Bab 3 : Keras Kepala

1254 Words
Setelah beberapa hari berlalu Bara dan Queen bertengkar hebat untuk pertama kalinya, wanita itu masuk ke kantornya seperti biasa seolah kejadian itu tidak pernah terjadi. Tentu saja itu adalah perkara sulit baginya sebagai pemimpin, yang mana dilarang keras membawa masalah pribadi ke kantor. Di balik topeng wajah dingin yang menunjukkan wibawa dan karismanya, tersembunyi hati yang kacau berantakan bercerai-berai. Karena hal tersebut, untuk hari ini ia cukup kesulitan mengendalikan topeng di wajahnya. “Perusahaan sudah sangat sepi, tetapi gaji kita tetap saja terlambat.” “Memang sudah tidak ada harapan lagi untuk perusahaan ini.” “Sayang sekali, Jf. Group yang dulunya begitu berjaya dan berpengaruh di kota ini sekarang berada di ambang kehancuran.” Dari jaraknya melangkah mendekat pada para karyawannya yang berdiri di depan lift, Queen sudah bisa mendengar pembicaraan itu. Namun, itu sama sekali tidak mengubah ekspresi wajah Queen yang tetap dingin dan dengan tenang melangkah percaya diri mendekat pada mereka. “Hubungan baik antara dua pemimpin Jf. dan Zn. Group sepertinya sekarang dalam keadaan tidak begitu baik, meski anak-anak mereka menikah.” “Dari rumor yang kudengar, itu karena Nona Queen yang masih belum melahirkan pewaris sampai saat ini usia pernikahan mereka berjalan 5 tahun. Sepertinya itu penyebab hubungan mereka tidak baik.” Wanita itu mengeratkan pegangan tangannya pada tas yang ia bawa ketika kalimat itu terdengar. Kali ini ia sedikit melemaskan wajahnya dan mencoba tersenyum, semakin dirinya mendekat pada mereka. Mempersiapkan diri untuk berpura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka. “Selamat pagi,” sapa Queen pada para pegawainya yang tampak baru menyadari keberadaannya. “Se-selamat pagi, Nona Queen.” Mereka semua tampak terkejut dan menghindari tatapannya. “Saya pergi duluan.” Karena lift khusus pegawai dan eksekutif berbeda, maka ia tidak perlu repot-repot menunggu. “Silahkan, Nona.” Queen masih mempertahankan senyumnya sampai pintu lift benar-benar tertutup. Begitu pintu lift tertutup, senyum yang ada di wajahnya lenyap dan berganti dengan ekspresi wajah penuh kekecewaan. Queen bisa melihat keadaan di setiap lantai dengan leluasa karena dinding kaca yang transparan. Dimana setiap lantai, sama lenggangnya dengan lantai yang pertama kali ia pijak ketika tiba di kantornya. Kekecewaan itu semakin menjadi dirasakan pada dirinya dan untuk dirinya sendiri. Menyadari jika berdiam diri dan tenggelam dalam rasa kecewa tidak ada gunanya, ia dengan cepat berpikir cara mengubah keadaan ini. Wanita itu sama sekali tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain karena sudah cukup sibuk dengan perusahaan yang dititipkan ayahnya kini dalam keadaan kritis. “Nona Queen, selamat pagi.” Seorang wanita berpakaian formal menyapa Queen begitu dirinya sampai di lantai ruangannya. “Selamat pagi, Nona Anne. Anda datang lebih pagi hari ini.” Queen membalas sapaan sekretarisnya itu yang sudah ada di kubik mejanya. “Apa Anda kurang tidur semalam? Wajah Anda terlihat pucat,” ujar Anne menatap penuh khawatir wajah atasannya itu. “Ya, saya memang kurang tidur. Tapi saya masih bisa mengatasinya,” jawab Queen yang tak ingin membuat khawatir sekretarisnya meski rasa sakit kepalanya cukup membuat ia pening. ‘Eh?’ Baru saja ia berkata demikian, tiba-tiba saja pandangannya memburam. “Nona, apa Anda yakin baik-baik saja?” tanya Anne kembali sembari menghampiri Queen yang tadi ia lihat keseimbangannya oleng. “Nona!” Belum sempat ia menjawab, kesadarannya perlahan-lahan hilang dan yang terakhir kali ia dengar hanyalah suara dari Anne yang memanggilnya. Queen membuka matanya cepat untuk melihat dimana ia berada. Ketika ia mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk, ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Ingatannya terakhir kali sebelum jatuh pingsan pun turut mengalir di dalam kepalanya. “Ini kamar istirahat di ruanganmu. Bagaimana keadaanmu sekarang?” Suara yang terdengar tepat di sampingnya membuat Queen mengalihkan atensi pada asal suara. “Kakak? Kenapa bisa ada di sini?” tanya Queen terkejut yang melihat keberadaan sang kakak. “Seharusnya aku yang terkejut karena kamu yang menyambutku dengan kondisimu yang seperti ini.” Pria tersebut menghela napas seraya berdiri dari duduknya dan mendorong tubuh Queen untuk kembali berbaring. “Istirahatlah lagi,” ucapnya kemudian. “Apa yang terjadi padaku?” tanya Queen kembali tanpa protes dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya. “Apa yang terjadi pada orang yang bergerak seperti robot tanpa memperhatikan tubuhnya sendiri?” tanyanya balik. “Maaf, Kak Kennard … “ Tidak ada lagi jawaban atas permintaan maaf itu. “Nona Queen, Anda sudah sadar? Saya membawakan makanan untuk Anda,” ujar Anne yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar istirahat di ruangan Queen. “Nona Anne, terima kasih banyak.” Queen bangun lagi dari tidurnya dan duduk bersandar. “Meskipun keadaan kantor kita seperti ini, tolong jangan terlalu memaksakan diri Anda. Dokter mengatakan jika Anda kurang beristirahat dan makan makanan yang bergizi. Tolong perhatikan juga kondisi tubuh Anda.” Anne datang menasehatinya sambil membawa makanan untuk bosnya. Queen tersenyum tipis, mendapat omelan dari sekretaris loyalnya ini karena kekhawatirannya. “Baik, saya akan mengingatnya,” balas Queen pelan sambil mengambil makanan yang diberikan. “Cih!” Kennard berdecih pelan karena menyadari omong kosong adiknya setelah mengenal seumur hidup Queen. “Haah … Queen, kamu itu memiliki suami yang menjadi salah satu pemegang kekuasaan di kota ini dalam bisnis, walaupun aku tidak menyukainya. Kenapa kamu terus memaksakan dirimu sendiri sampai sejauh ini?” Kennard lagi-lagi menghela napas sambil menatap Queen intens. Queen berhenti membuka kotak makan yang dibawakan oleh Anne. Ia menunduk dalam tak berani menatap pada wajah sang kakak. Ia sudah mendengar sendiri dan mengetahui dengan pasti bahwa Kennard sangat tidak menyukai Bara. Bagaimana reaksinya setelah mengetahui apa yang terjadi pada rumah tangganya? “Apa ini karena harga dirimu?” tanya Kennard kembali yang entah mengapa membuat hati nurani Queen tidak bisa menolak. “Ka-kalau begitu saya akan keluar, Tuan, Nona, permisi.” Tanpa diperintah, Anne pamit undur diri ketika percakapan sudah dirasa privasi. “Sepertinya sekarang iya,” timpal Queen ambigu. “Apa maksudmu?” tanya Kennard menyerngit tak mengerti sekaligus tidak puas atas jawaban adiknya. “Kakak akan segera mengetahuinya sebentar lagi karena aku sudah memutuskannya.” Kennard semakin tidak mengerti, tapi ia tidak bertanya lebih jauh lagi dan hanya menyimpulkan sendiri. Queen menyuapkan satu sendok bubur tersebut ke dalam mulut. Matanya melirik ke arah Kennard yang masih memperhatikan. Ia tahu apa yang ada di dalam kepala kakaknya sekarang. Namun, ia tidak berniat untuk memberitahu Kennard semuanya. Pada akhirnya, kakaknya, dan semua anggota keluarganya akan mengetahuinya, tapi ia tidak berniat untuk memberitahu mereka lewat mulutnya sendiri. “Kalau kamu tidak mau menerima bantuan dari Bara, aku akan meminta bantuan pada temanku. Dia juga berasal dari keluarga berpengaruh di kota ini, aku yakin ia mau membantumu.” Kennard kembali mengeluarkan suaranya. “Apa kakak mau menjerumuskan teman kakak pada kehancuran? Siapa yang akan mau dengan bodohnya memberikan uang secara cuma-cuma pada perusahaan yang tidak memiliki masa depan?” Queen berkata seolah mengetahui ini adalah akhir dari perusahaannya. “Apa sekarang kamu meragukan kemampuanmu sendiri, Queen?” tanya balik Kennard. “Daripada itu, kenapa tidak Kakak saja yang membantuku?” Kennard tidak bisa menjawab lagi pertanyaan Queen dan berniat mengalihkan topik pembicaraan. “Kalau kamu sudah mengambil keputusan, aku yakin itu adalah keputusan bagus. Aku akan percaya padamu, Queen.” Kali ini giliran Queen yang tidak bisa menjawab lagi perkataan itu. Tatapan Kennard adalah tatapan yang sama dengan orang-orang yang sudah ia lihat sebelumnya. Itu semakin menyakiti hati Queen dengan pengharapan mereka padanya. "Setelah makan, beristirahatlah, aku harus menemui teman lamaku di sini. Tepatilah janjimu pada Nona Anne." Suara Kennard kembali menyadarkan Queen. "Kak Kennard!" panggil Queen sebelum Kennard benar-benar keluar dari kamar. "Ada apa, Queen?" Kennard berbalik menatapnya. "Siapa teman Kakak yang katamu bisa membantuku?" - - - To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD