"Araz kalau kita dewasa mau jadi apa?" Aksa yang duduk tepat di sebelah Araz bertanya, walau tangannya tengah sibuk membolak-balik lembar komik milik Araz. "Harusnya pertanyaan Aksa bukan gitu." Araz tertawa kecil sembari melongokkan kepalanya melihat gambar-gambar dalam komik. "Emang harusnya kayak gimana?" "Kayak gini," ucap Araz santai, "Araz, sisa hidupnya mau ngapain?" Aksa mematung. Tidak percaya pada ucapan Araz yang terlalu pesimis akan hidup. Mungkin, jika Aksa memiliki kemampuan, ia sudah akan memindahkan rasa sakit yang ada pada Araz ke dirinya. Di umurnya yang sekarang masih anak-anak, Aksa merasa bahwa jalan hidup mereka memang tidak adil. Mengapa harus Araz? Sementara mereka berada dalam rahim yang sama untuk jangka waktu yang sama. "Araz jangan ngomong kayak gitu, Aksa

