Kenangan Rumah Papa

2151 Words
TAKSI berwarna biru yang dinaiki Rissa berbelok ke jalan yang agak lengang lalu-lalang kendaraannya, masuk ke sebuah gate kompleks perumahan bertuliskan 'Bukit Permata Regency'. Sebuah kompleks perumahan elite lengkap dengan fasilitas umum dan sosial yang disediakan pihak developer. Rissa menyandarkan kepalanya pada headrest, sementara kendaraan umum bertarif argo itu melewati jalanan aspal yang cukup lebar dengan deretan pepohonan palem yang memisahkan antara lajur kiri dan kanan. Sesekali bibir cewek yang sebulan lalu tepat berusia tujuh belas tahun itu mengulum senyum kecil ketika menikmati kembali perasaan bahagianya karena bisa bertemu Sakha. Sakha, andai aja kamu tahu siapa aku. Percayalah, sampai kapan pun aku nggak akan lupa tentang perjumpaan pertama kita di taman rumah sakit sepuluh tahun lalu. Mungkin sekarang kamu belum ingat aku. Tapi cukup dengan aku yakin kalau kamu adalah Ava, itu udah bikin aku senang karena berarti kamu udah ada sedekat ini denganku. "Pak, Pak, berhenti depan, ya." Mendengar perintah yang tiba-tiba dari penumpangnya itu, sopir taksi pun segera menepikan taksinya. "Tapi, Mbak, ini masih Blok IV. Bukannya Mbak mau ke Blok VI, ya?" tanya sopir taksi paruh baya itu dengan kening berkerut heran begitu menolehkan kepalanya ke belakang. Blok IV? Seperti orang linglung, sejenak Rissa tertegun begitu menyadari dirinya malah minta diberhentikan di lokasi yang bahkan belum menjadi tujuannya. Saat ini taksinya tepat berhenti di depan sebuah rumah mewah bergaya klasik. Rumah yang tidak asing. Rumah yang membangkitkan desir kerinduan akan kenangan yang pernah tersimpan di dalamnya. Rumah papanya .... "Nggak apa-apa, Pak. Saya turun di sini aja," kata Rissa kemudian. Ia pun turun dari taksi setelah membayar ongkos sesuai yang tertera pada argo. Kini Rissa sudah sepenuhnya kembali menatap rumah itu. Setidaknya ia akan sekali lagi menyebut itu rumah papanya jika memang masih milik papanya. Sayang sekali setelah papanya meninggal setahun yang lalu, rumah itu terpaksa dijual demi melunasi utang-utang perusahaan papanya. Agung Byanta Cargo yang bergerak di bidang ekspedisi pengiriman barang dinyatakan pailit. Diam-diam Rissa memang mendengar kalau dua tahun belakangan sebelum kepailitan itu perusahaan papanya terus mengalami defisit. Papanya dituntut memeras otak untuk menstabilkan kembali keadaan perusahaan yang sudah dirintisnya dari nol. Di tengah kemelut para karyawan—baik aktif maupun dirumahkan yang mulai menggerakkan aksi demo menuntut kejelasan prospek perusahaan—salah seorang rekan kepercayaan papanya justru tega menipu dengan melarikan dana investasi yang menjadi satu-satunya harapan saat itu. Sempat papa Rissa bisa sedikit lagi berhasil menggagalkan rencana penipu itu yang akan melarikan diri ke luar negeri. Aksi kejar-kejaran antar mobil pun terjadi. Namun, saat hendak menyalip mobil penipu itu, mobil papa Rissa sudah lebih dulu dihantam sebuah truk dari arah samping. Kecelakaan nahas itu pun tak bisa terelakkan. Papanya meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Setahun lalu. Rissa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir bayangan paling menyedihkan saat ia harus kehilangan sang papa yang sangat disayanginya. Sudah setahun kepergian papanya, dan kini Rissa tahu alasan dirinya bisa berdiri di depan rumah ini karena ia merindukan sosok hangat pelindung keluarga itu. Walaupun sudah berpindah kepemilikan, tetapi Rissa cukup senang karena tidak ada yang berubah dari rumah bekas tinggal keluarganya tersebut. Warna cat rumah utamanya masih sama. Kolam air mancur, kebun bunga mawar, pohon mangga, dan ayunan itu ... ayunan dari papan kayu buatan papanya yang digantungkan pada dahan pohon mangga juga masih ada. Betapa dulu Rissa sangat senang bermain dengan ayunan itu dan papanya yang mendorongkan. Semua pemandangan yang membuat hati Rissa menghangat itu dapat dilihatnya dari celah pintu gerbang. Bahkan pintu gerbangnya pun masih pintu gerbang yang sama. Menjulang tinggi dan kokoh dengan dua hiasan lentera mengapit masing-masing sisi pagar batu pembatasnya. Namun, ada yang menyita perhatian Rissa ketika mendapati sebuah pelat terpatri di bawah hiasan lentera di sisi kanan pagar batu pembatas itu. HANGGARA BLOK IV NO. 55 Jadi pemilik baru rumah ini adalah Keluarga Hanggara. Rissa memang harus menerima kenyataan, meski harus menatap nanar pelat rumah yang bukan tertulis lagi nama Keluarga Byanta, melainkan sudah diganti Keluarga Hanggara. Ya sudahlah, daripada Rissa berlama-lama bersedih hati di depan rumah kenangan papanya dan sebelum dikira orang minta sumbangan, mending ia pulang ke rumahnya sendiri. Sudah kepalang tidak menemukan angkutan umum lagi, apa boleh buat Rissa mesti jalan kaki. Toh, jarak ke rumahnya sudah tidak jauh ini. Rissa memutar tubuhnya hendak berjalan pulang ketika tiba-tiba perutnya mengeluarkan bunyi krucuk-krucuk. Lapar. Hm, sudah lapar lagi saja ini perut. Padahal tadi siang di rumah Rumaisha sudah sukses bikin ludes masakan bundanya. Selera makan Rissa memang gede. Doyan makan tanpa pilih-pilih. Akan tetapi, anehnya walaupun Rissa suka makan ini-itu, tubuhnya tidak gampang gemuk. Mungkin karena Rissa mengimbanginya dengan olahraga teratur. Apalagi di sekolah ia termasuk aktif di ekstrakurikuler karate yang notabene fokus olahraga beladiri satu itu cukup cocok untuk membakar kalori. Olala ... ini dia yang namanya pucuk dicinta ulam pun tiba. Ada perut krucuk-krucuk, ada tukang bakso lewat. Pada jam-jam segini, gerobak bakso Mas Parjo memang biasa berkeliling di sekitar kompleks. Pas sekali gerobak bakso Mas Parjo lagi mangkal di seberang jalan. Yuk, cus samperin. "Mas Parjo, beli baksonya satu porsi, ya." "Baksonya dua porsi, Mas." Kedua suara itu terdengar dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. Kalau Rissa mengucapkan kalimat yang pertama, maka yang kedua ...? Begitu Rissa menolehkan kepalanya ke belakang, saat itu juga ia bisa melihat keberadaan seorang cowok. Tidak salah lagi, cowok itulah yang mengucapkan kalimat kedua. Hm, cowok yang terasa asing. Rissa bertanya-tanya, apakah cowok itu juga warga kompleks perumahan Bukit Permata atau mungkin saja kerabat salah satu tetangga. Siapa gerangan cowok itu? ❤ Mata Kenzie bertemu dengan mata cewek yang juga sedang menatapnya dengan kerutan di kening itu. Belum banyak ia mengenal orang-orang di kompleks perumahan yang ditempatinya selama di Semarang ini. Jadi, barangkali saja cewek itu merupakan salah seorang yang akan menjadi tetangganya. "Owalah, ngapurone ... Mas e, Mbak e, baksonya tinggal sithik, ik. Yo paling-paling cuma cukup buat sak porsi tok," ujar Mas Parjo. Bisa dilihat kalau mi kuning, mi bihun, pangsit goreng, sampai sisa bakso yang ada di panci memang kurang mencukupi untuk membuat dua, apalagi tiga porsi. "Kok tumben jam segini udah mau habis, Mas?" tanya Rissa. "Iyo, Mbak. Alhamdulillah, tadi dapat borongan," sahut Mas Parjo semringah. "Makanya sekarang saya mau siap-siap pulang." "Ya udah, kalau begitu tolong yang satu porsi itu dibungkus buat Rissa ya, Mas." Rissa memberi titah tanpa ragu. "Eh-eh, tunggu dulu. Apa itu maksudnya bungkus-bungkus?" cegah Kenzie ketika merasa cewek itu sudah seenaknya saja main perintah kata tanpa memedulikan keberadaannya. Rissa baru sadar telah mengabaikan orang lain yang juga berstatus sebagai pembeli di sini. Wajar saja cowok itu memprotes. "Tapi kamu dengar sendiri kan apa kata Mas Parjo? Baksonya tinggal sedikit. Kamu tahu dong, apa artinya tinggal sedikit? Artinya baksonya cuma cukup untuk satu orang doang." "Dan orang itu kamu?" Kenzie tergelak singkat, lalu mengibaskan sebelah tangannya. "Pede banget kamu. Kamu pikir cuma kamu yang mau beli? Kalau bakso itu buat kamu, terus aku dapat apa?" Rissa menaikkan dagu sambil menyipitkan matanya. "Bodo!" balasnya santai. What?! Hampir tidak percaya Kenzie bisa bertemu dengan cewek yang merasa dirinya paling berkuasa itu. Awalnya ia malas mengurusi perdebatan 'enggak penting banget' seperti ini. Membuang waktu dan percuma. Ia bisa saja tidak mempermasalahkan bakso itu dan tinggal bilang ke Sakha kalau bakso yang diinginkannya habis. Namun, setelah ia berpikir untuk tidak membiarkan cewek sok itu mendapatkan porsi bakso begitu saja, ia mulai tertarik membalas genderang perang yang ditabuhkannya. Sebenarnya Kenzie sudah sedari tadi memerhatikan cewek berpenampilan aneh itu. Kenapa ia mengatakan penampilannya aneh? Okelah, cewek itu mengenakan kerudung labuh yang secara sempurna menutupi kepala, d**a, hingga pinggangnya. Tapi coba lihat bawahannya? Skinny jeans 3/8 yang terlihat sangat ketat sampai kayak nempel di kulit, mana ada belel-belelnya lagi. Dan sandalnya ... ya salaam, sandal jepit buluk?! Bahu Kenzie tiba-tiba bergidik ngeri. Terlebih ketika ia juga teringat bagaimana gelagat mencurigakan cewek itu yang seperti sedang mengawasi rumahnya tadi. Secara tidak sengaja Kenzie memergokinya dari jendela kamarnya di lantai atas saat ia hendak mengisi daya baterai ponsel. Begitu Kenzie ingin membuka gerbang untuk menghampirinya, cewek itu sudah keburu menyeberang jalan sampai mereka memesan bakso yang sama. "Cewek aneh." "Apa barusan kamu bilang?" "Aneh. Kamu aneh." "Enak aja ya kamu bilang aku aneh." Kenzie melipat kedua tangan di depan d**a, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya ke hadapan cewek yang lebih pendek darinya itu. "Terus, apa kalau nggak aneh? Kamu kan yang tadi terus berdiri di depan rumahku pakai ngintip-ngintip ke dalam gerbang segala. Kenapa? Mau minta sumbangan? Tapi resmi nggak, tuh? Jangan-jangan cuma kedok kayak kasus berita di TV itu. Ngakunya minta sumbangan buat pembangunan masjid lah, panti asuhan lah, pesantren lah. Tapi nyatanya palsu. Tipu-tipu. Aku heran kok bisa-bisanya pengamanan di sini memberi izin masuk sembarangan orang minta sumbangan seperti ini." Mulut Rissa sudah megap-megap menyamai ikan kekurangan air begitu mendengar tuduhan cowok menyebalkan itu. Oh, jadi cowok itu yang sekarang menghuni rumah kenangan papanya. "Eh, itu kalau ngomong dijaga, ya. Atau kamu udah biasa suka nuduh-nuduh orang lain tanpa bukti. Fitnah itu namanya. Lagian, siapa juga yang mau minta sumbangan?" "Ya kalau nggak mau minta sumbangan, terus maksudnya apa tadi ngintip-ngintip rumah aku?" "Jadi kamu nuduh aku mau maling sekarang?" "Aku nggak bilang gitu lho, ya. Nanti aku dikira nuduh kamu sembarangan lagi. Jadi sekarang aku beneran tanya sama kamu, ngapain tadi kamu berdiri di depan rumah aku? Ayo, jawab." Didesak seperti itu membuat Rissa berubah gugup. Bukannya ia tidak mau menjawab, tetapi ia malas saja menjelaskannya. Ujung-ujungnya Rissa juga yang bakalan sedih mengingat kenapa tadi ia bisa kembali datang melihat rumah itu setelah satu tahun mencoba merelakannya. Termasuk merelakannya untuk dihuni makhluk tengil itu sekarang. "K-kenapa aku mesti jelasin ke kamu. Terserah aku dong mau ngapain." "Ya nggak bisa gitu, dong." Kenzie tahu cewek itu sedang berusaha mengelak. "Kamu udah bersikap mencurigakan di depan rumah orang lain." "Ih, sok tahu kamu. Kalau aku bilang aku suka sama suasana rumah kamu, makanya aku coba lihat-lihat, kamu puas?" Kenzie memicingkan mata. Apa alasannya cuma karena suka dengan suasana rumahnya? Sepertinya Rissa tidak harus berurusan lebih lama dengan cowok itu sebelum ia malah dicurigai kembali. Rissa segera beralih pada pesanan baksonya yang tadi. "Mas Parjo, mana baksonya udah dibungkusin belum?" "Tunggu, kata siapa baksonya boleh dibungkusin buat kamu?" sela Kenzie yang juga sudah beralih kembali pada urusan bakso yang sempat terlupakan itu. "Eh, kamu ngalah aja kenapa, sih?!" Rissa memutar bola matanya malas. "Lagian kalau aku nggak salah dengar, kamu pesan dua porsi kan tadi? Nah, sedangkan aku cuma pesan satu porsi. Jadi pas dong kalau satu porsi bakso yang ada itu buat aku," paparnya. "Kalau gitu sekarang aku pesan satu porsi. Jadi kita punya hak yang sama, kan?" Sebelah alis Kenzie terangkat diiringi seringai menantangnya. Cowok itu asli menyebalkan. Ganteng sih ganteng, tapi maunya menang sendiri. Lama-lama Rissa geregetan juga sama orang yang baru ditemuinya itu. "Huh, kamu itu kan cowok. Ngalah, dong!" dengkusnya jengkel. "Bodo!" balas Kenzie acuh tak acuh sambil menjulurkan lidahnya. "Apa?!" Mata Rissa melotot semakin jengkel. "Aku nggak habis pikir kenapa di dunia yang indah permai ini ada cowok super nyebelin kayak kamu." "Dan aku juga nggak habis pikir kenapa di dunia yang sehat sentosa ini ada cewek yang resenya minta ampun kayak kamu." Rissa geram segeram-geramnya. Tidak tahan lagi, ia mengentakkan sebelah kakinya ke tanah. Oke, ini memang pertengkaran konyol. Hellow, seorang Clarissa Byanta bertengkar dengan cowok tengil bin nyebelin cuma karena bakso gitu, loh. Namun, jika Rissa menyerah dan mundur memperebutkan porsi bakso, bisa-bisa cowok menyebalkan itu mengiranya mengaku kalah sebelum berperang. "Nggak mau tahu. Pokoknya bakso itu buat aku. Mas Parjo, tunggu apa lagi? Bungkus!" titah Rissa tanpa kompromi lagi. "Nggak bisa!" "Bungkus!" "Nggak!" "Bungkus!" "Nggak!" Sementara kedua orang itu masih saling beradu mulut, Mas Parjo yang sedari tadi hanya menjadi pendengar akhirnya maju menengahi. Untungnya saat itu sepi lalu-lalang warga di sekitar tempat perseteruan tersebut. Kalau tidak, mungkin perdebatan mereka sudah akan menjadi tontonan gratis. "STOOOOOPP!!" seru Mas Parjo lantang sambil merentangkan kedua tangan ke samping ala wasit tinju melerai dua petinju kelas bulunya. Ia berdeham bangga ketika merasa berhasil membuat dua anak keras kepala itu diam juga. "Wis toh, Mas e, Mbak e, ojo podho padu. Saya jadi feri konfuset ini." Tukang bakso berkumis tipis itu menggeleng-gelengkan kepalanya setelah sok-sokan berbicara bahasa Inggris dengan logat jawa-nya yang medok. Kenyataannya Mas Parjo memang bingung, sebingung orang disuruh menyebutkan satu per satu jalan mana saja untuk menuju Roma yang kata lagunya banyak itu. Namun, kemudian ia ada ide. "Begini saja, saya ada ide. Gimana kalau baksonya dibagi dua. Jadi Mbak Rissa sama mas e ini bisa dapat bakso semua. Jadi adil, toh?" Rissa dan Kenzie berpikir sejenak. Mungkin tidak ada salahnya mengikuti usul Mas Parjo. Maksudnya saling berbagi mungkin lebih baik daripada terus berdebat kusir tidak jelas yang hanya akan membuang-buang waktu saja. Ya, walaupun kurang puas dengan hanya mendapatkan setengah bagian di tengah rasa lapar yang mendera. Begitulah akhir dari aksi perebutan bakso yang hampir menguras seluruh tenaga dan pikiran itu. Rissa dan Kenzie masih sempat saling membuang muka sebelum kembali ke tempat asal masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD