"Rumah lo masih jauh?" Eros kira rumah Ayun tidaklah begitu jauh jaraknya dari sekolah mereka. Makanya teman sebangkunya itu sering berjalan kaki kala pulang. Tapi ternyata ia salah menduga, sudah berapa kilometer ia mengendarai motornya dan gadis itu masih belum memintanya untuk berhenti.
"Masih!" jawab Ayun setengah berteriak, karena suara motor Eros yang terlalu berisik.
Eros menambah kecepatan, melewati pasar, sungai, hamparan sawah yang luas, bahkan hutan jati yang luas. Tapi masih belum juga sampai.
Gila! Nih Bocah nggak gempor apa kakinya jalan kaki jauh begini?
"Gapura depan berhenti, ya!" seru Ayun lagi.
Tanpa menjawab Eros menghentikan motornya tepat di tempat yang Ayun sebutkan.
"Di sini?" Eros menatap jalanan menanjak di sampingnya.
"Iya, di sini aja," jawabnya sembari turun dengan susah payah.
"Masih jauh rumah lo?"
"Masihlah," jawab Ayun santai.
"Terus? Kenapa turun di sini? Sekalian aja gue anter sampai rumah." Eros menatap gadis itu keheranan.
"Aduh ... nggak deh." Ayun mencoba menghindari apapun yang bisa memicu omongan tetangga. Dia tidak berbuat macam-macam saja, terkadang masih ada saja tetangga yang menyangkut pautkan dirinya dengan masa lalu sang ibu yang hamil di luar nikah. Apalagi kalau dia diantar pulang teman lelakinya? Bisa panjang lebar urusan.
Kadang, ada saja tetangga yang enteng menggodanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya tak nyaman. Seolah pertanyaan itu tak menyakiti perasaannya.
Ayah kamu siapa?
Atau
Di kartu keluarga, nama Ayah kamu tertulis siapa?
Dan masih banyak lainnya. Entah apa yang dipikirkan orang-orang itu saat menanyakan hal seperti itu padanya, yang sebenarnya hanyalah seorang "korban" ini.
Memang kesalahannya kalau ia terlahir di luar nikah?
Memangnya ia bisa memilih terlahir dari rahim siapa?
Tentu andaikan bisa pun, Ayun akan memilih dilahirkan di sebuah keluarga yang utuh, bahagia dan menyayanginya.
Ah, entahlah ... kita memang tidak bisa memaksa orang lain untuk melihat sesuatu dari sudut pandang kita. Untuk itulah Ayun memilih pura-pura tuli dan menghindari apapun yang membuat dirinya akan bersinggungan dengan masalalu sang ibu.
Menurut Mbak Asiyah, reputasi ibunya dulu memang jelek di kampung ini. Maka tak heran kini hal itu berimbas padanya yang tak tahu apa-apa.
"Yakin, nggak mau dianterin?" tanya Eros sekali lagi.
"Iya. Buruan pergi sana!" seru Ayun seraya mengangkat dua botol jamu yang lumayan berat itu dan melambaikan tangannya dari seberang jalan.
"Ishh ... udah dianterin, ngusir lagi." Eros memutar motornya, untuk balik arah.
"Makasih Playboy Laknat!" Ayun melambaikan tangannya sembari tertawa kecil. Ia masih bisa melihat dengan jelas, wajah Eros yang bersungut-sungut karena panggilannya.
***
Esok harinya, hubungan mereka bisa dikatakan mulai membaik setelah insiden jamu godog itu. Meski keributan kecil masih saja terjadi dan tak teralakkan. Namun kali ini lebih banyak diselingi dengan canda tidak seperti sebelum-sebelumnya.
"Kantin, yuk," ajak Eros ketika jam istirahat tiba.
"Hah?" Ayun melongo. "Kamu ngajak aku?" Sembari menunjuk dirinya sendiri terheran.
"Bukan. Tuh semut yang gue ajak," sewot Eros. "Ya elo lah ... siapa lagi ...."
"Ishhh ... aku nggak punya duit." Jawaban yang membuat Eros menatap wajah manis itu cukup lama. Jujur ia penasaran, seperti apa kehidupan Ayun sebenarnya. Sampai gadis itu harus mengirit uang jajannya seperti ini.
"Kenapa? Kamu mau traktir aku lagi?" tebak Ayun dengan tawa renyahnya melihat Eros yang terpaku menatapnya. Bukan mengharap hanya sekedar canda. Lagian ia tidak terbiasa menerima kebaikan orang, terutama jika hal itu menyangkut uang.
"Ngarep lo." Eros bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja meninggalkan Ayun yang kembali sibuk menulis "novel-novelan" di buku tulisnya. Selain membaca, Ayun juga hobi membuat cerpen atau cerbung. Sekedar mengisi waktu luang. Iseng, daripada bengong di kelas dan tidak punya kegiatan. Lebih baik mengisi waktu dengan sesuatu yang menyenangkan, menghibur sekaligus mengalihkan teriakan cacing di perutnya.
"Di sini siapa yang namanya Ayun!" Suara lantang dari depan kelas itu mengalihkan fokus Ayun dari cerpen yang tengah ia tulis di buku tulisnya.
"Itu, Kak." Azizah menunjuk ke arahnya yang masih terbengong, melongo, mencoba membaca situasi yang terjadi. Dan ia akhirnya mengerti apa yang akan ia hadapi, setelah gadis cantik dengan seragam ketat pas di tubuh beserta gengnya yang berjumlah lima orang itu mendekat padanya. Ayun mendongak dengan wajah polosnya. Vita. Ia membaca pemilik wajah cantik yang kini menatapnya penuh kebencian itu.
"Dia dari Jakarta, Vit," ucap salah seorang teman gadis bernama Vita itu.
"Heh, Lonthe!" Vita menggebrak meja.
"Sok polos banget mukanya, Vit." Salah seorang dari mereka mulai mengompori.
"Hajar aja, Vit!" seru yang lain enteng sambil cengengesan.
"Ada apa, Kak?" Ayun yakin ini ada kesalahpahaman. Namun ia berusaha untuk tetap tenang. Meski dilabrak oleh kakak kelas merupakan kejutan yang sama sekali tak pernah ia duga. Ia sangat menghindari bersinggungan atau mencari masalah dengan senior. Tapi kali ini ... apakah benar dugaannya, ada hubungannya dengan Eros?
"Ada apa? Ada apa?" Bentak gadis bernama Vita. "Eros itu cowokku, ngerti nggak?"
"Dasar gatel ...."
"Ganjen ... muka pas-pasan ...."
"Iya ... cantikan juga kamu kemana-mana, Vit."
Teman-teman Vita mulai berkomentar dengan mulut pedasnya.
"Terus kalau Eros pacar Kakak, hubungannya sama aku apa? Aku sama Eros, kan cuma temenan." Ayun mencoba menjelaskan berusaha menyembunyikan gentar dalam suaranya. Bagaimanapun mentalnya sebagai siswa baik-baik cukuplah ditampar dengan kejadian ini. Disalahpahami karena urusan laki-laki, tidak pernah sedikitpun terbayangkan sebelumnya.
"Eh, nggak usah munak, deh. Kemarin aku lihat kalian jalan." Tiba-tiba Vita menarik kerah Ayun hingga tubuh gadis itu tertarik ke depan karena sentakan yang cukup kencang.
Teman sekelas Ayun tak ada yang berani membantu, mereka hanya bisa menjadi penonton. Begitu pun anak-anak kelas lain yang berkerumun di depan pintu, maupun yang menyembulkan kepalanya lewat jendela justru seolah mengganggap hal itu layaknya drama yang tak boleh dilewatkan untuk ditonton.
"Awas aja, ya! Kalau kamu berani deketin Eros lagi. Habis kamu." Vita mendorong Ayun cukup keras hingga gadis itu terjatuh ke belakang bersama dengan kursi yang tadi didudukinya.
"Ingett ituuu." Salah seorang dari mereka menendang Ayun, hingga membekas kotor di seragam bergaris warna biru muda itu.
"Eros cuma nganterin aku pulang. Kami nggak ada hubungan apa-apa, Kak. Aku juga nggak ada perasaan apapun, kami cuma teman." Ayun masih berusaha membela diri.
"Diem, deh! Mau mulut kamu kita sumpal pake kaos kaki!" Bentak Vita yang kembali menarik kerah seragam Ayun dengan kencang.
"Udah habisin aja. Cewek munafik gitu." Lantang teman-teman Vita semakin memperkeruh keadaan.