Begitu bel pulang berbunyi dan guru meninggalkan ruangan, Ayun langsung melesat kabur keluar kelas dengan kecepatan tinggi. Kebetulan sekali, ia memang seorang sprinter. Bukan hal sulit bagi gadis itu untuk melarikan diri. Eros yang baru saja hendak melontarkan kalimat ajakan pulang bersamapun, pada akhirnya harus menelan kembali kalimat itu dipangkal tenggorokannya.
"Sialan ...." Eros mengumpat dengan senyum ironi. Namun nyatanya ini justru terasa menarik, ia malah merasa tertantang untuk mendapatkan gadis yang selalu menjutekinya sejak awal masuk sekolah ini itu.
Meski ia sendiri masih belum tahu perasaan apa yang ia miliki untuk seorang Ayun Prameswari. Untuk saat ini, ia hanya merasa nyaman jika dekat dengan si jutek itu dan melihat wajah manisnya yang sering muncu-muncu, memakinya dalam hati terasa lucu dan menyenangkan bagi Eros.
Tak menunggu lama ia pun langsung bangkit dan mengejar keluar kelas. Melewati murid lain yang menghadang langkah lebarnya dengan sedikit memaksa dan tak mau mengalah.
"Semangat Eros!" Teriakan Indah yang melengking tepat ditelinganya membuat mulut Eros terpaksa mengumpat lagi.
"Brisik lo!" sungutnya kasar.
"Ih, aku kan cuma mau kasih suport." Indah mencebik namun Eros mengacuhkannya.
"Kemana tuh anak? Cepet banget ngilangnya?" Mata Eros mengamati jeli siswa-siswi yang hendak meninggalkan sekolah. Namun sosok Ayun sama sekali tidak ada diantara mereka. "Hari ini dia latihan nggak?" Bertanya tanpa menoleh pada Indah yang cemberut disampingnya.
"Nggak tahu." Indah melengos ketus, meniru bagaimana biasanya Ayun bersikap pada playboy gila itu. Setelahnya, ia berlalu melenggang begitu saja dengan senyum kemenangan karena berhasil membalas sikap Eros yang semena-mena padanya. Rasain, emang enak dicuekin!
"Sialan si Indah," umpat Eros memandang punggung Indah yang sengaja berjalan dengan lenggak-lenggok kemayu, sengaja meledeknya.
Tak menemukan keberadaan Ayun, Eros memilih untuk pulang saja. Pikirnya, masih ada banyak waktu baginya mengejar gadis itu. Masih ada esok dan hari lainnya.
Berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya, ia berpapasan dengan Mia yang juga tengah disana hendak mengambil motornya. Mata mereka tak sengaja bertemu, namun Eros lebih dulu memalingkan muka dan acuh memakai helmnya.
"Katanya kamu suka sama Ayun?" Rasa ingin tahu membuat pertanyaan itu akhirnya terlontar juga dari bibir Mia.
Laki-laki itu hanya melirik jengah tanpa memberi jawaban. Merasa tak perlu memberi penjelasan tentang apapun. Baginya, Mia sama tak berartinya seperti gadis-gadis lain yang ia pacari. Mereka hanya alat untuk memberontak, pelampiasan kekesalan akan keputusan semena-mena ayahnya yang menyekolahkannya di sekolah kampung ini.
"Tapi ... kayanya kamu ditolak." Melihat keengganan Eros berbicara dengannya membuat Mia terpancing untuk memberikan sindiran demi menumpahkan kekesalannya. Namun tak disangka Eros justru mengakuinya dengan lantang tanpa merasa malu.
"Kalau iya ... terus kenapa?" tanya Eros menantang sembari menatap tajam mantan kekasihnya itu tanpa merasa kalah. Seolah mengatakan ditolak satu gadis bukan masalah besar baginya, masih banyak yang mau menerimanya kalau ia mau.
Mia terdiam pias. Ia ingin memaki, mengungkapkan kekesalannya namun bibirnya kelu. Justru ia merutuki dirinya sendiri yang begitu mudahnya terpedaya akan pesona Eros, bahkan sampai kini ia masih menyukai sosok b******k itu.
Diamnya Mia dan sorot kebencian juga kesedihan dimata gadis itu tak menggoyah keacuhan ataupun memunculkan simpati seorang Eros. Laki-laki itu memilih pergi begitu saja, membawa motornya meninggalkan tempat parkir tanpa peduli pada Mia yang masih menatapnya hingga sosoknya menghilang dibalik pintu gerbang sekolah.
***
Bukk!
Tubuh Ayun terdorong menabrak tembok cukup keras. Ternyata kesialannya karena seorang Eros belum berakhir juga hari ini. Ketika setengah berlari menuruni tangga tadi hendak menghindar dari kejaran Eros. Ia justru mendapati Vita dan gengnya telah menunggunya dibawah tangga. Menariknya tanpa ampun menuju toilet mushola yang letaknya cukup tersembunyi dan sangat sepi.
"Kalian mau apalagi?" tanya Ayun sedikit gentar. Seumur hidup, ia adalah siswa baik-baik yang bahkan tidak pernah membayangkan akan berurusan dengan senior bar-bar. Apalagi karena urusan laki-laki. Memiliki pacar saja tidak ada dalam rencana kehidupan sekolahnya.
Impian Ayun sederhana, ia hanya ingin menjalani sekolahnya dengan tenang, lulus dengan nilai yang baik dan setelah itu ia akan mencari pekerjaan, menghasilkan uang dan bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada ibu ataupun ayah tirinya juga tidak menyusahkan simbahnya yang telah berusia senja.
Menabung sedikit demi sedikit dan berencana melanjutkan pendidikannya dengan hasil jerih payahnya sendiri nantinya. Hanya itu. Memiliki pasangan ada diurutan paling akhir dalam daftar rancangan hidupnya.
"Kalian mau apalagi?" Vita mengulang pertanyaan Ayun dengan nada mengolok. "Kita mau apalagi, gengs?" Vita menyedekapkan tangannya didada dengan sikap mengintimdasi.
"Kasih pelajaran buat dialah, apalagi ...." Salah satu dari mereka menjawab. Ayun sudah pias, memikirkan apa yang akan terjadi dengan dirinya.
"Salah aku apa?" Seingat Ayun, Eros sudah mengatakan dengan begitu gamblang tadi kalau mereka salah sasaran. Ia bukan salah satu dari gadis-gadis yang dipacari oleh Eros.
"Salah kamu?" Vita menatap sinis. "Salah kamu itu ... udah berani caper sama Eros. Makanya dia berpaling dari aku ... dan bikin aku malu. Ngerti nggak!" ucap Vita membentak.
Malu? Hah ... itu kan karena salah kamu sendiri, Kakak Kelasku yang bar-bar.
Ayun menyipitkan matanya, hanya berani menyimpan kalimat itu dalam hati. Namun ternyata mereka seakan mampu menerjemahkan ekspresi yang ia tampilkan.
"Berani kamu sama kita?" Salah satu dari mereka kembali mendorong tubuh Ayun hingga ke tembok.
"Aku nggak pernah caper sama Eros." Ayun berhasil mengumpulkan keberanian untuk melawan. Karena ia pikir, dirinya tidak dalam posisi yang salah, buat apa ia takut.
"Liat deh ... mukanya kusam banget gitu. Si Eros matanya katarak kali yah." Suara dan tawa penuh olokan itu disambut dengan kalimat-kalimat ejekan dari yang lain, membuat kuping Ayun mau tak mau panas mendengarnya.
"Kalau kalian sudah selesai, aku mau pulang ...." Ayun beringsut ingin keluar dari kerumunan mereka. Namun lagi tubuhnya terdorong hingga ke tembok.
"Eits ... kita belum selesai!" Bentak Vita.
"Mau Kakak apa? Eros yang katarak kenapa aku yang disalahkan? Lagian kalian denger sendiri, kan ceweknya dia itu banyak. Kenapa Kakak lampiaskan amarah Kakak ke aku yang nggak tahu apa-apa? Aku bukan siapa-siapanya Eros dan aku juga nggak suka sama dia." Suara Ayun ikut meninggi, sudah terlalu kesal mendengar celotehan mereka.
"Cih ... nggak suka sama Eros? Yakin? Bukannya itu memang trik kamu? Sok-sok jual mahal biar Eros penasaran sama kamu, kan?"
"Nggak. Aku beneran nggak suka sama Eros." Ayun terus membela diri. Karena memang yang dituduhkan Kakak kelasnya itu tidak benar sama sekali.
"Brisik!"
"Kita kunci aja dia di toilet," usul gadis dengan bedak paling tebal diantara mereka. Mendengar hal itu, Ayun mencari celah segera untuk melarikan diri. Namun beberapa dari mereka mencekal kuat kedua tangannya dan langsung mendorongnya ke salah satu toilet dan menguncinya. Ayun menggedor-gedor pintu dari dalam tak lupa dengan teriakannya meminta dibukakan pintu. Namun justru suara cekikikan yang ia dengar dari luar. Sama sekali tak ada yang berpikiran waras dan menyadari tindakan mereka yang salah.
"Ini serius, Geng?"
"Seriuslah, biar dia tahu rasa," jawab Vita.
"Kalau ketahuan guru gimana?"
"Tenang aja, udah jam segini. Jarang ada yang ke sini juga. Mereka juga biasanya lebih milih solat di rumahnya kali."
"Terus ... mau kurung dia didalam sampai kapan? Kalau dia mati gimana?"
"Ntar sore kita ke sini lagilah. Gila aja ... aku cuma kasih pelajaran aja buat dia ... cabut, yuk." Vita memberi kode teman-temannya untuk mengikuti, mengabaikan suara teriakan dari Ayun yang meminta pertolongan.