K a r m a n e l o | LIMA BELAS

1230 Words
Angin berdesir, membuat rambut Bintang bergerak lembut. Di saat semua teman-temannya berbahagia menyambut kelulusan, melompat-lompat kegirangan sambil berpelukan di tengah lapangan,  ia terpekur diam, menatap pemandangan di depannya dengan senyum sedih. Sekali lagi, ia mengabaikan panggilan teman-temannya di kejauhan. Bintang sadar, kebersamaan mereka di sekolah, berakhir sudah. Perpisahan tengah menanti. Masing-masing dari mereka akan pergi, mengejar cita-cita ke tempat-tempat yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Tapi, rasanya sekarang, ia sungguh tidak bersemangat. Entahlah, Bintang tidak tahu kenapa ia bersedih hati. Harusnya ia turut senang, berlari ke lapangan, memeluk teman-temannya, dan mengucapkan selamat. Tetapi, yang dilakukannya sejak Kepala Sekolah mengumumkan mereka lulus 100%, duduk di kursi panjang dekat lapangan basket, diam, mendengar, dan mengamati dari jauh wajah-wajah bahagia teman-temannya. “Bebek! Ngapain di sini?” seru Jevilo tiba-tiba lalu menghempaskan tubuh di sebelahnya. Bintang menengok Jevilo yang nyengir lucu. “Ngapain sih di sini sendirian? Ke sana yuk, coret-coret!” kata Jevilo sambil mengocok botol pilox yang dipegangnya. “Males, ah.” Bintang menggeleng. “Kok gitu sih? Nggak asik, deh,” Jevilo mencebikkan bibir. “Jevi, bentar lagi aku pergi,” kata Bintang lirih. Jevilo terdiam. Jantungnya berdebar saat mengingat kalau hari itu sudah tiba. Hari di mana Bintang akan semakin jauh darinya. Bukan hanya dari hatinya, namun juga dari pandangannya. Bintang akan pergi ke Perancis untuk melanjutkan kuliah di sana. Pilihan yang tidak pernah Jevilo duga sebelumnya. “Bebek, boleh peluk nggak?” ucap Jevilo dengan wajah tertunduk dalam. Demi Tuhan, Bintang masih satu-satunya orang yang menempati hatinya dan ia masih tetap menyayangi Bintang setelah semua yang terjadi. Bintang merasakan sudut matanya perih. Sebelum air mata itu jatuh dan Jevilo melihatnya, Bintang menyelipkan tangannya ke punggung Jevilo. Tangis Bintang meledak waktu mendengar Jevilo membisikan ucapan selamat tinggal yang kembali menguak rasa bersalahnya. “Aku pasti kangen banget sama kamu. Baik-baik di sana. Ingat apa yang aku bilang, kita harus bahagia, meskipun nggak bersama. Aku ... masih sayang banget sama kamu. Love you ...,” Jevilo mengatakannya dengan tulus, dari hati. Ia bahkan tidak sadar kalau air matanya akan jatuh di bahu Bintang. Bahu yang selalu menjadi sandarannya di saat ia butuh dan rindu. “Maafin aku, ya, Jevi. Maafin aku yang nggak bisa jaga hati aku buat kamu. Aku ngebiarin orang lain masuk di antara kita. Aku udah coba buat buang perasaan itu jauh-jauh, tapi aku... aku nggak tau kenapa... aku nggak bisa ...,” Bintang terisak di pelukannya. Jevilo mengelus rambut Bintang dengan penuh sayang lalu mencium puncak kepalanya. "Kamu nggak salah, Bebek. Nggak ada yang salah sama orang yang jatuh cinta." *** Arjuna berhenti tertawa ketika melihat Bintang berdiri di hadapannya sambil tersenyum simpul. Di sekitar mereka murid-murid seangkatan mereka bersileweran dengan baju penuh coretan pilox warna-warni. Arjuna menengok seragam Bintang yang masih putih bersih tanpa coretan spidol mau pun cat pilox. "Hai," sapa Arjuna setelah membunuh jarak di antara mereka. Tanpa Arjuna duga, Bintang tiba-tiba memeluknya erat sambil menangis. "Maafin gue, ya, Juna." Arjuna menjatuhkan pilox ke tanah lalu melingkarkan tangannya di punggung Bintang. "Hem, gue yang salah. Gue yang salah udah berani sayang sama lo," ucap Arjuna penuh rasa bersalah. "Nggak ada yang salah...," ucap Bintang lirih. "Nggak ada yang salah sama orang yang jatuh cinta." Arjuna tertegun. Ia kemudian melerai pelukan mereka lalu menatap Bintang lekat-lekat. "Cengeng, kerjanya nangis mulu," Arjuna menyeka air mata Bintang dengan ibu jarinya. "Gue hari ini pergi," kata Bintang. Arjuna mengernyit. "Pergi. Ke mana?" "Perancis. Gue mau kuliah di sana. Mungkin, nggak bakal balik ke sini lagi." Senyum Arjuna pudar. Ia hanya menatap mata Bintang lekat-lekat, mencari kesungguhan dari kata-katanya. "Kok ... baru bilang?" Bintang tersenyum tipis, ia mengangkat bahunya lalu menjatuhkannya lunglai. "Gue rasa ada yang lebih penting dari itu yang harus gue bilang," katanya ragu-ragu. "Apa?" tanya Arjuna dengan jantung berdegup kencang. Bintang menyodorkan sesuatu yang dari tadi ia sembunyikan di balik punggungnya. Arjuna mengambilnya dengan kening berkerut samar. Ternyata selembar foto berisi gambarnya saat memeluk Bintang dari belakang. Arjuna masih ingat kapan foto itu diambil.  Ada sesuatu yang berdesir di d**a Arjuna ketika ia melihat tulisan di balik foto itu. I love you. "Bintang, lo—" Arjuna nggak melanjutkan ucapannya karena Bintang tiba-tiba hilang dari hadapannya. Saat Arjuna mendongak lebih tinggi, dilihatnya Bintang sudah berlari menuju gerbang. Cepat-cepat ia mengejarnya sambil berteriak meminta Bintang untuk berhenti. "Bintang lo mau pergi gitu aja, iya? Gue bilang berenti karena ada yang mau gue bilang juga!" seru Arjuna. Bintang berhenti. Saat ia berbalik, dilihatnya Arjuna sedang membuka seragamnya. "Buat kenang-kenangan. Suatu hari nanti, kalo lo kangen masa-masa SMA, lo bisa liat ini. Simpan semua kenangan yang pernah kita buat," kata Arjuna sembari tersenyum setelah menyerahkan seragamnya yang penuh coretan pilox ke Bintang. "Di sana juga ada tanda tangan temen-temen sekelas kita. Lo kan nggak punya, simpan punya gue," tambah Arjuna lagi. Bintang menatap seragam itu, lalu mendongak menatap Arjuna. Tepat saat ia melihat wajah Arjuna, ada sesuatu yang jatuh dari sudut mata cowok itu. "s**l!" Arjuna menarik tubuh Bintang dan memeluknya erat-erat. "Lo tau kan Bintang gue sayang banget sama lo. Entah mana yang lebih buruk, ngeliat lo sama Jevilo, atau lo pergi jauh dari gue." Bintang membenamkan wajahnya di d**a Arjuna dan menangis terisak di sana. "Maafin gue. Cuma ini yang bisa gue lakukan, Juna ...." Arjuna mendesis. Marah karena tidak bisa memiliki Bintang, marah karena gadis itu akan pergi jauh darinya, marah karena ia tidak bisa meminta Bintang untuk tetap tinggal. Marah karena Bintang tidak mempertahankan hubungannya dengan Jevilo. "Ini yang terbaik," lirih Bintang. Arjuna mendecakkan lidah, mengembuskan napas panjang. "Baik-baik di sana, ya, Bintang," kata Arjuna dan menarik tubuhnya. "Sampe ketemu lagi," ucapnya penuh harap. Bintang tersenyum tipis lalu mendongak menatap Arjuna yang juga tersenyum. "Gue udah ditungguin, gue pergi ya," kata Bintang. Arjuna mengatup bibirnya rapat-rapat. Bahkan saat sosok Bintang menghilang di balik gerbang sekolah, ia masih bergeming di tempatnya. Kehangatan yang tadi ada menguap ke udara, hilang, tidak berbekas. Arjuna merasa ada yang mencabik-cabiknya, luar dan dalam. Lagi-lagi, ada yang harus pergi. "Kalo lo mau, lo bisa nahan dia. Kenapa nggak lo lakuin?" seru Jevilo yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Gue tau lo masih sayang banget sama dia. Kita semua butuh waktu," balas Arjuna. Jevilo mengangguk setuju lalu merangkul pundak Arjuna. "Pulang, yuk, laper," katanya. Arjuna tersenyum. "Yuk." Setengah jam kemudian, saat mereka berdua duduk di teras rumah bersama Nagita, tampak di kejauhan pesawat yang Bintang naiki melintas di langit biru. Keduanya hanya diam sambil menatap  pesawat tersebut tanpa jeda. Diam-diam mengucapkan selamat tinggal dalam hati. "Kak, Kak, di langit itu ada apa sih?" tanya Nagita tiba-tiba. "Kok nanyanya gitu, Jelek?" Jevilo balik bertanya setelah mengalihkan pandangannya dari langit. "Iya, Nagita mau tau. Emangnya, di langit itu ada apa sih? Bunda bilang, suatu hari nanti, Bunda pasti pergi ke langit." Mendengar itu, Arjuna dan Jevilo saling pandang. "Kita semua juga pasti ke sana nanti, Dek," kata Arjuna sambil mengelus kepala Nagita. "Hem, gitu, ya? Gimana caranya?" tanya Nagita dengan polosnya. Jevilo menaruh jari telunjuknya sebagai tanda agar Arjuna tidak menjawab. "Bawel banget sih kamu, Dek," katanya lalu mencium dahi Nagita dengan sayang. Arjuna ikut mencium dahi Nagita. "Nagita bau, nih! Bau telur busuk!" "Aaa, enggak! Nagita wangi tauuu!" katanya merajuk. Melihat bibir Nagita yang mencebik, Arjuna malah cekikikan. Hari itu, Arjuna dan Jevilo merasakan rasa kehilangan yang sama banyaknya. Bintang sudah menentukan pilihannya. Pilihan yang mau tidak mau membuat mereka semua tersakiti namun juga lega secara bersamaan. Cinta memang tidak harus memiliki, bukan? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD