“Apa selama pernikahan kita, kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku lebih dari seorang sahabat?”
Queen lagi-lagi rasanya ingin tertawa ketika pertanyaan Bara terlintas kembali di dalam pikirannya. Lebih tepatnya, tertawa miris untuk menertawakan dirinya sendiri. Bara masih belum mengenal dirinya bahkan setelah tumbuh bersama 20 tahun lebih lamanya dan hidup bersama 5 tahun lamanya. Ia tidak yakin, Bara akan bisa mengetahui bagaimana perasaan sesungguhnya dirinya pada pria itu. Pria yang akan segera menjadi mantan suaminya dalam beberapa minggu lagi. Helaan napas keluar dari mulut Queen setelah meminum minuman di gelasnya.
“Hai,” sapa suara pria yang tiba-tiba saja terdengar di sampingnya.
“Queen, aku benar, kan?” Pria tersebut tersenyum ramah pada Queen yang dibalas senyum tipis olehnya.
“Benar, Kak Melviano. Bagaimana kabarmu?” tanya Queen melanjutkan pembicaraan mereka.
“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” Pria bernama Melviano ini bertanya balik pada Queen.
“Tentu saja aku baik.” Betapa baiknya Queen sampai ia mampu berbohong dengan sempurna di depan pria ini.
“Sejujurnya, Queen, aku tidak begitu baik-baik saja karena merindukanmu dan sedih karena sepertinya kamu sudah melupakan pertemanan kita saat di universitas.” Perkataan Melviano berhasil mengundang senyum yang lebih lebar di wajah Queen.
“Aku tidak pernah lupa dengan pertemanan kita, Kak Melviano,” balas Queen.
“Kalau begitu, panggil aku Melvin seperti saat kita kuliah agar aku bisa merasakan pertemanan lama kita.” Melviano sejak dulu selalu paling mengetahui bagaimana membuat orang-orang tersenyum tanpa bisa menolaknya.
“Baiklah, Melvin. Ngomong-ngomong, apa yang membawamu kemari?” tanya Queen mengalihkan pembicaraan.
“Aku sedang berlibur untuk sementara dari sekretarisku yang merepotkan,” jawab Melviano dengan raut wajah kesal.
“Begitukah?” Lagi-lagi Queen hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Melviano. Ia juga tidak terlalu pandai berinteraksi dengan nyaman pada seseorang yang baru ditemuinya lagi setelah sekian lama.
“Pekerjaanku akhir-akhir ini juga tidak terlalu menyenangkan,” curhat Melviano yang tanpa diminta mengundang tanda tanya pada Queen.
“Apa maksudmu? Apa karena sekretaris merepotkanmu?” Queen bertanya lagi dengan maksud candaan untuk berusaha menghiburnya.
Namun, melihat raut wajah Melviano yang tidak terlalu membaik membuat rasa bersalah justru menghinggapi Queen. Sudah ia duga, jika dirinya tidak terlalu pandai dalam hal seperti ini.
“Maaf, maksudku, apa Evr. Group mengalami krisis?” tanya Queen mengulangi.
“Tidak, bukan itu. Bagaimana mengatakannya, ya. Queen … aku bisa gila karena ibuku selalu menekanku untuk menikah bahkan di tengah-tengah pekerjaanku. Itu membuat pekerjaanku jadi tidak menyenangkan lagi.” Melviano mengeluh di depan Queen yang membuat Queen mengerjap sebentar karena ia pikir ada sebuah masalah lain yang lebih berat menimpa perusahaan keluarga Evaristus.
“Apa kamu tidak memiliki kekasih untuk diajak menikah?” tanya Queen lagi yang mendapati tatapan intens dari Melviano.
“Queen, apa kamu mengejekku? Siapa yang mau dengan seseorang sepertiku?” Queen segera menggelengkan kepalanya untuk meluruskan kesalahpahaman.
“Tidak, bukan itu maksudku,” sanggah Queen secepat mungkin.
Queen justru tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pria ini. Entah ia tengah membanggakan dirinya dibalik perkataan merendahnya, entah ia memang tidak mengetahui daya tarik dirinya sendiri. Melviano adalah pria yang cukup tampan dan populer, meski tidak sepopuler Bara saat kuliah. Kekayaannya pun tidak perlu diragukan lagi karena perusahaan yang sedang ia pimpin adalah salah satu perusahaan yang merajai kota ini bersama 4 perusahaan lainnya. Mana mungkin tidak ada wanita yang tidak mau dengannya.
“Sepertinya aku memang tidak bisa menarik gadis manapun. Andai saja ada seorang wanita yang mau menikah denganku secara tiba-tiba. Bahkan jika itu hanyalah pernikahan simbiosis untuk transaksi yang bisa ditukar.” Tiba-tiba saja perkataan Melviano membuat Queen menoleh dan menatap lekat wajah Melviano.
“Queen, omong-omong, aku mendengar dari Kennard kalau perusahaan keluarga kalian sedang dalam keadaan yang tidak baik? Apa kamu baik-baik saja?” Suara Melviano, menyadarkan Queen dari lamunan singkatnya.
‘Apa yang tadi aku pikirkan?’ tanya Queen dalam batinnya ketika ia berpikir untuk melakukan pernikahan simbiosis itu dengan Melviano.
“Kamu sekarang baik-baik saja kan, Queen?” tanya Melviano sekali lagi sambil menatap lekat wajah Queen dari dekat yang tadi baru saja menggeleng.
“A-aku tidak apa-apa.” Karena terkejut, spontan Queen segera menjauhi wajah Melviano.
“Ngomong-ngomong, apa kamu mengenal kakakku?” Queen mengalihkan pembicaraan.
“Ya, aku dan dia sudah cukup lama mengenal satu sama lain. Dia juga sering menceritakanmu. Awalnya aku tidak mengetahui jika orang yang diceritakan olehnya adalah kamu, tapi saat mendengar nama belakangnya, aku langsung menyadarinya. Betapa bodohnya aku saat itu.” Cerita Melviano membuat Queen khawatir tentang apa saja yang diceritakan kakaknya pada pria di depannya ini.
“Perusahaan keluargaku memang sedang tidak baik-baik saja, Melvin … “ Helaan napas keluar dari mulut Queen ketika cerita itu dimulai.
“Jadi, apa kamu membutuhkan bantuanku sekarang, Queen?” Melviano menatap netra hitam kecoklatan milik Queen dengan serius kali ini.
“Aku mengerti apa yang kamu rasakan, tentu beban yang kamu tanggung itu berat. Aku juga merasakan bagaimana rasanya jika kita tidak bisa memenuhi harapan orang-orang yang kita sayangi. Tapi, setiap orang tidak bisa selamanya melakukan segala hal sendiri. Tidak apa jika terlihat lemah dan mengakui kelemahannya untuk meminta bantuan pada orang lain, Queen. Itu bukan berarti kamu lemah.” Perkataan itu menyentuh sekaligus menyentil hati kecilnya.
Melviano benar. Ia hanya terus menerus ingin merasa kuat dan memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitarnya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Namun selama ini, dirinya bukan memenuhi ekspektasi orang-orang, melainkan memenuhi egonya sendiri. Seharusnya ia mengetahui dengan sendirinya kapan harus meminta bantuan kepada orang lain, bukan terus bertahan dengan memaksakan diri.
“Baiklah, aku mau menerima bantuanmu.” Queen tersenyum dan menjawab yang disambut dengan senyuman juga oleh Melviano.
“Aku juga bersedia membantumu melakukan pernikahan simbiosis itu untuk transaksi kita.” Perkataan Queen berhasil membuat Melviano terkejut.
“Queen … ” panggil Melviano pelan yang masih dalam keterkejutannya.
“Tapi, bagaimana dengan pernikahanmu dan Bara?” tanya Melviano.
“Aku akan bercerai dengannya,” jawab Queen ringan.
“Ada apa?” tanya Melviano kembali menyerngit heran.
“Cerita yang sangat panjang.” Queen tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini dan memilih meminum minumannya.
“Baiklah jika kamu tidak ingin menceritakannya, tapi kenapa kamu ingin menikah denganku?” Melviano juga mengerti dan tidak memperpanjang.
‘Kenapa aku mau? Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa aku mau?’ Diam-diam Queen juga mempertanyakan hal yang sama.
“Karena ini juga menguntungkan kita berdua. Setidaknya orang tuaku juga tidak akan menjodoh-jodohkan lagi setelah bercerai dari Bara. Aku bisa aman untuk langkah masa depanku,” jelas Queen.
“Apa kamu tidak mau jika calonnya adalah aku?” tanya Queen kemudian menoleh pada Melviano yang sejak tadi sudah menatapnya.
Melviano menggeleng cepat. “Tentu saja aku mau!” jawabnya cepat.
“Kalau begitu mohon bantuannya, Melvin.” Queen mengulurkan tangannya.
-
-
-
To be continued