France,kota Paris
*Seminggu berlalu*
Akhirnya kami telah tiba di kota Paris.Aku sangat terkagum-kagum melihat pemandangan di kota ini,sudah lama sekali aku berangan-angan ingin pergi ke kota Paris.William yang sedang sibuk menyetir sesekali melirik ku yang sedang tersenyum senyum sendirian melihat pemandangan sepanjang jalan dari arah luar jendela mobil.
"Baiklah,kita sudah sampai di villa Bell."
"Oh iya.." ujarku mulai turun dari mobil.
Aku sangat terpukau melihat bangunan villa ini yang bertempat tidak jauh dari menara Eiffel.Kami pun di sambut oleh penjaga Villa ini.
"Selamat datang tuan dan nona." sapa ya kepada kami dengan ramah.
"Bagaimana kabarmu Rodrigo?" tanya William kepada penjaga villa ini yang bernama Rodrigo.
"Saya sangat baik tuan.Saya tidak menyangka akhirnya tuan membawa seorang wanita ke villa ini." ucapnya tersenyum menatapku dan William pun juga menatapku.
"Iya Rodrigo,sudah lama aku tidak kesini.Perkenalkan istri ku Bella." ujarnya memperkenalkan ku pada Rodrigo.
"Perkenalkan nama saya Bella." ujarku tersenyum.
"Saya Rodrigo nona,penjaga villa ini."
"Baiklah, kalau begitu kami masuk ke dalam dulu Rodrigo."
"Baik tuan,silahkan masuk." ujarnya menundukkan kepalanya.
Aku pun masuk ke dalam villa tersebut,aku tercengang melihat interior dekorasi villa ini sangat mewah dan elegan 'Pantas saja dia terkenal sebagai pengusaha properti.' pikirku saat ini.
Aku pun mengikuti William yang naik ke lantai atas sambil sesekali aku terpukau dengan properti yang tersusun rapi di setiap sudut ruangan.
"Hmm Bell,kamar di villa ini hanya satu." ucap William menatapku.
"Tidak masalah,kita bisa berbagi kasur.Tidak akan ada hal yang bakal terjadi di antara kita." ujarku cuek dan langsung masuk kamar meninggalkan William yang berdiri mematung di pintu.
Aku pun langsung membuka gorden pintu yang berlapis kaca yang menuju ke arah balkon samping, betapa terkejutnya diriku melihat pemandangan yang begitu excited karena balkon ini langsung mengarah menuju menara Eiffel.
"Bell.. Bell... " panggil William yang membuatku otomatis langsung menoleh kepadanya.
"Iya, ada apa Will?"
"Serius? kita bisa berbagi kasur?" ujarnya tidak percaya kepadaku.
"Iya aku serius Will.Taruh saja guling itu di tengah sebagai pembatas.Bagus kan ideku?" ujarku menjelaskan.
"Eh.. Ba-baiklah ide mu sangat brilian." ujarnya menggaruk-garukkan kepala ya masih mencerna perkataan ku.
"Baiklah will, bisa kah kamu pergi dulu dari sini?"
"Kenapa?"
"Aku harus mandi Will."
"Terus?"
"Haruskah aku menjelaskan ya lagi?" ucapku mulai jengah.
"Ohh.. iya iya, aku mengerti kalau begitu mandi lah.Aku akan mandi di kamar mandi bawah saja." ujarnya segera berlalu.
Aku pun mulai segera ke kamar mandi dan memutuskan untuk berendam air hangat di Bathtub, 'Ahhh.. sangat nyaman sekali.Sudah lama aku tidak memanjakan diriku seperti ini.' pikirku sangat rileks.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi "Tokk Tok Tok", aku pun terkejut dan setengah berteriak.
"Maaf, siapa disana?"
"Maaf nona.Saya clara pelayan di Villa ini." ujarnya setengah berteriak di balik pintu.
"Ada apa?"
"Bisakah saya masuk nona.Saya membawakan wewangian untuk air mandi nona."
'Mewangian?mewangian apa ya?' pikirku merasa bingung.
"Silahkan masuk saja, pintunya tidak ku kunci."
Setelah ku persilahkan masuk, akhirnya ia pun masuk membawa nampan yang berisi macam-macam botol seperti Parfum.
"Silahkan di pilih nona!Ada berbagai macam varian aromanya yang ini aroma mawar, yang ini vanila, yang ini.... " ujarnya menjelaskan kepadaku.
"Aku pilih yang ini saja." seraya ku menunjuk botol warna merah yaitu aroma mawar.Langsung saja Clara menuangkan aroma tersebut di dalam Bathtub, seketika aromanya menyerbak harum ke seluruh ruangan ini.Aku merasa semakin rileks mencium aroma ini, mengingatkan ku dengan ibuku yang sangat suka bunga mawar.
Clara pun undur diri.Aku pun segera menyelesaikan rutinitas mandiku.
Hari mulai malam,aku dan William sedang makan malam di balkon yang menghadap langsung ke arah menara Eiffel
"Bagaimana menurutmu disini Bell?"
"Sangat menyenangkan Will.Jujur saja aku ingin sekali liburan seperti ini sebelum aku masuk kuliah lagi." ungkap ku senang.
"Nikmatilah Bell liburanmu disini." ujarnya tersenyum sambil menikmati minumannya wine.
"Tentu saja akan ku nikmati." ujarku tersenyum memandang menara Eiffel dari kejauhan namun terasa dekat bagiku.
"Mau.." ujarnya menawarkan Wine kepadaku.
"Ti-tidak, aku tidak bisa minum itu."
"Benarkah kenapa?" ujarnya bertanya seolah-olah seperti mengejek ku.
"Karena aku tidak pernah di bolehkan minum yang seperti itu oleh ayahku!" ungkap ku dengan tegas.
"Haha santai Bell. Cobalah seteguk saja." ujarnya seraya memberikan kepadaku segelas kecil.
"Hmm.. tapi... " ia tetap memberikan kepadaku dan menyuruhku untuk mencicipi sedikit.
Aku pun dengan ragu-ragu mulai mencicipi sedikit saja dan mulai lah aku merasakan manis seperti ada aroma anggur dan sedikit terasa pahit.
"Bagaimana Bell?" tanya ya ingin melihat reaksiku.
"Tidak enak sama sekali!Jangan berikan itu lagi padaku!" ungkap ku kesal kepadanya.
"Hahaha Bella.. Bella.." ucapnya tertawa melihat wajahku yang cemberut.
Tanpa kami sadari hari mulai semakin malam, kami pun memutuskan untuk segera tidur.
Kami pun tidur di kasur yang sama hanya saja di batasi oleh guling.Malam ini entah aku merasakan suasana kamar ini terasa sangat canggung,akhirnya kami tidur saling membelakangi satu sama lainnya.Aku perlahan-lahan mulai merasa gelisah tidak bisa tidur 'Bagaimana ini kok aku gak bisa tidur?Apakah dia sudah tidur ya?' pikirku ber travelling kemana-mana.
"Bell, kamu sudah tidur?" tanya William dengan posisi masih membelakangi ku.
"Be-belum."ujarku menjawab dengan posisi masih membelakangi ya juga.
"Kenapa belum tidur?"
'Karena ada kamu lah.' harus kah aku menjawab seperti ini.
"Hmm, tidak tahu mungkin mataku belum mau tidur." ucapku asal-asalan
"Haha sempat-sempat ya kamu melucu Bell."
"Terus kamu sendiri kenapa belum tidur?"
"Karena ada kamu."
Aku pun langsung bangkit terduduk mendengar ucapannya.
"Hah? Kenapa aku!?" tanyaku sedikit terkejut.ia pun mulai duduk juga dan merubah posisi duduknya menghadap kepadaku.
"Iya karena kamu.Soal ya baru kali ini kita tidur sekamar.Benarkan aku?"
"I-iya tapi kan... "
"Aku cuman tidak terbiasa Bell biasanya kan kita masing-masing kamar." ujarnya menjelaskan kepadaku.
"Iya.Aku juga tidak bisa tidur karena ada kamu." ujarku mengaku.
"Haha berarti pikiran kita sama dong Bell."
"Baiklah kalau begitu bagaimana kalau kita menceritakan diri kita saja siapa tau kita akan tertidur." ucap ku memberi saran.
"Baiklah."
Kami pun langsung rebahan lagi di kasur dan kami sepanjang malam saling berbagi cerita kehidupan kami dari yang sejak kecil hingga kami dewasa.
"Ternyata kamu wanita kuat Bell." ungkapnya.
"Hmm, benarkah?" jawabku sambil menahan ngantuk.
"Iya dari kisahmu aku mengambil kesimpulan kamu sering terluka, sering di khianati, dipermainkan dan di manfaatkan oleh ayahmu, keluargamu dan teman-teman mu tapi kamu tetap bangkit dan terus berjalan di antara kegelapan itu Bell, maka ya aku.... "
"Wah ternyata kamu sudah tidur duluan Bell." ujarnya sambil tersenyum menatapku yang sedang terlelap dalam tidur.
"Sebenarnya Bell, aku mulai merasakan sesuatu hal kepadamu tapi entah kenapa aku masih takut untuk menggapai mu Bell,seolah-olah kamu begitu rapuh apabila ku pegang.Hm..Selamat tidur Bella istirku." ucapnya mencium kening ku lembut.
****** ******* ****** ****** ******
Paginya aku terbangun dengan keadaan sangat nyaman, aku melihat sudah tidak ada William di sampingku 'Mungkin ia sudah turun di bawah.' pikirku langsung bangkit dan membereskan kasur kemudian aku langsung mandi.
"Selamat pagi nona, bagaimana tidur anda?" ucap Jordan dan Iris di sebelah ya.
"Ternyata kalian kesini?" ujarku terkejut melihat keberadaan mereka disini.
"Iya nona kami kesini untuk melakukan sebuah pekerjaan dari tuan." ujar Jordan menjelaskan.
"Iya nona, kami hanya sebentar saja di sini.Nikmatilah bulan madu kalian." ungkap Iris tersenyum kepadaku.
"Hmm.. Iya." ujarku terpaksa tersenyum.
"Ternyata kalian sudah datang.Ini dokumen penting ya jangan lupa langsung serahkan kepadanya."
"Baik tuan." ujar Jordan langsung mengambil sebuah tas yang berisikan dokumen-dokumen penting dari William.
"Baiklah tuan dan nona, kami berdua permisi dulu." ujar mereka menundukkan kepala seraya berlalu.
"Mau kemana Bell sudah berpakaian rapi?" tanya William melihatku dari atas sampai bawah yang hanya mengenakan kemeja hitam panjang selutut di padukan tas cream dan sepatu bots coklat.
"Mau olahraga." ujarku berlalu dengan senyum yang terpaksa dan langsung disusul oleh William.
"Bell.. Bella... "
"Apa?" ujarku langsung menoleh kepadanya.
"Mau kemana?"
"Mau jalan-jalan Will."
"Nih uang." ujarnya seraya memberikan begitu banyak uang di tangan ku.
"Ma-maksud ya??" ujarku tercengang melihat segepok uang berada di tanganku.
"Kata ya mau jalan-jalan, nah itu ku berikan uang supaya nanti kamu bisa beli ini itu."
"TAPI INI KEBANYAKAN WILLIAM!" ujarku teriak tidak percaya dengan apa yang dia pikirkan sekarang.
"Lah terus gimana?Uang ya kurang atau mau di tambah lagi?" ujarnya bingung melihat reaksiku yang langsung menepok kening ku pelan karena ya.
"Gini aja, mending sekarang kamu temanin aku jalan aja dan ini uang,ambil lagi.oke?" ujarku menjelaskan.
"Oke tunggu sebentar, aku ambil mobil dulu." ujarnya langsung berlalu untuk mengambil mobil.
'Gak habis pikir aku dengan pola pikirnya seperti apa.' pikirku sambil menggelengkan kepalaku teringat tingkah ya barusan kepadaku.
Beberapa menit kemudian datanglah William dengan mobilnya,aku pun segera masuk ke dalam mobilnya.
William pun mulai menyetir mobilnya dengan kecepatan stabil.Sepanjang jalan William merekomendasikan berbagai tempat di Paris yang akan kami kunjungi sebagai alur perjalanan liburan kami.