Diantar Pulang

1438 Words
Entah sudah berapa lama Ayun menangis di toilet sempit itu. Letak mushola kecil sekolahnya berada disudut yang jarang dilewati orang, kecuali memang ada yang hendak solat disana. Harapannya hanya tinggal itu, namun Ayun sendiri tak yakin apakah di sekolahnya saat ini masih ada orang atau tidak. Rasanya ia sudah begitu lama terkurung dalam ruang pengap ini, nafasnya bahkan terasa sesak akan kurangnya udara juga perasaan takut dan frustasi yang mendera. "Siapapun itu ... tolong aku ...." Ayun mengusap air matanya yang membanjir. Tangannya tak berhenti menggedor pintu seng itu, meski kekuatannya sudah berkurang banyak jika dibandingkan sebelumnya. Beberapa kali ia meremas perutnya yang terasa melilit. Sepertinya maagnya kambuh lagi, karena hanya singkong rebus yang mengganjal perutnya untuk sarapan pagi ini. Waktu bergulir lambat bagi Ayun. Berkali-kali ia menarik nafasnya panjang demi mengurangi sesak akan serangan panik. Rasanya ia semakin sulit bernafas ketika ruangan itu mulai menggelap. Sepertinya petang telah datang. Tubuh kecil itu meringkuk dalam keputus asaan. Apakah ia akan benar-benar terkurung sampai esok hari di toilet sempit ini. Sampai seseorang datang membersihkan mushola sekolahnya. Lalu bagaimana dengan pertandingan POPDA-nya? Tidak! Ada hal lain yang harus dikhawatirkannya. Bagaimana dengan simbah di rumah? Simbah pasti sangat mengkhawatirkannya kini karena ia belum juga pulang ke rumah padahal hari sudah petang. Ya Tuhan ... apa yang harus dilakukannya supaya bisa keluar dari toilet bau ini? Ayun kembali menatap langit-langit, tembok itu terlalu tinggi, tak ada bak mandi yang bisa ia jadikan pijakan untuk memanjat ke atas. Hanya ada ember berukuran kecil yang tak bisa ia harapkan sama sekali untuk membantunya. Gadis itu terduduk lemas dilantai dingin itu. Menyerah pada keadaan, sepertinya tak ada yang akan datang ke tempat ini. Tak ada yang akan memberinya pertolongan. Tangisnya kembali terdengar, Ayun sungguh berputus asa. Ia tak menyangka Kakak kelasnya bisa berbuat setega ini kepadanya yang tak tahu apa-apa. "Ayun!" Ketukan dipintu dan suara yang sangat ia kenali itu membuat tubuh Ayun terlonjak kaget sekaligus senang dalam waktu bersamaan. "Eros!" Segera gadis itu berdiri dan menjawab lantang. Ia spontan mundur ketika melihat pintu terdorong ke dalam tanda dibuka dari luar. "Lo nggak papa?" Eros memegang bahu Ayun khawatir. Meski gelap ia masih bisa melihat dengan jelas air mata yang menggenang dipipi gadis itu. "Ini semua gara-gara kamu." Ayun kembali terisak. Meski senang akan kedatangan Eros, tapi bagaimanapun juga apa yang terjadi padanya hari ini adalah karena laki-laki itu. "Gue minta maaf." Eros menarik Ayun keluar. Kelegaan menyapa paru-paru Ayun yang terasa sesak sebelumnya. Pengapnya udara dan bau toilet sungguh mengotori saluran pernafasannya. "Anterin aku pulang." Setelah menghirup banyak-banyak udara segar diluar, Ayun langsung teringat pada simbahnya. Ia harus cepat pulang ke rumah. "Ya udah ... ayo." Eros hendak menggapai tangan Ayun, namun ditepis kasar oleh gadis itu. Terdengar dengusan lirih bernada kesal dari bibir pucat itu. "Besok gue bakal bikin perhitungan sama cewek sialan itu," ucap Eros tak main-main. Ia sama sekali tak menyangka Vita bisa berbuat sejauh ini. Benar-benar cewek nggak tahu malu, muka badak! "Nggak usah," jawab Ayun ketus. "Kalau dibiarin aja dia nggak bakalan jera." Eros tak sependapat dengan Ayun. "Terserah kamu, deh ... yang pasti mulai besok kamu jangan deket-deket aku lagi. Aku mau pindah tempat duduk juga. Cukup sekali ini aja, aku nggak mau lagi jadi sasaran pacar bar-bar kamu yang lain." "Gue udah nggak punya pacar." Eros menghentikan langkahnya membuat Ayun yang ada dibelakangnya pun terpaksa ikut berhenti. Laki-laki itu menatap tak terima dengan pernyataan Ayun yang melarangnya untuk mendekati bahkan berniat pindah tempat duduk. "Bodo amat. Pokoknya aku nggak mau deket-deket kamu lagi." Ayun sudah bulat dengan keputusannya. Ia mengambil langkah lebar, mendahului Eros yang masih terpaku ditempatnya. "Heh ... Ayun, tunggu." Eros menahan tangan Ayun, namun lagi, gadis itu menepisnya. Eros memilih mengalah, untuk saat ini. Tapi membiarkan Ayun menjauhinya, itu tidak akan pernah terjadi. "Kita lewat sini. Gerbang depan sudah tutup." Eros tak peduli penolakan tangan Ayun yang memprotes ketika ia menariknya ke gang kecil yang tembus ke samping sekolah. Hanya itu jalan satu-satunya. Setidaknya, tidak ada orang yang akan berpikir macam-macam tentang mereka disana. Karena perumahan disamping sekolah sangat sepi. Ayun berhenti tepat di gerbang kecil itu. Terkunci. Itu artinya ia harus memanjat untuk bisa keluar. Ayun menatap Eros ragu. Ia tak yakin bisa naik pagar besi yang lumayan tinggi itu, apalagi dengan rok sepan yang dikenakannya. "Naik." Eros berjongkok, meminta Ayun menjadikan dirinya sebagai pijakan. Ayun masih tak bergeming, bingung apa yang harus dilakukannya. "Naik. Buruan," ucap Eros tak sabaran. "Nanti baju kamu kotor." Meski kesal dengan Eros, tapi menginjak tubuh itu dengan sepatunya yang kotor tetap saja Ayun tak tega melakukannya. "Astaga ... buruan naik. Nggak usah mikirin baju gue. Keburu ada orang yang lewat." Eros kembali memposisikan dirinya sebagai pijakan. Namun Ayun tak kunjung juga naik ke punggungnya. Ia melirik apa yang sedang dilakukan gadis itu. Ternyata Ayun tengah melepas sepatu juga kaos kakinya. "Ya ampun ...," gumam Eros lirih, namun urung senyum terbit disudut bibirnya. Beberapa saat kemudian, Ia merasakan pundaknya terasa berat. Ayun menginjak pundaknya dengan sangat hati-hati atau mungkin sebenarnya takut. "Eros ... Eros ... pelan-pelan." Ayun berpegangan kuat pada gerbang didepannya kala Eros mulai berdiri untuk membuatnya lebih mudah naik ke atas dan bisa melompat keluar. Setelah perjuangan dan drama yang cukup panjang. Ayun terduduk lemas, menyisih menjauh dengan kakinya yang masih gemetar. Ia memang ahli dalam hal memanjat pohon jambu setinggi apapun itu tapi ternyata tidak dalam hal memanjat pintu gerbang sekolah. Sambil memakai kaos kaki dan sepatunya, ia melihat bagaimana Eros dengan lihainya memanjat dan melompat dari atas gerbang yang cukup tinggi itu. "Udah belum? Motor gue dibawah." Eros menunjuk ke bawah dengan dagunya, ke arah sungai kecil yang ada di samping gedung sekolahnya. "Udah." Ayun masih berbicara ketus dan berjalan mendahului Eros, menuruni jalan berbatu yang rusak disana-sini itu. "Tunggu ...." Ayun menghentikan langkahnya tiba-tiba. "Kamu tahu aku dikurung disana dari siapa?" Ayun menoleh dengan pandangan menyelidik. "Udahlah ... nggak penting." Kali ini Eros yang berjalan mendahului, mengabaikan rasa penasaran Ayun yang bahkan sampai menyipitkan matanya penuh rasa ingin tahu. *** Eros mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, gerimis mulai turun rintik-rintik. Ia menambah kecepatan motornya. Jika bukan dalam kondisi darurat, sudah pasti Ayun akan memprotes keras. Namun kali ini, ia pun ingin segera sampai di rumahnya. Oleh karenanya ia memilih diam, mengencangkan pegangannya pada baju Eros yang ia cengkeram kuat. Dan kalau bukan karena rasa bersalahnya, Eros pun sudah pasti akan memprotes keras apa yang dilakukan Ayun pada bajunya. Namun saat ini, ia memilih membiarkan Ayun melakukan apa yang membuat ia nyaman. Karena meminta Ayun memeluknya agar ia bisa lebih tenang saat akan menambah kecepatan motornya. Sudah pasti akan berujung penolakan dan pertengkaran yang tak perlu. "Aku turun ditempat kemarin," ucap Ayun saat sudah mendekati gapura pintu masuk ke desanya. Diantar pulang laki-laki pada jam maghrib seperti ini, tentu akan mengundang jiwa ghibah para tetangganya, dan Ayun tidak mau itu terjadi. "Eros!" Ayun memukul kuat bahu Eros kala laki-laki itu sama sekali tak menuruti permintaannya. Eros membelokkan motornya ke desanya, itu artinya Eros akan mengantarkannya sampai rumah. Gawat! "Lo nggak lihat ini sudah gelap. Gue takut lo kenapa-napa. Astaga ... mana sepi begini. Ini perkampungan apa kuburan, sih." Gerutuan Eros disambut decihan oleh Ayun. Meski yang dikatakan Eros benar adanya, dibandingkan desa yang lain. Desanya pada malam hari memang layaknya desa mati. Sepanjang jalan gelap gulita, lampu jalan hanya ada satu dua itu pun jaraknya berjauhan. "Masih jauh?" Sudah tak terhitung belokan yang ia lalui namun belum juga sampai pada tujuan. Astaga ... jauh banget rumahnya dan dia jalan kaki setiap hari. Gue musti acungin jempol buat si curut. "Aku turun disini?" Ayun menepuk bahu Eros pelan. "Rumah lo yang mana?" Eros mengamati sekitarnya. Rumah-rumah warga nampak tertutupi kebun singkong juga pohon-pohon besar. Sama sekali tak terlihat bentuk dan rupa rumah dibaliknya. "Udah sana buruan pergi." Alih-alih menjawab Ayun malah mengusir supaya Eros segera minggat. Ia takut akan muncul gosip-gosip yang tidak diinginkan dan semakin mengganggu kesehatan simbahnya. "Astaga ... suka banget sih lo ngusir gue," sungut Eros kesal. "Udah deh ... buruan pergi. Kamu tuh nggak tahu ya kehidupan di desa itu gimana." Ayun menghentakkan sepatunya kuat-kuat. Berharap Eros segera minggat secepatnya. "Ishh ...." Eros mendesis kesal namun urung menuruti perintah Ayun. Ia memutar balik motornya dan dalam waktu bersamaan ia melihat Ayun menerobos masuk lewat pagar bambu yang gelap gulita itu. Astaga ... tuh anak ... "Buruan pergi." "Iya ... iya ... bawel lo." Meski mengkhawatirkan keadaan Ayun namun akhirnya ia memilih membawa motornya pergi. Masih sempat ia melihat ke belakang dari kaca spion, sambil berharap Ayun sampai di rumahnya dengan selamat. Namun yang ia lihat justru hanyalah kegelapan. Kegelapan yang mengerikan. Membuatnya semakin khawatir akan keadaan Ayun di kebun singkong tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD