Bab 4 : Mengambil Keputusan

1121 Words
Setelah beberapa minggu berlalu, Queen memilih untuk tinggal di apartemen pribadinya. Karena dirinya kali ini memiliki tujuan untuk bertemu dan berbicara hal penting dengan Bara, ia berada di rumah yang sudah ditinggalinya selama hampir 5 tahun lamanya itu bersama sang suami. Ia menatap bergantian pada kedua orang yang berdiri di depan pintu setelah ia membukakannya. Satu orang pria yang sangat ia kenali, yang orang-orang lihat sebagai suaminya. Dan satu lagi wanita yang baru-baru ini ia kenal sebagai sekretaris suaminya sekaligus selingkuhannya. Melihat suami dan selingkuhannya pulang bersama, tak menimbulkan reaksi apapun yang menghebohkan dari Queen. Ia menyingkir dari depan pintu, membiarkan keduanya masuk ke dalam. “Bagaimana kabarmu dan kandunganmu, Liandra?” Queen bertanya untuk sekedar berbasa-basi pada wanita yang kini sudah duduk di samping suaminya itu. Liandra menunduk dengan canggung tak berani menatap Queen. Ia merasa sedikit bingung harus menjawab dengan ekspresi wajah seperti apa. Queen adalah istri sah dari Bara, kekasih gelapnya. Namun, ia begitu santai dan tenang dalam menghadapi situasi ini. Meski ini bukan kali pertama Liandra dan Queen bertemu, ia tetap tidak terbiasa dengan sikap dingin dari istri kekasih gelapnya ini. “I-ia baik-baik saja,” jawab Liandra pelan masih enggan menatap Queen. Queen tidak berniat berbicara lebih banyak lagi untuk melanjutkan basa basinya. Jadi, ia memilih untuk ke kamar mengambil suatu dokumen yang akan menjadi topik pembicaraan mereka. “Queen,” panggil Bara pada Queen yang hendak melangkah pergi meninggalkan ruang tamu. Queen menoleh kembali dan bertanya, “Ada apa?” “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Bara menjawab. Ia kemudian melanjutkan langkahnya. “Aku juga ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Tunggu sebentar,” sahut Queen setelah melangkahkan kakinya. Arah langkah Queen menunjukkan jika wanita itu pergi ke salah satu kamar tamu. Tak berapa lama, ia kembali datang ke ruang tamu dan duduk berhadapan dengan Bara dan Liandra. Ia meletakkan map berwarna coklat yang baru dibawanya ke atas meja. Seharusnya, Bara sudah dapat menebak apa isi dari map tersebut. “Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” Queen lebih dulu bertanya pada Bara. “Kami akan menikah.” Satu kalimat suaminya berhasil membuat tangan yang terlipat di depan d**a itu mengepal. Meski begitu, Queen masih belum mengubah ekspresi wajahnya. Ia menatap lurus pada map yang berada di atas meja. Keterdiaman Queen membuat Bara maupun Liandra menebak-nebak apa respon yang akan dikeluarkan oleh wanita yang biasanya bersikap dingin itu. Namun, sedingin apapun sikap Queen, ia tetap adalah seorang wanita yang memiliki hati rapuh. Sudah pasti Queen terkejut, sedih, dan- “Bagus, itu kabar baik. Aku juga akan mengizinkan kalian menikah," ucap Queen setelah lama keheningan di antara mereka. Kali ini Bara dan Liandra yang terdiam setelah mendengar respon dari Queen. Justru mereka yang lebih terkejut dengan sikap yang diambil Queen saat ini. Itu adalah kalimat yang benar-benar di luar ekspektasi mereka. Setidakpeduli itukah Queen pada pernikahannya dengan Bara? “Queen, kamu serius?” tanya Bara kembali memastikan karena ketidak percayaannya mendengar kalimat istrinya. “Tentu saja. Apa ada sesuatu yang membuat aku tidak serius mengatakan jika aku turut bahagia dengan pernikahan kalian berdua?” Queen bertanya balik dengan ekspresi wajah keheranan. “Maksudku, apa kamu semudah ini mengizinkan aku menikah lagi dengan Liandra?” “Ya, tentu saja. Karena aku akan bercerai darimu,” jawab Queen tenang membuat Bara dan Liandra lagi-lagi dibuat terkejut. “Queen, aku masih bisa menafkahi kalian berdua.” Perkataan Bara mengundang kernyitan di dahi wanita yang duduk di depannya. Tentu saja dengan kekayaan pria itu, hal tersebut memang bukan sebuah hal yang tidak mungkin. Tapi hei, apa Bara meremehkan dirinya hanya karena ia wanita? Ia lebih dari bisa melakukan apapun tanpa Bara. Jika bukan karena hubungan kedua orang tua mereka, ia juga tidak ingin menghabiskan waktu dengan pria yang hatinya bukan miliknya. Seseorang yang mengatakan jika cinta datang karena terbiasa adalah sebuah omong kosong. Ia dan Bara mungkin memang ditakdirkan hanya untuk sebagai sepasang sahabat saja. “Ini bukan soal menafkahi, aku hanya tidak ingin berada di antara kalian berdua. Aku juga tidak ingin menjadi penghalang.” Queen memberikan alasannya. “Tapi, bagaimana dengan perusahaan keluarga kalian? Bukankah keluarga Jefferson saat ini sangat membutuhkan bantuan?” tanya Bara yang semakin membuat kernyitan di dahi Queen tak kunjung hilang. Itu memang benar. Namun, bukan berarti bantuan hanya bisa datang dari keluarga Ziyan. Apa yang dikatakan oleh kakaknya beberapa hari lalu memang benar. Ia tidak ingin mendapatkan bantuan dari suaminya karena harga dirinya. Jika Kennard mengetahui hal ini, ia juga akan sependapat dengannya. Biar saja dirinya disebut berharga diri tinggi, daripada harus mengemis pada seseorang yang tidak tahu malu seperti Bara. “Aku lebih suka meminta bantuan pada orang lain," jawab Queen tegas dan terkesan angkuh. "Mendengar apa yang kamu katakan, apa bantuanmu dan keluargamu haruslah datang karena kita masih memiliki ikatan pernikahan?” Tatapan Queen kali ini berubah menjadi lebih dingin pada suaminya yang duduk di depannya. “Tentu saja tidak, Queen. Kita berdua adalah sahabat lama begitu pun dengan kedua orang tua kita.” Perkataan Bara membuat Queen sedikit ingin tertawa. Sahabat? Setelah semua yang dilakukan pria ini, ia tidak yakin keluarganya masih menganggap keluarga Bara sahabatnya. Dirinya juga tidak yakin apa masih bisa bersahabat dengan Bara setelah ini. “Aku tidak terlalu yakin jika keluargaku masih akan mau menerima bantuan darimu atau dari keluargamu,” ucap Queen yang dengan sengaja memberitahu Bara secara tidak langsung akibat dari perbuatannya. “Bukankah dengan kita bercerai, maka keluarga kita akan mengetahuinya? Queen, cobalah bertahan sampai masalah perusahaan keluargamu teratasi. Kudengar, masalah ini cukup serius dan memang membutuhkan bantuan besar. Memangnya darimana kamu akan mendapatkan bantuan?" Perkataan Bara membuat Queen lagi-lagi tak habis pikir. Dalam batinnya, Queen berkata, ‘Apa Bara saat ini benar-benar serius dengan ucapannya? Aku sama sekali tidak melihat Bara yang aku kenal selama 20 tahun lebih lamanya.’ "Sudah kukatakan, aku lebih suka tidak menerima bantuan darimu, daripada harus membuang-buang waktuku lebih lama denganmu, Bara. Lebih baik semuanya diakhiri sekarang." Ia berkata dengan intonasi yang lebih dingin karena jujur saja, Queen merasa tersinggung pada apa yang dikatakan oleh Bara. “Maaf, Queen.” Bara kali ini mengatakan maaf sambil menatap Queen dengan teduh membuat otot wajah Queen yang semula kaku, menjadi lebih rilex ketika pandangan mereka bertemu. “Tidak ada lagi yang akan aku bicarakan. Kalau kamu juga sudah selesai, aku akan istirahat. Sepertinya Liandra juga sudah kelelahan,” ucap Queen kembali seraya berdiri dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya. Tidak ingin hatinya kembali tergoyahkan oleh tatapan yang pertama kali ia lihat dari sorot mata Bara. “Queen … ” Bara tiba-tiba kembali memanggilnya yang kali ini Queen tidak berbalik dan hanya menunggu pria itu mengatakan tujuannya. “Apa selama pernikahan kita, kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku lebih dari seorang sahabat?” - - - To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD