KURANG dari lima menit sebelum bel masuk berbunyi, MPV hitam itu sudah berhenti di depan gerbang sekolah. Itu juga setelah Kenzie meminta Pak Mahmud sedikit mengebut dan melupakan pesan papanya sebelum berangkat tadi.
Mau bagaimana lagi, gara-gara papanya juga kan yang mengutus Kenzie menjemput 'Tuan Putri' itu waktunya jadi mepet untuk sampai ke sekolah. Untungnya Pak Mahmud mempunyai kelihaian menyetir setara pembalap F1, sehingga Kenzie dan Rissa tidak perlu terlambat.
Rissa baru akan turun dari mobil ketika tiba-tiba bahunya terjingkat dan menyadari kalau ia belum mengenakan sesuatu yang nyaris terlupakan di kepalanya. Buru-buru cewek itu mengeluarkan sehelai kerudung berwarna putih dari dalam tas, lalu dengan cekatan menutupkan pada rambutnya yang sudah dikuncir ke belakang.
Melihat tindakan Rissa tersebut, Kenzie yang tadinya juga hendak turun dari mobil jadi sejenak mengalihkan perhatiannya ke arah cewek itu. Ia memiringkan kepalanya ke sisi kiri sembari mengingat sesuatu.
Benar juga, kemarin di tukang bakso, Kenzie bertemu Rissa yang memakai kerudung. Namun, pagi ini Kenzie ternyata baru sadar melihat Rissa tanpa kerudung sebelum cewek itu tengah memakainya sekarang. Aneh, berhijab kok seperti pintu lift. Buka-tutup.
"Kamu pakai kerudung?" Nada aneh bercampur ragu terdengar dalam pertanyaan Kenzie.
"Kamu nggak lihat baju seragamku panjang-panjang gini?" Hanya membalas Kenzie dengan santai, Rissa tidak menghentikan kesibukannya melipat-lipat kain kerudung sesuai bentuk yang diinginkannya.
Kenzie memang dapat melihat baju seragam yang dikenakan Rissa terdiri dari kemeja putih berlengan panjang dan rok rempel abu-abu yang panjang pula. Sejauh pantauannya terhadap para siswi lain yang berduyun-duyun memasuki gerbang sekolah pun dapat dibedakan dari tipe seragam yang mereka kenakan. Yang tidak pakai kerudung mengenakan seragam pendek, sementara yang pakai kerudung mengenakan seragam panjang. Dilihat dari panjang-pendeknya seragam, Rissa termasuk tipe kedua, tetapi kerudung tidak terpakai dari rumah. Nah, jadi bingung, kan?
"Makanya kerudung itu dipakai dari rumah napa?" kata Kenzie yang masih memerhatikan Rissa kocar-kacir mencari jarum pentulnya.
"Kamu gampang bilang begitu, karena kamu cowok nggak perlu pakai ginian. Nggak merasakan gimana gerahnya pakai kerudung, sih," sahut Rissa.
Masih menjadi kebiasaan Rissa sejak mulai berhijab—yang sebenarnya berhijab karena dipaksa mamanya—ia masih enggan memakai kerudungnya dari rumah. Mengganti seragam pendeknya dengan yang panjang saja sudah membuatnya gerah dan ribet, apalagi ditambah kerudung.
Rissa baru memakai kerudungnya setelah sampai sekolah. Biasanya di parkiran motor atau di toilet sebelum masuk kelas. Begitu pun sepulang sekolah. Kalau Rissa masih betah berkerudung, ia akan memakainya sampai pulang ke rumah. Sebaliknya kalau keburu tidak betah, copot saja di jalan.
Kenzie hanya memutar bola matanya mendengar alasan Rissa. Cuma karena gerah begitu jadi seenaknya buka-tutup hijab? Setahu Kenzie, Tante Shafira—uminya Sakha—yang bahkan selalu mengenakan gamis serta khimar yang gedenya sampai hampir menyentuh betis itu adem-adem saja dengan pakaiannya. Lha ini Rissa cuma pakai kerudung tipis, tapi ngeluhnya minta ampun.
"Aneh, berhijab kok buka-tutup," desis Kenzie sebelum memutuskan keluar duluan dari mobil. Ah ya, Kenzie baru ingat cewek itu kan memang aneh sejak awal.
Rissa tidak mengacuhkan apa yang baru saja dikatakan Kenzie. Sebenarnya ia memang tidak mendengar perkataan Kenzie karena perhatiannya masih sibuk menyematkan jarum pentul.
Sementara itu, Kenzie yang berjalan di selasar gedung utama SMA Bina Karisma tengah menikmati perasaan bahagianya. Akhirnya ia bisa merasakan juga bersekolah di Indonesia, lalu bertemu guru-guru dan teman-teman baru nantinya. Ia harap akan memiliki kenangan yang tak terlupakan selama setahun ke depan nanti di sekolah ini.
Langkah Kenzie tiba-tiba terhenti begitu ia sampai di persimpangan. Kepalanya menengok kiri-kanan beberapa kali hingga berhenti pada posisi miring ke sisi kiri. Kerutan dalam tercetak di keningnya. Pertanyaan yang kemudian tebersit dalam hatinya adalah di mana letak ruang kepala sekolah.
Tidak, Kenzie bukannya tidak tahu. Ia hanya ragu, apakah kemarin itu mengambil arah utara atau selatan pada saat datang mendaftar ke sekolah ini diantar papanya.
Waktu itu saking senangnya melihat-lihat pemandangan bakal sekolah barunya, ia sampai tidak memerhatikan jalan dan hanya mengekori papanya dan seorang guru yang memandu. Terlebih saat itu koridor sedang sepi karena masih jam pelajaran. Tidak seperti sekarang yang terlihat ramai oleh kedatangan siswa-siswi.
Sebentar, mungkin ia bisa sedikit menggunakan analisisnya. Koridor sebelah utara begitu ramai siswa-siswi. Mereka yang baru datang juga kebayakan langsung menuju ke arah koridor utara. Sedangkan koridor selatan cenderung sepi lalu-lalang siswa-siswi. Kemungkinan yang lebih sering lewat koridor selatan adalah para guru maupun staf, karena memang di situlah letak ruang guru dan kepala sekolah.
Aha! Jadi sudah jelas ruang kepala sekolah ada di ....
"Sebelah selatan. Jalan lurus sampai ketemu UKS. Terus belok kanan. Ruang kepala sekolah ada di depan ruang guru."
Sontak Kenzie menoleh asal suara itu. Rissa yang sudah berpenampilan dengan kerudungnya tahu-tahu berdiri di sampingnya.
"Petunjukku nggak menyesatkan. Tapi kamu jangan ge-er dulu. Aku bantu kamu kasih petunjuk karena takutnya nanti ada anak jurnalistik kelewat khilaf mau meliput muka plonga-plongomu itu yang udah kayak anak hilang. Jadi sebelum muka plonga-plongo kamu itu menuh-menuhin kolom majalah sekolah, aku kasih tunjuk ruangan yang mau kamu tuju."
Sial, cewek itu ceritanya sedang membalas, ya. Kenzie menatapnya dengan dongkol. "Eh, tanpa kamu beritahu, aku juga udah tahu ruangannya kepala sekolah!" semburnya.
Rissa hanya mencibirkan bibirnya sambil memberikan pandangan 'nggak percaya aku tuh' dengan mata menyipit.
"Aku tadi memang udah mau jalan ke arah selatan, kok." Entah kenapa nada bicara Kenzie malah terdengar seperti sedang berusaha menjelaskan situasi yang sebenarnya. Seperti anak TK yang tertangkap basah oleh guru mengompol di celana dan membela diri kalau tadi ia sudah mau pergi ke toilet, tapi dasar pipisnya saja yang keburu keluar. Kenzie menutup mulutnya dan baru sadar kenapa ia harus repot-repot menjelaskan segala ketika cewek di sebelahnya sudah terkikik geli.
"Terserah kamu aja. Pokoknya aku anggap sekarang kita impas. Jadi aku nggak ada utang makasih lagi atas tumpangan istimewamu tadi." Rissa tersenyum manis sambil menepuk bahu Kenzie dua kali. "Ingat baik-baik ya, Dek, jalan lurus ke selatan sampai ketemu UKS. Terus belok kanan. Ruang kepala sekolah ada di depan ruang guru. Ada tulisannya, kok. Ruang-Kepala-Sekolah. Hati-hati, jangan sampai nyasar."
Rissa terkekeh puas dengan ucapannya yang berhasil membuat tampang Kezie dua kali lipat lebih dongkol. Ia lalu memutar tubuhnya dan mulai melangkah ke arah koridor utara menuju kelasnya sebelum Kenzie yang megap-megap seperti ikan nyasar ke daratan itu hendak menyemprotnya.
"HEI, UDAH KUBILANG AKU TAHU RUANGANNYA! DAN ASAL KAMU TAHU YA, INGATANKU ITU SEHEBAT INGATAN GAJAH. AKU MASIH INGAT TANPA PERLU KAMU ULANGI."
Tanpa memedulikan teriakan Kenzie, Rissa terus berjalan santai. Namun, beberapa langkah kemudian, ia tertarik untuk berhenti dan kembali menghadap cowok itu. "Oke, Gajah, kalau kamu juga ingat ini, nanti sampaikan pada kepala sekolah supaya kamu jangan dimasukkan ke kelas yang sama denganku."
"EH, MACAN JELEK, KAMU PIKIR AKU JUGA MAU APA SEKELAS DENGANMU?!" seru Kenzie sebelum Rissa berlalu tanpa mengindahkannya lagi. Ia pun hanya bisa mencak-mencak tidak keruan di tempatnya.