Ayun meneguk botol minumannya yang tinggal separuh hingga tandas, setelah latihan dadakan untuk Popda sore ini di lapangan tak jauh dari sekolah. Ia kembali terpilih mewakili sekolahnya tahun ini, setelah tahun lalu ia berhasil memperoleh juara 3 tingkat propinsi dan memperoleh hadiah uang tunai senilai 2 juta rupiah.
Gadis itu mengangkat tangannya yang mengepal tinggi-tinggi, menyemangati dirinya sendiri. Berharap tahun ini ia akan menang dan kembali membawa pulang hadiah berupa uang tunai. Lumayan, sedikit meringankan beban Simbah yang banting tulang menghidupi dan menyekolahkannya.
Dari kejauhan, beberapa teman sekelasnya sedang latihan sepak takraw dan belum menunjukkan tanda akan mengakhiri latihan. Ayun memilih pulang sendiri, ia tak enak hati menunggu Erna dan menumpang pulang naik motor dengannya. Apalagi ia tak bisa membelikannya bensin, meski rumah mereka sebenarnya masih searah.
"Oke! Semangat Ayun! Delapan kilometer bukan apa-apa." Ayun kembali berlari-lari kecil setelah melepas sepatunya alias nyeker tanpa alas. Lumayan sembari latihan lari, pikirnya.
Sesampainya di jalan raya, Ayun menghentikan kegiatan larinya. Nafasnya ngos-ngosan, perutnya keroncongan, tenggorokannya kering, sementara air minumnya sudah habis tak bersisa. Ia memilih jalan cepat saja, karena Ayun tak bisa kalau disuruh jalan pelan.
Berjalan sembari melamun dan mengkhayal merupakan sesuatu yang mengasyikkan untuk Ayun. Karena dengan begitu perjalanan melelahkan jadi tidak terasa berat.
Masih setengah mengkhayal Ayun merasa ada suara motor yang mengikuti di belakangnya. Perlahan kepalanya menoleh dan wajah teman sebangkunya yang jumawa itu terlihat mengikutinya dengan mengendarai motor sport-nya.
"Kenapa nih anak? Jangan-jangan mau nawarin tumpangan?" Ayun membatin senang. Kan lumayan ... dia sudah benar-benar lelah, sedang perjalanannya untuk sampai rumah masih nan jauh dimato.
"Kamu ngikutin saya?" Ternyata gengsi Ayun lebih besar dibandingkan rasa lelahnya. Harusnya bukan itu yang terlontar dari mulutnya. Sayangnya sudah terlambat semua untuk ia sesali. Padahal ia butuh sekali tumpangan saat ini.
"PD banget lo ...." Sinis Eros dengan senyum mengejek. "Gue cuma penasaran ... gembel mana yang lewat depan rumah gue tadi. Dari muka-mukanya kaya kenal. Tahunya elo." Cibir Eros dengan wajah jumawanya yang langsung pergi, tak lupa menggeber-geberkan suara motornya yang berisik dan merusak gendang telinga.
"Asshhh ...sialan!" Ayun menggeram kesal melihat motor Eros yang semakin menjauh namun suaranya masih saja terdengar mengganggu itu.
Namun tak lama, wajah kesal Ayun berganti lesu. Ia berjalan menghadap lemari kaca yang terpajang di toko meubel didepannya. Untung pegawainya sedang tidak ada. Memandang tampilan dirinya yang memang layaknya seorang gembel. Rambut acak-acakan, bercampur keringat kotor, untungnya kulit putih ibunya menurun padanya. Sehingga penampilannya sedikit tertolong.
Kembali ke penampilannya. Kaos olahraga yang kotor dan bau kecut. Ayun nyengir mencium bau badannya sendiri.
"Nggak bau-bau amat kok .... Kali aja tuh manusia laknat nyium bau got dari mulutnya sendiri, makanya sampe nutup hidung." Ayun menghibur diri.
Lalu turun ke bawah. Ayun menatap kaki telanjangnya yang tanpa alas. Karena sepatunya ia kalungkan dileher. Sayang ... biar tidak cepat rusak, uangnya bisa untuk kebutuhan yang lain. Kalau sering dipakai jalan kaki terus bisa-bisa belum ada seminggu sudah jebol duluan. Mumpung sore ini tidak terlalu panas terik matahari. Kakinya masih kuat menginjak aspal hitam itu.
"Semangat Ayun! Suatu saat nanti kamu pasti sukses!" teriaknya semangat sembari mengangkat tangannya yang mengepal tinggi-tinggi. Bergaya layaknya Pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
"Ngapain kamu?" Sebuah suara membuat kepala Ayun celingukan, menurunkan tangannya perlahan ke posisi semula sambil tersenyum malu pada seorang wanita tua yang berdiri mengawasi tingkah lakunya.
"Hehe ... maaf, Buk. Numpang ngaca sebentar. Permisi ...." Ayun langsung lari tunggang langgang kembali ke jalan raya dengan membawa setumpuk rasa malu juga takut. Wanita tua tadi wajahnya mirip sekali dengan tokoh antagonis yang sering ia lihat dilayar kaca.
"Ya Allah, begini amat nasibku ... kenapa sih jalan semulus ini nggak ada angkot yang lewat?" keluhnya.
"Semangatttt! Ayo Ayun! Delapan kilooo!" Gadis itu kembali berlari-lari kecil, masih berharap ada dewa-dewi penolong yang mau memberinya tumpangan.
***
Brukk!!
Tubuh Ayun yang kelelahan ambruk dikursi rotan rumah Simbahnya. Rumah kecil yang cat temboknya sudah mengelupas disana sini. Tangannya langsung menyambar ketel dimeja dan meneguknya langsung hingga suaranya terdengar jelas.
"Kok baru pulang, Yun?" Simbah yang sepertinya baru pulang dari sawah menghampiri cucu kesayangannya itu.
"Iya, Mbah. Aku kepilih ikut Popda lagi tahun ini. Doa'in Ayun menang ya, Mbah." Selelah apapun keceriaan Ayun tak berkurang sama sekali. Setelah melepas dahaga tenaganya seolah dipulihkan kembali.
"Alhamduliah ... semoga menang lagi ya, Yun!" Simbah menyemangati dengan logat jawanya yang kental.
"Makasih Mbahku yang baik hati." Ayun memeluk tubuh tua itu dengan hati-hati. Tubuh tua yang masih harus banting tulang membiayai sekolahnya. Terkadang Ayun tak tega melihatnya. Diusianya yang renta, Simbah masih harus buruh disana-sini, seharian di sawah panas-panasan demi dirinya. Apa saja dilakukannya demi sesuap nasi juga uang untuk sekolahnya.
"Doain Ayun sukses kelak ya, Mbah. Supaya Ayun bisa membalas Mbah suatu saat nanti." Air mata Ayun meleleh. Tangannya menggenggam tangan tua yang kurus itu. Sedang matanya menatap kerutan-kerutan diwajah senja yang harusnya sudah beristirahat dari pekerjaan berat itu.
"Kok malah nangis? Simbah masih kuat kerja, Nduk. Mbah doain kamu kelak bisa sukses dan tercapai semua cita-cita. Mbah ndak minta balasan apa-apa. Mbah cuma mau kamu kelak bisa hidup bahagia, kecukupan, selalu diberikan kesehatan ...." Simbah menghapus air mata diwajah cucunya itu.
"Amiinnn." Ayun mengamini doa simbahnya kencang.
"Ya, wis makan sana ... cuma ada sambal sama daun singkong. Ndak papa ya?"
"Ya nggak papa, Mbah. Ayun apa aja enak ... bersyukur masih bisa makan." Ayun melepas tas ranselnya yang berat dan bergegas ke dapur. Ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa laparnya.