Perasaan Bimbang

1818 Words
Pagi yang sangat cerah ini aku sudah duduk di taman belakang villa.Aku menikmati sinar matahari dan angin sepoi-sepoi yang berhembus,membuat suasana pagi ini begitu sejuk.Aku pun meminum teh hijau hangat yang dibuat kan oleh Clara pelayan di villa ini. "Wah ternyata ada seseorang di villa ini selain will." ujar suara seorang perempuan yang membuatku reflek menoleh kepadanya dan ternyata ia adalah Lily. Ia pun menghampiri ku sambil tersenyum dan langsung duduk di kursi yang berseberangan denganku. "Selamat pagi.. Kenalkan aku Lily, maaf di acara kemarin malam aku belum sempat memperkenalkan diriku kepadamu." ujarnya terlihat akrab. "Tidak apa-apa.Perkenalkan namaku Bella, panggil saja Bell." jawabku tersenyum kepadanya. "Aku terkejut mendengar kabar pernikahan Will. Selamat ya, aku harap kamu bahagia Bell." "Terimakasih atas ucapannya." "Apakah kamu mengetahui aku siapa ya Will?" tanya ya spontan kepadaku. Aku mulai merasa sedikit aneh dengan pernyataan ya. "Iya aku sudah tahu dari suho, kamu sahabat dekat ya Will.Kalian bertiga bersahabat sejak kecil." "Hanya itu saja yang kamu ketahui dari Suho?" "Iya." jawabku datar. 'Sepertinya aku mulai sadar arah pembicaraan ini.' pikirku dalam diam. "Maaf ya Bell aku harus jujur kepadamu,sebenarnya aku cinta pertama William." Ucapnya menatapku. 'Sudah ku duga pasti mengarah kesini.' "Tidak masalah, aku sudah tahu dari suho juga." "Kamu hebat Bell tidak berpikir negatif tentang suamimu." ujarnya seraya tersenyum kecut. 'Entah dia mengharapkan jawaban seperti apa dari ku?Dasar aneh.' pikirku menatapnya. "Hmm kalau begitu aku ingin menemui Will di dalam." ujarnya beranjak ingin pergi berlalu dariku. "Tunggu!" ujarku berdiri dan membuatnya berhenti berjalan lalu menoleh menatapku.Aku pun menghampiri ya dan berbisik di telinganya. "Tidak baik seorang gadis menemui lelaki yang sudah beristri sendirian di dalam villa." ujarku pelan dan tersenyum kepadanya yang membuatnya terkejut tidak percaya dengan ucapanku. "Ayo ku temani dirimu kedalam menemui sahabatmu Will." ajakku sambil berlalu duluan di depan ya yang masih dalam keadaan shock. "Loh Bell baru aku ingin... " ucap William terpotong karena melihat Lily berada di belakangku. "Tadi Lily menyapaku di taman dan ia mengatakan ingin bertemu denganmu, maka ya ku ajak dia masuk kedalam." ujarku menjelaskan dengan datar. "Hei Will, maaf tidak kasih kabar dulu kalau aku mau kesini." ucap ya menatap William penuh arti. "Oh.Sayang kamu sudah sarapan?" ujar William bertanya kepadaku tapi yang menjawab malah Lily. "Aku belum sarapan waktu pergi kesini Will." ucap ya seperti tersipu. "Maaf! Aku bertanya kepada istriku bukan dirimu!" sanggah William yang membuatku tercengang dan melirik Lily yang tiba-tiba kesal. "Aku sudah sarapan roti tadi di taman Will." "Ayolah sayang kita sarapan dulu." ujarnya langsung merangkulku untuk mengajak ku pergi ke ruang makan.Lily pun di tinggal sendirian di sana dan langsung saja ia mengikuti kami. Ia pun langsung duduk bersebelahan dengan William sedangkan aku duduk berseberangan dengan mereka. "Ini adalah tempat duduk istriku.Bisa kah kamu menyingkir!" "Will, kita sudah lama tidak bertemu.Kamu gak ingat dulu kita sering makan bersama dan dulu kamu dengan manja ya meminta ku untuk menyuapi dirimu makan." ucapnya merengek di depanku dan itu membuatku merasa sangat mual melihat tingkah ya. Aku pun tidak peduli dengan perbincangan mereka dan tetap melanjutkan makanku dengan lahap.William pun tersenyum melihat sikap ku yang tidak peduli terhadap tingkah ya Lily. Lily melihat William yang tersenyum dan melirik ku dengan sangat tajam.Ia pun berdiri dan meminta izin untuk menelpon seseorang. "Apa kamu tidak risih dengan keberadaan Lily disini?" "Untuk apa aku risih dengannya?Aku tidak peduli, tidak ada untung ya juga di aku!" ujarku meminum jus buah ku dengan santai. "Haha ini lah yang membuat ku.. " "Membuat apa?" "Rahasia dong." ujarnya tertawa melihatku yang langsung cemberut olehnya. Setelah beberapa jam Lily pun datang bersama dengan Suho. "Seenak ya banget kalian datang kesini!" ujar William terlihat kesal. "Tenanglah Will, apa salah ya coba kita berkumpul lagian kan kita bersahabat atau karena Bella kamu jadi begini." ucap Lily melirik ku sinis. Aku menatap dan tidak peduli.aku tetap melanjutkan menikmati cemilan kentang ku yang barusan di antar oleh Clara. "Iya karena Bella adalah istriku!" "Sudah lah lily ayo kita pulang jangan mengganggu mereka berdua." ujar Suho sedikit menarik Lily. "Udah tenang aja Suho.Ayo, kita pergi ke ruang tamu sambil kalian bernostalgia." ujarku berdiri sambil membawa cemilan kentang ku berlalu meninggalkan mereka yang tercengang dengan sikap ku yang biasa saja. Akhirnya kami pun sudah berkumpul di ruang keluarga. "Bagaimana kabarmu Bell?" ucap Suho memulai pembicaraan. "Sangat baik sekali." jawabku santai, sesekali William melirik ku. "Oh iya Bell, apa kamu pernah punya mantan pacar?" tanya Lily menatapku. "Punya." "Berarti mantan terindah dong." ujarnya mengejekku. "Yah.. kalau tidak indah buat apa jadi mantan kan?" ungkap ku polos dan sontak saja William dan Suho tertawa mendengarnya.Lily pun terlihat shock mendengar jawabanku. "Haha aku tidak pernah terpikir seperti itu terhadap mantan ku." Ucap William. "Jadi kamu menganggap ya seperti apa mereka?" tanya kun penasaran yang membuat Lily ikut penasaran juga. "Aku menganggap mereka sampah kalau sudah tidak berguna atau membuatku tidak suka tinggal ku buang!" ujarnya menatap Lily dan Suho. Lily pun menunduk seperti serba salah. 'Hmm..seperti itu lah diriku nanti,apabila tidak berguna lagi kamu akan membuangku will!Entah kenapa aku tidak suka dengan ucapan mu!' pikirku dalam diam dan merasa harus memberontak. "Hei jangan seperti itu, biarpun begitu kamu pernah suka dengannya." ucapku spontan yang membuat William terkejut mendengar ya dan membuat Lily serta Suho menatapku dengan lekat. "Hmm." jawab William datar seakan-akan tidak setuju dengan perkataan ku. "Kamu benar Bell,biarpun begitu mereka pernah hadir di hidup kita.Aku sangat menghargai pendapatmu." ujar Suho membelaku. "Aku tidak setuju!" ujar William dengan tegas. Aku melihat Lily tidak pernah lepas memandang William, entah kenapa perasaanku mulai jengah melihatnya.Suho pun menyadari tatapanku ke arah Lily. "Ehmm.. Bell nanti malam mau pergi ke menara Eiffel?" "Tentu saja aku mau." jawabku seketika. "Tidak Bella pergi denganku." ujar William. "Oke, nanti malam kita ketemu di menara Eiffel saja.Bagaimana?" "Itu ide yang bagus." ujar Lily seraya tersenyum. 'Entah apa lagi rencananya.' pikirku menatap Lily. "Baiklah kalau begitu aku dengan Lily pergi.Kami janjian hari ini mau jalan-jalan dulu." "Kapan aku mengatakan hal itu?" "Ada.Ayo" ujar Suho menarik lengan Lily untuk pulang dari villa kami. Aku hanya diam saja melihat mereka pergi dan William diam menatapku.Aku yang di tatap pun mulai risih karena ya. "Ada apa?" tanyaku badmood "Hari ini kamu sedikit berbeda Bell." ujarnya seraya bersandar di sofa. "Berbeda?maksud ya?" "Hari ini kamu seperti tidak memperdulikan ku.Ada apa Bell?" "Entahlah, aku gak merasa seperti itu sih." ucapku menatapnya. "Bell, kasih tahu aku apa salahku?" "Kamu?" "Iya, siapa lagi memang ya?" "Memangnya kamu ngerasa ada salah kah sama aku?" "Ehmm sepertinya begitu... " ucapnya menunduk dan kemudian menatapku lagi. "Sebentar biar aku pikirkan dulu." ujarku seraya berpikir. "Huh.. kamu ini Bell.. " ujar William terlihat gusar. "Hahaha kamu lucu sekali sih.. maka ya jangan tanya aneh-aneh." ujarku tertawa melihatnya yang gusar dan ia pun ikut tertawa juga sambil menatapku. 'Akankah aku bisa seperti ini bersamamu lagi dalam setiap helaan nafasku hingga akhir.' ******* ******* ****** ******* *Malam hari* Aku dan William pun akhirnya sampai di menara Eiffel. Aku yang memakai Dress Hitam selutut dan membiarkan rambutku tergerai sedangkan William menggunakan jas berwarna navy dengan tatanan yang selalu rapi. William pun mengajakku duduk di sebuah cafetaria yang tidak jauh berada dari menara Eiffel sembari menunggu kedatangan Suho dan Lily. "Maaf ya membuat kalian menunggu." ujar Suho menghampiri kami dan terlihat di belakang ya ada Lily yang mengikuti.Aku sedikit terkejut melihat Dress merah yang ia kenakan terlampau sangat sexy dengan model bagian belahan d**a yang terlihat. Ia langsung duduk di sebelah William sembari melirik ku yang hanya diam saja.Suho pun akhirnya duduk di sebelah ku, tiba-tiba William memegang tanganku.Aku menoleh kepadanya dan ia menoleh kepadaku sambil tersenyum. "Apa kalian sudah pesan makanan?" tanya Suho. "Belum, kami menunggu kalian datang." ujarku. "Baiklah biar aku yang traktir kalian untuk kali ini saja!" ujar William. "Tidak usah, biar aku saja Will.Sesekali aku ingin mentraktir kalian." ujarku tersenyum dan segera memanggil Waiter untuk memesan menu makanan. "Memangnya kamu punya uang Bell? Bukan ya bisnis ayah mu mulai berkembang karena hampir bangkrut kemarin." ucap Lily yang membuat ku tiba-tiba merasa tidak suka dengan arah pembicaraan ini. "Memangnya seorang istri pengusaha properti terkenal seperti ku tidak punya... " ucap William terpotong karena aku memegang tangannya kuat. "Tenang saja.Aku punya Black card, saldo ya pun masih banyak jadi kamu tidak perlu khawatir kalau aku tidak bisa mentraktir kalian semua disini." ucapku lantang kepada Lily. Aku melihat Suho dan William menahan tawa karena perkataan ku menyindir Lily secara langsung sedangkan Lily semakin dongkol denganku. 'Memangnya aku sedang melawak ya?Bisa-bisa ya mereka tertawa begitu.' pikirku melihat mereka berdua. Akhirnya makanan kami tersaji di meja makan. "Will kamu jangan makan udang..kan kamu alergi.Sini tukaran saja sama aku.Kamu ini istrinya kok gak tahu William alergi udang." ujar ya mencemooh ku. "Cukup Lily!" ucap William yang tiba-tiba ingin meledakkan amarah ya, aku pun segera memegang pundak ya dan memberi isyarat dari mataku untuk bersabar, Ia pun menghela nafas panjang kemudian langsung mengambil makananku dan menyuapi ku. Lily pun semakin kesal melihat William yang sangat perhatian kepadaku.Suho pun mulai menatap Lily dengan sangat tajam. "Sudah.. ayo di makan nanti keburu dingin makanan ya." ujarku seraya menyuapi William juga karena kami berbagi makanan. Akhirnya kami makan dalam diam,setelah makan kami memutuskan untuk duduk di bangku dekat Menara Eiffel. "Ini coffee hangat buat kalian." ucap Suho memberikan masing-masing cup minuman coffee kepada kami. "Terimakasih Suho." ujarku. "Sama-sama Bell." jawabnya tersenyum seketika William menatap tajam Suho dan Suho pun menatap tajam kembali William. Lily pun langsung menarik tangan William untuk menyuruh ya berfoto dengannya di dekat menara Eiffel. "Apa kamu tidak cemburu melihat Lily sudah bersikap di luar batas seperti itu." "Walaupun aku cemburu tetap saja aku tidak berhak Suho." ucapku merenung "Maksud mu Bell?" tanya Suho Tiba-tiba aku melihat pemandangan yang membuat ku terkejut Lily mencium William di dekat menara Eiffel di depan mataku dan langsung saja Suho menutup mataku dengan lembut. "Kenapa kamu menutup mataku?" "Aku tidak ingin melihatmu tersakiti." Tiba-tiba ada yang langsung menarik tangan Suho dari mataku dan aku mendapati William berdiri di depan ku. "Ayo kita pergi dari sini." ajak ya seraya memegang tanganku kuat. Sekilas ku melihat Lily menangis tersedu-sedu, Entah apa yang terjadi saat Suho menutup mataku tadi.Dari kejauhan Suho tersenyum dan melambaikan tangan ya, Seolah-olah mengatakan sampai jumpa lagi. Aku masih terdiam mengikuti William yang entah ingin membawaku kemana. "Will.. kita mau kemana sih?" "Mau pulang!" "Will berhenti!" Akhirnya William pun menghentikan jalannya. William menoleh kepadaku dengan raut wajah kecewa dan langsung memeluk ku begitu erat.Entah apa yang terjadi diantara dia dan Lily. "Wi-will... kamu kenapa?" "Aku hanya ingin memelukmu." "Tapi badanku mulai sakit karena pelukkan mu, bisa-bisa semua tulang ku remuk loh.. " ujarku mengomel. "Hahaha kamu ini Bell. Terimakasih berkatmu aku merasa lebih baik sekarang." ujarnya melepaskan pelukkan ya seraya mengelus rambut ku. "Bagaimana masih mau pulang?" "Tidak, ada yang ingin ku katakan dengan jujur kepadamu Bell." "Hmm.. kalau begitu kita cari tempat duduk dulu." ujarku mengajaknya untuk duduk bersama. 'Sebenarnya apa yang ingin di ungkapkan oleh William.' pikirku bimbang, antara penasaran dan takut ingin mendengar ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD