Mata sayu Ayun yang baru membuka itu membola melihat kehadiran Eros di rumahnya. Remaja itu menatap sekeliling dengan linglung, sebelum kemudian mengucek matanya juga mencubit lengannya demi memastikan apakah saat ini ia sedang bermimpi atau tidak.
Sakit.
Ayun mendongak menatap wajah Eros lama.
"Lo nggak mimpi ... ini gue Eros," ucap Eros, mengerti kebingungan teman sebangkunya itu.
Ayun beranjak bangun susah payah, kepalanya masih terasa pusing, dan terlalu lama tidur benar-benar membuatnya saat ini seperti berada diantara dunia nyata dan mimpi. Rasanya sangat aneh dan sulit percaya melihat Eros bisa berada di rumahnya saat ini.
"Kamu ... beneran Eros?" tanyanya lemah.
"Ya iyalah ... lo pikir gue hantu apa?" tanya Eros tak habis pikir. Memangnya dia keliatan halus? Udah jelas-jelas ganteng begini. Bisa-bisanya si Ayun lihat dia udah kaya lihat setan aja.
Bukannya tenang dengan jawaban Eros. Dahi Ayun justru semakin berkerut dalam. "Kok ... kamu bisa di sini?" tanyanya tak suka.
"Gue mau jengukin lo lah, Jubaedah ... baik, kan gue? Coba ... mana ada teman sekelas yang inget sama lo," jawab Eros bangga, memuji diri sendiri. "Tuh ... gue bawain buah-buahan biar lo cepet sehat. Bisa-bisanya orang kaya lo sakit ...."
"Namanya juga manusia, emang kamu ...." Wajah pucat itu manyun.
"Kamu apa?"
"Setan," ketus Ayun melirik sebal. Namun Eros justru malah menanggapinya dengan tawa.
"Mana ada setan ganteng kaya gue?"
"Ishhh ... ngapain sih kamu pake jenguk segala?" protes Ayun.
"Astagaaa ... lu mah ya, udah dijenguk bukannya bilang makasih malah ...." Padahal dia udah bela-belain panas-panasan, capek habis pulang sekolah langsung gas ke pelosok desa terpencil ini. Bisa-bisanya ini si curut?
"Ih, siapa juga yang minta dijenguk. Sana pulanglah ...," usirnya terang-terangan.
"Astaga ... gue udah jauh-jauh datang ke sini, Yun. Tega banget sumpah, malah ngusir gue ... kasih minum, kek. Astagfirrlullahalazim ...." Pengen nyipok nih cewek jadinya. Batin Eros gemas.
"Bisa nyebut juga." Cibir Ayun.
"Bisalah ...." Eros tak terima.
"Aduh Eros ... lagian ngapain, sih kamu ke sini segala?" protes Ayun lagi. Wajah pucat itu kian manyun.
"Ya ampun ... emang kenapa, sih? Cowok lo tetangga sini?" Eros menerka-nerka, merasa terganggu dengan mimik muka Ayun yang seakan menganggap kehadirannya semacam bencana yang tidak diharapkan.
"Ishh ... mana ada? Aku nggak punya pacar," elaknya ketus.
"Terus ... kenapa lo keganggu banget sama kedatangan gue. Padahal niat gue baik, pengen jenguk ... bisa-bisanya lo malah mengusir gue. Sakit hati gue, Yun." Eros mulai berdrama. Entah kesambet setan apa, Eros sendiri tak mengerti kenapa kalau dengan Ayun dia bisa selebay ini.
"Ya ... ya maaf," ucap Ayun tak enak hati melihat wajah memelas Eros. "Tapi di kampung aku mah ... kalau kedatangan tamu laki-laki, ntar dikira ada apa-apa lagi ...."
"Ada apa-apa gimana? Dikiranya gue pacar lo gitu?" tebak Eros tepat. Ayun mengangguk lemah, masih dengan wajah muramnya.
"Lha emang kenapa? Tadi gue malah bilang tuh sama ibu-ibu di warung kalau gue calon suami lo," ucap Eros enteng tanpa dosa.
Ayun melotot. "Ishhh ... Eros!" Spontan Ayun memukuli lengan teman sebangkunya itu geram.
"Astaga ... becanda kali. Ibu-ibu itu pasti juga ngerti." Eros berusaha menghindar dan membela diri.
"Pulang sanalah ...," usir Ayun galak.
"Lho, lho ... kenapa kok malah berantem?" Tiba-tiba Simbah datang dengan segelas teh hangat juga sepiring singkong rebus. "Ayo diminum ... maaf, ya. Adanya cuma ini ...."
"Maaf, Mbah. Jadi ngerepotin ...," ucap Eros tak enak hati.
"Simbah ngapain? Kan belum sembuh?" Ayun menatap perempuan senja yang teramat ia sayang itu dengan khawatir. Sebelum kemudian melirik Eros dengan tatapan menyalahkan.
"Apa?" Eros bertanya tanpa suara, mengangkat bahunya acuh dan dengan senang hati mencomot satu potong singkong rebus yang disuguhkan.
"Simbah itu udah sembuh, kamu itu lho ...udah tahu sakit masih maksa ngerjain ini itu. Kapan sembuhnya kalau gitu ... gimana sekolah kamu nanti." Simbah malah balik memprotesnya dengan nada yang lembut. "Kalian sekelas?" tanya Simbah ikut duduk.
"Iya, Mbah," jawab Eros. Terlihat begitu menikmati makanan sederhana itu dimulutnya. Hal yang tak Ayun sangka, seorang Eros bisa memakan makanan kampung itu tanpa mencelanya. Mengingat sifatnya selama ini yang super menyebalkan dan sering berbicara ceplas-ceplos.
"Kalian ... pacaran?" Pertanyaan Simbah membuat mata Ayun kembali membola dan sontak menggelengkan kepalanya.
"Bukanlah, Mbah ...," sanggah Ayun mentah-mentah sembari melirik Eros sebal.
"Baru calon, Mbah." Melihat wajah jutek Ayun tiba-tiba tercetus saja untuk ide mengerjai gadis itu dan membuatnya semakin jengkel. Benar saja. Ayun langsung melempar tatapan mengancam setelah mendengar jawabannya.
"Sudah ... sudah ... jangan berantem. Simbah nggak ngelarang kamu pacaran, Yun. Asalkan sekolah kamu, jangan sampai terganggu dan yang paling penting ... tahu batasannya. Jangan sampai melakukan sesuatu yang akan kamu sesali nanti ...," ucapnya merujuk pada masa lalu putrinya alias ibu Ayun yang kelam, meski Simbah memang sengaja tak memperjelasnya. Karena ada Eros di sana. Hal itu tentu saja aib yang akan selalu ia jaga.
"Jadi ... Simbah kasih restu, nih?" Eros antusias. Berbeda dengan Ayun yang rasanya pengen melakban mulut Eros yang hobi berbicara sesuka hati itu.
"Simbah, sih terserah Ayunnya aja." Wanita tua itu tertawa melihat interaksi dua remaja di hadapannya itu. Melihat mereka mengingatkannya pada masa muda putrinya dulu. Ada rasa was-was yang mengusiknya. Namun ia yakin Ayun bisa menjaga dirinya. Meski mereka Ibu dan anak, tadi keduanya memiliki sikap yang berbeda. Ayun tipe yang penurut dan tidak pernah membantahnya, sangat berbeda dengan ibunya yang memang sangat keras kepala dan suka membangkang.
"Aku nggak mau." Belum apa-apa Ayun sudah tegas menolaknya mentah-mentah.
"Yakiiin nggak mau?" goda Eros tanpa tahu malu. Malah semakin terpacu untuk mendapatkan Ayun. "Padahal cowok kaya gue limited edition di sini."
"Alah ... bodo amit," jawab Ayun sekenanya. "Sana pulanglah ...," usirnya lagi.
"Ayuuuun ... sama tamu kok gitu. Tadi Eros udah sudah nungguin kamu bangun tidur lama lho," tegur Simbah.
Eros nyengir, merasa menang karena Simbah lebih membelanya. Meski dalam hati dongkol juga, karena hobi Ayun yang suka sekali mengusirnya.
"Ya udahlah, Mbah. Saya pulang dulu. Udah sore juga ...." Akhirnya Eros memilih mengalah dan berpamitan melihat Ayun yang sepertinya memang tak nyaman dengan kedatangannya.
"Ya udah tapi dihabiskan dulu minumannya."
Tangan Eros meraih gelas kaca itu dan meneguk minumannya sampai habis.
"Maaf, ya, Mbah ... malah ngerepotin," ucap Eros sopan.
"Nggak ngerepotin, malah kamu itu lho pakai bawa buah-buahan segala ... kalau mau main, main aja ... Nggak usah bawa apa-apa," ucap Simbah.
"Simbah ...," protes Ayun, tak setuju dengan tawaran simbahnya pada Eros. Sementara sebaliknya Eros menerima tawaran itu dengan senang hati.
"Beneran, Mbah, boleh main lain kali?" sambut Eros kegirangan.
"Ya bolehlah ... masa cuma maen aja nggak boleh?" Simbah terkekeh geli.
"Ya udah nanti saya bakal sering-sering jenguk Simbah," ucap Eros sengaja untuk mengerjai Ayun. Rasanya ada kepuasan tersendiri melihat si jutek itu semakin manyun karena ulahnya.
"Cepet sembuh ya, Jelek," pamit Eros sembari menepuk pundak Ayun sekilas membuat gadis itu mendesis kesal.
"Isshh ...."