Setelah Olahraga

865 Words
"Selamat pagi anak-anak!" sapa Pak Ibram ramah dengan senyum lebar yang membuat kumis tebalnya ikut mengembang. Seisi kelas langsung riuh tak terkendali. Bukan karena Pak Ibram yang botak dan berkumis itu yang menyita perhatian mereka, melainkan sosok laki-laki super handsome yang mengikuti di belakangnya. Maklum, dari sekian ratus siswa yang menempuh pendidikannya disini, 98 % adalah spesies berjenis kelamin perempuan. Jadi begitu kedatangan murid laki-laki, apalagi dengan kadar ketampanan yang diatas rata-rata. Semua menyambut heboh, bahkan sejak kedatangannya pertama kali menginjakkan kakinya di tempat parkir tadi. Gosip langsung menyebar ke seluruh penjuru sekolah dan langkah murid baru itu langsung menjadi pusat perhatian, menjadi tontonan gratis dan menarik perhatian gadis-gadis seantero sekolah. "Tenang! Tenang!" Pak Ibram berusaha menenangkan murid-muridnya yang terus saja berceloteh dan bersuit-suit mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu. Sementara sosok yang menjadi pusat perhatian nampak acuh dan terlihat jengah. Bahkan dalam hati terus menggerutu tentang betapa noraknya murid-murid di sekolah yang menurutnya kampungan ini. "Oke ... selamat pagi semuanya." Pak Ibram menyapa ulang murid-muridnya setelah situasi akhirnya dapat dikendalikan. "PAGIIII PAAAAK!" jawab anak-anak kompak, namun ada beberapa yang sengaja meninggikan suaranya saking bersemangatnya kedatangan murid baru itu. "Baiklah ... seperti yang kalian lihat. Hari ini kelas kalian kedatangan murid baru pindahan dari Jakarta." Belum juga Pak Ibram selesai bicara, suara riuh anak-anak sudah terdengar kembali. Hanya satu murid yang terlihat tak antusias dengan keberadaan murid baru itu. Siapa lagi kalau bukan Ayun, dari tempatnya gadis manis itu menatap malas laki-laki yang dimatanya terlihat jumawa itu. Masih terekam jelas dalam memorinya, bagaimana tadi pagi laki-laki tak berperasaan itu menendang kucing malang sampai tubuhnya membentur pagar kantor pos. "Huuff ...." Ayun kembali mengelus d**a, ia seperti ikut merasakan sakit yang dirasakan kucing malang itu. "Selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Eros Adian." Perkenalan singkat yang kembali membuat suasana kelas kembali seperti pasar. Sementara itu, Pak Ibram kemudian mengarahkannya untuk duduk satu meja dengan Ayun. Karena hanya itu satu-satunya bangku yang tersisa, bangku paling pojok belakang kiri. Ayun menatap dingin laki-laki yang sedang berjalan ke arahnya itu. Ketika tatapan mereka akhirnya bertemu, gadis itu langsung melengos, membuang muka dengan ekspresi malas, enggan bersitatap dengan manusia tak punya hati itu. "Apa sih nih cewe, gaje banget!" batin Eros sembari ikut melengos membuang muka. Namun tatapannya justru bertemu dengan murid-murid lain yang tengah mencuri-curi pandang padanya. Bahkan ada yang melemparkan senyum malu-malu kepadanya. "Sial! Norak banget sih mereka." Eros terus mendumel dalam hati. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan sekolahnya di sekolah para betina ini. Ketika matanya berkeliling menyapu seluruh penduduk kelas, ia mendapati hanya dirinya satu-satunya pejantan di kelas itu. Mati aja kamu Eros! "Hahhhh ...." Helaan nafas berat itu mengawali kehidupan sekolahnya yang baru. *** Jam pelajaran olahraga berakhir, semua anak memasuki kelas dengan riang gembira. Meskipun wajah mereka nampak lelah dan keringat membasahi tubuh. Namun sama sekali tak mengurangi keceriaan mereka. Eros yang belum memiliki seragam olahraga, hari ini masih absen mengikuti pelajaran tersebut. Laki-laki itu terlihat duduk dikursinya sembari memainkan game melalui ponselnya. Nampak tak tertarik dengan obrolan teman-teman sekelasnya yang semua berspesies perempuan itu. Srak! Ayun menarik kursinya untuk duduk, mengambil botol minumannya dan meneguknya sampai suaranya terdengar begitu jelas. Eros menoleh sekilas pada teman sebangkunya itu sebelum dengusan lirih keluar dari mulutnya. Namun meski begitu, masih bisa ditangkap indera pendengaran Ayun dengan begitu jelas. Gadis manis itu memilih acuh dan malah santai mengipaskan-kipaskan buku pelajarannya demi mengusir hawa panas ditubuhnya setelah pelajaran lari sprint tadi. Setttt. Ayun kembali mendapatkan lirikan tajam dari Eros. Laki-laki itu nampak terganggu dengan aktivitas Ayun yang menurutnya menebar bau badannya kemana-mana. Hingga dengusan itu kembali lolos dari mulutnya, Eros langsung menutup hidungnya rapat-rapat dengan tangan. Padahal meski tak pernah memakai parfum, Ayun tak merasa keringatnya memiliki bau bangkai yang bisa membuat seseorang sampai mabuk karenanya. "Apa sih? Lebay banget," sungut Ayun lirih dan malah semakin semangat mempercepat gerakan mengipasi tubuhnya. Makan tuh bau keringat aku! "Hai, boleh kenalan? Namaku Anita." Anita, ketua geng cewek-cewek cantik dan gaul di kelas menghampiri tempat duduk Eros. Mengusir sejenak Indah yang duduk tepat di depan laki-laki itu dan mengulurkan tangannya sembari tak lupa menyisipkan senyum termanis dibibirnya yang sudah terpolesi lipbalm warna merah muda. Laki-laki itu mendongakkan kepala, melayangkan pandangan terganggu akan kehadiran primadona di kelas AK 1 itu. "Bisa tolong jangan ganggu gue?" ucapnya arogan. Ayun bisa melihat dengan jelas betapa piasnya wajah Anita mendengar ucapan laki-laki yang ternyata memang benar dugaannya. Tak memiliki hati dan perasaan sama sekali. "Hemm ... hemm." Deheman Ayun sedikit mengurai ketegangan yang terjadi di kelasnya. Karena seluruh kelas bisa mendengar dengan jelas apa yang Eros katakan pada Anita. Gadis itu pasti malu sekali saat ini. "Kamu ... bisa keluar nggak?" Ayun bersuara, melirik tajam teman sebangkunya itu. "Maksudnya?" Eros memicingkan matanya, tak mengerti. "Lo mau ngusir gue? Lo pikir lo siapa?" Eros mudah sekali tersulut emosi jika melihat Ayun. Ia menyadari sejak masuk kelas tadi, gadis itu seperti ingin mengajaknya berperang. "Terus ... kamu mau disini? Lihat kita-kita ganti baju?" tanya Ayun, masih melirik laki-laki yang tampak shock dengan pertanyaannya itu dengan senyum mengejek. Eros melihat sekelilingnya. Beberapa siswa memegang seragamnya seolah menunggunya untuk keluar dari dalam kelas. "Ah, bangs*t! Kenapa sih bokap harus kirim gue ke sekolah betina begini?" umpatnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD