“Selamat pagi, Nona Queen.” Secara kebetulan, Queen berpapasan dengan sekretarisnya di lantai lobi yang membuat perasaan baik Queen semakin membaik.
“Selamat pagi, Nona Anne. Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Queen melanjutkan pembicaraan.
Anne yang sudah bekerja cukup lama dengan Queen dan mau tak mau cukup mengenal baik atasannya, menatap sebentar dengan ekspresi tengah menganalisis pada Queen. Ia cukup bingung dan terkejut atas perubahan atasannya setelah melihat bagaimana putus asanya Queen belakangan ini. Meski begitu, ia cukup senang jika perubahan ini menuju ke arah yang lebih baik.
“Kabar saya baik, Nona. Sepertinya Anda juga memiliki kabar yang baik, dilihat dari mood Anda pagi ini. Senang rasanya Tuan Melviano banyak membantu kita dan membuat banyak perubahan yang signifikan.” Anne tersenyum lembut.
“Selamat pagi, Nona Queen, Nona Anne.” Pegawai yang menunggu lift, menyapa mereka berdua yang baru saja datang.
“Iya, selamat pagi,” balas Queen pada salah satu pegawainya yang berpapasan dengan mereka di depan lift.
“Kami duluan, Tuan,” pamit Anne sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam lift bersama Queen.
“Ini masihlah awal dari kebangkitan perusahaan kita dan terlalu dini untuk senang dan mengucapkan terima kasih pada Melvin. Aku masih harus membuktikan kualitas dari Jf. Group padanya supaya tidak merasa menyesal sudah membantu kita.” Queen berbicara begitu pintu lift tertutup.
“Saya mempercayai kemampuan Nona,” jawab Anne.
“Ini semua bukan cuma berkat saya atau individu lainnya, tapi berkat kita semua yang sudah bertahan sampai sejauh ini,” ujar Queen.
“Itu benar,” timpal Anne tersenyum bangga.
“Sepertinya Anda dan Tuan Melviano memiliki hubungan dekat sampai Anda memanggilnya hanya dengan nama. Sebenarnya saya tidak menduga jika Anda akan menerima bantuan dari Tuan Melviano, alih-alih Tuan Bara yang tampaknya siap kapanpun.” Perkataan itu membuat Queen sedikit buruk begitu nama Bara keluar.
“Kami teman semasa kuliah,” jawab Queen singkat sebelum akhirnya pintu lift terbuka dan keduanya melangkah keluar.
Anne yang cukup peka, tidak mengatakan apapun lebih banyak. Merasakan keanehan ketika ia membicarakan Bara. Ia menyesali ucapannya yang salah di hari yang baik ini. Queen masuk ke dalam ruangannya tanpa menoleh atau berbicara apapun lagi pada Anne yang duduk di mejanya.
Sudah seminggu berlalu sejak pertemuan dan pembicaraan spontan itu dengan Melviano. Sejak saat itu Melviano mulai menanamkan saham dalam jumlah besar tanpa ragu untuk membantunya dalam satu-satunya masalah yang ada. Ia seolah begitu mempercayai dirinya yang membuat Queen mau tidak mau sedikit terbebani. Meski begitu, ini sedikit membuat Queen bersemangat untuk melakukan yang terbaik atas bantuan Melviano.
Setelah pertemuan itu juga, Melviano dan dirinya sepakat untuk melakukan transaksi mereka setelah perceraiannya dengan Bara. Dan perceraiannya dengan Bara tinggal menunggu beberapa hari lagi sampai persidangan terakhir. Sampai saat ini, tidak ada yang mengetahui bagaimana kondisi rumah tangganya dengan Bara selain Melviano. Termasuk juga keputusannya mengenai pernikahannya dengan Melviano yang semata-mata dilakukan hanya untuk transaksi.
“Adikku, selamat pagi!” Seruan seseorang yang menyapanya begitu Queen masuk ke dalam ruangan membuat ia menoleh terkejut ke arah kursi yang biasa ia duduki.
“Kak Kennard! Selamat pagi,” balas Queen sedetik kemudian tersenyum hangat dan berjalan menghampiri mejanya. Ia menyimpan tasnya dan duduk berhadapan dengan Kennard berbataskan meja kerjanya.
“Tidak biasanya kemari di jam segini, apa yang membawamu kemari?” tanya Queen.
“Apa aku butuh alasan untuk mengunjungi adikku pagi-pagi?” tanya balik Kennard.
“Kak Kennard pasti akan segera kembali bekerja, ya?” Kennard menggelengkan kepalanya.
“Lantas apa?” Queen menyerngit dengan tanda tanya di wajahnya.
“Sudah kubilang tidak ada alasan khusus aku datang kemari. Hanya mengecek keadaanmu yang bisa saja lagi-lagi mengejutkanku seperti terakhir kali aku kemari,” jawab Kennard.
“Aku sudah baikan sejak lama,” timpal Queen lantas menekan tombol telpon intercom yang terhubung pada meja Anne.
“Tolong bawakan dua gelas kopi kemari, Nona Anne.” Setelah mendengar jawaban Anne di seberang telpon, ia menutup kembali.
“Tentu saja kamu harus baikan karena sudah mendapatkan bantuan dari Melvin. Ngomong-ngomong, aku terkejut kamu ternyata mengenal baik pria itu.” Queen tersenyum kecil.
“Aku juga cukup terkejut karena dia juga kenalan Kakak, bahkan kalian berteman baik,” sahut Queen.
Tak lama pintu ruangan diketuk disusul dengan masuknya seorang wanita setengah baya bersama dengan nampan kopi pesanan Queen tadi pada Anne. Tak banyak berbicara, ia keluar setelah menyelesaikan pekerjaannya dan berpamitan.
“Kenapa kamu memutuskan untuk meminta bantuan pada Melvin alih-alih pada suamimu?” tanya Kennard.
Queen yang baru saja meneguk kopi yang masih cukup panas itu, terdiam ketika mendengar nama Bara lagi-lagi terdengar di telinganya. Topik pembicaraan mengenai suaminya sekarang sangat sensitif baginya. Ia juga tidak ingin menceritakan lebih jauh bagaimana keadaan rumah tangga yang sudah hampir selesai itu. Pertanyaan itu cukup lama mengundang jeda pada jawaban Queen. Sedang Kennard masih menunggu dengan tatapan yang menatap lekat pada ekspresi wajah Queen.
“Tidak ada alasan khusus. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Zoe sekarang? Aku sudah cukup lama tidak bertemu dengan sahabatku. Setiap aku dan Tori berkumpul, ia selalu menanyakannya.” Queen memilih mengalihkan pembicaraan sebelum topik ini lebih jauh.
“Zoe baik-baik saja, ia sibuk seperti biasanya,” jawab Kennard tanpa memperpanjang pembicaraan tadi.
“Apa Kakak tidak memiliki rasa bersalah setelah mengambil seorang anak dari orang tuanya dan seorang wanita dari sahabat-sahabatnya? Kapan Kakak akan menikahinya?” tanya Queen dengan nada yang sedikit kesal.
“Aku sudah lama mengajaknya untuk menikah. Tapi Zoe selalu menolaknya atau menghindarinya dengan mengatakan nanti. Aku tidak mau memaksanya yang bisa berujung pada pertengkaran. Aku mencintainya.” Kennard menghela napas pasrah lantas mengambil cangkirnya dan meneguk isinya pelan.
“Sampaikan salamku padanya dan katakan aku dan Tori merindukannya, ingin bertemu dengannya,” pesan Queen.
“Baiklah … “
“Queen, aku masih kesal dan sejak dulu aku juga tidak menyetujui kamu menikah dengan si pria playboy itu. Bagaimana jika kamu bercerai darinya dan menikah saja dengan Melviano?” Pertanyaan Kennard membuat Queen terbatuk ketika meneguk kopinya lagi.
Tidak ada angin atau pun hujan, Kennard kembali mengangkat topik pembicaraan Bara. Namun, kali ini, bukannya merasa hatinya memburuk, Queen lebih merasa jika kakaknya entah kenapa seperti mengetahui sesuatu antara dirinya, Bara, dan Melviano. Entah memang firasatnya yang terlalu kuat mengenai dirinya. Ia tidak bisa asal menjawab jika tidak ingin mendapat lebih banyak pertanyaan dari Kennard yang mengundang kecurigaan. Atau haruskah ia memberitahu Kennard kebenarannya?
"Aku akan membantumu jika kamu mau, aku juga lebih mempercayai Melviano daripada dia. Bagaimana Queen?"
-
-
-
To be continued