Ingatan Gajah

2681 Words
"TUMBEN tadi datangnya mepet upacara, Ris?" ujar Kinar kepada Rissa di kelas usai mereka mengikuti upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap hari Senin. "Kirain kamu nggak masuk hari ini." Rissa mengempaskan pantatnya di kursi, bertopang dagu, lalu mendesah panjang. Diceritakan kisah paginya hari ini dimulai dari angkotnya yang mogok, sehingga Rissa dan penumpang lain terpaksa diturunkan di jalan, sampai dengan cowok tetangga baru kompleks perumahannya yang sudah berbaik hati memberikan tumpangan istimewanya itu. "Aku harap nggak sekelas sama dia," cetus Rissa di akhir ceritanya. "Hati-hati lho, Ris. Jangan kelewatan benci sama orang. Bisa jadi kamu malah suka sama dia," nasihat Kinar. "Suka? Nggak mungkin lah!" Rissa mengibaskan sebelah tangannya dengan cepat dan cepat pula menambahkan, "Nggak mungkin aku suka sama cowok kayak gitu." "Iya deh, yang sukanya sama Sakha." Muka Rissa seketika bersemu merah. Dengan cepat mood-nya berubah hanya dengan mendengar nama Sakha. Kenyataan dirinya menyukai Sakha, memang tidak Rissa tutup-tutupi dari dua sahabatnya, Kinar dan Rumaisha. Apalagi Rumaisha. Mentang-mentang Rumaisha tinggal satu kompleks perumahan dengan Sakha dan sudah mengenal baik cowok itu, Rissa jadi lebih gampang mengorek keterangan tentang Sakha. Namanya Sakha. Lengkapnya Sakha Avaqi Umaro. Putra tunggal Ustaz Dr. Hanif Umaro, Lc., M.A., seorang pendakwah merangkap dosen sekaligus penulis buku spiritual yang masih berdarah Arab dari keturunan Umaro. Saat ini pun Ustaz Hanif turut memimpin SDIT Umaro yang diamanatkan kepada beliau. Sebagai anak ustaz, Sakha itu selain pandai mengaji juga sering membantu abinya mengajar mengaji anak-anak di masjid yang dibangun atas wakaf keluarganya. Rutin setiap Kamis malam Jumat mengikuti tausiah pengajian yang dipimpin Ustaz Hanif. Satu bulan lalu saat hari ulang tahun Rissa yang ke-17, Rissa harus menepati janji yang dibuat dengan mamanya untuk mulai berhijab. Satu bulan lalu untuk pertama kalinya juga Rissa diajak mamanya pergi ke pengajian. Satu bulan lalu yang menurut Rissa pengajian itu membosankan, seketika pendapatnya berubah setelah melihat Sakha. Wajah Sakha yang mirip dengan seorang anak kecil yang ditemuinya sepuluh tahun lalu. Rissa menyebutnya Ava, malaikat penolongnya. Lalu seiring berjalannya waktu, Rissa jadi rajin datang ke pengajian hanya demi bisa bertemu Sakha. "Oh ya, Rumaisha mana?" tanya Rissa begitu menyadari meja di sebelah kanan Kinar masih kosong. Meja yang ditempati Rumaisha. Tiba-tiba ia juga baru tersadar tidak mendapati Rumaisha saat upacara tadi. "Loh, kamu nggak di-chat dia? Hari ini dia izin nggak masuk lagi. Tadinya sih udah mau berangkat. Tapi bundanya masih khawatir. Jadi sama bundanya disuruh jangan masuk dulu hari ini," balas Kinar sambil menyiapkan buku-buku dan peralatan tulisnya di atas meja untuk jam pelajaran pertama. Rissa mengecek ponselnya dan baru menyadari ada satu pesan masuk dari Rumaisha yang belum ia buka. Setelah membalas sekadarnya, ia lalu meraih tasnya dan ikut mengeluarkan buku catatan, textbook, berikut alat tulis yang diperlukan. Tiba-tiba dari arah pintu kelas, terdengar suara gaduh orang berlarian dan sekarang orang itu sudah berdiri dengan napas tidak beraturan setelah menubruk meja Rissa. Kepala Rissa menengadah seorang cowok tinggi, kurus, berkulit hitam manis, berambut klimis, dan juga mempunyai hobi mengenakan kacamata yang berbeda-beda warna setiap harinya itu. Hari ini kacamata berbingkai bundar warna kuning yang dipilihnya. "Apaan sih, Juk, datang-datang main nubruk meja orang aja?!" omel Rissa ketika membenarkan letak mejanya yang sempat terderak karena kena dorongan tubuh Juki. "Habis dikejar-kejar tagihan Pak Min lagi, ya?" Usai upacara memang ada jeda waktu sekitar lima belas menit sebelum memasuki jam pelajaran pertama. Biasanya anak-anak menggunakan kesempatan itu untuk ke kantin atau sekadar merumpi tak bermutu di kelas tetangga. "Hh ... urusan Pak Min ... udah aku ... hh ... lunasin kemarin. Tinggal ... hh ... mi ayamnya Bu Markonah aja ... yang belum ...," sahut Juki agak tersendat-sendat karena napasnya yang belum terkontrol. Kinar memutar duduknya. "Wah, hati-hati kamu, Juk. Bu Markonah kan baru aja merekrut 'algojo' baru. Kamu tahu si Bono yang badannya kayak pesumo itu, kan? Nah, sekarang dia yang ditugaskan Bu Markonah nagihin anak-anak yang pada ngutang mi ayamnya. Termasuk kamu gitu. Namamu kan udah masuk ke hampir semua black list stand makanan di kantin kita." "Tenane? Si Bono sekarang jadi algojo barunya Bu Markonah?" "Ngapain juga aku bohong? Nggak ada untungnya. Mending kamu pikirin gimana cara melunasi utang-utangmu itu sebelum si Bono gencet badan kerempengmu jadi kayak teri penyet. Tinggal dicocol sambal ditambah lalapan terong sama daun kemangi. Dimakan bareng nasi yang masih kemebul anget-anget. Masita ...." "Jangan ngomongin makanan. Kasihan yang lagi puasa sunah Senin Kamis." Juki menjitak kepala Kinar dengan buku tulis Rissa yang digulungnya. "Ya udah, aku pinjam duit kamu dulu, deh." "Emoh. Duit yang kemarin kamu pinjam aja belum kamu bayar. Sekarang mau pinjam lagi. Kamu pikir mamiku kasih aku uang jajan buat dipinjamkan ke kamu? Salah sendiri kamu punya uang jajan, tapi dipakai buat berburu kacamata di olshop mulu. Kamu sendiri kan jadinya yang repot." Juki manyun. Ia beralih menatap Rissa yang baru saja menguap acuh tak acuh. "Apa? Mau pinjam duit aku?" terka Rissa yang sudah tahu arti tatapan memelas Juki ditambah cengiran kudanya itu. "Nanti, nunggu aku jadi istri sultan dulu." "Yah, kok gitu sih, Ris? Kalau aku keburu digencet si Bono gimana?" keluh Juki sambil melompat-lompat kecil seperti anak cewek melihat tikus di lantai. "Ya itu derita kamu keles," sahut Kinar terkekeh geli juga. "Huh, kalian pada tega ya sama aku!" Juki buang muka sebal. Kinar mencibir. "Lagian, kenapa nggak kamu jual lagi aja kacamatamu yang udah segunung plus yang bentuknya aneh-aneh itu? Toh, itu kacamata juga nggak bikin muka kamu tiba-tiba berubah jadi kayak Daniel Radcliffe." "Eh, Kinong, gitu-gitu aku mendapatkannya pakai usaha, tahu. Enak aja kamu main bilang jual-jual aja. Memangnya kamu mau benda kesayanganmu, aku suruh jual?" repet Juki. Aksi perdebatan Kinar dan Juki tak pelak mendapatkan perhatian anak-anak lainnya yang turut menyumbang tawa maupun komentar. Rissa mendesis dan mengelus-elus dahinya dengan telapak tangan. Kelas XI IIS-3. Yah, beginilah kelasnya. Tak punya rem dalam dunia 'tarik suara' dan selalu bahu-membahu menciptakan ingar bingar kehebohan. Asli, kelas ini terlalu berbahaya untuk diisi anak-anak alim dan pendiam. Sekali pecah satu suara ... DUARRRR! Dijamin kelas ini akan meledak seperti petasan. Tapi beginilah cara kelas XI IIS-3 membangun kekompakan. "Aduuuh ... udah deh, kalau kalian mau ribut terus jangan di dekat mejaku!" seru Rissa menghentikan ulah kekanak-kanakan Juki dan Kinar. Nyatanya bukan cuma mereka yang jadi diam, tetapi suasana kelas juga langsung hening, sehening malam tiada berbintang. Hm, auman sang Ketua Kelas XI IIS-3 ini ternyata lebih berbahaya dari macan kelaparan. "Ini nih, gara-gara si Kinong." Juki menonyor dahi Kinar dengan telunjuknya yang lentik. Tadinya Kinar ingin membalasnya, tetapi ia batalkan. Ia cuma mendelik dan mengangkat kepalan tangannya sebagai tanda ancaman pembalasannya akan berlaku lain kali. Juki mengabaikan Kinar ketika ia teringat tujuannya semula yang begitu heboh memasuki kelas adalah untuk menanyakan sesuatu kepada Rissa. "Oh ya, Ris, aku baru ingat mau tanya ke kamu." "Tanya apa?" Rissa menyangga kepalanya dengan sebelah tangan. "Itu, yang jalan sama kamu di koridor tadi lho, Ris." Rissa refleks terkejut sampai kepalanya nyaris jatuh kalau ia tidak cepat-cepat menegakkan badan. Ia langsung paham akan mengarah ke mana maksud perkataan Juki itu. "Yang sama kamu tadi anak baru, kan? Tadi aku lihat dia masuk ruang kepala sekolah," lanjut Juki. "Eh, yang benar ada anak baru? Cewek atau cowok, Juk?" serobot Kevin yang rupanya juga mendengar ucapan Juki. "Cowok. Gantengnya sih sebelas dua belas gitulah sama aku," balas Juki menunjukkan pose cover boy-nya yang justru dihujani sorakan panjang dan lemparan bola-bola kertas yang entah sudah anak-anak persiapkan sejak kapan. Kevin menoyor keras bahu Juki sampai badan kurus cowok itu terdorong ke depan dan bibirnya nyaris mencium permukaan meja Rissa. "Huh, dasar Kecap Asin. Kirain cewek. Lumayan kan buat kita para cowok jadi penyejuk mata." "Tul. Habisnya stok anak-anak cewek di sekolah kita udah pada burem," imbuh Vino, gamer sejati yang kapan pun ada waktu pasti tak mau lepas dari pacar tercintanya (baca: gadget). "Aku pula nak cakap cak tu. Sedihlah aku. Aida cugak nian, cak mano aku nak dapet gebetan baru?" timpal Haikal. "Heh, enak aja kalian ngatain kami para cewek udah pada burem. Kalian aja yang matanya suka jelalatan tiap kali lihat cewek cantik dikit aja!" semprot Cheesi, artis kelas yang hobi dandan. Makanya ia tidak terima dikatakan burem. "Haikal, daripada kamu sedih gitu, kan masih ada aku. Aku bisa kok bikinin kamu pempek kapal selam setiap hari kalau kamu mau jadi gebetan aku." Si gendut Tutik yang sudah naksir berat sama Haikal—cowok asli Palembang—itu berkedip-kedip genit. "HUUUUUU ...!!!" sorak anak-anak cowok di barisan belakang sampai membahana ke langit-langit kelas. Alhasil, kelas didominasi ledekan anak-anak cowok yang merasa mereka sudah paling ganteng saja sedunia. Sementara anak-anak cewek cuma mendesis kesal, terlebih Tutik yang manyun bebek di pojokan bareng resep pempek kapal selamnya. Sampai akhirnya .... "WOY, PADA DIAM KALIAN SEMUA!" hardik Diara, si bendahara kelas. Ia berdiri dari duduknya dengan tangan kiri berkacak di pinggang dan tangan kanan menunjuk nyalang segerombolan anak cowok yang masih pada ngakak itu. "Awas aja ya, kalau kalian berani meremehkan kami—para anak cewek—jangan harap tugas prakarya nanti yang dananya diambilkan sebagian dari uang kas bakal aku keluarkan buat kalian, kecuali kalau tiap minggu kalian bayar iurannya dua kali lipat." Dalam sekejap, bahana tawa kelompok cowok itu lenyap tak berbekas bak debu tersapu angin. Mereka lebih memilih tidak berurusan dengan si emaknya IIS-3 itu daripada jatah keperluan mereka diboikot. Sedangkan di sisi lain, cewek jutek berkacamata sudut tajam seperti mata kucing itu manggut-manggut puas setelah mengeluarkan ultimatumnya. Di kelas XI IIS-3, Diara dan Rissa adalah dua cewek paling diibaratkan monster yang selalu muncul di episode Ultraman. Mereka sama-sama memiliki aura menerkam yang mampu membuat lawannya mengeret seketika. Kalau Diara lebih gamblang mengeluarkan amukannya, maka Rissa hanya dengan suara angkernya sudah cukup membuat orang lain tak berkutik. "Tapi, Ris, memangnya kamu kenal sama anak baru itu?" tanya Cheesi dari bangku paling depan. Berkat pertanyaan Cheesi yang tepat sasaran itu, anak-anak cewek lainnya secara serentak menyeret perhatian mereka ke arah Rissa. Mereka mulai berdengung seperti para reporter gosip mengejar pemberitaan dari artisnya yang terlibat skandal. "Dia itu orang paling tengil dan paling nyebelin yang pernah aku temui," dengkus Rissa menjawab asal. Giliran anak-anak cewek mengheningkan cipta. Wajah-wajah cengo terpasang di mana-mana. Bahkan semut-semut yang berbaris di dinding pun sampai lupa ada kerja bakti gotong royong mengangkut gula. Namun, tidak butuh waktu lama suasana kembali normal (garis miring: kembali merumpi tak berfaedah sembari menunggu guru memasuki kelas). "Ssstt! Bentar, deh," bisik Rissa, menarik bagian belakang baju seragam Juki ketika cowok itu hendak beranjak ke mejanya yang terletak persis di belakang meja Rissa. Diayun-ayunkannya kelima jari tangannya agar Juki menurunkan kepalanya. Kemudian Rissa kembali berbisik di dekat telinga cowok itu. "Kamu tahu nggak kira-kira anak baru itu masuk ke kelas mana?" "Oh, soal itu ...." Belum selesai Juki meneruskan kalimatnya, Bu Anis selaku wali kelas sekaligus guru matematika yang akan mengajar di jam pelajaran pertama ini memasuki ruang kelas. Anak-anak yang tadinya berserakan di ruang kelas, kini dengan patuh sudah menata diri di tempatnya masing-masing sebagaimana para pelajar yang sadar pada sikap terpelajarnya. "Selamat pagi, Semua!" sapa Bu Anis. Ketika teman-temannya serempak membalas salam Bu Anis, hanya Rissa satu-satunya orang yang tidak membalas sama sekali. Serangkaian kata yang sudah sering diucapkannya untuk membalas salam guru paruh baya itu terkunci rapat oleh rasa terkejutnya begitu melihat seorang cowok yang menyusul masuk dan sekarang sudah berdiri tegak di samping Bu Anis. Cowok itu! Rissa merasakan punggungnya ditepuk seseorang dari belakang. Ia sedikit menolehkan kepala dan mendengar Juki berbisik padanya. "Itu dia yang aku maksud. Soal pertanyaan kamu tadi, aku sempat dengar kalau anak baru itu bakalan masuk ke kelas kita." ❤ Atharva Kenzie Hanggara. Pindahan dari Dubai International School, Dubai, United Arab Emirates. Begitulah Rissa mengingat Kenzie yang memperkenalkan dirinya di depan teman-teman sekelas. Sebuah perkenalan yang sempat memukau anak-anak sekelas. Khususnya para kaum cewek yang nyaris jejeritan heboh menyamai emak-emak kalau sudah mantengin aktor film India kesayangannya lagi gelut di layar kaca. Bagaimana tidak ketika mereka tahu ada kedatangan teman sekelas baru pindahan dari luar negeri plus cogan alias cowok ganteng pula. Kini Kenzie menempati meja kosong di deretan nomor dua dari kiri pada baris ke tiga. Seminggu yang lalu pemilik sebelumnya meja itu pindah sekolah. Meja itu tetap dibiarkan kosong karena anak-anak di urutan belakangnya tidak ada yang berminat menggeser duduknya satu meja ke depan. Menurut mereka terlalu merepotkan berpindah-pindah tempat duduk. Sampai Kenzie mengisi area kosong tersebut, mereka semua tidak ada yang keberatan. Oh, mungkin tidak juga. Sekiranya kehadiran seorang siswa baru itu tidak lebih menyenangkan untuk Rissa. Pasalnya ia dan Kenzie bukan hanya satu kelas, melainkan juga bersebelahan. Di antara sela-sela waktu pergantian pelajaran dari jam pertama ke kedua ini hampir digunakan teman-teman sekelas Rissa untuk mengajak Kenzie berkenalan. Terutama Kinar dan Juki yang sudah lebih dulu melipir dari meja mereka masing-masing demi mendekati Kenzie. Kinar menduduki bangku Rumaisha—bangku di depan meja Kenzie—yang kosong karena pemiliknya memang tidak masuk. Sedangkan Juki berdiri di samping kiri meja Kenzie dengan badan terbungkuk hampir sejauh 90° dan kedua lengannya disandarkan di atas meja Kenzie. Posisi Juki benar-benar tidak sedap dipandang Rissa. Bayangkan saja dengan berdirinya Juki di tempat itu, p****t tepos cowok itu justru menghadap sempurna ke meja Rissa. Mending enggak pakai megal-megol kayak bebek mandi di kali bulunya basah. Rissa yang masih sibuk menyalin tulisan di papan tulis ke dalam buku catatannya, diam-diam sebenarnya turut memantau teman-temannya yang kelihatan asyik mengajak ngobrol Kenzie. "Kenalin, aku Kinara Gladistia Permana. Panggil aja Kinar." "Kalau aku Marjuki Sasongko. Terserah kamu mau panggil apa. Panggil Juki Kyut juga boleh." "Ah, nggak usah peduliin dia, Kenzie. Semua anak di sini biasa panggil dia Kecap Asin, karena kulitnya item kayak kecap terus mukanya enek banget kayak ikan asin." "Apaan sih kamu, Kinong? Bilang aja kalau kamu ngefan aku. Sini, kalau mau minta tanda tanganku. Nanti kalau aku udah sukses jadi cover boy, tanda tanganku nggak diobral sembarangan." "Idih, cover boy apaan? Cover boy dunia laut kali." Kenzie tertawa kecil menyaksikan kelucuan cewek berbandana merah jambu dan cowok kurus berkulit hitam manis yang tengah mengajaknya berkenalan itu. "Ya Allah ya Rabbi, kenapa aku mesti sekelas sama dia?" celetuk Rissa. Merasa terabaikan, ditambah rasa dongkol melihat teman-temannya berakraban dengan Kenzie, membuatnya asal menyeletuk. "Maksudmu itu aku?" tanya Kenzie yang cukup peka. Rissa menolehnya. "Ya. Kenapa? Kamu nggak lupa kan kalau aku nggak mau kamu masuk kelas IIS-3?" "Tunggu, seingat ingatanku yang sehebat ingatan gajah ini, kamu cuma bilang nggak mau sekelas denganku. Kamu nggak menyebutkan kelasmu ini. Mana kutahu kalau IIS-3 adalah kelasmu?" "Jadi kamu mau meledekku, ya?" "Meledek apa? Aku yang benar, kenapa kamu yang sewot?" Rahang Rissa mengeras. Belum sehari saja cowok itu sudah membuatnya kesal. Apalagi jika harus menghadapinya selama di kelas sebelas, bahkan mungkin sampai di kelas dua belas nantinya? "Pokoknya kamu jangan dekat-dekat aku kalau kamu nggak mau aku kirim ke Bonbin Mangkang buat nemenin gajah-gajah kesayanganmu di sana." "Bonbin Mangkang? Apa itu?" tanya Kenzie. Kinar menyenggol lengan Kenzie. "Maksudnya Rissa itu kebun binatang yang letaknya di dekat terminal Mangkang." "Oh, seru juga tuh jalan-jalan ke Bonbin Mangkang. Sekalian lihat macan judes lagi ngamuk," ledek Kenzie yang malah merebus kuping Rissa. "Bener tuh, Ken. Aku juga suka kok foto-fotoin macan kalau pas lagi jalan ke bonbin," timpal Juki. "Biar kata mukaku itu cute, lucu, terus manis, tapi pada nggak nyangka kan kalau aku pemerhati hewan sesangar macan? Kamu mau lihat koleksi foto-foto macanku? Nih, ada macan sumatra, macan tutul, macan benggala. Nah, yang ini macan sumatra yang katanya habis lahiran. Kalau kamu butuh teman jalan ke bonbin, aku siap jadi pemandu, kok." Entah sadar atau tidak, Juki yang tahu-tahu ikut main nimbrung saja ke tengah 'medan perang' sudah menaikkan level kemuakan Rissa dari status waspada menjadi siaga. "Kalau macan di sana kayaknya lebih jinak daripada yang di sini. Makanya tadi ada yang bilang jangan dekat-dekat. Soalnya macan yang di sini memang judes, sih," sindir Kenzie masih berniat menggoda Rissa sambil sok sibuk mengamati foto-foto macan di layar ponsel Juki. Muka Rissa sudah merah padam dan aura panas seperti mengepul dari puncak kepalanya. Sementara Kinar yang diharapkan akan membelanya justru terlihat menahan tawa. Ya-ya, semua pada senang kali ya melihat Rissa jadi bahan ledekan cowok menyebalkan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD