K a r m a n e l o| TIGA BELAS

1518 Words
Karmanelo | TIGA BELAS | "Ngapain lo bawa-bawa koper segala? Kabur lo?" tanya Edgar ketika membuka pintu rumahnya. Arjuna nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Gar, gue bisa nginep di rumah lo nggak? Malam ini aja," kata Arjuna dengan tampang memelas. Edgar terkekeh lalu merangkul pundak Arjuna dengan akrab. Seperti yang selalu dilakukannya di sekolah. "Bolehlah, tapi lo harus cerita dulu sama gue kenapa lo bawa-bawa koper kayak gini." "Iya, iya," ucap Arjuna. Ia mengikuti langkah Edgar masuk ke dalam rumah. Ini bukan pertama kalinya Arjuna masuk ke rumah temannya itu, bisa dibilang sebulan sekali ia menginap di sini. Seperti biasa, rumah ini hangat, nyaman, dan ... berisik. "Edgar! Di mana lo sembunyiin k****g gue yang warna merah polkadot?!" seru seorang cewek berambut cokelat nyaris melewati bahu. Arjuna tahu, itu Niki, kakak kedua Edgar. Cewek itu menghampiri Edgar dengan kedua tangan di pinggang. "Apaan deh, Kak. Mana gue tau," kata Edgar ogah-ogahan. "Di mana lo sembunyiin k****g gue! Ngaku hayo ngaku?!" todong Niki dengan mata melotot. "Kenapa sih, setiap ada k****g yang hilang gue yang disalahin?!" teriak Edgar frustasi. Niki mencibir lalu dengan seenak hatinya menjambak rambut Edgar. "Nggak usah ngeles, deh! Kemaren yang abu-abu lo sembunyiin di bawah bantal, kan?! Bundaaaa! Edgar mainan barang-barang Niki lagi!" Arjuna mengernyit mendengar pertengkaran yang sudah biasa itu. Edgar memang aneh. Menurut cerita, katanya, dari kecil Edgar suka banget mainan b*a kakak-kakak perempuannya. Entah apa motifnya, yang jelas, k****g di jemuran sering banget hilang. Seminggu kemudian, k****g-k****g itu ditemukan di kolong tempat tidur Edgar. "Kalian berisik banget, sih? Udah deh, Gar, ngomong yang jujur," kata kakak laki-lakinya sambil lalu. Edgar melirik Arjuna yang seperti menahan tawa. Dengan dagu terangkat tinggi dan wajah tanpa dosa, dia berkata, "Kemaren udah Edgar jadiin kado buat mantan." "HAPAAH?!" *** Bunda menyeka air matanya yang kembali jatuh setiap mengingat wajah Arjuna yang memohon maaf padanya siang tadi. Ia tahu itu suatu kesalahan. Tidak seharusnya ia menyuruh anak itu pergi. Bagaimana pun juga, Arjuna sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Rasa marah, dan kecewalah yang membuatnya bersikap seperti tadi. Bukan hanya masalah Arjuna yang ternyata memang mendekati Bintang, tapi juga ucapan Arjuna yang mengatakan kalau ia tidak memberi kesempatan pada mamanya dulu. Sungguh, sulit baginya menerima kehadiran wanita lain di dalam rumahnya. Kehadiran orang ketiga adalah hal terburuk dalam rumah tangga seseorang. "Bunda ...?" Seruan lembut itu membuatnya menoleh ke belakang. Dilihatnya Jevilo tersenyum hangat padanya. "Hem," sahutnya pelan. "Ngapain, Bunda? Makan malam, yuk!" ajak Jevilo setelah menyentuh pundaknya. "Bunda nggak lapar. Kalian aja duluan," kata Bunda, lagi-lagi suaranya terdengar pelan. "Ini udah mau jam sembilan, Bun." Jevilo menegaskan. "Bunda nggak lapar," Bunda menyahut tak kalah tegas. Jevilo diam sebentar. Ia menarik tangannya dari pundak sang bunda lantas bersandar di kusen jendela. "Jevilo tau, Bunda pasti lagi mikiran Juna. Mikirin dia makan apa malam ini, tidur di mana, lagi ngapain, iya kan?" cecar Jevilo. Bunda tidak menjawab. Ia hanya mendesah panjang, seolah penuh tekanan hidup. "Bunda udah terbiasa dengan kehadiran Juna di rumah ini. Bunda sayang sama dia. Bunda nggak bisa ngeliat Arjuna sedih. Iya, kan?" "Kamu ngomong apa, sih?" kata Bunda setengah membentak. "Bunda pasti ngerasa bersalah kan, udah ngusir Juna dari sini?" "Jevi!" Bunda menatapnya garang, namun yang Jevilo lihat ada penyesalan di matanya. "Bilang iya, Jevilo bakal bawa Juna ke rumah ini lagi!" Bunda bungkam. Ia memejamkan mata beberapa detik, menautkan jari-jarinya yang gemetar, lantas kembali menatap Jevilo. "Bukannya kalau Arjuna pergi, hidup kamu jadi lebih baik?" sindir Bunda. Jevilo terkekeh. "Nggak taulah, Bunda. Sepi juga kalo gak ada yang diajak berantem. Biasanya jam segini, dia kan main piano. Sekarang, rasanya—" "Kamu sebenarnya peduli sama dia." Jevilo mengatup bibirnya rapat-rapat. Peduli? Benarkah? "Kamu cuma cemburu." Bunda akhirnya tersenyum. "Seperti yang dulu Bunda rasakan." Hening sesaat. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Bunda kemudian menarik tangan Jevilo dan mengangkupnya. "Cari Juna dan bawa dia pulang. Ini rumahnya juga." Jevilo menghela napas panjang. Tiba-tiba saja, ia merasa lega. *** Arjuna membuka matanya yang terasa berat saat mendengar beberapa langkah kaki mendekat ke arahnya. Pagi-pagi sekali, ia sudah pergi dari rumah Edgar dan langsung tancap gas ke sekolah. Ia menyambung tidurnya di ruang kosong yang ada di bawah tangga. Ruangan itu memang tidak pernah digunakan lagi. Biasanya, tempat itu dijadikan tempat anak-anak kelas XII untuk nongkrong dan bolos di jam pelajaran. Dan di situlah ia sekarang, tidur terlentang dengan satu kaki di atas lutut. Tapi, karena mendengar suara berisik dan mencurigakan, ia pun terduduk dan membuka mata lebar-lebar. Sialnya, pandangannya masih buram ketika sesuatu menghantam wajahnya. Ia meringis kesakitan dan berusaha bangkit tapi lagi-lagi sesuatu mendarat di wajahnya. Satu-dua tiga tendangan ia dapatkan di perut dan lututnya. "Anjing!" pekik Arjuna tertahan. Ia meringkuk kesakitan ketika lagi-lagi tubuhnya ditinju bertubi-tubi. "Woy!" seruan dari arah pintu membuat suara-suara itu hening. Arjuna membuka matanya yang semakin terasa berat, dilihatnya lima orang anak laki-laki menatapnya dengan wajah cemas. "Ngapain kalian?!" seru suara itu lagi. "Kabur! Kabur!" teriak salah seorang dari lima anak laki-laki itu. "Berhenti, Setan!" pekik suara yang terdengar familier itu. Arjuna menjerit kesakitan waktu menggerakkan tangannya. Ketika ia berhasil membuka mata, dilihatnya Jevilo berdiri di depan pintu, menghadang lima cowok yang tadi menghajarnya. "Pada ngapain lo semua?" bentak Jevilo garang. "Tatatapi, a-abang yang nyuruh kikikita buat ngerjain A-Arjuna!" jawab salah satunya. "Bukan itu maksud gue, g****k!" Jevilo meraih kerah baju cowok yang tubuhnya kurus kering. "Bukan bikin dia babak belur juga, kali! t***l banget sih?!" Bugh. Jevilo memberi satu bogem mentah sampai-sampai cowok itu  tersungkur ke lantai. "Pergi nggak lo semua! Awas ya kalian. Entar pulang sekolah temuin gue di kelas!" kata Jevilo memberi ultimatum lalu menghampiri Arjuna yang terkapar lemah. Mereka saling tatap untuk waktu yang cukup lama. Dan ketika Arjuna meringis kesakitan, barulah Jevilo membuka suara. "Gue pikir, harusnya ... kita jadi kakak yang baik buat Nagita," kata Jevilo sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Entah kapan ia terakhir kali berbicara sedekat ini dengan Arjuna. "Sebenarnya, gue yang nyuruh anak-anak buat ngerjain lo. Tapi, maksud gue bukan bikin lo babak belur kayak gini. Ya, apa ya, maksud gue, ehm," Jevilo semakin salah tingkah waktu mata Arjuna  menyipit menatapnya. "Gue minta maaf. Gue tau nggak seharusnya gue bersikap kayak—" "Lo mau ngomong sampe kapan? Gendong gue sekarang ke UKS!" kata Arjuna sambil mengulurkan tanganya. Jevilo memandang tangan Arjuna yang menggantung di udara. Detik berikutnya, ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman. Ia menyambut tangan Arjuna dan menariknya. Setelah berdiri berhadapan, Jevilo menaruh satu tangan Arjuna di pundaknya. Jevilo pun memapah Arjuna, membawanya keluar dari ruangan itu. *** Bintang memelankan langkah kakinya ketika melihat Jevilo dan Arjuna berjalan ke arahnya. Dilihatnya satu tangan Arjuna berada di pundak Jevilo. Wajahnya babak belur. Sepertinya Arjuna habis berantem. Tapi, dengan siapa? Jevilo? Saat mereka berpapasan, kedua cowok itu meliriknya sekilas. Bintang langsung menunduk dan mempercepat langkahnya. Arjuna dan Jevilo bersama? Sejak kapan? Ini kali pertama ia melihat mereka sedekat itu. Apakah mereka sudah berbaikan? Berbagai macam pertanyaan berkelebat dan tumpang tindih di benaknya. Bintang menoleh ke belakang, Arjuna dan Jevilo baru saja memasuki ruang UKS. "Bintang, woi!" panggil Vinka di ambang pintu kelas. "Apaan?" sahut Bintang lalu melangkah masuk ke kelas. "Entar, lo mau nyambung kuliah di mana, nih? Bareng, yuk!" kata Vinka semangat. "Gue?" Bintang menunjuk hidungnya. Setelah tiba di mejanya, ia mengenyakkan b****g di kursi lalu mendesah panjang. "Nggak tau nih. Belom ada mikir ke sana." "Yaelah, Bintang. Dua bulan lagi tau. Kalo gue sih, ya di sini aja. Emang lo nggak jadi ke tempat nenek lo?" Bintang baru saja ingat tentang keinginannya melanjutkan kuliah ke luar negeri, tepatnya ke Perancis. Tahun lalu, nenek dari pihak ayahnya meminta ia sekeluarga untuk tinggal di sana. Tapi, Bintang menolak dengan alasan masih ingin merampungkan sekolah di sini. Memang sih, ada alasan dari yang membuatnya ingin tetap di Indonesia. Jevilo. Mereka pernah berjanji akan kuliah bareng-bareng. Setelah lulus, mereka juga akan nyari kerja di tempat yang sama, setelah itu, barulah mereka berangan-angan untuk membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia. Tapi, sekarang ... rasanya ada yang aneh. Angan-angan itu terasa ... hambar. Semangatnya mati. Apa karena hubungan mereka yang tidak baik belakangan ini? "Malah bengong," tegur Vinka sambil mentoel pipinya. Bintang terhenyak. "Hehehe, entar deh gue pikir-pikir lagi," katanya kalem. "Lo lagi dekat sama Arjuna ya, Tang?" tanya Vinka tiba-tiba. "Apa? Kok lo nanyanya gitu?" Vinka duduk di atas meja dengan posisi miring. "Jevilo sering cerita tentang lo, tau," kata Vinka serius. "Dengar ya, Bintang. Lo nggak boleh kayak gini. Kalo lo emang suka sama Arjuna, lo jujur." "Oh, lo lebih belain Jevilo, ya?" kata Bintang setengah tertawa. "Nggak. Bukan gitu." Vinka mengibas-ngibaskan tangannya. "Kejujuran itu penting, Bintang. Sekarang coba lo tanya-tanya sama diri lo sendiri, sebenarnya, di hati lo itu ada siapa sih? Arjuna apa Jevilo?" Bintang bungkam. Tanpa sadar, ia memilin-milin tali tasnya, hal yang dilakukannya setiap kali gugup. "Jevilo lah, kan gue udah dua tahunan sama dia," katanya. Vinka manggut-manggut paham. Sebelum ia beranjak, ditepuknya pundak Bintang sambil berkata, "Lebih baik, lo akhiri dengan cara lain." "Maksud lo?" tanya Bintang, keningnya berkerut samar. "Lo pasti ngerti maksud gue," jawab Vinka lalu pergi. Bintang melemparkan pandangan ke luar melalui jendela. Apa maksudnya, dengan cara lain? Apakah keputusannya untuk mempertahankan, salah? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD