Eros Memaksa

1026 Words
Indah berlari kencang menuruni tangga menuju kantin sekolah untuk mencari keberadaan Eros. Satu per satu wajah di tempat yang selalu ramai dan menjadi tujuan utama siswa saat jam istirahat itu ia amati. Hingga ia menemukan sosok tampan itu tengah menikmati sebatang rokok di sudut kantin, sedang mengobrol dengan beberapa murid laki-laki dari kelas lain. "Eros! Eros! Ayun ... Ayun ...." Nafas Indah yang tersenggal membuat gadis itu sulit untuk meneruskan kalimatnya. Hanya tangannya yang menunjuk ke atas, ke arah kelas mereka berada di lantai dua. "Kenapa si Ayun?" tanya Eros yang tiba-tiba memiliki firasat tak enak, langsung mematikan rokoknya dengan menekannya pada bangku yang ada di sana. "Si Ayun ... itu, dilabrak sama cewek kamu, deh kayanya." Begitu selesai bicara, Indah langsung menenggak minuman yang berada di depan Eros tanpa meminta ijin pada empunya. Sementara tanpa banyak bertanya lagi, Eros bergegas melesat berlari ke kelasnya. Tak peduli teriakan Indah yang misuh-misuh karena ketidaksengajaannya menyenggol tubuh kurus teman sekelasnya itu, hingga membuat minuman yang tengah diminumnya tumpah mengenai seragamnya. "Erosss Kampret! Aduh ... jadi basah, kan baju seragam aku ...." Gadis itu mengipasi bajunya yang basah. Untungnya bukan seragam putih, sehingga ia bisa lolos dari insiden memalukan dan menjadi tontonan siswa laki-laki yang selalu menghuni pojok kantin itu. "Eros! Tunggu!" Indah menyusul. Ia tidak boleh melewatkan kesempatan langka menyaksikan adegan yang biasanya hanya ada disinetron-sinetron yang ia tonton di layar kaca. *** "Berhenti! Lepasin dia!" Eros menarik kasar tangan Vita yang tengah menjambak rambut Ayun, hingga gadis itu meringis kesakitan dengan rambutnya yang acak-acakan. "Eros?" Vita nampak kaget, begitupun teman satu geng-nya. "Maksud lo apa buat keributan kaya gini?" Wajah Eros yang dipenuhi emosi membuat gadis yang sebelumnya garang itu menjadi sedikit mengkerut kehilangan nyali. "Dia nggodain kamu. Aku ... cuma mau kasih dia pelajaran aja," jawab Vita gugup tapi dari nada bicaranya seolah apa yang dilakukannya adalah sebuah kewajaran. Benar-benar kekanakan. "Hah?" Eros menyeringai sinis. "Denger ya ... gue tuh nggak ada perasaan apa-apa sama lo. Nggak usah lebay ... pacar gue bukan cuma elo doang di sekolah ini. Dan gue tegasin sama lo ... lo itu cuma mainan gue doang sama kaya yang lain. Jadi nggak usah bersikap berlebihan kaya gini. Norak tahu nggak!" PLAKKK!!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eros begitu ia selesai mengungkap pengakuan. "Minta maaf sama Ayun!" Suara Eros tegas memerintah. "Nggak!" Vita membantah. Gadis itu melirik sinis ke Ayun yang nampak merapikan rambutnya. Sama sekali tak ada penyesalan di wajahnya. "Minta maaf sama dia!" Bentak Eros. "Dia bukan salah satu cewek gue, Bego! Lo udah salah sasaran ... ngerti nggak!" "b******k!" Vita mendorong tubuh yang menjulang di depannya itu sakit hati. Gadis bertubuh berisi dengan baju seragam yang ketat itu kemudian berlari meninggalkan kelas 2 Ak 1 itu dengan membawa rasa malu juga amarah yang luar biasa. Sementara anak buahnya mengikutinya dari belakang. Teriakan "hu" dari para murid yang menonton pertunjukan siang itu pun mengiringi kepergian para kakak senior itu. "Bubar! Bubar!" teriak beberapa anak yang tampak puas dengan ending drama pelabrakan yang dramatis itu. Mereka ada yang tertawa, menatap kasihan pada Ayun tapi tak sedikit pula yang mencibir gadis malang itu meski tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. "Lo nggak papa?" Eros merasa bersalah melihat Ayun yang nampak kacau dan tengah membersihkan baju seragamnya yang kotor dibeberapa tempat. Gadis itu mendengus kesal, alih-alih menjawab pertanyaan teman sebangkunya yang membuatnya dalam masalah itu. "Ini semua gara-gara kamu tahu nggak," sungutnya sembari duduk di kursinya. "Iya ... gue minta maaf." Eros ikut duduk, mengikuti Ayun. "Minta maaf ... minta maaf." Ayun masih bersungut-sungut. "Lagian apa, sih bagusnya jadi playboy. Mereka itu juga manusia lho sama kaya kamu, punya hati punya perasaan. Jangan seenaknya nganggep perasaan orang cuma mainan," ucap Ayun emosi. "Dengerin, tuh Eros." Indah menimpali dari tempatnya. "Diem lo!" sentak Eros galak. "Kamu yang diem!" Gantian Eros yang mengkerut dibentak balik oleh Ayun. "Iya ... gue minta maaf." "Minta maaf sama mereka yang udah kamu sakitin," ketus Ayun. "Iya ... gue bakal minta maaf sama mereka." Mendadak saja laki-laki itu menjadi penurut di hadapan Ayun. "Gue janji ... mulai hari ini gue akan jadi cowok baik-baik. Gue akan berhenti jadi playboy dan nggak akan nyakitin cewek-cewek lagi ... asalkan ...." Eros mengajukan syarat. "Asalkan?" Mata Ayun menyipit. Apa-apaan pakai syarat segala? "Asalkan ... lo aja deh yang jadi cewek gue," ucap Eros enteng, penuh percaya diri. Belum lagi ditambah senyumnya yang kurang ajar itu. "Hah?" Ayun membelalak. Bukan hanya ia saja yang shock mendengar kalimat tak masuk akal yang keluar dari mulut Eros. Melainkan semua yang ada di kelas itu pun sama terkejutnya seperti dirinya. "Maksudnya?" "Lo harus mau ja-di ce-wek gu-e," ulang Eros. Seringai setan yang ia sematkan di sudut bibirnya kian melebar. "Lo gila, ya?" tolak Ayun mentah-mentah. "Nggak! Aku nggak mau!" "Gue maksa!" "Ogah!" "Gue anggap itu jawaban iya," ucapnya tak tahu diri. "Gila!" "Emang," jawab Eros santai. "Serah ...." Gadis itu melengos malas. "Oke. Berarti deal lo pacar gue ...," putusnya mengambil keputusan sendiri. "Enggaaak." Ayun mulai geregetan. "Enggak nolak maksudnya?" "Dasar gila. Aku enggak mau pokoknya." Ayun benar-benar dibuat stres menghadapi playboy gila satu ini. "Enggak mau sebentar, kan? Oke, gue serius kok sama lo ... jadi nggak mungkin gue pacarin lo sebentar kaya yang lain." "Dasar stres," geram Ayun frustasi. Dasar sinting! Malu. Malu setengah mati rasanya menjadi tontonan teman sekelasnya seperti ini. Apalagi melihat bagaimana ekspresi Anita, Ayun rasanya ingin menendang playboy stres satu ini ke hutan sss saja biar dimangsa ikan Piranha. "Makanya lo terima, biar gue nggak stres." "Diem nggak?" geramnya. "Terima dulu. Baru gue diem." Ya salam ... kenapa hari ini banyak sekali kejutan, Tuhan! Ayun mengacak rambutnya frustasi. Dia benar-benar belum memikirkan untuk menjalin hubungan dengan siapapun saat ini. Apalagi dengam manusia langka seperti Eros yang nyebelin, aneh, gila dan stres. "Gimana?" tanya Eros lagi. "Ngomong ajalah sana sama semut. Bisa ikutan gila lama-lama ngomong sama kamu." Ayun memilih berlari keluar kelas menuju toilet sekolah, mencari tempat persembunyian yang aman.Tapi sayangnya Eros ternyata mengejarnya dan tak membiarkannya kabur begitu saja. Suasana kelas kembali riuh menyoraki. Ada yang mendukung mereka menjadi pasangan, ada yang nyinyir dan ada juga yang masa bodoh tidak ingin ikut campur masalah yang bukan menjadi urusannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD