COWOK itu mematut diri di depan cermin, mengamati pantulan bayangannya dengan seragam putih abu-abu yang membalut rapi tubuhnya. Seragam yang akan ia kenakan di sekolah barunya. SMA Bina Karisma.
Kenzie tidak mengira bahwa dari sekian banyak SMA di kota ini, justru SMA Bina Karisma yang menjadi tempat di mana cewek aneh itu juga bersekolah. Cewek aneh bernama Rissa. Rissa yang tak lain adalah benar-benar putrinya Tante Anna, yang kata papanya bisa jadi teman baik Kenzie, yang kata papanya ... so beautiful itu.
Huh, so beautiful apanya?! Judes baru iya.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, kenapa juga Kenzie masih harus senewen sama cewek itu. Ayolah, ia cuma terlibat masalah dengannya karena rebutan bakso, bukan rebutan warisan, apalagi rebutan kursi ketua DPR. Jadi, bukankah ini sangat tidak masuk akal dan cuma buang-buang waktu kalau sepagi-pagi ini Kenzie malah memikirkan cewek aneh itu?
Kenzie menggelengkan kepalanya kuat-kuat, beringsut dari cermin, lalu meraih jaket dan tas sekolahnya. Sudahlah, lebih baik ia segera berangkat ke sekolah sekarang.
Di ruang makan, Kenzie melihat papanya sudah duduk menghadap meja makan, sementara arah tatapan pria berusia empat puluh tahunan itu tetap berkutat pada layar tablet yang tengah dipegangnya.
"Pagi, Pa!" sapa Kenzie seraya menggeser kursi kosong di seberang papanya.
"Hm ... pagi, Nak!" sahut Adhib tanpa mengalihkan konsentrasinya dari layar tablet.
Kenzie menghela napas pelan. Begitulah papanya kalau sudah setia pada pekerjaan. Terkadang Kenzie mesti rela diduakan. Coba saja mamanya masih ada, pasti ada yang lebih memerhatikan papa Kenzie. Kasihan papanya harus ditinggal sang istri di usia pernikahan mereka yang baru berjalan dua tahun.
Seringkali Kenzie berpikir, kenapa Tuhan begitu cepat memanggil mamanya? Kenapa di saat ia terlahir ke dunia justru menjadi saat terakhir mamanya mengembuskan napas?
Ini seperti tidak adil, sementara anak-anak lain bisa saling berbagi kasih sayang dengan sosok ibu yang menyaksikan mereka hingga tumbuh dewasa. Sedangkan Kenzie sepertinya hanya bisa pasrah dengan kenyataan bahwa dirinya tidak seberuntung anak-anak itu.
Namun, suatu ketika ia mulai menyadari kalau sebenarnya hidupnya masih bisa disebut beruntung. Setidaknya ia masih punya papanya. Papanya bukan saja bertindak selayak seorang ayah, tetapi juga mampu mencukupi kasih sayang seorang ibu yang selalu dirindukan Kenzie.
Dan untuk mamanya, Kenzie yakin bahwa Tuhan telah memilihkan tempat yang lebih indah untuk mamanya. Kenzie hanya harus percaya kalau mamanya sudah bahagia di sana.
Selamanya tidak ada wanita yang lebih berjasa demi memperjuangkan kelahiran Kenzie hingga nyawa pun rela dipertaruhkan selain mamanya. Kenzie berjanji akan menjadi orang yang selalu bahagia agar mamanya juga tidak bersedih di atas sana.
Cowok yang kemudian mendapat sebuah ide itu berjalan ke samping papanya, lalu mengambil alih benda pipih berlayar sentuh yang sedari tadi sudah cukup menyita waktu sarapan pria berjas kerja rapi itu. "Yang ini dilanjutin nanti aja. Sekarang Papa cuma boleh sarapan," tegas Kenzie sambil menyiapkan setangkup roti dengan selai kacang kesukaan papanya.
Adhib tidak marah, walaupun keseriusannya yang tengah mengecek beberapa data perusahaan jadi terganggu karena tindakan Kenzie. Dan Adhib memang tidak bisa marah dalam hal apa pun kalau pilihannya sudah menyangkut putra semata wayangnya itu.
Adhib tersenyum. Seperti biasa, ia tidak bisa membantah dan hanya duduk manis menunggu putranya itu menyajikan sarapan di atas piring.
Bagaimana Adhib tidak akan tersentuh setiap melihat Kenzie yang begitu mirip dengan almarhumah istrinya. Semasa istrinya masih hidup, hal kecil semacam ini pun tak luput dikerjakannya setiap pagi. Istrinya tidak akan membiarkan urusan pekerjaan sang suami membuatnya cemburu ketika berada di meja makan.
Seandainya waktu itu ia tidak sibuk dengan urusan pekerjaan, mungkin ia bisa lebih cepat menyadari langkah istrinya yang salah memijak tangga.
Seandainya waktu itu ia sempat mencegah istrinya jatuh dari tangga, mungkin pendarahan itu pun tidak akan terjadi.
Seandainya waktu itu ia memiliki banyak pilihan, tentu ia menginginkan istri dan calon putra pertamanya selamat.
Dan seandainya waktu itu tidak ada yang harus dikorbankan, mungkin sekarang ia masih bisa berkumpul bertiga di meja makan ini.
Namun, sebanyak kata 'seandainya' itu diharapkan menjadi mantra pengubah takdir, pada kenyataannya ajal yang sudah digariskan tidak mungkin akan bisa diubah. Sebagai manusia biasa mungkin tidak bisa melawan takdir, tetapi setiap manusia yang beriman hendaknya senantiasa menerima ketetapan Tuhan.
"Ya udah, Kenzie berangkat sekarang ya, Pa," pamit Kenzie seraya menyandang ransel dan beranjak mencium punggung tangan papanya.
"Iya, hati-hati. Ingatkan Pak Mahmud jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Itu juga jaketnya jangan cuma ditenteng, tapi dipakai dulu. Di mobil dingin. Kamu kan paling tidak bisa tahan sama udara dingin. Terus nanti di sekolah jangan banyak-banyak minum es ...."
"Iya, Pa ... iya." Kalau Kenzie tidak cepat-cepat menyela, mungkin papanya masih akan terus berceramah dengan semua nasihat andalan orang tua tunggal itu yang sebenarnya sudah dihapal Kenzie di luar kepala. "Papa tenang aja, Kenzie udah gede. Udah bisa jaga diri sendiri." Dan selalu seperti itu jawaban Kenzie untuk menenangkan hati papanya.
Dengan guratan sendu disela senyum tipisnya, Adhib hanya menatap sang putra kesayangan yang tengah menuruti perintahnya untuk mengenakan jaket.
Kenzie menyadari tatapan papanya. Hatinya selalu mencelos setiap kali mendapati sorot kekhawatiran berlebihan yang membayangi raut wajah itu. Mau tidak mau, Kenzie mendekat, membungkuk demi menyejajarkan tubuh dengan papanya yang masih duduk di depan meja makan, lalu melingkarkan kedua lengannya pada leher pria berbadan tegap tersebut. Memeluk papa kesayangannya dari samping.
"Pa, Kenzie janji akan selalu hati-hati. Kenzie nggak akan lupa dengan semua nasihat Papa. Papa percaya sama Kenzie, kan?"
Kenzie tidak menyalahkan papanya yang terkesan terlalu protektif padanya. Kepergian mama Kenzie adalah trauma terbesar bagi papanya. Tak jarang papanya masih menganggap meninggalnya mama Kenzie karena kelalaiannya. Padahal jelas itu murni kecelakaan dan bukan kesalahan siapa-siapa.
Adhib belum berbicara hingga ia menggeser duduknya dan meraih kedua tangan Kenzie agar menghadapnya. Selama detik-detik tanpa suara, Adhib masih mengamati postur putra semata wayang yang berdiri tegak di hadapannya.
Tanpa ia sadari, malaikat kecilnya yang dulu masih tertatih-tatih belajar berjalan ... yang dulu begitu takut gelap dan suka bersembunyi setiap kali mendengar petir ... yang dulu pernah terperosok ke ceruk karena bandel bermain sepatu roda di dekat ceruk ... yang sejak umur tujuh tahun sudah merengek-rengek minta masuk kelas karate ....
Sekarang malaikat kecil itu telah tumbuh menjadi seorang remaja yang mulai tertarik menata jalan pikirannya sendiri, melakukan hal-hal baru, serta berharap orang lain dapat mendengar pendapatnya.
Atharva Kenzie Hanggara. Ya, dialah putra kebanggaannya. Putra yang selama ini sudah berusaha menurutinya dan tidak membantah apa pun lagi saat dilarang melakukan ini dan itu.
Adhib sadar kecemasannya ini terlalu berlebihan. Ketika hanya memikirkan satu tujuan untuk menjaganya dari hal-hal buruk, ternyata di saat yang sama ia telah mengekang kepentingan putranya sendiri. Kenzie tentu juga ingin bisa menikmati hidup selayak teman-teman seusianya tanpa diikuti pantauan berlebihan dari sederet aturan orang tuanya. Jadi mulai sekarang sudah saatnya Adhib melepas tali pengekang itu dan membiarkan Kenzie melakukan apa pun yang disukainya.
"Berangkat sana." Adhib tersenyum dan menatap lebih dalam mata putranya. Mata hijau, satu terindah yang sama dengan milik almarhumah istrinya. "Papa percaya kamu."
"Syukron katsiron, Papa. Ana uhibbuka abadan abada." Sebuah pelukan kembali dihantarkan Kenzie.
"Afwan, wa ana aidon. Ya sudah, cepat berangkat sekolah sana. Nanti telat."
"Siap, Pa!" Kenzie sekali lagi mencium punggung tangan papanya. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Adhib terkikih kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala saat putranya itu sudah setengah berlari keluar rumah dengan penuh semangat.
Sejenak kemudian, ia memandangi foto istrinya dalam bingkai besar yang terpajang pada sisi dinding di ruang makan itu. Foto yang sengaja ditaruhnya di sana untuk selalu mengenang almarhumah.
Sevda, kamu lihat putra kita? Dia sangat mirip denganmu. Sejujurnya aku terlalu berat kembali ke sini, ke tempat di mana aku harus kehilanganmu. Tapi Kenzie selalu memberiku semangat bahwa aku pasti bisa menghadapi semua keraguanku. Lihat, dia begitu senang saat aku mengajaknya ke Semarang. Yah, jika ini berjalan baik, mungkin aku akan mencoba menetap kembali di kota ini. Mungkin benar bahwa di sinilah seharusnya kami tinggal. Percaya padaku. Aku akan melakukan apa saja untuknya karena dialah satu-satunya alasanku bertahan.
❤
Pagi yang cerah disambut Rissa dengan hati sukacita. Senandung riang masih setia mewarnai bibir mungil cewek itu di tengah kesibukannya menyemprotkan air pada semaian bibit bunga verbena di dalam kedua potnya. Pot pertama untuk bunga verbena Rissa dan pot kedua untuk bunga verbena Sakha.
Sepasang mata Rissa berbinar-binar bahagia usai menancapkan lidi kecil yang sudah ditempeli sticky note berbentuk hati ke dalam pot. Menamai masing-masing pot pertama dan kedua dengan tulisan 'Rissa' dan 'Sakha'.
"Selamat pagi, Verbena RISKHA. Mulai sekarang dan seterusnya, aku yang akan merawat kalian. Jadi kalian harus tumbuh menjadi bunga yang indah, ya?"
Rissa beringsut dari balkon kecil kamarnya usai memastikan kedua bibit persemaiannya akan mendapat sinar matahari yang baik. Ia harus bersiap-siap berangkat ke sekolah sekarang. Untuk sementara ini ia akan berangkat ke sekolah dengan angkot selagi menunggu motornya selesai diservis sama Mas Damar, tetangga dekat rumahnya yang punya usaha bengkel motor.
Sebenarnya Rissa bisa saja nebeng bareng mamanya, karena lokasi sekolah Rissa dan rumah sakit mamanya berada dalam satu arah. Akan tetapi, itu berarti Rissa sudah harus berangkat satu jam sebelumnya kalau mau ikut perjalanan semobil dengan mamanya.
Ya kali Rissa mau sampai di sekolah bahkan mungkin sebelum gerbangnya dibuka sama Pak Aman, satpam penjaga sekolah yang sesuai namanya bertugas menjaga keamanan lingkungan sekolah. Anti termakan suap siswa-siswi bermodal seribu satu alasan yang minta dibukakan gerbang di atas batas jam toleransi, tetapi justru gampang termakan rayuan gombal saat dibilang mirip Lee Min Ho, aktor terkenal asal Negeri Ginseng sekaligus ambasador produk kopi yang suka dinikmati Pak Aman setiap pagi. Padahal Pak Aman tidak ada mirip-miripnya dengan Lee Min Ho, kecuali saat dirinya menikmati kopi secara dramatis sambil bergaya mengucapkan 'masita' ala Lee Min Ho di iklan kopi itu.
Baru saja setengah perjalanan angkot, seluruh penumpang terpaksa diturunkan ketika kendaraan umum yang semestinya bisa mengantarkan para penumpangnya ke tempat tujuan masing-masing itu malah kena mogok. Alhasil, para penumpang dihadapkan pada pilihan menunggu sopir angkot memperbaiki mesin angkotnya atau berpindah alat transportasi lain.
Rissa termasuk orang yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi dalam situasi di mana ia harus bisa sesegera mungkin sampai di sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Ia sudah membuang lima belas menit waktunya menunggu angkot lain yang menuju rute sekolahnya. Namun, selama itu juga belum ada satu pun yang datang. Kini jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya hampir menunjukkan pukul tujuh.
Duh, apa yang harus ia lakukan? Di pinggir jalan ini ia hanya bisa berdiri dengan cemas sambil celingukan tidak keruan.
Keresahan Rissa mulai mencapai puncak ketika ia memikirkan lima belas menit kedua sisa waktunya sebelum gerbang sekolah ditutup. Dan tentu saja lima belas menit tidak akan tetap selamanya lima belas menit kalau ia terus membuang-buang setiap detiknya di tempat ini.
Tahu begini, mending tadi ia berangkat pagi-pagi sekali saja bareng mamanya. Lumutan, lumutan deh, yang penting sudah sampai di sekolah daripada lumutan tidak jelas di pinggir jalan begini.
"Wah, pagi-pagi udah ada yang mau bolos aja!"
❤
Rissa terkesiap mendapati suara cowok yang sepertinya tidak asing itu. Apalagi kalau mendengar nada-nada meledeknya. Ia berani bertaruh dikentutin gajah jika salah menebak siapa cowok yang datang itu.
"Eh, kalau mau bolos jangan masih kentara pakai seragam sekolah gitu. Terciduk Satpol PP awas nanti, lho."
Rissa menoleh sebal Kenzie yang semakin meledeknya tanpa keluar dari mobil dan hanya menurunkan kaca pintu dari jok penumpang belakangnya saja.
Soal Kenzie dan keluarganya, mama Rissa sudah menceritakan semuanya. Karena kesibukannya di rumah sakit, mama Rissa baru sempat bercerita tentang keluarga yang sudah menempati rumah lama mereka itu.
Kemarin malam pula mamanya mengungkapkan kegembiraan hatinya saat mengetahui kalau Rissa sudah bertemu Kenzie. Mamanya terus saja menyanjung Kenzie, padahal Rissa sudah mati-matian mengadu tentang betapa menyebalkannya cowok itu.
"Ada-ada saja kalian ini. Masa' berantem cuma gara-gara bakso? Seperti anak kecil saja. Rissa, Kenzie itu putra teman baik mama. Yang mama lihat, Kenzie itu anaknya baik dan sopan sama orang tua. Coba saja kamu mengenalnya secara lebih dekat lagi. Om Adhib juga sudah bicara sama mama kalau nantinya Kenzie jadi masuk ke sekolah yang sama denganmu, sehingga artinya kamu pun jadi bisa punya banyak kesempatan mengenal Kenzie di sekolah. Kalau mama dan Om Adhib saja bisa berteman baik, kenapa kalian tidak? Toh, Kenzie juga ganteng, kan?"
Seperti itulah tanggapan mamanya kemarin malam. Sebelas dua belas dengan apa yang dituturkan Bi Uti. Tapi Rissa sulit berjanji kalau ia akan bisa berteman dengan Kenzie.
"Bolos gundulmu! Mata kamu belum melek ya sampai nggak bisa membedakan yang mana mau sekolah dan yang mana mau bolos?" gerutu Rissa.
Nah kan, bagaimana bisa berteman kalau baru ketemu lagi saja sudah bikin senewen? Enak saja Rissa dikatain mau bolos. Dan sejak kapan Satpol PP mengurusi anak-anak bolos sekolah?
"Memangnya kamu lihat aku lagi merem?" balas Kenzie dengan wajah tanpa dosa.
"Udah deh, daripada kamu bikin aku makin bete, lebih baik kamu pergi aja sana dari hadapanku!" usir Rissa habis kesabaran.
"Kamu yakin nggak lagi nunggu tumpangan?"
"Itu kamu nawarin?"
"Nggak. Cuma nanya."
Rissa berjengit keki. Cowok itu benar-benar memancing emosinya, dan sayangnya Rissa tidak bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi, sejenak kemudian Rissa melihat pintu geser mobil yang dinaiki Kenzie terbuka.
"Sini, cepetan naik," titah Kenzie.
Alis Rissa terangkat tidak percaya melihat Kenzie membukakan pintu mobilnya. Apa itu maksudnya Kenzie menyuruh Rissa masuk?
"Hei, mau naik nggak? Atau memang beneran udah ada niatan mau bolos?"
Suara Kenzie menyadarkan Rissa kalau ia masih bergeming di tempatnya. Namun, bukannya menurut, ia malah membuang muka. "Nggak perlu. Aku bisa naik angkot sendiri."
"Terus, mana angkotnya? Nggak ada juga kan dari tadi? Memangnya kamu nggak mikir ini udah jam berapa?"
Benar juga. Kalau dipikir-pikir sedari tadi angkot rute ke sekolahnya tiada memberi kepastian kapan akan lewat.
Dalam hati, Rissa menimbang-nimbang ucapan Kenzie. Jujur saja ia tidak mau sampai terlambat atau bolos sekolah. Hei, ia ketua kelas. Teladan bagi seluruh rakyat di kelasnya. Di dalam halaman kamusnya tidak ada kata terlambat, apalagi bolos sekolah. Terutama yang paling penting hari ini ada upacara bendera. Ketahuan terlambat ikut upacara, siap-siap saja kena setrap Bu Fani, guru piket paling galak.
Inikah artinya ia harus menerima tawaran cowok itu?
"Kelamaan mikir kamu. Ya udah, kalau kamu nggak mau naik, aku tinggal. Aku nggak mau ikutan telat cuma untuk nungguin kamu mikir." Kenzie mulai serius. Ia juga rada cemas melihat jam tangannya. Yang benar saja sebagai siswa baru ia sudah berani terlambat di hari pertama?
"Eh-eh, tunggu!" cegah Rissa sebelum pintu geser mobil otomatis itu sukses tertutup untuknya. Ayo, Rissa ... buang dulu gengsimu. Cowok itu satu-satunya harapan. "Oke, aku ikut."
Duduk di dalam mobil, Rissa merasa lega karena risiko keterlambatannya akan jauh lebih berkurang. Namun, ia masih tidak menduga kalau Kenzie akan jadi sebaik ini. "Kok kamu jadi baik sama aku?" Pertanyaan itu terlontarkan juga.
"Jangan ge-er dulu. Aku cuma lihat tadi kamu kayak orang hilang di pinggir jalan. Takutnya ada wartawan khilaf yang meliput muka melas kamu. Nggak lucu kan kalau tiba-tiba muncul berita di koran, 'Seorang Gadis SMA Ditemukan Keliaran di Pinggir Jalan, Padahal Dia tidak Sedang Berjualan Gorengan Keliling'. Jadi sebelum itu terjadi dan biar muka melas kamu tadi nggak menuh-menuhin kolom di surat kabar, makanya aku mencoba menyelamatkanmu melalui tumpangan istimewaku ini."
Rissa terperangah mendengar jawaban nyeleneh cowok itu. Seharusnya ia tidak usah bertanya saja tadi. Seharusnya ia tidak usah percaya kalau cowok itu sudah berubah baik. Sekali menyebalkan, tetap menyebalkan.
Lalu keduanya tidak saling bersuara lagi. Rissa sibuk mengomel tidak jelas dalam hati, sementara Kenzie sibuk dengan ponselnya, membalas chat papanya.
[Atharva Kenzie]
Iya, Pa ... nih anaknya udah sama Kenzie.
Kenzie mendesah malas di depan layar ponselnya. Permintaan papanya agar 'menjemput' Rissa sudah ia laksanakan.
Ya, semua berawal dari papanya Kenzie yang tanpa sengaja melihat Rissa diturunkan oleh angkot di pinggir jalan. Tadinya papa Kenzie sendiri yang mau menawarkan tumpangan. Namun, karena sudah ditunggu meeting penting, papanya jadi malah mengutus Kenzie untuk menjemput Rissa.
Tentu saja awalnya Kenzie ogah-ogahan. Akan tetapi, biar kata kadang susah diatur, slengean, dan suka membuat masalah, Kenzie itu paling tidak bisa membantah kalau sudah papanya yang meminta.
Karena itu demi papanya, Kenzie yang seharusnya sudah mau sampai sekolah, mendadak harus meminta Pak Mahmud putar arah lagi hanya demi menjemput Rissa di pinggir jalan itu.