"Di balik senyumku ada hati yang terasa sakit karena aku tahu apa yang ku nantikan takkan pernah ku gapai sebab semua itu hanyalah mimpi yang tak berarti." (Bella,You're (Not) My Sugar Daddy)
'Entah kenapa perasaan ini begitu kalut karena William atau karena apa,Entahlah.. ' pikirku
"Baiklah Will aku siap mendengarkan semua keluhan mu." ungkap ku berusaha terlihat baik-baik saja.
"Ucapan mu seperti seorang Dokter psikolog saja Bell." ujarnya mengejekku.
"Wahh.. seperti ya bisa aku pertimbangkan setelah lulus nanti akan mendaftar menjadi Dokter psikolog." ujarku serius.
"Haha kamu ini Bell.Tenang saja aku akan selalu mendukung keputusan mu."
"Haha.. yasudah cepetan mau ngomong apa nih.."
"Aku akan menjelaskan semua ya dari awal, maaf saja kalau panjang penjelasan ya."
"Iya, tenang saja.Aku sudah biasa mendengar penjelasan Dosen ku yang panjang kayak kereta api." ucapku tertawa renyah, ia pun ikut tertawa juga mendengar ucapanku.
"Huh.. Oke, pertama-tama aku jelasin dulu hubungan ku dengan Lily seperti apa?"
"Oke.. "
"Sebenarnya Lily adalah cinta pertama ku,mungkin karena kami berdua sejak kecil selalu bersama jadi ya aku mulai menaruh hati kepada ya.Saat kami bertiga beranjak dewasa, kami mulai sibuk dengan karir masing-masing.Aku menjalankan perusahaan yang di kelola ayahku,Suho terjun ke dunia perlukisan,sedangkan Lily terjun ke dunia fashion menjadi model ternama.Mungkin semenjak itu aku mulai terpesona dengannya dan mencoba untuk melamar ya ternyata yang kuharapkan tidak sesuai seperti yang aku inginkan,ia menolak ku alasannya karena ia jatuh cinta dengan Suho.Semenjak itu aku mulai menjauhi Suho dan Lily tanpa alasan yang jelas apakah mereka menjalin sebuah hubungan atau tidak... " ujarnya terdiam sesaat.
"Terus??" ujarku semakin penasaran.
"Ternyata aku baru tahu belakangan ini dari Suho bahwa dia tidak sama sekali menjalin hubungan dengan Lily sejak dulu.Ternyata Suho menolak ya juga dengan alasan demi mengejar impiannya.Lily pun mulai berubah dan terus mencariku dan menanyakan kabarku bagaimana.Waktu ia mendengar pernikahan kita,dia mendatangi Suho untuk meluapkan amarah ya kemudian entah darimana ia mendapat kabar bahwa aku berada di Paris sehingga ia mendatangi kita kesini."
"Jadi maksud mu dia ingin mendekati mu lagi?" ucapku berpikir.
"Benar sekali...Ternyata ia ingin mendekati ku lagi agar aku mau menerima ya kembali.Dia pun mulai merencanakan segala sesuatu.Dia sengaja memancing amarahmu dengan bersikap seperti itu kepada mu agar kamu hancur dan tersakiti.Ia ingin aku menyukai ya lagi dan meninggal kan mu tapi maaf saja aku tidak ingin wanita seperti dia!" ungkap ya menahan amarah.
"Hmm, lanjutkan... " ujarku.
"Suho sudah memperingati ku beberapa kali tentang rencana ya, tapi aku yakin kamu tidak terjebak oleh rencana licik ya."
"Aku sudah terbiasa menghadapi jenis wanita seperti itu, karena... " ucapku terhenti karena mengingat kelakuan ibu dan adik tiriku selama ini terhadapku.
"Karena kamu sudah terbiasa di perlakukan seperti itu oleh mereka!" ucap William menatap ku.
"Iya."
"Maka ya kamu seharian ini memperlakukan ya biasa saja dan seolah-olah juga tidak peduli kalau suami mu akan di rebut olehnya!" ujarnya menahan amarah sambil menatapku.
"Aku seperti itu karena itu lah bentuk pertahanan ku Will."
"Dengan cara kamu tidak peduli denganku setelah kamu melihatnya melakukan hal itu di menara tepat di hadapan mu!" ucapnya gusar sambil mengacak-acak rambutnya yang rapi menjadi berantakan.
"APAKAH AKU PUNYA HAK WILL!" ujarku setengah berteriak di depan ya yang membuatnya Shock mendengar ucapanku.
"Bella!kamu punya hak atas diriku karena kamu istriku!" ucapnya memegang kedua pundakku.
Aku yang mendengar ucapan William seketika terdiam menatapnya.
'Aku takut Will.. takut untuk berharap lebih, takut untuk menggapai mu.Apalagi aku tahu jelas jawaban dari semuanya.' pikirku dalam diam.
"Kamu dengar ucapanku tadi Bell?" ucapnya mengagetkan ku dari lamunan.
"I-iya Will." jawabku serba salah karena bingung untuk merespon perkataan ya kepadaku.
Ia pun mulai diam dan mencoba untuk menenangkan dirinya untuk beberapa saat.
"Baiklah karena ini malam terakhir kita di Paris, bagaimana kita melanjutkan jalan-jalan malam kita yang sempat tertunda." ajak ya seraya memegang tanganku.
William mengajakku pergi ke sungai Siene, disana Ia menyewa sebuah kapal khusus untuk kami berdua.kami pun duduk di kapal menikmati pemandangan Gemerlap Kota Paris yang begitu mempesona terlebih lagi di bawah rembulan malam.
"Bagaimana kamu suka?" tanya William menatap ku yang terpukau oleh pemandangan di sekitar sungai.
"Sangat bagus dan indah.Ah.. tidak terasa liburan kita di Paris tinggal hari ini saja.. " ujarku tersenyum kecut.
"Tenanglah, aku kan banyak uang.Kamu mau keliling negara pun bisa loh!" ujarnya tersenyum menatap ku.
"Hmm.. mulai deh pamer ya kumat." ujarku mengejek ya.
"Hei.. aku gak pamer loh!Memang kenyataan harta ku itu berlimpah dan asal kamu tahu ada sebuah hadiah juga yang menunggu mu di rumah.. " ujarnya mengedipkan sebelah matanya kepadaku.
"Hadiah apa?"
'Jangan bilang ia memberiku hadiah mahal lagi!Aduhh bisa-bisa uangku habis untuk membayar semua hadiah pemberian ya setelah bercerai nanti.' pikirku begitu khawatir.
"Pastinya kamu akan terkejut nanti."
"Gak usah, aku gak butuh hadiah apa-apa loh Will!" ujarku sedikit khawatir karena membayangkan masa depanku yang suram.
"Terserah aku dong kan uangku juga."
"Ta-tapi nanti aku bayar ya gimana?"
"Bayar apaan Bell?"
"Bayar semua hadiah mu.. " ucapku lirih.
"Kan aku udah bilang aku bukan tukang kredit, Bell. Memang ya tampangku ini seperti tukang kredit apa?" ujarnya menatapku seraya bergeleng-geleng .
"Tapi kan.. "
"Udah, gak usah khawatir!Semua milikmu dan itu hak mu Bell.Aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun darimu.Oke?" ujarnya mengancamku.
"I-iya deh." ujarku pasrah sambil cemberut.Ia pun seketika tertawa melihatku.
Akhirnya sepanjang perjalanan sungai Siene, kami berbincang-bincang dan tertawa bersama seolah-olah kami terbawa suasana malam di tepian sungai yang di hiasi langit malam yang penuh bintang,terpancar di bawah rembulan yang bersinar terang.Setelah puas menyusuri tepian sungai,kami pun melanjutkan lagi pergi ke Place De La Concorde yang terletak di alun-alun kota Paris.Disana terdapat ornamen taman, air mancur, hingga lampu-lampu taman yang indah pada malam hari dan tidak jauh dari alun-alun terdapat kincir raksasa sehingga kita bisa menikmati pemadangan kota dari ketinggian dengan pengalaman berbeda.
Kami pun memutuskan untuk menaiki Kincir Raksasa.Aku sangat bersemangat sekali menaiki Kincir ini karena mengingat kan ku sewaktu kecil dahulu pernah menaiki Kincir saat diadakan pesta rakyat.
Saat pertama naik kami merasa baik-baik saja.Mulailah Kincir berputar perlahan membuat kami berada di posisi semakin tinggi, tiba-tiba aku menatap William yang duduk berseberangan denganku dalam diam dan menunduk.
"Will.. kamu gak apa-apa?" tanyaku khawatir takut dia tiba-tiba kesurupan dan aku bingung gimana cara menangani ya.
Ia pun perlahan menatapku dan aku terkejut melihat ya yang pucat pasi.
"Ka-kamu kerasukkan ya!" ujarku waspada.
"A-Aku ti.. tidak.. kerasukan Bell.Aku takut....!! " ujarnya berteriak di akhir perkataan ya.
Sontak saja aku tertawa mendengar ucapanya.
"Haha, ternyata seorang William bisa takut juga!" ujarku mengejek ya.
"Bell, bisa kah kamu duduk di sebelah ku! Aku tidak bisa bergerak sama sekali." ungkapnya memohon kepadaku.Aku pun segera duduk di sebelahnya dan memegang tangan ya agar dia tenang.
"Udah.. cup.. cup.. " ujarku masih mengejeknya.
"Memang ya aku bayi." jawab ya kesal.
"Haha yaudah jangan marah lagi dong."
"Hmm" ujar ya masih menunduk tidak mau melihat kemana-mana.
"Coba tatap aku Will." ujarku mencoba menyakinkan ya bahwa kami baik-baik saja di Kincir.
Perlahan-lahan ia mulai menatapku yang tersenyum.
"Coba kamu lihat pemandangan di sebelah mu." ujarku menunjuk ke arah luar.
Ia tetap geleng-geleng tidak mau menengok ke arah yang ku tunjuk.
"Kamu percaya aku kan?" ujarku menyakinkan ya lagi.
Ia pun menganggukkan kepala ya tanda mengiyakan.Perlahan-lahan ia menoleh ke arah samping dan terkejut melihat pemandangan yang begitu indah dari atas kincir.
Aku pun tersenyum melihatnya karena baru kali ini melihat ekspresi wajah ya yang seperti itu.
"Bagaimana Will menurut mu?" tanyaku kepada ya.
"Jujur baru pertama kali aku menaiki Kincir ini dan aku sangat sangat terpukau melihat pemandangan kota Paris dari atas seolah-olah terlihat semua dari sini." jawab ya antusias.
"Benarkan!Maka ya percaya denganku pasti kamu gak akan menyesal!" ujarku berbangga diri.
"Aku selalu percaya kepadamu Bell." ujarnya yang masih menghadap ke arah luar.Aku yang mendengar perkataan ya menjadi tersipu malu.
'Duh.. jangan ngomong gitu dong Will, aku jadi semakin berharap.' pikirku kacau.
" Lihat di bawah sana Bell.. mereka sangat kecil sekali ya kalau di lihat dari sini." ujarnya seraya menunjuk ke bawah.
"Iya.. " ucapku tertawa melihat tingkah ya yang hampir mirip anak kecil.
"Bell.. nanti kalau udah turun kita ke menara Eiffel lagi, kamu mau?" ujarnya menatapku.
"Iya tentu saja aku mau.Aku belum berfoto disana, nanti fotoin aku ya sebagai kenang-kenangan kalau aku pernah kesini." ujarku antusias.
"Bell kan aku udah bilang..aku bisa bawa kamu kemana saja yang kamu inginkan.Jangan bilang lagi kalau ini menjadi moment terakhir kamu pergi ke kota ini! Aku bisa 100 kali membawamu kesini!" ungkapnya dengan bangga.
"Haha iya iya." jawabku mengiyakan saja. 'Maaf Will tapi aku tidak ingin terlalu mengharapkan semua kata-kata mu kepada ku.' pikirku dalam diam.
Setelah selesai menaiki Kincir,kami pun pergi lagi ke menara Eiffel.Sesampainya disana aku begitu antusias mengeluarkan handphone ku dan berselfi ria sendiri dan terkadang William menyempil ikutan selfi bersamaku.
Ia pun juga beri inisiatif memfoto ku pakai Handphone ya yang merek Ip***.Aku sangat suka melihat hasil foto ya yang sangat mirip Photograper handal.
Setelah puas berfoto ria kami memutuskan untuk duduk beristirahat.
William pun datang membawa sekaleng minuman soda yang dia beli di minimarket terdekat.
"Huuhh.. akhirnya liburan ku tidak sia-sia." ucapku lega menghela nafas.
"Memang ya siapa yang berani buat sia-sia liburan mu Bell?" tanya William bingung.
"Haha.. cuman kata-kata kiasan saja Will.Tidak usah di pikirkan." ujarku pura-pura tersenyum.
'Gawat hampir saja keceplosan kalau aku bilang yang membuat liburanku kacau adalah Lily.' pikirku panik.
"Oh iya Bell,Besok penerbangan kita jam 10 pagi.Bagaimana kalau kita sarapan di restauran.Aku sudah memesan tempat privasi untuk kita sarapan besok." ungkapnya kepadaku.
"Tidak masalah, aku ikut-ikut saja Will."
"Oke baiklah, apa ada souvenir yang ingin kamu beli sebagai oleh-oleh dari Paris?"
"Hmm.. tidak ada.Aku sudah membeli satu barang untuk seseorang." ujarku.
"Seseorang?Siapa? perempuan atau laki-laki?" ujarnya menginterogasi ku.
"Perempuan Will, dia sahabatku bernama Erika.Ia adalah sahabat satu-satu ya yang masih menemani ku dari susah sampai sekarang.Suka duka kami bersama Will." ujarku mengingat setiap momen bersama Erika.
"Erika sangat beruntung bersahabat denganmu Bell."
"Tidak, aku lah yang beruntung bersahabat dengan ya."
"Aku berharap persahabatan kalian tetap terjalin Bell."
"Aku juga berharap dirimu dengan Suho berbaikan lagi, Will." ujarku menyindir ya.
"Kalau itu.. akan ku pikirkan lagi!" ucapnya terlihat gundah.
"Baiklah Will karena malam semakin larut dan aku udah puas kamu bawa mengelilingi kota Paris, bagaimana kalau kita pulang karena aku mulai lelah dan sedikit mengantuk?"
"Baiklah, ayo kita pulang Bell." ajak ya seraya tersenyum dan memegang tanganku.