Hujan mulai turun saat Alana sampai di sebuah gang kecil dengan got yang airnya mengental hitam dan berbau. Ayunan langkah kakinya tergesa-gesa. Kini ia sedang menuju salah satu rumah di dalam gang sempit tersebut. Rumah dari Iman, salah satu siswanya di sekolah kolong yang ia dirikan. Sudah dua kali ia mendatangi rumah tinggal Iman dan neneknya, pertama adalah saat ayah dan ibu Iman meninggal karena kecelakaan, dan sekarang. Setelah berjalan sekitar lima puluh meteran, dia pun berhenti. Matanya memindai sekitar, otaknya sedang coba mengingat dimana rumah Iman. Lalu dia melangkah ke salah satu rumah dengan yakin. Rumah yang atapnya seolah akan jatuh, tiang kayu penopang teras basah dan digigiti rayap. Menyedihkan sekali keadaannya. Pintu kayu berwarna usang itu tertutup rapat, bahkan ke

