Namanya Rissa

1545 Words
SAMBIL melangkah lebar dan cepat, Kenzie menggerutu habis-habisan hingga kembali ditemuinya Sakha di gazebo. Bedanya sekarang gazebo sudah dalam keadaan bersih tanpa kulit kacang berserakan. Siapa lagi kalau bukan Sakha dengan prinsipnya yang selalu menjaga kebersihan itu tak akan tahan melihat sampah di sekelilingnya. Sakha yang kini asyik membaca majalah bola belum menyadari bagaimana senewennya tampang Kenzie. Hingga mangkuk bakso yang ditaruh Kenzie dengan setengah membanting keruan saja mengagetkan Sakha sebagai empunya jantung. "Astagfirullah ... kira-kira dong, Ken. Di hadapan kamu ini masih ada orang yang punya jantung. Nggak bisa apa nggak usah main banting-banting aja?" omel Sakha seraya mengusap-usap dadanya dengan sebelah tangan. "Sori." "Kenapa lagi sampai itu muka kelihatan kesel gitu?" "Siapa yang nggak kesel coba sama cewek aneh itu." Kenzie berkacak pinggang masih dengan tampang memberengut. "Cewek siapa?" tanya Sakha seraya menggapai mangkuk baksonya. Namun, ia kembali terkejut ketika melihat tampilan bakso di dalam mangkuk bening itu lebih mirip seperti makanan sisa. "Hah, nggak salah, nih? Ini beneran bakso? Kamu niat beliin nggak, sih? Udah aku nungguin kamu beli bakso aja lama. Giliran datang malah dapatnya versi nggak full gini? Atau jangan-jangan udah kamu makan duluan dan ini sisanya?" semprotnya menatap Kenzie seolah meminta penjelasan tentang apa yang terjadi dengan baksonya. Bukannya ingin mencela dan tidak bersyukur sudah dibelikan, tetapi rasanya kurang wajar saja kalau untuk satu porsi bakso utuh yang tersaji justru baksonya cuma tiga gelinding ukuran kecil, minya seuprit, terus sawinya juga ngilang ke mana coba? "Madha taqul? Enak aja!" sungut Kenzie tidak terima atas tuduhan Sakha. Ia lalu mendecakkan lidah dan duduk menyebelahi Sakha tanpa mengubah raut kedongkolannya. "Kamu salahkan aja tuh cewek aneh yang seenaknya main serobot minta bagian bakso yang tinggal seporsi. Orang jelas-jelas aku duluan yang pertama pesan, tapi dia malah ngenyel minta satu porsi bakso itu buat dia sendiri." Tawa Sakha langsung menderai membayangkan kejadian yang diceritakan Kenzie. "Ya Allah, Ken ... mestinya kamu yang ngalah aja kan bisa." "Eh, Kha, ini tuh bukan soal aku mau ngalah atau nggak. Sebenarnya aku juga nggak masalah kalau dia bicaranya baik-baik. Tapi memang dasarnya tuh cewek aja yang aneh." "Aneh gimana?" Hidung Kenzie kembang kempis setiap kali mengingat cewek berpenampilan aneh yang judesnya seperti Mak Lampir habis makan oseng-oseng mercon itu. Kenzie pun mengadukan betapa anehnya penampilan cewek tadi yang seperti orang minta sumbangan. Namun, di bagian cewek itu mengintip-intip rumahnya, Kenzie sengaja melewatkannya. Entahlah, apa alasan cewek tadi yang mengatakan sekadar menyukai suasana rumahnya itu benar atau tidak. Yang jelas Kenzie cukup bisa memercayai cewek itu tidak punya maksud jahat. Setidaknya kalau ia mengingat tukang bakso keliling itu saja yang sepertinya juga sudah mengenal baik cewek yang disebutnya bernama Rissa tadi. Jadi, besar kemungkinan cewek itu masih tinggal di kompleks perumahan ini. Tunggu! Siapa tadi namanya? Rissa? Kok sepertinya Kenzie pernah dengar baru-baru ini papanya gemar menyebutkan nama itu, ya? "Kamu harus tahu kalau Tante Anna punya seorang putri. Dia seumuran denganmu. Nanti kamu bakal satu sekolah sama dia. Syukur-syukur kalau kalian bisa satu kelas. Oh ya, namanya Rissa. Papa sudah lihat fotonya. And she's so beautiful." Namanya Rissa .... Rissa .... Rissa .... "NGGAK MUNGKIN!!" Sakha yang tidak siap dengan teriakan Kenzie langsung tersedak kuah baksonya. "Astagfirullah, ini anak apa lagi, sih? Dari tadi ngagetin orang mulu," sembur Sakha gereget. Ia buru-buru meraih jus jeruk yang masih tersisa di gelas Kenzie dan langsung menghabiskannya. Kenzie tidak menggubris Sakha. Kemungkinan Rissa si cewek aneh itu dengan Rissa putrinya Tante Anna lebih menyita keterkejutannya sendiri. "Woy, jangan malah bengong aja. Udah dua kali ya jantungku nyaris mau bikin salam perpisahan cuma gara-gara dikagetin kamu seperti ini. Kamu kesambet, ya? Eh, jangan-jangan rumah ini ada jinnya lagi. Sepupuku kemasukan jin!" "Apaan, sih?!" Kenzie menepis tangan Sakha yang menampol-nampol dahinya, maksudnya nyuruh si jin keluar. Dikira Kenzie kesambet beneran apa? Sakha terkikik geli. "Padahal siapa tahu aku bisa ngajak komunikasi itu jin lewat tubuh kamu." Kenzie mencibir ke arah sepupunya yang mulai nikmat kembali melahap bakso. s**l, Sakha sudah main embat saja semua bakso itu tanpa menyisakannya untuk Kenzie. Dia yang capek-capek beli sampai dibelain berantem, malah Sakha yang enak-enak menghabiskannya. Dasar upil lele krispi kriyuk-kriyuk. Untung saja tadi Kenzie sudah pesan delivery pizza. Biarin nanti Kenzie pakai uang Sakha buat bayar pizza-nya. Toh, dompet Sakha masih ia pegang. Jenius sekali dirimu, Kenzie. "Ngapain senyum-senyum sendiri? Dih, beneran kesambet, ya?" tegur Sakha bergidik. ❤ "Huh, siapa sih tuh cowok?! Songong banget!" omel Rissa tiada henti tiada tara sekalipun sudah kembali ke rumahnya. "Eh, Non Rissa sudah pulang," sambut Bi Uti dengan kemoceng di tangan, karena baru saja selesai membersihkan perabot rumah. "Ada apa, Non? Kok pulang-pulang malah sambil ngomel begitu?" "Itu lho, Bi, cowok tengil yang sekarang tinggal di rumah lama kita. Siapa sih dia?" sahut Rissa gusar. "Maksud Non, anak muda yang ganteng itu? Aduh, Non, dia itu baik betul, lho. Sopan lagi." Apa? Ganteng? Baik? Sopan? Hoeks! Dapat wangsit dari mana sampai Bi Uti bisa mengatakan sederetan pujian yang sepertinya salah alamat untuk cowok itu. "Jadi Bi Uti udah tahu tentang penghuni baru rumah kita dulu?" tanya Rissa mendadak penasaran. Bi Uti terkikih. "Bibi juga baru tahu hari ini, Non, kalau ternyata rumah itu sudah ada yang menempati. Itu juga secara tidak sengaja waktu bibi nyusul tukang sayur yang sudah jalan ke Blok IV. Di situlah bibi jadi bisa ketemu Den Kenzie." Jadi nama si cowok tengil itu Kenzie? batin Rissa. "Dua hari yang lalu Den Kenzie sama papanya baru datang dari luar negeri. Dari Dubai gitu katanya. Karena papanya Den Kenzie ada urusan kerja di sini, makanya mereka jadi menempati rumah itu sekarang." Rissa tertegun. Sejak berpindah kepemilikan satu tahun yang lalu, rumah itu memang tidak langsung ditempati oleh pembelinya. Rissa ingat setelah menyelesaikan urusan utang-piutang perusahaan papanya, sisa penjualan aset peninggalan papanya digunakan mama Rissa untuk membeli rumah baru. Alhamdulillah, mama Rissa masih dapat membeli rumah di kompleks Bukit Permata, walaupun dengan ukuran yang lebih kecil bila dibandingkan rumah sebelumnya di Blok IV itu. Menurut mamanya, Bukit Permata menjadi hunian yang paling mudah menjangkau, baik ke sekolah Rissa maupun ke rumah sakit tempat mamanya bertugas. Jadi sebisa mungkin mamanya mengusahakan mendapat hunian yang masih berada dalam kawasan Bukit Permata dengan tipe harga yang lebih murah. Selama menjadi istri, mamanya memang tipikal orang yang pandai mengatur keuangan. Ditambah mamanya yang memiliki tabungan pribadi dari penghasilannya sebagai dokter spesialis anak konsultan neurologi. Cukuplah untuk membeli rumah baru di kawasan Bukit Permata. Namun, beberapa pekerja yang dulu ikut keluarganya tidak semua bisa dipertahankan, mengingat mama Rissa juga tidak sanggup membayar mereka semua lagi. Toh, dengan rumah yang lebih kecil sekarang tidak memungkinkan harus punya pekerja banyak-banyak. Hanya Bi Uti, asisten rumah tangga yang sejak dulu sudah bekerja pada keluarga Rissa—bahkan dari sebelum Rissa lahir—yang tetap setia ikut sampai sekarang. "Jadi, apa Non Rissa juga sudah ketemu sama Den Kenzie?" Rissa mendesah pelan dan bergumam malas, "Iya, Bi, tadi waktu beli bakso di Mas Parjo." "Baguslah, Non. Bibi itu senang kalau Non Rissa bisa berteman sama Den Kenzie. Kalau bibi punya anak perempuan atau Non Rissa ini anak bibi, hm ... bibi sudah bakal jodohin Non sama Den Kenzie. Nah, jadi Non Rissa harus bisa akrab sama Den Kenzie, karena mulai sekarang kita bertetangga sama dia." Perut Rissa mendadak mual. Siapa juga yang mau berteman sama cowok yang tengilnya selangit itu? Dijodohkan pula? Dalam hati Rissa bersyukur karena fakta biologis menunjukkan ia bukan anak kandung Bi Uti. Akan tetapi .... APA?! BERTETANGGA?! Yang benar saja ia harus bertetangga dengan cowok super duper menyebalkan sedunia itu? "Udah ah, Bi. Rissa mau mandi terus salat Asar," kata Rissa kemudian. Ya lah, mending mandi terus salat daripada membicarakan cowok tidak penting itu terus. "Tapi omong-omong, kok Non Rissa pakai sandal jepit? Bukannya tadi pas mau pergi pakai sepatu bagus? Terus itu juga dapat kerudung dari mana?" Oh iya, waktu pulang dari rumah Rumaisha tadi ia memang sudah berganti alas pakai sandal jepit. Tepatnya terpaksa ganti, karena sepatu yang dulu pernah dibelikan papanya dari Singapura dicemplungin anak tetangganya Rumaisha ke kolam ikan. Alhasil, sepatunya basah dan tidak mungkin bisa dipakai. Makanya sebelum pulang, Rissa dipinjamkan sandal jepit dengan nama merek paling legendaris dan yang biasa dijual dengan harga sepuluh ribuan itu. "Sha, nggak ada sandal yang lain apa?" Pertanyaan Rissa saat dipersembahkan sandal jepit berbahan karet berwarna putih yang sesungguhnya tidak seputih dalam realitas warna putih itu sendiri. Putih mangkak seperti bekas dipakai blusukan ke sawah mungkin lebih tepat mengungkapkan warna sandal jepit 'kesayangan' itu yang sesungguhnya. "Maaf, Ris, cuma ada sandal itu. Lainnya pada dipakai. Punyaku juga sedang dipinjam Mbak Ratih." Jawaban Rumaisha yang sukses menyayat harapan Rissa. Terpaksa Rissa memakai sandal jepit buluk itu daripada pulang nyeker kan nggak lucu. Dan ternyata Rissa pun baru sadar masih mengenakan khimar besar Rumaisha sejak tampil di depan Sakha. Sayangnya, Rissa tidak memerhatikan khimar besar itu akan matching dengan celana jeans ketat yang dipakainya. Sandal jepit buluk, khimar besar, dan celana jeans ketat yang tidak matching .... Fix! Outfit yang dikenakannya benar-benar 'sempurna', bukan? Rissa menepuk dahinya sendiri. Jadi sedari tadi seperti ini penampilannya? Di depan cowok tengil itu pula. Pantas saja cowok itu mengiranya orang minta sumbangan tipu-tipu. "Bi Uti, hati-hati ya kalau nanti ada orang ngaku-ngaku minta sumbangan. Mending kalau mau nyumbang langsung aja ke lembaga resmi yang udah jelas."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD