Sahabat William

1834 Words
Pagi ya kami pun memutuskan segera pulang dari pantai.Sepanjang jalan kami hanya diam dan aku sibuk dengan pikiranku sendiri sambil menatap pemandangan sepanjang jalan melalui jendela mobil yang sengaja ku buka.Angin pun menerpa wajah ku dengan lembut sehingga rambutku yang terurai terhempas perlahan-lahan. "Bell.. sepanjang perjalanan kamu hanya diam saja.Kenapa Bell?" "Ah.. eh Gak apa-apa kok Will." ujarku terpaksa tersenyum dan seketika raut wajahku berubah datar kembali. "Kita cari makan dulu yuk." "Hmm" ujarku menyaut dengan berdehem tanda aku setuju. Sekilas ku melihat William curi-curi pandang menatapku sambil berfokus menyetir.Entah kenapa hari ini tiba-tiba aku jadi Badmood karena tanpa sengaja aku melihat sebuah pesan masuk di handphone William bertuliskan "My sweety,bagaimana nanti malam kita makan bersama melepas rindu karena lama tidak berjumpa" jelas pesan tersebut yang membuatku jadi kepikiran hingga berujung menjadi badmood seperti ini. 'My sweety!sedangkan aku saja tidak pernah memanggilnya seperti itu.Hah.. sudahlah ngapain juga aku mikirin itu gak ada hubungannya juga denganku!' pikirku diam menghibur diriku. "Ayo Bell turun kita sudah sampai di restauran Chez Gladines." ujarnya mengajakku turun dan aku pun mengikutinya. Aku sangat kagum dengan restauran disini,waiter ya pun sangat ramah-ramah.Segeralah William memesan 2 porsi salad dan minuman coffee yang terbaik disini. Tidak lama pesanan kami datang,kami pun langsung makan dengan lahap, setelahnya minum coffee dengan santai. "Bagaimana Bell, kamu suka?" "Menurutku lumayan Will.Coffee ya pun enak,sudah lama aku tidak minum coffee." ujarku seraya menyesap secara perlahan coffee ya karena masih panas menurutku. "Kamu pencinta coffee Bell?" "Iya baru aja sih.Dulu aku gak pernah suka coffee tapi saat ibu sakit dan aku harus merawatnya di rumah sakit mau tidak mau aku harus bergadang menjaganya di rumah sakit" ujarku perlahan murung teringat sesosok ibuku. "Ehmm, maaf kan aku Bell membuatmu sedih lagi." ucapnya merasa bersalah. "Tidak masalah, aku sudah terbiasa sekarang." ujarku berusaha baik-baik saja. "Tenang saja Bell,aku akan selalu membuatmu bahagia." ujarnya berkata dengan sigap sambil menatapku dan sontak saja aku tertawa kecil melihat ya bertingkah seperti itu di depanku. "Oh iya Will,habis ini kita kemana lagi?" "Kamu mau kemana? Aku selalu siap menemani mu jalan-jalan." "Will, kamu kan tahu aku tidak pernah kesini." ungkap ku sambil menepuk kening ku pelan karena ya. "Oh iya ya, aku lupa Bell haha.Bagaimana kalau kita ke Porte de Clignancourt? " "Tempat apa itu will?" "Pasar barang antik yang berlokasi tidak jauh dari Montmartre, pokok ya disana ada berbagai macam barang-barang antik mulai lukisan, patung dan properti lain ya." "Kamu mengajakku kesana apa karena sesuai dengan selera mu yang pengusaha properti?" ujarku sedikit menggoda ya. "Ehmm.. ehmm.. wah sepertinya tidak terasa sudah jam segini.Ayo kita pergi kesana." ujarnya langsung gelapan dan mengalihkan pembicaraan.Aku pun menahan tawa karena perilakunya yang unik ini. Setelah perjalanan yang agak lama sampai lah kami di kota Montmartre,kami pun langsung menuju ke tempat wisata Porte de Clignancourt. William sangat antusias melihat berbagai macam barang-barang yang antik dan tidak sadar meninggalkan ku yang berjalan jauh dari ya karena aku berjalan dengan sangat pelan sambil fokus melihat-lihat lukisan yang terpajang disana. 'Wah lukisan wanita yang sangat indah' pikirku saat ini.Saat aku sadar William sudah tidak ada di sebalahku.Aku pun mencarinya kesana kesini namun tidak ku temukan, 'Harus kah aku mencari ya yang sedang hilang?Aku seperti seorang ibu yang kehilangan anak ya!' ungkap ku sadar dengan tingkah konyol ku.Aku pun memutuskan tidak mencari ya lagi dan tetap melihat-lihat barang-barang antik disni tanpa sengaja aku menyenggol seorang pria di depan ku.Ia pun terkejut dan menoleh ke belakangnya yang mendapati diriku sedang terkejut di tatap olehnya.'Ternyata orang korea.' pikirku sesaat. "Maafkan saya nona.. " ujarnya fasih berbahasa Indonesia. "Loh kamu bisa bahasa Indonesia?" "Iya nona saya dulu sering bolak balik Indonesia karena ada sahabat saya disana." "Oh begitu.Oh iya tadi saya yang tidak sengaja menyenggol anda, maaf kan saya." ujarku menunduk. "No problem nona." ungkapnya tersenyum. "Kalau begitu saya permisi ya, saya masih ingin melihat-lihat lukisan... " ujarku ingin pamit dan tiba-tiba di hentikan olehnya. "Hmm.. tu-tunggu.Apa kamu sendirian disini?" "Tidak sih, tadi sama seseorang entah bagaimana aku terpisah olehnya." "Oh begitu, bagaimana kalau kutemani sampai kamu menemukan ya." ujarnya menawarkan dirinya untuk menemani ku. Aku pun mengangguk,seraya kami berjalan bersama-sama melihat sederatan lukisan-lukisan yang berada disini.Ia pun menjelaskan satu persatu makna dari lukisan tersebut dan baru ku ketahui dia adalah pelukis terkenal di Kota Paris ini, aku pun terkejut mendengar namanya. "Jadi benar kamu Park Suho yang terkenal dengan bakat lukisan mu?" "Iya, dan nama mu... " "Oh iya aku lupa mengatakan ya, namaku Bella panggil saja Bell." ujarku. 'Pantas saja dia begitu paham arti dari lukisan-lukisan yang berada disini' pikirku sambil memperhatikan ya yang sibuk menjelaskan kepada ku lukisan yang kami lihat bersama Kami pun berbincang sambil berjalan bersama-sama tanpa sadar ada sepasang mata yang memperhatikan kami dari jauh dan langsung menghampiri kami yang berbincang sambil tertawa akan pembicaraan yang kami bahas. "Bella!" ujar suara tersebut yang membuat kami otomatis menoleh bersamaan dan mendapati William berdiri disana dengan wajah yang tidak bisa ku jelaskan. "Will?" tanyaku terkejut oleh kedatangan ya yang secara tiba-tiba. "Bell kamu kenal dia?" tanya suho yang membuatku makin shock. "Iya dia istriku!" ujar William seraya menggenggam tanganku pelan untuk berpindah posisi ke sampingnya. "Wah Bella ternyata kamu istri sahabatku.Dia lah sahabat yang ku cerita kan tadi.. " "Ohh cerita apa saja.. aku harap jangan melewati batas mu lagi!" ujar William tiba-tiba marah.Aku yang bingung di antara suasana perang di antara mereka berdua langsung bergegas menarik William agak sedikit menjauh dari suho. "Will kamu kenapa sih?" tanyaku bingung melihat raut wajah ya yang seperti akan meledakkan sesuatu. "Tidak apa-apa.Dia cerita apa saja tentang ku?" tanya ya menatapku dengan tajam. "Tidak ada, dia hanya menceritakan keseharian ya di Indonesia bersama mu, itu saja." ungkap ku menjelaskan kepadanya. "Tidak bisa di percaya Will kamu menginterogasi istrimu sendiri." ujar suho yang tiba-tiba menghampiri kami berdua dan tersenyum sinis ke arah William. "UDAH DONG KALIAN INI! KALAU KALIAN BERDUA MASIH SAJA BERTENGKAR AKU AKAN PERGI SENDIRI!" ucapku kesal dan pergi meninggalkan mereka berdua. Mereka pun mengikuti ku di belakang dalam keadaan diam.Aku merasa diriku seperti membawa dua anak kecil yang sedang bertengkar. Aku memutuskan untuk duduk di bangku taman yang tidak jauh dari tempat wisata tersebut. Mereka pun ikut duduk di sebelahku, jadi sekarang posisiku di tengah di antara mereka berdua. "Bell kamu haus? mau minum?" tanya William yang melihatku diam. "Gak usah di tanya langsung belikan!" ucap Suho menyindir William. "Aku tidak bertanya padamu!" ujar William, akhirnya mereka bertengkar lagi dengan posisiku terhimpit oleh mereka berdua yang membuatku merasa jengah dengan situasi ini. "Sudah diam!Aku pergi sendiri jangan ikuti aku!William kita ketemu di parkiran mobil 30 menit lagi!" ujarku menjelaskan dan pergi meninggalkan mereka yang terdiam melihatku pergi. Aku pun pergi menjauh dari mereka dan memutuskan untuk pergi ke mobil duluan.Di dalam mobil aku duduk sebentar sambil minum Minuman kaleng dingin yang barusan ku beli di Toko swalayan terdekat. "Drrrtt Drrtttt" tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang bergetar yang berasal dari dashboard mobil, aku menemukan suatu benda ternyata sebuah Handphone,'Apakah ini handphone William?mungkin tertinggal oleh ya tapi ada yang menelpon ya? coba ku lihat sebentar siapa yang menelpon.' pikirku akhirnya memutuskan.Aku pun Membaca sebuah nama di layar Handphone ya Lily, nama seorang perempuan.Aku langsung meletakkan kembali handphone di atas dashboard lagi.'Apakah wanita yang semalam ku lihat di pantai ya? Apakah aku harus mengangkat ya atau tidak ya?' gumamku yang masih berdebat dengan pikiran ku sekarang ini, tiba-tiba pintu mobil terbuka dan William duduk langsung di sebelahku. "Hmm Bell, maaf ya atas perilaku ku barusan." ujarnya merasa bersalah. "Kalian itu yang kenapa?Padahal kalian bersahabat tapi seperti kucing dan tikus saja!" ujarku mengomel kepadanya. "Dulu ia sahabatku tapi karena sesuatu aku tidak lagi menganggapnya sahabat walaupun dia seenaknya masih menganggapku sahabatnya." ujarnya kesal menceritakan alasannya bertengkar dengan Suho. 'Apa Suho yang di maksud asisten Jordan yang merebut cinta pertama William?' pikirku mulai kalut. "Bell.. Bell.. Bella... " ujar William menganggetkan ku yang sedang melamun. "Eh.. eh iya kenapa Will?" "Kamu sedang memikirkan apa? kamu naksir suho!" ujarnya tiba-tiba mefitnahku. "Hei, memang ya seleraku seperti suho!" jawabku spontan yang membuat William terkejut mendengar perkataan ku. "Hmm jadi selera mu seperti aku ya???" ujarnya menggoda ku sambil menatap kepadaku. Aku pun salah tingkah di buatnya dan langsung memalingkan wajahku ke tempat lain dan pura-pura melihat jam di tanganku. "Hmm.. Will sudah sore, ayo kita pulang." ujarku mengalihkan pembicaraan. "Hahaha Aku masih menunggu jawabanmu loh Bell." ujarnya berkedip sebelah mata kepadaku. "Nanti saja!Ayo cepat kita pulang!" "Baiklah.. tapi suatu saat aku akan tagih loh jawabanmu." ujarnya tersenyum seraya langsung menyetir mobil menuju ke arah pulang,aku hanya terdiam di buat ya. ******* ******* ******* ****** Aku yang sedang duduk di villa balkon kamar menikmati gemerlap Kota Paris sambil sesekali menatap menara Eiffel yang di hiasi lampu-lampu yang cantik dan terang. "TOKK TOKK TOKK" suara pintu kamarku di ketok dari luar. "Iya.. Siapa?" ujarku setengah berteriak. "Aku Bell, bisa kah aku masuk?" ujarnya setengah berteriak dari luar pintu. "Masuklah, pintu tidak ku kunci Will." William pun masuk dengan setelan rapi menggunakan jas hitam, celana hitam di padu sepatu pantofel hitam mengkilat dan berjam tangan,datang menghampiri ku. "Mau kemana Will?" tanyaku melihatnya yang langsung duduk di sebelah ku. "Bell,mau ikut aku kesuatu pesta dansa yang di adakan salah satu pengusaha Fashion di Paris?" tanya ya meminta izin kepadaku. "Apakah aku harus mendampingi mu menjadi seorang istri?" tanyaku tanpa sadar karena terbawa suasana. "Jadilah Seorang kekasih." ujarnya menatapku lembut, lalu berdiri dan memegang kedua pundak ku. "Berpakaian lah dengan gaun yang sudah ku pesan di Toko kemarin, aku akan menunggu mu di bawah." ujarnya tersenyum dan berlalu pergi. Aku merasakan sesuatu yang menjalar hangat di dadaku antara senang, bahagia dan entahlah tidak bisa aku mengekspresikan ya seperti apa perasaan ku saat ini.Aku pun segera berganti baju dan mengenakan Dress panjang hitam yang menutup mulai dari dadaku hingga tumit kakiku dan agak sedikit membelah kesamping dari lutut ke bawah seraya ku padukan kalung berlian di leher jenjang ku dan menggunakan High Heels hitam mengkilat di padu tas pesta hitam yang di hiasi berlian, dengan rambut yang ku tata cepol dan elegan di tambah aksesoris berbentuk bunga dengan model jepitan rambut.Aku pun mulai berdadan secara natural namun terlihat fresh dan elegan.Setelah selesai dengan semuanya aku pun segera turun menemui William yang menunggu ku di bawah, saat aku turun perlahan-lahan melewati tangga William terdiam menatapku dari atas sampai bawah yang membuatku menjadi salah tingkah dan tersipu malu. "Ba-bagaimana Will?" "Sangat cantik Bell... "ujarnya terpukau melihat ku. "Hmm.. terimakasih Will." ujarku tersenyum dan membuatnya sadar karena terlalu lama menatapku.Ia pun segera memintaku menggandeng tanganya dan menuju mobil.Ternyata yang menyetir mobil adalah Jordan Asisten William. "Selamat malam nona,anda terlihat sangat cantik nona." "Terimakasih jordan." jawabku sedikit tersenyum karena malu mendapat pujian. "Iya dong kan istri dari pengusaha properti yang terkenal." jawab William bangga akan dirinya. Aku pun sudah mulai terbiasa dengan sifat pamer ya itu. "Baiklah tuan dan nona, saya akan segera menyetir." ujar Jordan yang memecat tombol lain dan segeralah muncul pembatas antara tempat duduk depan dan belakang, jadi hanya tersisa ruang di antara aku dan William yang membuat kami berdua terdiam dan canggung sepanjang perjalanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD