Ayun Sakit

1094 Words
"Makasih ...," ucap Eros saat melewati Mia yang berlari kecil menuruni tangga. Gadis itu reflek mengerem langkahnya dan menoleh ke belakang di mana Eros dengan acuhnya terus saja berjalan menaiki tangga. "Kamu ngomong sama aku?" tanya Mia memastikan. Eros menghentikan langkahnya, melirik ke bawah, ke arah mantan kekasih satu harinya itu. "Menurut lo?" tanyanya dengan gaya sengak yang membuat lawan bicaranya ingin rasa mengumpat dalam hati. Mia mendengus sebal, merutuki perasaannya yang masih belum juga bisa move on dari Eros yang jelas-jelas sudah mempermainkan perasaannya dan membuangnya begitu saja tanpa hati. "Buat apa? Masalah Ayun?" tanyanya ketus. "Iya ...," jawab Eros sembari meneruskan langkahnya santai dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. "Kenapa kamu yang bilang makasih?" tanya Mia terus memburu. Seorang Eros punya hati untuk peduli dengan nasib orang? Sementara dengan dirinya saja, setelah putus, sikapnya langsung berubah 180°. Terlalu acuh, terlalu ketus dan seakan tidak pernah ada hubungan spesial diantara mereka. Karena mungkin ... sepertinya memang hanya ia yang menganggap hubungan mereka istimewa, tidak dengan Eros. "Ada masalah? Gue wakilin Ayun bilang makasih sebagai cowoknya." Eros kembali menghentikan langkahnya, menjawab enteng dan begitu meyakinkan. "Serius?" tanya Mia menelisik, menunjukkan ketidakpercayaannya. "Tanya aja sama Ayun," jawab Eros dengan santainya. Padahal dia hanya mengaku-ngaku saja. Bodo amat. Ia meyakini, cepat atau lambat Ayun juga pasti akan menjadi kekasihnya. Baginya itu hanyalah masalah waktu. "Ayunnya nggak masuk. Kamu tahu dia kemana? Hari ini, kan pertandingan Popda yang dia tunggu-tunggu ...." Belum sempat ia melihat perubahan raut wajah Eros. Sebuah seruan mengalihkan perhatiannya. "Mia! Busnya mau berangkat. Buruan woy!" Teriak Abah, guru olahraganya. Mau tak mau remaja itu gegas berlari, meninggalkan Eros yang berdiri mematung dan bertanya-tanya. "Ayun nggak masuk?" gumamnya dengan firasat buruk. Karena ia sangat tahu, seberapa bersemangatnya Ayun menantikan pertandingan ini. "Abah!" Eros gegas berlari menuruni tangga, mengejar Abah yang hendak berjalan keluar gerbang. "Bah, tunggu ...." Pria paruh baya bertubuh kurus itu berbalik, celingukan mendengar ada yang memanggil namanya. "Kenapa, Eros?" tanyanya setelah muridnya itu berdiri di hadapannya. "Bah, Ayun nggak berangkat?" "Oh ... si Ayun sakit. Ini kita sengaja nungguin dia, takutnya telat kan. Taunya si Ayun sakit, barusan dapat kabar ...." "Sakit? Sakit apa, Bah?" "Nggak tahu, deh ... coba tanya sama Erni. Abah buru-buru ... udah dulu, ya," pamitnya seraya melambaikan tangan. Karena Bus sudah menunggunya menuju tempat pertandingan. "Iya, Bah ...," ucap Eros pasrah meski ia belum puas dengan jawaban guru olahraganya itu. *** "Ndah ...." Seperti kebiasaannya, Eros menendang kursi teman sekelasnya itu tanpa dosa. "Iihh ... apa, sih, Eros?" Indah menoleh ke belakang, manyun. Menatap teman sekelasnya yang sering membuatnya esmosi jiwa itu sebal. "Lo tahu nggak Ayun sakit apa?" tanyanya, berharap mendapat jawaban dari Indah. "Cieee ... cieee ... yang abis ditolak ...." Indah kegirangan, puas akhirnya bisa meledek playboy tampan yang sering membuatnya kesal itu. "Brisik, lo, Ndah ... gue nanya serius," ketus Eros dengan wajah masam. "Hemm ... Hemm ... iya iya yang lagi kangen ...." Indah terkikik puas, tak peduli tatapan tajam Eros yang seolah ingin menerkamnya hidup-hidup. "Jadi, lo tahu nggak Ayun sakit apa?" Eros mengulang pertanyaannya tak sabaran. "Enggak ...," jawab Indah polos dan tanpa dosa. "Rumah kita, kan jauh Eros ... ya mana aku tahu," imbuhnya cengengesan. "Daritadi kek bilang ...," sungutnya. "Sabar, Pak ... nanti cepet tua, lho ...." Indah tak henti-hentinya menggoda. "Brisik lo, Ndah ... gue lempar juga lo keluar jendela," sungut Eros kesal bukan main. "Ihhh ... atuuutt ...." Tawa Indah makin meledak dan meledek. Akibatnya kursinyalah yang kembali menjadi sasaran kaki Eros. "Eros, ihh ... nanti kursi aku rusaklah," protes Indah sembari menarik kursinya lebih maju, menjauh dari jangkauan kaki panjang Eros. "Bodo amat ..." Kali ini Eros yang tersenyum puas. "Awas, ya ... nanti aku nggak dukung kamu jadian sama Ayun," ancamnya. "Bodo amat ...." "Eroosss! Nyebelin banget, sih ...." *** Tiga hari telah berlalu, kursi di sampingnya masih saja kosong. Ayun masih belum berangkat ke sekolah. Awalnya Eros ingin acuh. Ia sendiri tak mengerti kenapa ia harus sepeduli dan sekhawatir ini pada seorang teman perempuan, yang mana notabene hubungan mereka jugalah tidak sedekat itu. Bahkan bisa dibilang hubungan mereka itu layaknya Tom and Jerry yang jarang sekali akur. Tapi kenapa ia merasa sangat terganggu sekali dengan ketidakhadiran seorang Ayun yang bukanlah siapa-siapanya. Bahkan jelas-jelas gadis itu sudah menolaknya, tapi kenapa ia justru malah penasaran. Dan di sinilah ia sore ini, berhenti di pinggir jalan seperti orang bodoh. Tempat di mana ia terakhir kali mengantar Ayun pulang. "Ini kampung apa hutan, sih?" ujarnya bersungut-sungut. Matanya memandang sekeliling, di kanan kiri banyak pepohonan tinggi juga kebun singkong. Antara rumah satu dengan yang lain ia amati teramat berjarak. Sangat jauh berbeda dengan desa Kakeknya yang bisa dibilang sudah padat penduduk. Rumah satu dengan yang lain saling berdempetan. Memang tak sepadat di kota besar tentunya. Jalanannya pun juga sudah beraspal, berbeda dengan desa Ayun yang masih berbatu. "Ini rumah si Ayun yang mana coba?" Eros celingukan mencari-cari siapa tahu ada warga yang lewat yang bisa ia tanyai alamat. Sayangnya, cukup lama ia parkir di sana.Tak ada satupun warga yang lewat. "Sumpah, gila ... nih kampung ada warganya nggak, sih? Sepi banget kaya desa mati." Rasanya mulut Eros kurang puas kalau belum mengomentari apa yang ia lihat di sekitarnya. Ia terbiasa dengan keramaian dan kehidupan kota yang tak pernah sepi. Melihat hal semacam ini merupakan hal baru baginya. Terlebih desa Kakeknya juga tak separah desa Ayun ini. Eros menghidupkan motornya lagi. Mencari rumah warga yang kira-kira bisa mencari petunjuk di mana tempat tinggal Ayun. Satu dua rumah ia lewati, semua tertutup rapat membuat remaja itu berdecak tak sabar. Mana siang itu matahari bersinar terik dan udara terasa panas sekali. Harusnya ia tadi mengajak si Indah saja dan melupakan gengsi juga bacot Indah yang terus saja meledeknya dan membuat kupingnya pengang. "Permisi, Buk ... mau tanya ...rumahnya Ayun yang mana, ya?" tanya Eros pada seorang pemilik warung yang ia jumpai kemudian. Satu-satunya warung yang ia temui sepanjang perkampungan sepi ini. "Rumahnya Ayun?" Pemilik warung itu menelisik penampilan Eros. "Itu pas di depan ... teman sekolahnya, ya?" tanyanya kemudian setelah melihat atribut yang tertempel di seragam Eros. "Iya, Buk." Pandangan Eros beralih ke sebuah rumah sederhana, dengan cat tembok yang sudah terkelupas di sana-sini dan nampak memprihatinkan. Ini rumah Ayun? "Teman apa pacarnya Ayun?" ledek pemilik warung itu lagi. "Calon, Buk," jawab Eros dengan entengnya. "Calon apa, nih?" "Calon suami ...," jawabnya lagi asal saja dan disambut tawa ibu muda berhijab itu. "Aminin aja deh ... moga berjodoh, ya," ucap pemilik warung itu terkekeh. "AAMIIN ...." Eros membalas gurauan ibu muda itu dengan mengaminkan doanya kencang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD