Diriku yang terbelenggu

1684 Words
Mungkin suatu saat nanti,entah esok lusa atau kapan.. Hanya Tuhan yang tahu, waktu dimana aku sudah tidak berada lagi di samping mu.. Waktu dimana aku sudah tidak pernah ada kabar lagi... Waktu dimana aku sudah mulai menjauh darimu... Yakinlah,bahwa aku selama ini bersamamu benar-benar tulus.. Apapun yang sudah aku lakukan semuanya hanya untuk dirimu... "[Bella,You're (Not) My Sugar Daddy]" Setelah perasaan ku mulai membaik aku pun segera beranjak menuju pulang menggunakan mobil ku.Sepanjang perjalanan mataku masih terlihat sembab dengan hidung yang memerah. 'Ini yang aku tidak suka setelah menangis!' gumamku perlahan pada diriku sendiri. Beberapa menit kemudian sampailah aku di rumah, tidak jauh ku melihat asistenku iris menunggu ku di teras rumah, segeralah ku hampiri dia. "Iris sedang apa disini?" "Selamat siang nona.Saya menunggu kedatangan nona." Ucapnya seraya mengikuti ku yang masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan ia duduk bersamaku. "Lain kali tunggulah aku di dalam saja?" pintaku. "Siap nona.Oh iya, nona ada kiriman hadiah dari Tuan Jackson dan Nyonya Elis, semua hadiah sudah saya taruh di kamar tuan dan nona." ujarnya menjelaskan kepadaku. 'Kamar tuan dan nona?Jangan-jangan ia taruh di kamar will..' pikirku menebaknya. "Hmm.. nona.. maaf.. itu.. " ucapnya ragu-ragu sambil menunjuk matanya sendiri. "Ohh.. ini.. gak apa-apa kok.Tadi di jalan saya kelilipan jadi mata ku begini hehe" ucapku berbohong. "Segera di kasih obat nona biar tidak infeksi." "Tidak apa-apa Iris kalau begitu saya mau istirahat dulu di kamarnya." "Silahkan nona." Aku pun bangkit dari tempat duduk ku dan berlalu dari hadapan ya,sekilas ku melihat Iris menuju keluar rumah sambil mengutak-atik handphone ya. Aku dengan ragu membuka pintu William.Betapa aku tercengang melihat semua hadiah menumpuk berada di sana. 'Ini semua hadiah?Banyak sekali.. ' pikirku melihat semua kado-kado yang berbeda bentuk ya. "Baiklah sebelum William pulang aku harus memindahkan semua hadiah ini ke kamarku.Bisa-bisa Will mengomel melihat kamar ya berantakan." gumamku sambil memindahkan satu persatu hadiah yang berada disana. Akhirnya semua hadiah sudah berada di kamarku.Aku memandangi tumpukan kotak-kotak kado ini,seperti tidak ada tenaga lagi untuk membuka semuanya.Aku pun berbaring sebentar di atas kasurku, memandangi langit-langit kamarku yang berbentuk awan awan biru. "Bell... " Seketika aku tersentak mendengar suara William yang tiba-tiba masuk ke kamarku tanpa ketok pintu dahulu. "Kok gak ketok pintu!" ujarku marah. "Tapi.. aku mau.. " "Keluar!Ulang lagi!" "Jadi aku ngulang lagi masuk ya?" "Iya lah.Masuk kamar orang itu harus ketok pintu dulu!Cepatan ulangi lagi!" "Oke.. oke." ia pun dengan lesu ya menutup pintu kamarku dan keluar lagi.Aku pun yang melihat menahan tawa karena tingkahnya. TokkkTokkkTokkk "Iya, silahkan masuk.. " ujarku mengubah sikap ku menjadi seperti biasa. "Bell, aku boleh masuk.. " "Boleh kok.Nah gitu dong kalau masuk itu harus permisi dulu." ujarku menjelaskan kepadanya sambil ia beranjak duduk di pinggir kasurku. "Bell, aku mau ngomong." ujarnya serius. "Iya, mau ngomong apa?" "Kenapa dengan matamu?" tanya ya menginterogasi ku. 'Kok dia tahu ya? Jangan-jangan Iris yang.... ' pikirku mengingat saat Iris mengutak-atik handphone ya. "Oh ini, tadi kelilipan di jalan.Gak apa-apa kok." "Kelilipan? Memang ya bisa langsung sekaligus dua mata yang menjadi sembab itu." ujarnya mengetahui kebohongan ku. "Beneran gak apa-apa... " tiba-tiba ia memelukku.Aku tersentak di peluk olehnya,tapi perlahan pelukkan ini terasa begitu nyaman ku rasakan. "Apakah hari ini adalah hari yang berat bagimu bell?" Aku hanya diam tidak dapat menjawab pertanyaan ya.Lidahku terasa kelu untuk ku gerakkan. "Aku selalu mendengar mu Bell.Jangan kamu simpan sendiri masalahmu,sekarang ada aku bell." ujarnya melepas pelukkan ya dan menatapku. "Aku akan cerita bila aku sudah tidak bisa menampung lagi Will." ucapku lirih. "Haruskah aku menunggu ketidakberdayaan dirimu Bell.. " ucapnya penuh kerisauan. "Harus!" ungkap ku tegas. "Baiklah kalau itu keinginan mu.Aku tidak akan memaksa.Beristirahat lah,nanti malam kita akan pergi ke suatu tempat bersama ibu dan ayah ku." ujarnya mengusap kepalaku sembari meninggalkan ku yang sendirian di kamar. Aku menghela nafas panjang sembari rebahan di kasur.Aku bingung dengan posisiku saat ini dan perasaan dilema yang ku alami. ****** ******* ******* ******* *Malam* Malam ya aku pergi bersama William ke sebuah restauran yang terkenal di kota ini.Para Waiter dan pemilik restauran menyambut kami berdua, mereka mengarahkan kami ke Private Room restauran ini. setelah sampai di depan ruangan, William menggenggam tanganku.Kami pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan disana terlihat Tuan Jackson dan Nyonya Elis atau bisa di sebut sebagai mertua ku. Mereka menyambut ku begitu hangat,ibu mertua langsung memelukku dan mempersilahkan kami duduk.Semua hidangan sudah tersedia di meja makan dan ada kue ulang tahun yang berwarna putih bertuliskan 'Happy Birthday My Daughter',aku begitu terharu melihat semua ini.Ibu dan ayah mertua terlihat tersenyum bahagia memandangi diriku dan William. "Maaf ya nak ayah sama ibu baru siapkan kue ulang tahun buat dirimu." ucap ibu mertua. "Tidak apa-apa ibu.Aku sangat bahagia.. aku tidak bisa mengungkapkan apapun." ucapku bahagia. "Udah.. udah.. kalau gitu kita bersulang dulu merayakan ulang tahun anak kita yang ke 21 tahun." ungkap ayah seraya mengangkat gelas ya dan di sambut oleh gelas William,Ibu dan diriku. Kami pun mulai makan malam bersama sambil sesekali berbincang-bincang ringan dan tertawa bersama. 'Akan ku ingat setiap kenangan ini.' pikirku memandang mereka semua. "Bagaimana perjalanan bulan madu kalian berdua di Paris?" ujar ibu mertua kepadaku. "Sangat baik sekali bu." ucap William sambil merangkulku dan tersenyum. "Wah berarti ayah dan ibu dapat berita baik nih dari kalian.." ujar ayah mertua tersenyum kepada kami. "Kabar baik?" ucapku dan William berbarengan. "Iya.. misal sudah tumbuh telinga ya.. ya kan sayang... " ujar ayah mertua memberi sebuah kode sambil tersenyum menoleh ke ibu. "Benar sekali.. ibu kepingin punya cucu loh.. " ujarnya ibu to the poin. "APA???" ucap William tersentak mendengar ucapan ibu ya, sedangkan aku tersedak oleh makanan yang sedang ku kunyah, buru-buru William memberikan segelas air minum kepadaku. "Kenapa kalian bereaksi seperti itu?Apa ibu salah bicara?" ujar ibu mertua bingung memandangi kami. "Hemm... eh, Bu-bukan seperti itu bu hanya saja saya terkejut mendengar ya." "Hahaha kamu ini ada-ada saja nak." ujar ibu geleng-geleng kepala. "Tidak masalah kalau belum terbentuk yang penting setahun ini sudah ada telinga ya hahahaha" ucap ayah tertawa, aku dan William terpaksa tertawa juga sambil saling lirik. Akhirnya makan malam dan ketegangan pun selesai, kami memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. "Mau ikut denganku sebentar ke suatu tempat Bell?" ajaknya kepadaku. "Iya, boleh." Sepanjang jalan kami hanya saling diam, tidak ada pembicaraan apapun.Aku sibuk dengan pikiranku sendiri,entah pikiranku saat ini sedang kacau. "Bell, ayo turun... " ujarnya menyadarkan ku. Aku pun segera turun dan melihat sekeliling ku, ternyata aku dibawa ke taman kota. "Ayo, duduk disana Bell." ajak William memegang tanganku.Aku pun mengikutinya menuju sebuah bangku taman yang berada tidak jauh dari mobil kami. "Nih permen.. " ujarnya seraya menyerahkan lolipop kepadaku. "Permen?memang ya aku anak kecil?" ujarku sambil mengambil permen itu. "Di ambil juga.. " ujarnya menyindir. "Hmm.. nih ku kembalikan lagi!" "Hahaha bercanda Bell... " "Gimana perasaan mu malam ini bertemu ibu dan ayahku lagi untuk kedua kali ya setelah pernikahan kita?" "Gugup banget Will!Apa lagi pas mereka minta...... " "Oh.. i-itu.. eh, nanti saja kita bahas perihal itu!" ujarnya gelagapan juga. "Haha aku juga terkejut saat ayah dan ibu menanyakan hal itu... " "Hahaha.. oh iya,Apakah kamu senang setelah masuk kuliah?" tanya ya menatapku. "Sangat senang sekali karena aku bisa bertemu Erika.. " "Wah sepertinya aku cemburu nihh.. " "Haha ia sahabatku yang paling ku sayang hanya dia yang selalu mendukung ku.. " "Aku tahu itu bell.. " ujarnya tersenyum. "Oh iya, bagaimana hubungan mu dengan Suho?Apa kalian sudah baikkan?" "Sudah Bell, berkat dirimu.Seminggu lagi dia akan datang ke sini untuk mengadakan pameran lukisan dan dia memberikan ku sebuah tiket VIP untuk kita berdua." "Really?Wah.. aku sangat senang sekali Will... " "Tunggu dulu.. Sejak kapan dirimu jadi menyukai lukisan?" tanya ya heran. "Sejak dirimu membawaku ke Porte de Clignancourt.Waktu aku tidak sengaja bertemu suho dan dia menjelaskan semua arti dari lukisan-lukisan disana." ujarku menjelaskan. "Wah.. seperti ya aku akan menyuruh suho tidak usah kesini saja." "Hei.. jangan lakuin itu dong!" ujarku mencubit lengan ya. "Auu.. sakit.. Oke Oke, aku tidak akan melakukan ya!" ungkap ya memohon ampun. "Baiklah Will..seperti ya hari mulai larut Will, ayo kita pulang.. " ajakku kepada ya. "Tunggu aku punya sesuatu untuk dirimu Bell... " "Apa itu?" ungkap ku penasaran. "Tunggu... Ini... Buka lah... " seraya menyerahkan kotak berukuran sedang dan agak tipis, berwarna hitam kepadaku. Aku pun perlahan membuka kotak tersebut dan betapa terkejutnya aku melihat sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk hati berada di kotak tersebut. "Will... ka-kalung ini untukku..." ucapku seraya tak percaya dengan apa yang kudapat. "Iya, kan aku sudah berjanji setiap hari selalu ada hadiah kecil untuk mu Bell." "Terimakasih Will.Baiklah, aku akan memakainya.. " ujarku seraya berusaha mengenakan kalung ku tapi begitu sulit. "Sini biar ku bantu... " Ia pun membantu memasangkan kalung tersebut sehinga wajah kami menjadi begitu dekat.Aku merasa begitu gugup dan sesekali melirik William yang fokus memasangkan kalung ini. "Oke, sudah... " "Wahh.. cantik kan?cocok kan? gimana... " tanyaku semuringah kepadanya. "Sangat cantik Bell.." "Benarkah?.. " "Iya, dirimu sangat cantik Bell." Aku tersentak mendengar ucapannya 'Pasti kalung ini yang ia maksud.Betul pasti kalung ini!' pikirku sejenak. "Bell... " tiba-tiba William menyentuh sebelah pipiku begitu lembut. "Eh.. A-nu.. Ehmm.. Will, kalau begitu aku duluan pergi ke mobil ya." ucapku gugup dan secepat mungkin berlalu dari William yang terdiam di bangku taman. Aku pun langsung masuk ke dalam mobil dan terdiam sejenak mengatur degup jantungku yang tidak beraturan. 'Yang tadi itu nyaris saja!' pikirku sambil menepuk dadaku pelan. "Apa yang aku pikirkan,Astaga!Kenapa jadi begini Sih?Aku dan William hanya pasangan pura-pura saja.Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan saja!Tapi perasaan ini begitu tulus... tapi bagaimana kalau hanya diriku saja yang merasakan ini sedangkan William tidak?Bisa saja ia hanya menjalankan peran ya saja.' pikirku kalut. "Sudahlah..kalau aku terlalu berharap pada perasaan ini dan pada akhirnya aku di tinggalkan sendirian dan terluka yang ada hanya menyisakan kenangan buruk yang tidak ingin ku ingat." gumamku lirih dan merenung. Tiba-tiba William masuk ke dalam mobil dan mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.Kami berdua hanya diam saja sepanjang perjalanan,Entah kenapa suasana ya begitu canggung.Tidak sengaja kami bertatap lagi dan langsung saja kami berdua memalingkan wajah kami masing-masing,sedikit ku lirik wajah William memerah dan berusaha masih fokus untuk menyetir mobil sedangkan aku menoleh ke arah luar jendela untuk memenangkan diriku yang masih merasa deg-degan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD