K a r m a n e l o| EMPAT BELAS

1401 Words
"Kak Juna?!" seru Nagita ketika melihat Arjuna masuk ke rumah diikuti Jevilo di belakangnya. Ia langsung menghambur ke pelukan Arjuna tepat saat kakak laki-lakinya itu membungkuk sedikit dengan tangan terentang, bersiap menyambut pelukannya. "Hei, kangen ya?" tanya Arjuna sambil berputar dua kali setelah Nagita berada dalam gendongannya. "Kangeeen!" jawab Nagita riang. Keduanya pun tertawa bersama. Saling melepas rindu. Jevilo tersenyum melihat kebersamaan itu. Inilah pertama kalinya ia masuk ke rumah dengan suasana hangat seperti sekarang. Suara tawa Nagita dan Arjuna yang menjadi satu, juga senyum bahagia Bunda yang sedang mengintip di kamarnya, membuatnya merasa ... entahlah. Apa kata yang tepat untuk menjabarkan perasaannya saat ini? Apa pun itu, ia berharap ini akhir dari semua perselisihan yang pernah ada di antaranya dan Arjuna. "Kak Juna pulang, hore!" Nagita bersorak sambil mencium pipi Arjuna. "Hehe, iya, dong. Bunda mana, Dek?" tanya Arjuna lalu menurunkan Nagita. Gadis itu menunjuk pintu kamar yang tiba-tiba tertutup saat Arjuna menoleh ke sana. "Samperin aja," kata Jevilo sambil menepuk pundaknya. Arjuna mengangguk dan mengayunkan kaki menuju kamar Bunda. "Kak Juna sama Kak Jevi pulang bareng, ya?" Jevilo tersenyum. "Iya. Jangan cemberut lagi, ya? Kan, Kak Juna udah balik lagi," katanya. "Oke, Bos!" kata Nagita lalu melingkarkan tangannya yang kecil di pinggang Jevilo. Jevilo menaruh tangannya di puncak kepala Nagita dan mengelus-elusnya dengan sayang. *** Arjuna melangkah masuk ke kamar Bunda setelah mengetuk pintu tiga kali. Dilihatnya wanita paruh baya itu duduk di kursi roda, membelakanginya. Arjuna tersenyum tipis dan mendekat diiringi debar jantungnya. "Bunda ...?" sapa Arjuna pelan. Bunda bergeming. Arjuna menarik napas dalam lalu memanggil lagi. "Bunda?" "Sudah pulang?" tanya Bunda, ia kemudian memutar kursi rodanya untuk menghadap Arjuna. "Sudah makan? Kemarin tidur di mana? Kenapa muka kamu babak belur begitu?" sambung Bunda dengan wajah cemas. Melihatnya, mau tak mau, Arjuna terkekeh. Ia menekuk lutut dan meraih jari-jari Bunda. "Makasih, ya, Bunda, udah minta Juna untuk pulang," ucap Arjuna seraya tersenyum haru. Bunda menelan ludahnya susah payah. Dengan sedikit gemetar, ia mengangkat tangan dan menaruhnya di puncak kepala Arjuna. "Bunda minta maaf," Hanya itulah kiranya yang bisa ia ucapkan, untuk saat ini. Untuk semua sikapnya, untuk semua kata-katanya, untuk semua ketidak-adilan yang pernah ia berikan. Ia ingin mengatakan semua tapi semua ucapan itu tertahan di ujung lidahnya. Hanya air mata pengganti katalah yang ia harap Arjuna mengerti. "Kita ... jalani semuanya bersama-sama, mulai dari hari ini," ujar Bunda. Arjuna tersenyum disertai anggukan. "Iya, Bunda," katanya lalu memeluk Bunda dengan penuh kasih sayang. Ia merasakan pelukan Bunda sama hangatnya seperti pelukan mamanya. Tulus, melegakan. Tanpa sadar, ia menangis karena bahagia. Setelah sekian lama merasa hidup sendiri dan tidak memiliki siapa-siapa, hari ini ia mendapatkan semuanya. Bunda, Nagita, Jevilo, juga sang ayah yang tadi pagi menghubunginya dan menanyakan kabarnya. Tuhan menepati janjinya, semua akan indah pada waktunya. Dan waktu itu sudah ada dalam genggamannya. Meskipun tidak semua dari yang ia harapkan bisa ia miliki. Dan itu ... Cinta. *** Hari berganti bulan. Rasanya begitu cepat waktu berlalu. Bintang kini dihadapkan dengan pilihan yang kembali datang padanya. Neneknya baru saja menghubunginya dan bertanya tentang keinginannya untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Apakah ia masih berminat atau tidak. Bintang tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi, ia ingin tetap di sini. Tapi, di sisi lain ia ingin pergi. Apalagi mengingat pesan terakhir yang dikirim Jevilo padanya bulan lalu. Bebek, untuk sekarang, lebih baik kita ... nggak usah komunikasi dulu. Oke... Jevilo tidak pernah lagi mengiriminya pesan, meneleponnya seperti yang biasa mereka lakukan sebelum tidur sejak pesan itu diterimanya. Dan itu sudah berlangsung selama hampir sebulan, tepat setelah kejadian di rumah Jevilo waktu itu. Bintang juga tidak pernah bertanya perihal maksud pesan singkat itu. Ia paham. Ia tahu sebesar apa rasa sakit hati itu. Jevilo pasti masih marah. Tapi, melihat caranya menatap Bintang ketika mereka berpapasan di sekolah, tidak ada kemarahan di matanya. Tatapannya selalu lembut dan tulus. Bintang rindu, tapi ia malu mengatakannya. Bukan hanya pada Jevilo, tapi juga pada Arjuna. Senyum Arjuna yang dilempar ke arahnya setiap pagi di kelas masih terpatri di benaknya. Menyiksanya dan menghadirkan rindu. Tapi, hanya sebatas senyum, Arjuna bahkan tidak pernah lagi mengajaknya ngobrol. Andai saja bisa, Bintang ingin semuanya kembali seperti dulu. Akhirnya, kebimbangan itu menimbulkan satu pertanyaan tanpa jawab. Siapakah yang sebenarnya ada di hatinya? *** Malam itu langit cerah, penuh bintang, dan udara terasa hangat. Bintang sedang melamun di depan jendela kamarnya ketika melihat Jevilo dan motornya berhenti di halaman rumahnya. Jantungnya berdebar ketika menuruni tangga. Bertanya-tanya kenapa Jevilo datang ke rumahnya, setelah hampir sebulan mereka tidak berkomunikasi. Bintang membuka pintu dengan kikuk. Dipandangnya Jevilo yang tersenyum lebar sambil menatapnya dengan lembut, penuh rindu, namun juga luka. Baru saja Bintang mau menyapanya, kedua tangan Jevilo menarik tubuhnya. Memeluknya erat-erat. "Bebek, kangen banget sumpah," kata Jevilo pelan di samping telinga Bintang. "Maaf." Mendengar suara Jevilo yang terdengar begitu rapuh, Bintang mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Jevilo, dan berkata lirih, "Aku juga minta maaf." Jevilo bergeming, ia semakin erat memeluk Bintang. Memeluk dengan hatinya, seluruh cintanya. Setelah cukup lama memeluk Bintang, ia kemudian menarik tubuhnya. Ditangkupnya wajah Bintang dengan kedua tangan. Ia amati setiap lekukan wajah Bintang. Matanya, hidungnya, bibirnya. Dengan penuh keragu-raguan, diciumnya bibir merah itu dengan setulus hati. Ciuman sebagai ucapan selamat tinggal, untuk semua kebersamaan yang pernah ada, untuk sandaran hatinya, untuk segala rasa sakitnya yang tersisa. Ciuman itu berbisik lewat rasa, bahwa kedekatan mereka tidak lagi sama seperti dulu. Hambar. Jevilo merasakan kehilangan yang amat sangat bahkan sebelum ciuman itu terlepas. Bintang menatapnya bingung bercampur terkejut ketika melihat setitik air bening mengalir di sudut mata Jevilo. "Bebek ... jaga diri baik-baik, ya. Mulai sekarang, aku nggak bisa jagain kamu lagi," kata Jevilo dengan suara serak. Ia berusaha tersenyum sebaik mungkin. "Kamu harus bahagia. Dan jangan pernah bohong sama perasaan sendiri. Oke?" Bintang menggerakkan bibirnya namun tidak ada sepatah kata pun yang mampu ia ucapkan. "Makasih ya, selama dua tahun ini kamu mau sabar ngadepin aku. Mau dengerin semua keluhan aku. Dan udah mau jadi sandaran aku," Jevilo menaruh tangannya di bahu Bintang."Kita jadian baik-baik, putus juga baik-baik," sambungnya sambil menatap ke dalam mata Bintang. "Kita harus bahagia, meskipun nggak bersama." "Ma-maksud kamu?" tanya Bintang akhirnya. Jevilo tersenyum lagi. "Kita harus bahagia, Bebek. Meskipun nggak bersama." Hari itu, Bintang menyadari satu hal. Tali cinta mereka sudah seperti benang kusut, satu-satunya cara agar benang itu tak lagi kusut adalah ... memutuskannya. *** "Ini pasti Kak Juna!!!" teriak Nagita riang sambil memeluk Arjuna. Ia membuka sapu tangan yang menutupi matanya dan langsung melompat-lompat senang saat tahu tebakannya benar. "Tuh, kan! Hore!" soraknya. "Hem, kok tau sih?" tanya Arjuna pura-pura cemberut. "Tau, dong! Kak Juna wanginya kan beda sama wangi Ayah sama Kak Jevi!" jawab Nagita sambil melirik Jevilo dan ayahnya yang berdiri tak jauh dari mereka. Seperti sore kemarin, hari ini lagi-lagi Nagita mengajak mereka bermain ke taman kota. Nagita mengajak mereka main petak umpet, tebak-tebakan, dan apa saja yang membuatnya senang. "Gitu? Kalo Nagita wangi nggak, ya?" Arjuna membungkuk sedikit, mengendus-endus baju Nagita. "Ih, bau telor busuk!" "Aaaaahh ... Enggak! Nagita wangi, tau!" protesnya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. "Haha, iya, iya. Nagita wangi, kok!" kata Arjuna lalu memeluk tubuh mungil Nagita. "Loh, Bunda kok nangis?" tanya Jevilo saat menyadari Bunda yang ada di belakangnya menangis. Bunda buru-buru menyeka air matanya, mengembuskan nafas panjang lalu berkata,"Bunda senang, ngeliat Nagita tertawa seperti itu." Mendengarnya, ayah dan Jevilo tersenyum bersama. "Rasanya ingin cepat-cepat ngeliat Nagita gede, ya, Bun," kata Ayah kemudian. Bunda mengangguk setuju. Dalam diam, mereka memanjatkan doa, berharap waktu itu akan datang. Melihat Nagita tumbuh menjadi remaja adalah keinginan mereka semua. Berharap Nagita akan kuat melawan kanker yang semakin ganas menggerogoti bagian dalam tubuhnya. Berharap Nagita bahagia di sisa-sisa akhir hidupnya. Nagita menghampiri mereka dengan wajah merah karena dari tadi lari ke sana-kemari. "Bunda, Nagita capek nih." "Kita pulang, yuk, Sayang?" ajak Bunda lembut. Nagita mengangguk lemah. Di belakang, Jevilo dan Arjuna jalan beriringan. Semburat jingga membentang di langit, menandakan hari akan berganti malam. Jevilo mengalihkan padangannya dari langit, mendesah panjang, lalu mendongak menatap Arjuna. "Lo waktu itu liat, kan?" tanya Jevilo. "Hem? Liat apa?" Arjuna balik bertanya. "Waktu gue nyium Bintang di depan rumahnya. Gue tau lo liat." Arjuna tampak terkesiap, tapi ia langsung cepat-cepat merubah ekspresinya menjadi datar kembali. "Nggak sengaja liat aja." "Terus, kenapa lo diam aja?" "Lo sendiri, kenapa diam waktu gue nyium Bintang?" Jevilo mendengus. "Tapi, dia udah nentuin pilihannya." "Maksud lo?" Serta merta Arjuna menghentikan langkahnya. Jevilo tersenyum misterius. "Lo bakal tau besok." ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD