Tentang Reza

1027 Words
Beberapa hari kemudian setelah aku memutuskan untuk berjilbab syar'iy baik di sekolah maupun di rumah, kini hari-hariku selalu disibukkan dengan tugas sekolah, kumpul rohis dan ikut ke berbagai kajian-kajian islam. Mengenai tanggapan orang-orang mengenai perubahanku, alhamdulillaah semuanya merasa bahagia, termasuk kedua orangtuaku. Bahkan bagi diriku sendiri, jujur, aku merasa sangat bahagia. Dengan aku merubah penampilanku menjadi lebih sesuai syari'at bi idznillaah, semoga saja ke depannya aku juga dimudahkan oleh Allaah untuk terus melakukan amal kebaikan. Aamiin. "Haneefa, aku minta maaf, ya." Seketika aku menoleh Vina heran yang baru saja meminta maaf kepadaku. “Maaf? Maaf untuk apa, Vin?” Pada saat jam istirahat pertama di sekolah ini, seperti biasa aku sedang berada di kelas berkumpul di mejaku bersama Risa dan Vina sembari mengobrol. Vina menghela nafasnya sejenak sebelum menjawab. “Maaf karena, aku.. karena aku.. akhir-akhir ini sering chat, bahkan sekarang aku sedang dekat dengan Reza. Dan.. bukan hanya itu. Sekarang pun tanpa aku sadari, aku mulai mencintai Reza.” Jawab Vina dengan nada lirih. Kontan aku dibuat terdiam sesaat setelah mendengar jawaban Vina yang tiba-tiba membahas soal laki-laki, sampai kemudian setelah aku paham, aku pun terkekeh. Namun, hal itu malah membuat Vina menatapku bingung. “Ya Allaah Vin, Vin. Kirain apaan,” ucapku disela kekehanku sendiri. Vina masih menatapku, bingung. “Kamu, gak marah?” Aku menghentikan kekehanku dan beralih menatap wajah Vina seraya tersenyum. “Ya nggak-lah, Vin. Kenapa juga aku harus marah, 'kan?” Jawabku, balik mengajukan pertanyaan kepada Vina. “Tapi, ‘kan, kamu adalah mantan pacarnya Reza.” Cicit Vina, ragu. “Terus?” Tanyaku, heran mendengar ucapan Vina yang satu ini. Vina terdiam. Baiklah, aku paham. “Vin, dengar, ya. Reza itu memang mantan pacar aku dan itu dulu. Meskipun kayak gitu, bukan berarti sekarang saat ada yang mencintai Reza, aku jadi marah. Apa hubungannya coba?” Selorohku. “Ya bisa aja, ‘kan, kamu marah sama aku karena itu.” Kata Vina, sembari cemberut lucu. “Nggak Vin, aku sama sekali gak marah sama kamu karena itu. Reza itu cuma masa lalu aku dan lagi, aku juga udah gak punya perasaan apapun sama Reza." Kataku, memberitahu. Vina bergeming. “Vin, percaya sama aku. Aku udah membuang semua kisah dan perasaanku dengan Reza, jadi kamu gak usah khawatir." Ujarku, menenangkan Vina yang nampak masih merasa tak enak hati padaku tentang Reza. Vina mulai menatapku, sendu. “Tapi Fa, aku, aku.. ” Vina terlihat bimbang dan itu membuatku mengercitkan kening. “Aku apa?” Tanyaku. “Aku sedih karena pada kenyataannya, Reza.. Reza gak mencintai aku.” Jawab Vina lirih, membuatku sedikit terkejut. Bagaimana ia bisa tahu hal itu? Kini giliranku yang bergeming. “Beberapa waktu yang lalu, dia malah bilang sama aku kalau dia masih mencintai kamu." Seloroh Vina, kontan membuatku kembali terkejut bukan main. “Jangan konyol, deh, Vin. Aku dan Reza itu udah lama putus sejak kelulusan SMP. Jadi gak mungkin kalau dia masih mencintaiku sampai sekarang. Terlebih yang aku tahu sejak Reza putus dariku, dia itu sering bergonta-ganti pacar. Jadi mana mungkin dia masih ingat dan mencintaiku,” Bantahku dengan kekehan lucu, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Vina katakan padaku. “Tapi itu faktanya, Haneefa. Kamu gak tahu aja apa alasan Reza yang sering bergonta-ganti pacar setelah putus dari kamu." Kata Vina. “Alasan?” Aku membeo bingung. “Iya, Reza bilang sama aku, alasan kenapa dia sering bergonta-ganti pacar setelah putus dari kamu itu, ya karena dia sedang melampiaskan perasaannya. Yang sebenarnya, Reza masih sayang dan cinta sama kamu, tapi dia gak bisa kembali lagi sama kamu karena kamu selalu menjauh dan Reza juga bilang kalau cukup sulit untuk menemukan perempuan sebaik kamu, Fa. Reza rindu segala hal yang berkaitan dengan kamu sampai sekarang.” Terang Vina padaku, meskipun aku dapat melihat terdapat sorot luka dimatanya. Walaupun perkataan Vina kembali membuka luka lama di dalam hatiku, alih-alih bersedih aku malah terkekeh mendengar ucapannya, seolah masih tak percaya. “Ya Allaah, Vin. Sebaiknya kamu jangan mau tertipu dengan omong kosongnya Reza, dia itu cuma gombal Vin!” Kataku, kembali membantah. “Haneefa, coba untuk mengerti. Kamu ini gak tahu bagaimana Reza. Waktu beberapa minggu yang lalu asal kamu tahu aja, aku juga sempat pergi jalan-jalan sama Reza. Tapi di saat jalan-jalan dia malah mengajak aku naik motor dan kita gak sengaja melewati sebuah rumah sakit. Kamu tahu apa yang Reza lakukan saat melewati rumah sakit itu?” Terang Vina berakhir dengan mengajukan pertanyaan dan membuatku bungkam seribu bahasa. Percayalah, mendengar itu luka lama di hatiku rasanya kembali mengaga karena Reza. “Dia malah memberhentikan motornya tepat di depan rumah sakit itu sambil bilang sesuatu sama aku. Waktu itu Reza menunjuk ke arah sebuah kaca rumah sakit yang ada di lantai dua. Dia bilang kalau ‘waktu kelas X, Haneefa pernah dirawat di rumah sakit ini dan di lantai dua itulah tempat ruangan Haneefa dirawat. Waktu itu aku jenguk Haneefa dan betapa senangnya aku dulu karena dapat kembali bertemu dengan Haneefa setelah sekian lama sejak kelulusan SMP’,” Terang Vina lagi padaku dengan wajah sendu, kontan membuat hatiku seketika berdenyut sakit. Saat itu juga karena perkataan Vina, aku menjadi kembali teringat dengan kenangan dimana duhulu aku pernah dirawat di sebuah rumah sakit ketika masih duduk kelas X SMA. Memang benar saat kelas X aku pernah dirawat di rumah sakit dan Reza datang menjengukku. Dengan segala perhatian, Reza datang menjengukku dan membawakan buah yang sangat lezat untukku. Hubunganku dengan Reza memang sudah berakhir sejak kelulusan SMP, namun bukan berarti aku tidak tahu jika memang sejak putus dari Reza, berulang kali laki-laki itu meminta maaf dan memohon padaku agar aku mau kembali padanya. Tapi aku tetap enggan untuk kembali padanya dan lebih memilih untuk berteman biasa saja dengannya. Aku tahu bahwa Reza memang masih mencintaiku sampai sekarang dan aku yakin itu karena aku tahu sifat Reza seperti apa. Pacaran selama 6 bulan dengannya membuatku menjadi tahu bagaimana kepribadian laki-laki itu. Namun meskipun aku tahu perasaan Reza, tapi aku selalu menepis pikiran seperti itu karena aku tidak mau kembali tersakiti oleh Reza untuk kedua kalinya. Terlebih sekarang aku sudah hijrah, aku sudah bertekad untuk tidak dekat lagi dengan laki-laki manapun jika bukan untuk menikah. - Bagaikan Dandelion -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD