampilanku menjadi lebih tertutup, tapi belum sepenuhnya syar'iy. Bahkan kain khimarku masih baru menutupi setengah d**a, meskipun itu sudah lebih baik daripada kerudung segi empat yang biasa digunakan oleh kebanyakan remaja SMA.
Nazla sendiri sejak kelas X sudah lebih baik dariku, ia sudah berjilbab syar'iy, sehingga menutupi hampir seluruh tubuhnya dan sudah memakai manset serta kaos kaki dengan istiqomah. Sedangkan aku, untuk masalah manset di tangan, aku masih belum bisa melakukan itu.
"Aku.. aku gak tahu, Naz. Aku masih merasa belum siap untuk pakai jilbab panjang.," Jawabku, lirih.
Nazla mulai mendekatiku. "Haneefa, perkara jilbab itu adalah kewajiban. Bukankah kamu udah tahu bahwa pakai jilbab adalah perintah dari Allaah?"
Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka', Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Ahzab: 59).
Ayat ini menunjukkan wajibnya jilbab bagi seluruh wanita muslimah.
Aku menunduk mendengar perkataan Nazla padaku yang terdengar sangat menamparku. Bukan, bukan aku marah kepada Nazla karena telah berkata begitu, melainkan aku merasa malu pada diriku sendiri yang meski sudah hijrah sejak kelas X semester 2, namun aku masih enggan untuk memakai jilbab panjang yang benar-benar sesuai syari'at.
Nazla menyentuh bahuku. "Fa, jilbab bukanlah sebuah pilihan, melainkan ia adalah kewajiban bagi setiap wanita muslimah. Jika kamu ragu untuk berjilbab hanya karena merasa belum pantas, lantas sampai kapan kamu akan menunggu untuk pantas? Apa kamu gak takut akan kematian yang bisa terjadi kapan aja? Apa kamu juga mau meninggal disaat kamu masih belum sempat berjilbab syar'iy?"
Merasa semakin sedih, aku semakin menunduk malu. Bahkan Lyana yang masih duduk di teras masjid pun ikut terdiam. Lyana sama sepertiku, masih belum bisa memakai jilbab syar'iy dan hanya baru menggunakan khimar yang menutupi sebagian d**a saja. Sepertinya mendengar perkataan Nazla, Lyana pun ikut tertampar sama sepertiku.
"Aku mengingatkan kamu seperti ini karena aku sayang sama kamu, Haneefa. Sahabat yang baik bukan sahabat yang membiarkan sahabatnya terus melakukan dosa dan maksiat, melainkan sahabat yang baik adalah ia yang mau dan selalu terus menasihati juga mengingatkan sahabatnya agar terus berada dalam ketaatan kepada Allaah dan menjauhi segala perbuatan dosa dan maksiat." Ujar Nazla.
Perlahan aku mulai menatap Nazla, sendu.
"Naz.. aku.. a-aku ..."
Nazla tiba-tiba menyentuh telapak tanganku untuk ia genggam erat.
"Dengarkan aku, Haneefa. Kita coba aja, ya, sedikit-sedikit untuk pakai jilbab syar'iy." Kata Nazla dengan yakin.
"Aku.. a-aku mau, tapi aku ..."
"Belum punya jilbab panjangnya?" Sela Nazla, menatapku.
Aku mengangguk. "Iya, Naz. Aku belum punya jilbab panjangnya."
"Hari senin, senin kamu harus memakainya, ya." Putus Nazla bersemangat, kontan membuatku terhenyak.
"Tapi, 'kan, aku belum punya ..."
"Hari senin nanti aku akan memberikan kamu salah satu jilbab putih yang aku punya, kamu harus pakai jilbab itu, ya. Aku juga akan memberikan kamu sepasang manset yang aku punya. Gimana?" Seloroh Nazla, membuatku terkejut.
"Nazla, tapi, kamu.. apa ..."
"Udah, deh, jangan pikirkan apapun. Pokoknya hari senin nanti kamu harus datang ke sekolah lebih pagi, ya. Aku akan bantu pakaikan jilbab dan manset untuk kamu sebelum upacara hari senin dimulai,"
Saat Nazla mengatakan itu, aku lihat ada sorot bahagia di dalam sana yang terpancar untukku. Aku tahu ketulusan hatinya dan rasa kasih sayangnya padaku. Aku merasa sangat bersyukur kepada Allaah karena telah dipertemukan dengan sahabat sebaik Nazla, Muthia, dan Lyana di SMA.
"Mau, ya?" Tanya Nazla padaku, penuh harap.
Huhhh..
Aku menghela nafas.
Dengan meyakinkan diriku dan mengharapkan wajah Allaah, aku pun memutuskan untuk menerima permintaan Nazla. Mungkin ini memang sudah saatnya bagiku untuk memantapkan langkah hijrahku meskipun perasaan tidak halalku terhadap Arfan belum sepenuhnya bisa hilang
"Baiklah, aku mau."
........
"Gimana, kamu suka?" Tanya Nazla, menatapku penuh kekaguman.
Akhirnya hari yang aku tunggu tiba, yakni hari senin di sekolah yang mana aku akan memakai jilbab syar'iy pemberian dari Nazla dan secara perdana dalam sejarah hidupku menggunakan jilbab syar'iy.
Pagi sekali sebelum acara upacara sekolah dimulai, aku dan Nazla sudah berada di kamar mandi perempuan, tepatnya di ruang wudhu perempuan yang tertutup dan letaknya berada di dalam masjid sekolah. Di sana, di depan cermin, aku mulai menatap pantulan diriku sendiri yang sekarang sudah memakai jilbab syar'iy dan terlihat semakin membuatku lebih anggun juga cantik sebagai wanita muslimah.
Aku menatap diriku di cermin dengan tatapan nanar, sebelum akhirnya aku menatap Nazla yang sedang menatapku bahagia.
Karena terharu, aku langsung menghambur memeluk tubuh Nazla. "Nazla, jazaakillaahu khairan. Makasih banyak atas pemberian jilbab ini untuk aku, aku sangat bahagia. Jazaakillaahu khairan." Kataku dalam pelukan Nazla dan tanpa permisi air mataku ikut jatuh.
Nazla mengurai pelukannya padaku dan beralih menatap wajahku yang mulai sembab. Nazla juga mengusap air mataku lembut.
"Hey, kenapa menangis? Gak, kamu gak boleh bersedih, ini adalah hari bahagiamu, Haneefa. Kamu udah pakai jilbab syar'iy, kamu harusnya bahagia." Kata Nazla, berkelakar.
Air mataku semakin deras keluar mendengar perkataan Nazla yang sarat juga akan tangis haru.
"Aku.. aku gak sedih, Naz. Aku.. aku terharu."
Nazla mengulum senyumnya menatapku meskipun matanya juga terlihat sama mulai berkaca-kaca.
"Aku juga terharu, aku bahagia. Bi idznillaah." Kata Nazla.
Aku mengangguk seraya mulai mengusap kedua pipiku yang basah oleh air mata.
"Jazaakillaahu khairan, Nazla." Kataku lagi, masih terharu.
Nazla tersenyum. "Iya, Haneefa. Aamiin, wa jazaakillaahu khairan."
"Baiklah, acara haru-harunya kita cukupkan sampai di sini, ya. Ayo kita ke lapangan, wakasek pasti udah menunggu kita untuk melakukan upacara." Seloroh Nazla, mau tak mau membuatku terkekeh.
Aku mengangguk. "Mm, ayo."
Setelah semua selesai, dengan berjalan ditemani oleh Nazla, aku mulai keluar dari masjid sekolah dengan pakaian yang sudah berubah syar'iy. Meski merasa malu karena mengingat ini masih pertama kali bagiku memakai pakaian syar'iy di sekolah, namun aku tetap bahagia.
"Haneefa!!"
Kontan langkahku dan Nazla terhenti saat hendak berjalan menuju lapangan sekolah karena mendengar suara yang memanggil namaku dari arah belakang. Lantas kami berdua pun menolehnya.
"Masyaallaah, Haneefa."
Muthia langsung memeluk erat tubuhku sejenak, sebelum akhirnya ia menatap wajahku
"Kamu.. kamu.. masyaallaah. Akhirnya kamu pakai jilbab syar'iy." Kata Muthia bahagia, melihat perubahanku.
Lyana yang berdiri di samping Muthia pun ikut tersenyum melihat perubahanku.
"Masyaallaah, baarakallaahu fiiki, Haneefa." Kata Lyana, mendo'akanku.
Aku menoleh Lyana dengan senyuman. "Aamiin, syukron Ly. Wa fiiki baarakallaah."
"Mm.. so sweet. Aku senang dengan ini, Haneefa. Baarakallaahu fiiki." Kata Muthia ikut mendo'akanku, sembari menatapku haru.
"Aamiin, wa fiiki baarakallaah." Jawabku pada Muthia yang sama penuh haru.
"Waw, Haneefa!"
Atensiku, Nazla, Lyana, dan Muthia seketika beralih pada sumber suara yang baru saja menyebut namaku dari arah belakang kami. Saat itu kami masih berdiri di sekitaran masjid sekolah yang tidak jauh juga dari keberadaan kelasku.
"Risa." Gumam Muthia yang dapat aku dengar saat kami menoleh dan tahu siapa orang yang baru saja menyebut namaku tadi.
Risa dan Vina berjalan menghampiriku.
"Ciee~ udah syar'iyan, nih, ceritanya." Goda Risa kepadaku.
Aku menatap Risa, gemas. "Apaan, sih, Ris."
"Eh, Ris, do'ain Haneefa, kek, ini malah digodain. Gimana, sih, kamu ini?!" Kata Nazla, berkelakar kepada Risa.
Memang sahabat-sahabatku ini sering sekali bercanda dengan Risa dan Vina yang notabennya adalah teman satu kelasku di kelas XI.
Risa menatap Nazla, geli. "Eh, Nazla, ini pasti kamu, 'kan, yang merubah Haneefa jadi kayak gini?"
Vina menyikut lengan Risa. "Risa, kalau ngomong tuh pakai bahasa yang baik, kek. Gak malu sama mereka?" Desis Vina gemas dengan tingkah Risa yang selalu seperti ini.
Risa menatap Vina, jengah. "Eleh, apaan, sih, kamu ini, Vin!"
Aku tersenyum melihat itu.
Aku paham bagaimana tabiat Risa dan Vina, teman satu kelas. Meskipun bahasa dan cara bergaya keduanya di sekolah sangat jauh dari kata agamais, namun aku tahu, baik Risa maupun Vina keduanya sama-sama memiliki hati yang baik. Oleh karena itulah aku mau berteman dengan mereka.
"Bi idznillaah, aku bisa memakai jilbab panjang ini, Ris." Ujarku kepada Risa.
Risa menatapku, penuh selidik. "Mm.. bagus, sih. Aku suka dengan pakaian kamu yang sekarang, ya, semoga kamu istiqomah, ya."
Aku masih tersenyum. "Iya, Risa. Makasih banyak. Aku harap kamu juga segera menyusul, ya."
"Heh, kamu menyindir aku?" Sewot Risa terdengar geli bagiku, namun entah bagi sahabat-sahabatku.
Rasanya aku sudah biasa dengan sikap Risa yang luar biasa seperti ini, sangat berbeda dengan sahabat-sahabatku yang lebih terkesan lemah lembut.
Aku mengendikkan bahuku tak acuh.
"Entahlah, sepertinya begitu." Kataku formal, tanpa beban.
Risa menatapku, gemas. "Heh Haneefa, dengar, ya. Meskipun aku dan Vina belum bisa memakai kerudung, tapi kita masih baik, kok."
"Aku tahu, maka dari itulah aku mau berteman dengan kalian berdua. Karena aku tahu kalian adalah orang yang baik." Kataku, menimpali Risa.
"Maafkan sikap Risa, ya, Haneefa. Dia emang suka ngomong gak terkontrol." Ujar Vina, menengahi.
Aku paham, Vina sedang merasa tidak enak atas sikap Risa di depan sahabat-sahabatku.
Aku tersenyum. "Gak apa-apa, Vin."
"Ih, Vina, kamu ini apa-apaan. Emangnya aku kenapa?!" Tanya Risa, terlihat kesal.
"Ah, udahlah Ris, aku pusing melihat kamu." Jawab Vina, sembari memutuskan berjalan pergi lebih dahulu menuju lapangan sekolah dan meninggalkan kami semua yang masih diam di tempat.
Risa menatap kepergian Vina dengan kesal.
"Udahlah, Ris, ayo kita pergi aja ke lapangan bersama!" Ajak Lyana, berusaha mencairkan suasana.
Risa menoleh Lyana. "Baiklah, ayo."
Setelah itu, akhirnya kami pun pergi menuju lapangan sekolah untuk mengikuti acara upacara seperti biasanya di hari senin. Aku bahagia karena meski berteman dan bersahabat dengan orang-orang yang berbed-beda, tapi aku tahu sebenarnya mereka memiliki hati yang baik.
Saat aku sampai di lapangan sekolah, seketika tubuhku dibuat tegang karena tidak sengaja melihat Arfan yang juga sedang melihat ke arahku saat itu dengan tatapan yang entah mengapa sulit untuk aku artikan. Mungkin Arfan merasa terkejut dengan penampilanku yang berubah. Meskipun Arfan bukanlah termasuk laki-laki yang agamais, namun entah mengapa rasanya dipandang seperti itu olehnya, aku selalu merasa lebih malu dan gugup daripada dipandang oleh laki-laki lainnya.
Bagaikan Dandelion 2
25.05.2021
Follow The Author On i********: @sfrdssyh