Setelah lima hari beristirahat di rumah. Akhirnya Ayun memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Kalau dibilang sembuh, memang belum sepenuhnya. Setidaknya Ayun sudah merasa lebih baik, meski masih merasa sedikit lemah. Ia tak ingin kalah oleh sakitnya dan nantinya ketinggalan banyak mata pelajaran.
Sesungguhnya, ada satu hal yang membuatnya kecewa dan tak bersemangat, mengenai masalah POPDA. Ia gagal sebelum bertanding. Padahal ia sangat berharap banyak dipertandingan itu. Memang, belum tentu ia akan meraih kemenangan seperti tahun sebelumnya. Tapi kalau ia tidak sakit, setidaknya ia sempat berjuang. Meski akhirnya harus gagal pun. Ayun merasa tak akan sekecewa ini.
Tapi kenapa?
Kenapa Tuhan memberikannya sakit di saat yang tidak tepat?
Kenapa tidak sebelumnya atau setelah perlombaan saja?
Kenapa harus tepat di hari yang paling ia tunggu-tunggu?
Ayun melangkah pelan, karena tubuhnya masih lemah. Awalnya ia tak begitu memperhatikan sekelilingnya, karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tapi begitu melewati gerbang sekolah. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Semua mata serasa tertuju padanya dan setiap langkahnya seolah menjadi pusat perhatian. Gadis itu menatap sekeliling, ingin memastikan bahwa itu hanyalah perasaannya saja. Tapi sayangnya, ia mendapati hampir sebagaian besar dari mereka berbisik dan tersenyum aneh seolah ada yang salah dengan dirinya.
Ayun mempercepat langkahnya, begitu mencapai tangga dan suasana sepi. Ia langsung mengecek penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mungkin ada yang salah, seperti ia lupa tidak menarik retsleting roknya mungkin atau darah haidnya tembus, seragamnya ada yang kotor, robek atau yang lainnya. Tapi semua baik-baik saja. Tak ada yang salah dengan seragamnya.
"Mia?" Melihat Mia menuruni tangga, Ayun langsung berinisiatif untuk menanyakan keanehan sikap siswa-siswi sekolah pada temannya itu. Namun baru saja mulutnya hendak membuka, senyum aneh di bibir Mia membuat pertanyaan itu pada akhirnya urung terlontar.
"Udah sembuh?" tanya gadis itu. Tapi tidak seperti biasa, tatapan dan cara bicara Mia terasa berbeda dan seolah lebih menelisik penampilannya. Keramahannya yang biasa tiada lagi dan pertanyaannya terdengar hanya sekedar basa-basi.
"Hemm." Ayun mengangguk canggung. Apalagi setelah Mia melewatinya acuh seolah mereka bukanlah teman akrab sebelumnya.
Perasaan Ayun semakin tak karuan. Tubuhnya yang belum sepenuhnya sehat mulai berkeringat dingin. Ada apa sebenarnya? Apa ia melakukan kesalahan?
Ayun bergegas ke kelasnya dengan kebingungan. Kembali ia mendapati tatapan aneh dari teman sekelasnya. Meski tidak separah mereka yang di luar tadi dan mereka masih menyapa ramah juga menanyakan kabarnya. Tapi tetap saja, ia penasaran ... apa sebenarnya yang salah dengan dirinya?
"Ciee ... selamat, ya." Tiba-tiba Indah merangkul pundaknya dari belakang dan mengucapkan selamat. Tapi untuk apa? Dia saja nggak jadi ikut Popda.
"Selamat buat apa?" tanyanya bingung.
"Selamat, udah punya pacar sekarang. Cie ... yang tiap hari dijenguk cowoknya ...." Penjelasan Indah semakin membuat kepala Ayun pening. Tapi sepertinya ia mulai bisa meraba apa yang terjadi, dan yang pasti ini ada hubungannya dengan Eros si kutu kupret yang setiap hari datang ke rumah dengan dalih kangen dengan simbahnya itu.
"Maksudnya ... si Eros?" tanyanya to the point dengan dahi berkerut dalam.
"Cie ... nama yayangnya disebut ...."
"Stop, Ndah." Ayun membungkam mulut indah geregetan. "Ya ampun, aku itu baru sembuh lho ... jangan bikin aku nggak waras lagi." Ayun menyeret Indah menuju bangkunya dan siap melakukan interogasi darurat. "Coba jelasin, deh ... maksudnya gimana? Siapa yang pacaran sama siapa? Karena aku itu masih single sampai saat ini ...."
"Yakin masih single? Kata Eros kalian sudah pacaran?" tanya Indah dengan polosnya.
"Pa-ca-ran? Si Eros bilang begitu?" Hati Ayun ketar-ketir.
"Iya. Eh, pas kamu nggak masuk. Ada kejadian heboh banget tahu, Yun ... pacar-pacarnya Eros pada baku hantam." Indah bercerita dengan penuh semangat dan terkesan melebih-lebihkan. Ayun memutar bola matanya malas. Rasanya terlalu lebay, hanya demi playboy macam Eros cewek-cewek sampai pada baku hantam. Tapi kemudian ia langsung teringat dengan kasus yang menimpa dirinya sendiri? Kalau dipikir lagi, para cewek ternyata bisa kehilangan logika karena cinta buta.
"Terus dengan gaya sengaknya itu, lho ... Eros bilang mereka itu cuma mainan dan buat pengumuman kalau dia sudah menemukan kekasih hati yang sesungguhnya ...," terang Indah dengan gaya dramatisasinya yang berlebihan.
"Tunggu ... tunggu ... tunggu," potong Ayun cepat. Sejenak ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum sesak nafas karena dugaannya sendiri. "Jangan bilang kalau itu ...?" Hati Ayun serasa mengkerut sekecil kacang polong.
"Iya ... kamu." Indah mengangguk semangat dan tersenyum sumringah. Berbanding terbalik dengan Ayun yang tiba-tiba serasa mau pingsan mendengar kabar tak terduga itu.
EROS!!! ARGHTTT!!!
Bayangan kehidupan sekolah yang tenang dan menyenangkan lenyap seketika. Ya Tuhan ... selamat datang di neraka yang sesungguhnya, Ayun!
Gadis itu terduduk lemas, meratapi nasib sialnya.
***
Ayun benar-benar dibuat kesal setengah mati dengan kelakuan Eros yang hobi sekali bertindak semaunya sendiri itu. Gara-gara si playboy limited edition di sekolahnya itu, hubungan pertemanannya dengan Mia merenggang. Gengnya Anita mendiamkannya dan beberapa lainnya ada yang menyebutnya munafik. Karena sebelumnya, ia satu-satunya orang yang memusuhi Eros di kelas.
Belum omongan-omongan tidak mengenakkan yang menjurus ke body shaming yang menyakiti hati. Ayun sadar bahwa ia bukanlah siswi populer dengan penampilan wah. Tapi ia sendiri juga tak ingin dan tak mengerti apa maunya si Eros yang sudah menjungkir balikkan kehidupan sekolahnya selama beberapa ini.
Perasaan dongkol itulah yang membuat ia pada akhirnya melakukan aksi diam seribu bahasa pada teman sebangkunya yang super menyebalkan itu.
"Yun ...." Masalahnya si Eros bukannya sadar diri malah semakin membuatnya dalam masalah. Seperti sekarang, si playboy kurang kerjaan itu mengikutinya yang sedang berjalan menuju ke toilet.
Ayun mendengus sebal, memilih mengabaikan dan terus berjalan menuruni tangga.
"Ayun ...," panggil Eros lagi. Berulang dan lama-lama terdengar mengganggu di telinga Ayun.
Pada akhirnya, Ayun menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Eros dengan dua tanduk merah di kepalanya. Siap memberikan ceramah panjang lebar, tapi ...
"Love you ...," ucap Eros tanpa senyum bak malaikat tanpa dosa, membuat Ayun langsung membelalak gemas dan kehilangan kata-kata. Giginya gemeletuk menahan jengkel.
"Miss you ...," ucap Eros lagi membuat bola mata Ayun kian membola saking geregetannya.
"Kamu gila, ya?" Tangan gadis itu terkepal dan terangkat sampai ke d**a. Rasanya ingin memukul kepala Eros supaya otak sablengnya bisa waras lagi.
"Lo yang bikin gue gila," jawab Eros dengan santainya .
"Sebenarnya mau kamu apa, sih?"
"Masa lo nggak tahu?" Wajah Eros tiba-tiba mendekat dan sontak saja hal itu membuat Ayun langsung memundurkan kepalanya, sebelum kakinya menyusul kemudian.
"Ya ... karena apa?" tanya Ayun benar-benar tak mengerti.
"Orang bilang cinta nggak butuh alasan, kan?" jawab Eros dengan gaya songongnya.
"Ci-cinta?" Bagi Ayun yang baru pertama mendapat pernyataan cinta, di usianya yang semuda ini, dan dari seorang playboy tanpa perasaan semacam Eros. Jujur saja itu terdengar aneh. "Cinta kamu bilang?" Sinis Ayun.
"Memang orang kaya gue, nggak pantas jatuh cinta?" tanya Eros dengan nada tersinggung.
"Kamu itu cuma mau main-main, Eros. Dan aku nggak mau jadi bodoh, apalagi jadi mainan kamu," tukas Ayun tegas.
"Kalau aku serius gimana?" tantang Eros membuat Ayun bungkam untuk beberapa saat.
"Rayuan basi," ketusnya sebelum berbalik dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Eros yang kian tertantang untuk menakhlukkan kerasnya hati seorang Ayun Prameswari.
"Kita lihat aja nanti ...," gumamnya dengan seringainya.