Indonesia
Setelah berlibur lama akhirnya aku kembali ke rutinitas perkuliahan ku.Seperti biasa aku bangun pagi sekali untuk menyiapkan segala ya dan mengambil tas ransel ku untuk pergi kuliah.
"Bell, mau kemana?" ujar William yang melihatku sudah berpakaian kemeja hitam dan celana jeans panjang di padukan sepatu kets putih.
"Mau pergi kuliah Will." ujarku sambil duduk di sebelah ya dan langsung memakan sandwich yang tersaji di piring sebagai menu sarapan ku.
"Kuliah?Dengan pakaian seperti itu?" ujar ya menatapku dari atas sampai bawah.
"Iya, memang ya ada yang salah?" jawabku.
"Hmm.. Bell kan ada pakaian yang ku belikan untukmu kemarin di Paris.Pakailah baju itu.. "
"Tidak!Aku nyaman seperti ini." ujarku tidak peduli.
"Bell, kamu adalah istri dari pengusaha properti terkenal di seluruh negara dan harta ku berlimpah tapi istrinya seperti ini, apa yang nanti orang bicarakan? wahh istrinya pak William tidak bahagia?Apakah pak William sangat pelit kepada istrinya?Hayo..bagaimana kamu nanti menjawab pertanyaan tersebut."
"Will, bisa gak kamu, gak usah terlalu berlebihan?" ucapku
"Tapi Bell kalau kamu begini nanti rahasia kita akan terbongkar... " ujar William yang membuatku tersadar akan status ku sekarang.Aku pun merasakan sakit hati mendengar perkataan ya, langsung saja aku pergi meninggalkan ya sendiri di ruang makan dan langsung menuju kamarku untuk berganti baju.
'Aku tahu statusku apa tapi tidak seperti ini kamu mengingat kan aku Will!' pikirku menahan amarah di dalam kamar.
Aku pun memakai Jaket hitam yang di belikan William waktu di Paris, ku padukan dengan t-shirt putih dan celana jeans hitam ku bermerek D*** di padukan sepatu bots pendek coklat ala-ala korea, aku biarkan rambut ku tergerai dan mengganti tas ransel ku dengan tas ransel hitam yang baru ku beli bersama assisten Jordan.
Aku pun segera turun ke bawah dan memakai helm ku.
"Mau kemana pakai Helm Bell?" ujar William membuatku terkejut.
"Mau naik motor lah..kan aku mau pergi kuliah."
"Hmm.. sebenarnya motormu sudah ku kembalikan ke kediaman ayahmu bell." ungkap ya mengaku.
"APA? TERUS AKU PERGI.... "
"Tenang Bell.. Kamu kan sudah ada mobil yang ku berikan sebagai hadiah ulang tahun mu!"
Sejenak aku merenung meratapi kejadian ini.
"Will itu motor b*** kesayangan ku dan kamu tahu... Itu motor susah payah aku.. aku membeli ya dan itu pun belum lunas kreditan ku.... " ujarku memegang kedua pundak William seraya tidak percaya dengan apa yang dia lakukan.
"Te-tenang bell.. Motormu sudah lunas dan sengaja ku kembalikan ke ayahmu karena sudah jelek juga." ujarnya tersenyum seperti malaikat.Aku pun menepuk keningku perlahan akan tingkah ya ini.
"Hmm.. yasudah, kalau begitu ini helm buatmu aja.Aku mau berangkat kuliah sebelum terlambat.Bye.. " ujarku berlalu dan meninggalkan ya sendiri sambil terheran-heran memegang helm ku.
Sesampainya di kampus,orang-orang di sekitar yang berkumpul tercengang melihatku datang dengan menggunakan mobil Lamborghini ku, mereka ada yang berbisik-bisik dan ada yang mulai mendekatiku secara tiba-tiba entah karena apa.
"Wah bell, gimana kabar mu?" ujar Jane temanku dahulu yang meninggalkan ku saat susah.
"Iya, bagaimana nih setelah menikah?" tanya salah satu dari mereka.
Aku hanya diam tidak menggubris.
"Jawab dong bell.Sekarang gak asik kamu iihh... " ujar Jane kesal.
"Kalian ini yang aneh! Saat aku susah kalian tinggalin aku? kemana aja?" ujarku menyindir mereka.
"Kamu sombong banget sekarang bell! mentang-mentang menikahi pria kaya raya atau jangan-jangan kamu simpanan sugar daddy nih karena tiba-tiba kamu bisa kaya raya.. hahaha" ujar mereka mengejek.
"Heh! Jaga baik-baik itu mulutmu.. " ujar Erika menghampiri kami.
"Loh memang benar kan?Jangan-jangan kamu gak tahu ya kalau dia merebut calon suami adik ya sendiri demi harta! Sungguh ironis banget!" ujarnya sinis menatapku.
"Wahh gosip dari mana kamu dapat!Oh iya, aku baru dengar kata ya Bokap mu kedapatan selingkuh ya dengan wanita lain?" ujar Erika menyendir Jane.
"Ka-kamu! Awas kalian berdua ya.. " ujar ya segera pergi berlalu bersama teman-teman ya.
semua orang-orang yang berada di sana tercengang menatap kami dan memutuskan berlalu karena tidak mau berurusan dengan kami.
"Terimakasih Ka', untung ada kamu." ucapku lega.
"Sama-sama Bell...ihh kangen banget sama kamu bell.Ciee yang habis bulan madu nih." timpal ya menggoda ku.
"Gak seperti itu Ka'..." ujarku serba salah.
"Lah.. terus gimana dong?"
"Hmmm.. gimana ya jelasin ya.. Udah kita masuk dulu ke dalam kelas ntar keburu bu dosen kita masuk duluan.Nanti janji aku ceritain semua ya deh." ujarku.
Beberapa jam kemudian akhir ya kelas praktek ujian tulis kedokteran yang kami laksanakan hari ini selesai lebih lama.Aku dan Erika pun memutuskan untuk makan siang sebentar di cafetaria dekat kampus.
"Hmm..bell maaf ya karena aku gak cerita tentang gosip yang menyebar luas tentang dirimu di kampus,soal ya aku gak mau buat liburan kamu jadi hancur karena gosip gak jelas ini." ujar ya khawatir denganku seraya minum jus jeruk ya.
"Udah lah Ka' gak apa-apa kok.Aku udah biasa di timpa gosip yang seperti ini!Kamu tahu kan dulu mereka langsung meninggalkan ku saat aku dalam keadaan terpuruk hanya dirimu yang selalu berada di sisiku Erika." ucapku merenung.
Erika menatapku dan ku lihat raut wajah ya menjadi sedih karena perkataan ku.
"Aku sangat sedih mendengar perkataan mu bell." ujarnya seraya memelukku.
Aku pu menepuk pundak ya pelan agar dia tenang.
"Oh iya, bagaimana bulan madu mu sama itu tuh... " ujarnya sambil tersenyum.
"Sangat menyenangkan Ka' hanya saja ini liburan bukan bulan madu." ungkap ku.
"Loh.. ma-maksud ya bagaimana sih?" tanya ya bingung mendengar perkataan ku.
"Sebenarnya pernikahan kami berlandaskan sebuah kesepakatan Ka'... "
"Lohh..?? terus.. " ujarnya sedikit terkejut.
"Iya, pernikahan yang di dasari oleh kesepakatan ku dengan William.Intinya di depan semua orang kami terlihat seperti suami istri tapi di dalam ya seperti sebuah pertemanan pada umumnya.Setelah 5 tahun pernikahan ia akan menceraikan ku dan memberi kompensasi sebesar 5 M.. "
"Terus kamu terima?" ujarnya masih penasaran.
"Awal ya ku tolak tapi ia menawarkan hal yang sangat membuatku menginginkan tawaran itu.. "
"Tawaran apa bell?"
"Ia berjanji selama menikah aku bisa keluar dari rumah yang ku anggap neraka selama ini!Ia juga menjanjikan kepadaku biaya semua kuliah akan di tanggung olehnya dan memberikan ku uang setiap hari sebagai istrinya.. karena dua hal yang utama dia janjikan maka aku menerima tawarannya Ka'." ungkap ku penuh kekhawatiran karena aku takut Erika akan menjauhi ku setelah pengakuan ku ini.
Dia hanya diam menatapku, entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang tentangku.
'Aku siap dengan semua konsekuensiku.' pikirku saat ini.
"Erika?" ujarku menyadarkan ia dari lamunan ya.
"I-iya bell.Maaf tadi.. "
"Gak apa-apa Erika seandainya kamu ingin menjauhi ku tidak apa-apa.Aku tahu kamu pasti berpikir aku perempuan matre dan.."
"Bukan! Aku tidak pernah berpikir buruk tentang mu Bell.Aku berpikir betapa banyak kamu berkorban untuk keluarga mu, sedangkan mereka tidak peduli denganmu dan kamu tahu yang menyebarkan gosip tentangmu selama ini adalah adik tiri mu sendiri Bell! Aku marah, aku sakit hati mendengar dirimu terus terusan berkorban demi mereka sedangkan mereka apa bell.. " ungkap Erika menahan amarahnya.
"Udah tenang Ka'." ucapku tersenyum.
"Oke,untuk saat ini aku tenang.. tapi awas saja kalau ketemu dengan adik tiri mu ku beri dia pelajaran!"
"Terus..kamu tahu Clara yang nyebarin gosip gak bener tentang aku dari mana?"
"Kamu tahu kan kakak ku seorang detektif handal jadinya aku minta tolong dia menyelidiki gosip ini ternyata dalang ya adik tiri mu!" geramnya.
"Oh jadi begitu.. " ujarku hanya ber-oh ria saja karena aku tidak mau membuat Erika tersulut emosi lagi.
"Udah lah lupakan dia.Jadi gimana nih liburan di Paris?Apakah sangat menyenangkan?" ujarnya antusias.
"Sangat menyenangkan Erika!Aku di bawa jalan-jalan oleh William, di ajak ke pesta dansa,pergi ke alun-alun kota..Pokoknya bagus banget deh, apalagi di ajak sama William ke pantai malam-malam...." ujarku bersemangat menjelaskan.
"Hmm.. sepertinya dari ceritamu kamu bersama dia terus bell?" tanya ya memancing diriku.
"Iya setiap hari aku selalu bersama ya Ka'.Aku dibuat terkejut olehnya dan aku sampai hafal dengan kebiasaan dan perilaku ya setiap hari hahaha"
"Wahh.. sepertinya ada yang mulai menabur benih nih.. " ujarnya
"Benih? kayak ya kami gak ada pergi ke perkebunan sih Ka'.. " ujarku mengingat apakah aku ada pergi ke perkebunan di Paris.
"Aduh Bell!Bukan itu maksudku.. " ujarnya sambil menepuk keningnya pelan.
"Lah.. terus apa dong?" tanyaku heran.
"Gini loh bell,aku tanya bagaimana liburanmu di Paris, kamu malah jawab segalanya tentang kebersamaan mu dengan William, apa kamu tidak hmm.. itu.." ujarnya mengkode dengan mata berkedip.
"Itu apa Erika?" ujarku masih bingung sambil garuk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
"Haduh! Bell.. bell.. apa kamu gak menaruh perasaan dengan William selama liburan kalian bersama?" tanya ya to the poin.
Tiba-tiba saja mukaku mulai memerah dan aku merasakan seperti hawa panas yang menerpa wajahku,entah apa.
"Aduh, kok tiba-tiba panas ya?" ujarku mengipas-ngipasi wajahku dengan tanganku.
"Hahaha ternyata kamu jatuh cinta dengannya.. " ungkap Erika menggodaku.
"Eh.. ehmm.. Gak sih tapi kadang aku tersipu malu kalau dia bilang begini "kamu itu istriku Bella!" aku jadi mikir hal yang tidak-tidak tentang perkataan ya." ungkap ku.
"Waktu dia bilang begitu gimana perasaanmu?"
"Perasaanku..tiba-tiba jantung ku berdegup kencang entah kenapa? aku sempat berpikir kalau aku kena serangan jantung loh!" ungkap ku antusias.
"Hahaha bella.. bella.. itu tanda ya kamu jatuh cinta dengannya bukan penyakit jantung loh.. " ucapnya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan ku.
"Tapi aku gak berhak Erika jatuh cinta dengannya!Dia kan hanya memanfaatkan ku... " ujarku lirih.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Bell." ucapnya menatapku.
"Benarkah?" ucapku tidak terlalu percaya.
"Iya.Masih panjang kisahmu dengan William.Aku yakin kamu akan mendapatkan ending yang kamu inginkan bell." ujarnya menyakinkan diriku.
Setelah lama berbincang-bincang dengan Erika, aku pun memutuskan untuk mengantarkan Erika pulang ke rumahnya.Dia pun selalu menyemangati ku dan menyakinkan kepadaku kalau jalan yang ku tempuh masih panjang dan penuh lika-liku.
Drtttt Drrtttt
Handphone ku bergetar di dashboard mobil, ku liat di layar handphone tertera nomor pribadi.
'Siapa ya?angkat gak ya?' pikirku sesaat, aku pun memutuskan untuk mengangkat telpon tersebut.
"Hallo, selamat siang nak.Ini ibu ya William nak." ujarnya di sebrang sana.
'I-ibu me-mertua? bagaimana ini.. ' pikirku panik.
"Ha-hallo juga nyonya.. " jawabku gelagapan.
"Haha.. jangan panggil nyonya nak.. kan aku ibumu juga, panggil saja ibu.Nanti malam datanglah bersama William untuk makan malam di rumah ya nak.Ibu kangen loh sama kalian berdua." ujarnya sangat ramah yang membuatku teringat akan mendiang ibuku.
"Iya bu, saya usahakan akan datang ke rumah."
"Wah, ibu sangat senang nak.Baiklah ibu kirimkan hadiah buatmu nak, selamat ulang tahun sayang."
'Ternyata ibu mertua mengingat ulang tahun ku.. sedangkan ayah kandungku sendiri saja tidak pernah mengingat ya!Ia hanya ingat ulang tahun Clara dan hari pernikahan ya dengan ibu tiriku.' pikirku terharu bercampur emosi.
"Terimakasih bu."
"Sama-sama nak.Ibu tunggu ya nak."
Ibu William pun langsung memutus telpon setelah berbicara seperti itu.Aku terdiam sejenak seraya masih mengingat percakapan ku dengan ibu mertuaku seperti berbicara dengan ibuku sendiri.Aku terharu dan sedih karena mengingatkan ku oleh mendiang ibuku.Tidak terasa setetes air mengalir membasahi pipiku.
Di saat aku sendirian di dalam mobil, di saat itu pula aku meluapkan semua perasaan ku saat itu, entah perasaan apa yang membuatku sangat emosianal seperti ini.