Bab 2 : Awal mula

1154 Words
Queen segera menghindari tangan Bara yang baru saja hendak menyentuhnya. Ia menarik napas untuk menetralkan tangisnya, lalu melirik ke sekeliling. Tidak baik jika mereka berdebat atau bertengkar di depan rumah seperti ini. Selain itu, keputusan atau ucapan yang diambil ketika amarah menguasai, pasti akan disesali suatu saat. Tanpa berkata apapun, Queen lebih memilih untuk pergi begitu saja meninggalkan Bara. “Queen, aku bisa menjelaskan semuanya.” Bara mengejarnya dan berusaha sekali lagi menggapai tangan Queen untuk menghentikannya. Queen masih tidak menggubrisnya. Merasa jika apa yang akan dikatakan oleh Bara pastilah adalah alasan pembenaran dari perselingkuhannya. Meski pernikahan ini atas dasar perjodohan dan tanpa adanya cinta, ia tetap menghargai pernikahan ini dan berkomitmen selamanya. Begitupun dengan suaminya yang berjanji akan hal yang sama. Namun sekarang, Queen tidak bisa memberikan toleransi pada Bara ketika suaminya mengingkari janji dan menodai ikatan suci ini. “Queen, dengarkan aku dulu!” Bara akhirnya mencekal pergelangan tangan Queen yang membuat ia mau tak mau berhenti. “Mendengarkan apa?” tanya Queen pada akhirnya dan menatap tepat pada manik mata suaminya, sambil berusaha untuk tetap tenang. “A-aku dan Liandra,” ucap Bara terbata-bata. “Ya, aku tahu. Kamu dan Liandra berhubungan karena kamu tidak bisa mendapatkan sesuatu yang kamu dapatkan dariku pada Liandra. Termasuk anak. Jadi, kamu melakukannya dengan wanita lain. Tidak usah mengatakan apapun untuk memberikan alasan atas perselingkuhanmu, Bara.” Queen mati-matian berusaha untuk tidak mengeluarkan sedikitpun air mata lagi di depan pria yang menyandang status sebagai suaminya ini. “Yang paling membuat aku kecewa darimu adalah, kamu sama sekali tidak mengatakan apapun padaku untuk menegurku jika merasa aku kurang sesuatu. Tapi kamu justru mengatakannya pada wanita itu!” seru Queen tajam sembari menyentak tangan Bara yang masih menahan pergelangan tangannya dan berbalik, hendak pergi sekali lagi meninggalkan sang suami. “Ya, kamu benar!” teriak Bara yang membuat langkah Queen lagi-lagi terhenti. “Kamu adalah wanita paling bodoh dan dingin yang pernah aku kenal, Queen! Kamu masih saja bekerja di saat aku bisa memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu juga tidak pernah meminta bantuan apapun padaku bahkan di saat perusahaan keluargamu berada di ambang kehancuran! Sebagai wanita yang sudah bersuami, kamu masih saja bertindak seolah-olah kamu adalah seorang wanita lajang yang bisa melakukan segalanya sendiri. Dan saat para Paman dan Bibi menanyakan anak, kamu dengan santainya menjawab dengan alasan ini dan itu, tanpa mengatakan apapun padaku setelahnya. Sikapmu yang seperti itulah yang membuat aku muak denganmu!” Perkataan Bara berhasil membuat Queen meneteskan air matanya kembali. “Apa sikapmu itu tidak bisa aku anggap sebagai persaingan yang kamu lakukan denganku sebagai suamimu, huh?!” bentak Bara dengan mata melotot tajam menyorot pada punggung Queen. “Mungkin saja apa yang dikatakan oleh para Bibi benar. Kamu sama sekali tidak berniat memiliki anak demi karir pekerjaanmu itu yang selalu kau banggakan-” “Diam kamu, Bara!” tunjuk Queen dengan mata memerah yang nyalang bercampur air mata pada Bara. Queen sekali lagi menarik napasnya untuk menetralkan suaranya agar tidak terdengar bergetar ketika berbicara. Tatapannya masih sama tajamnya pada sang suami. Sepanjang Bara mengenal Queen sejak kecil, ia tidak pernah sekalipun melihat Queen semarah ini kepada siapapun. Begitupun dengan tangisannya. Baru kali ini ia melihat istrinya marah dan menangis seperti itu. Terlebih ini semua adalah karena dirinya. “Kukira selama 28 tahun kita saling mengenal, kamu bisa mengenalku dengan baik. Seperti halnya aku mengenal dirimu dengan baik. Ternyata tidak,” ucap Queen sambil menggelengkan kepalanya. “Asal kamu tahu, Bara. Tidak hanya aku, wanita yang sudah menikah selama 5 tahun, tapi belum juga dikaruniai keturunan akan merasakan hal yang sama sepertiku! Suami mereka yang benar-benar tulus mencintai istrinya akan tetap memilih istrinya, bukan mencari wanita lain yang bisa mengandung dengan cepat.” “A-aku … “ Queen mengangkat tangannya untuk menghentikan Bara berbicara. “Aku lupa, kita menikah atas dasar perjodohan dan tidak ada cinta di antara kita. Aku terlalu berlebihan berbicara.” Setelah selesai mengatakannya, Queen benar-benar pergi meninggalkan Bara untuk ke kamarnya. Bara menatap nanar kepergian Queen tanpa bisa mencegahnya lagi. Semua perkataan Queen yang begitu menamparnya, melukai harga diri seorang pria seperti Bara. Jadi, yang hanya bisa dilakukan olehnya hanyalah sekedar tangan yang melayang di udara tanpa bisa memanggil Queen, untuk sekedar meminta maaf atau memperbaiki kesalahannya. Seseorang seperti Bara yang memiliki jiwa superior kuat, masih belum menerima jika dirinya berbuat salah pada Queen. “Arrgh!!! Sialan!” Yang terdengar oleh Queen dari dalam kamar yang ditempatinya kini adalah suara geraman Bara dan barang-barang yang hancur. Queen hanya berpura-pura tidak mendengar dan tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Bara. Sisi nuraninya meminta untuk menghampiri Bara dan meminta maaf. Seperti masalah lainnya yang mana dirinya hanya mengalah untuk menghindari konfrontasi dengan Bara. Namun, kali ini Queen menuruti otaknya untuk tidak mengalah lagi pada Bara. Semua ini adalah kesalahan Bara yang fatal, ia tidak akan mengalah darinya dan menerima kesalahan Bara begitu saja seperti wanita bodoh. “Aku hanya ingin bekerja untuk mencari pengalaman tanpa merepotkan orang tuaku atau keluarga suamiku. Jadi, aku memilih keputusan seperti ini.” “Janganlah terlalu bekerja keras dalam mencari pengalaman. Aku yakin Bara masih bisa menafkahimu meski kamu tidak bekerja. Bukankah lebih baik untuk mulai memikirkan memiliki anak di usia kalian yang sudah terbilang matang?” “Kami juga selalu memikirkan hal itu, tetapi jika tuhan masih belum menitipkan malaikat kecil pada kami. Kami hanya bisa selalu berusaha.” “Bekerja dan bekerja padahal suaminya lebih dari mampu untuk memanjakannya. Itulah kenapa dia masih belum dikaruniai anak.” “Dia mungkin memang sengaja bekerja untuk tidak memiliki anak. Kamu juga tahu, anak-anak zaman sekarang, mereka banyak memilih untuk tidak memiliki anak.” Kalimat-kalimat beberapa hari lalu yang sudah cukup ia lupakan, tiba-tiba saja mencuat ke permukaan dan terdengar lagi di dalam kepalanya. Queen menutup kedua telinganya sambil menggelengkan kepalanya. Berharap jika suara-suara itu berhenti terdengar. Itu sudah lebih dari cukup menyakitinya, tapi perbuatan dan perkataan Bara membuat semua lukanya seolah ditaburi garam. Dirinya sudah sangat berusaha melakukan yang terbaik demi bisa menjadi istri yang sempurna bagi Bara. Namun, Bara tetap mencari kesempurnaan melalui wanita lain. Suara tangisnya masih memenuhi kamar yang terasa dingin dan sunyi itu. Dibalik sosok seorang Queen yang begitu dikagumi oleh banyak orang-orang karena kedewasaan dan wawasannya, kali ini ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri yang menangis. Suara dering ponsel miliknya yang sejak tadi bergetar di saku celananya akhirnya kali ini mendapatkan perhatian dari Queen. Melihat nama yang terpampang di layar ponselnya, ia segera mengangkat telpon tersebut. "Halo, Nona Anne." Queen menyapa terlebih dahulu sekretarisnya itu. "..." Kehidupannya seolah tidak membiarkan dirinya beristirahat dari kesedihannya. Ia harus tetap tangguh dan kuat untuk mengangkat beban tanggung jawab yang dipikulnya. Perusahaannya bisa hancur kapanpun jika dirinya mengabaikannya sedikit saja, meski itu karena masalah dengan Bara yang benar-benar memukul dirinya. "Baik, saya akan segera ke kantor sekarang." Setelah mengatakannya, Queen menutup telpon secara sepihak dan berdiri dari duduknya. Seolah kembali menjadi diri Queen seperti biasanya yang tidak terluka. - - - To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD