Ayun mengintip dari balik tirai usang rumahnya. Nampak tubuh tua itu berjalan sempoyongan dari warung Mbak Asiyah setengah berlari. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, menahan air mata yang mendesak keluar. Jelas ia tahu, bahwa Simbah pasti berhutang lagi pada tetangganya itu untuk uang sakunya.
Seandainya saja ada yang bisa ia lakukan untuk membantu. Namun sayangnya, dia hanyalah seorang remaja berusia 16 tahun yang tidak bisa berbuat banyak. Hubungannya dengan geng Anita yang memburuk, membuat mereka tak lagi meminta bantuannya untuk mengerjakan ini itu. Dan artinya, tak ada lagi seperak dua perak yang bisa ia dapatkan untuk setidaknya memiliki uang transport pulang pergi sekolah.
"Yun ...sudah siang, lho. Ayo berangkat, nanti kamu telat," seru Simbah seraya masuk ke dalam rumah dan celingukan mencarinya. "Yun ...."
Simbah mendekat terburu, dan segera memasukkan uang lima ribu rupiah dalam bentuk pecahan seribuan itu ke dalam saku bajunya. "Kok malah ngelamun?" Perempuan senja itu baru menyadari kemudian, ada yang berbeda dengan sikap cucunya.
Gadis itu masih menunduk dengan tangan memainkan tas ranselnya. "Apa ... Ayun berhenti sekolah aja, Mbah?" tanyanya, kali ini ia mendongak, menatap wajah senja penuh keriput itu dengan air mata yang pada akhirnya lolos satu demi satu, meski sudah coba sekuat tenaga ia tahan.
"Kamu itu ngomong apa, to? Kamu fokus sekolah, setahun lagi kamu lulus. Wislah... jangan mikir aneh-aneh. Simbah memang belum bisa kerja berat lagi. Tapi Asiyah katanya mau kasih Mbah kerjaan. Jadi ... kamu nggak usah khawatir, ya." Tangan tua itu bergerak menghapus basah dikedua pipi cucu kesayangannya. Kalau mau jujur, sebenarnya hatinya pun nelangsa dengan keadaan ini. Bukan karena ia harus harus banting tulang diusia senjanya. Tapi nelangsa dengan nasib sang cucu yang sama sekali tidak mendapat kasih sayang juga perhatian dari ibu kandungnya sendiri.
"Maafin Ayun, Mbah." Isaknya lirih sembari memeluk tubuh tua yang kurus itu.
"Sudah, sudah ... lha kok, malah nangis. Nanti kamu telat sekolahnya." Tangan renta itu menepuk pundak sang cucu dengan penuh kasih sayang.
"Mbak Asiyah mau kasih kerja apa sama Simbah?" tanya Ayun khawatir Simbahnya akan kerja berat lagi. Sementara kondisinya belum sembuh sepenuhnya.
"Itu, lho ...ngupasin kacang mede," jawab Simbah dengan senyumnya yang menenangkan. "Ya, sudah kamu berangkat, sekolah yang bener ... semoga kelak kamu jadi orang sukses," doanya tulus.
Ayun mengangguk, mengaminkan doa itu dalam hati, sebelum kemudian mencium takzim punggung tangan Simbah dan berpamitan. "Ayun berangkat dulu."
"Iya, hati-hati, ya...."
***
Keceriaan yang dulu selalu menghias wajah polos nan manis itu kini mulai jarang terlihat. Ayun lebih banyak melamun, tapi terkadang memaksakan untuk tetap tersenyum agar terlihat baik-baik saja. Di rumah, ada Simbah yang begitu dikhawatirkannya. Sementara kehidupan sekolahnya sendiri, tidaklah senyaman sebelumnya sejak Eros mengacaukan semua dan membuat beberapa teman sekelas menjauhinya.
Siang itu udara begitu panas. Ayun merasakan tubuhnya sedikit lemas dan perutnya terasa melilit. Tentu saja itu berhubungan dengan penghematan yang ia lakukan akhir-akhir ini. Ia hanya menggunakan uang sakunya untuk transpor berangkat ke sekolah. Sedangkan untuk pulangnya, beberapa hari ini ia memilih berjalan kaki menempuh jarak 8 kilometer menuju rumahnya dalam keadaan perutnya yang keroncongan. Sisa uangnya ia gunakan untuk hari berikutnya. Jika Simbah bertanya, maka ia akan berdalih dengan mengatakan bahwa ia mendapat bayaran saat membantu temannya mengerjakan tugas sekolah atau piket seperti biasa.
Sambil terus menahan perih di perutnya, Ayun terus memaksakan langkahnya dan berharap ia kuat menahan rasa sakit itu hingga nanti tiba di rumah.
"Naik." Suara itu menyadarkannya dari lamunan dan seketika membuat langkahnya berhenti. Mungkin karena terlalu sibuk dengan banyak masalah yang menjadi beban pikirannya akhir-akhir ini. Ayun sampai tidak menyadari suara motor Eros yang jelas-jelas bising bahkan dari kejauhan sekalipun.
Ayun menoleh pada teman sebangkunya yang duduk di atas motor itu. Hubungan mereka akhir-akhir ini benar-benar asing. Mereka sama-sama saling mendiamkan satu sama lain. Sebenarnya Eros sengaja melakukan itu, untuk membuat Ayun merasakan sedikit saja rasa kehilangan akan dirinya. Namun nyatanya justru ia yang merasa tersiksa, apalagi melihat gadis itu banyak melamun juga merasa tidak nyaman dengan suasana kelas dengan beberapa teman yang kini menjauhinya. Eros jelas sadar, hal itu terjadi karena ulahnya. Sebenarnya bisa saja ia membuat perhitungan dengan mereka-mereka yang tiba-tiba memusuhi Ayun, tanpa sebab yang jelas. Tapi ia tahu, jika ia melakukan hal itu maka Ayun akan semakin membencinya, dan ia tidak mau hal itu terjadi.
"Naik," ucap Eros lagi, serupa perintah. Tapi bukan Ayun namanya kalau ia menurut saja dan tidak membantah. Apalagi permintaan itu berasal bibir Eros Adian. Orang yang sudah membuat kekacauan di hidupnya.
"Makasih," ucapnya ketus sebelum melengos dan melanjutkan langkahnya lagi.
"Ayun!" Kesabaran Eros rasanya habis. Ia tahu akhir-akhir ini Ayun sering pulang dengan berjalan kaki. Padahal ia tidak ketinggalan angkot, juga tidak ada kegiatan extrakulikuler ataupun latihan sepulang sekolah. Di kelas pun ia sering mendengar perut teman sebangkunya itu berbunyi nyaring. Namun gadis itu bersikap acuh, seolah ia baik-baik saja.
"Naik, kalau nggak gue gendong," ancamnya.
"Gendong aja kalau berani, tapi aku bakalan teriak," balas Ayun tak gentar.
"Teriak aja sepuas lo." Dalam satu gerakan cepat, tanpa Ayun sangka Eros sudah berdiri di belakangnya, membawa tubuh mungilnya melayang dalam gendongan. Sontak saja Ayun memberontak sekuat tenaga.
"Eros!"
"Diam atau mau gue cium?" ancam Eros yang seketika membuat gadis itu menutup mulutnya. Saat itulah Ayun menyadari bahwa saat ini mereka tengah berada di sepanjang jalan sepi yang hanya ada hutan jati dan kebun di sisi kanan maupun kiri jalan. Jadi, sepertinya berteriak pun tidak ada gunanya.
"Naik. Gue antar lo pulang." Eros menurunkan Ayun di samping motornya. Sikap dingin Eros yang tidak biasa, juga perutnya yang semakin tidak bisa diajak kompromi mau tak mau membuat Ayun menyerah pada keadaan.
Seperti biasa ia mengambil jarak yang cukup jauh. Barulah ketika teman sebangkunya itu membawa motornya dengan kecepatan yang membuatnya ngeri, tangannya reflek berpegangan pada tas ransel Eros. Selama perjalanan ia hanya diam meski sejujurnya ingin sekali memprotes. Namun rasa kesal membuatnya gengsi untuk bersuara.
"Aku turun di gapura," ucapnya ketika motor Eros hampir mendekati desanya. Namun Eros tak menggubris dan malahan berbelok, melajukan motornya di jalanan berbatu itu. Ayun hanya bisa mendengus sebal, tak bisa berbuat apa-apa.
Awalnya Ayun berniat beradu mulut dulu dengan Eros ketika nanti tiba di rumah. Namun niat itu seketika buyar ketika ia melihat kerumunan orang di teras rumahnya. Pikirannya langsung fokus pada kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Simbah?
"Nggak .... nggak mungkin ...," Remaja itu Gegas turun begitu Eros menghentikan motornya dan berlari tanpa peduli rasa perih yang masih menyiksa perutnya.
"Mbak? Simbah?" Ayun langsung menghampiri Mbak Asiyah dengan mata berkaca-kaca. Detak jantungnya berpacu cepat, sementara dalam hati terus merapalkan doa semoga apa yang ditakutkannya tidak terjadi.