Lagi, lagi, dan lagi.

1722 Words

"Bu Guru pulang saja, biar nenek yang tungguin Iman di sini," ujar wanita tua itu saat Alana terlihat terkantuk-kantuk di kursi warna hijau berjajar di depan PICU. "Tidak apa-apa, Nek. Biar saya disini dulu, nemenin nenek," katanya sambil mengelus bahu renta itu. Bagaimana mungkin Alana tega meninggalkan wanita sepuh itu sendirian di rumah sakit. Bagaimana kalau ada apa-apa? Demi mengurangi rasa kantuk, Alana sengaja melihat kesana kemari, sembari merenggangkan otot-otot lehernya yang mulai kaku. Tak sengaja, sudut matanya menangkap bayangan sesosok lelaki yang amat ia kenal. Devan? "Ngapain dia di rumah sakit? Malam-malam gini?" Alana membatin, saking fokusnya melihat ke arah Devan, Alana sampai tak sadar jika ponsel yang sengaja ia setel diam itu berkedip-kedip karena ada panggilan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD