"Apa?" tanya Jevilo datar setelah membuka pintu kamar Nagita. Sejak semalam, ia yang menunggu Nagita siuman. Arjuna sebenarnya sudah dari semalam juga ingin melihat keadaan Nagita, tetapi saat tahu Jevilo ada di kamar itu, Arjuna mengurungkan niatnya. Kalau boleh jujur, Arjuna takut Jevilo marah lagi. Apalagi mengingat kalau memang dialah penyebab Nagita pingsan. Andai saja ia menolak permintaan Nagita kemarin, adiknya itu pasti tidak akan jatuh pingsan.
"Eng ... Nagita gimana?"
Jevilo diam sebentar, memandang Arjuna lekat-lekat lalu membuang napas secara berlebihan. "Baik."
"Soal Nagita, gue minta maaf. Iya, gue yang salah," ucap Arjuna. Jevilo diam lagi, membuang muka lalu membuka pintu lebar-lebar.
"Dia dari kemaren nanyain lo," kata Jevilo sambil lalu. Secara tidak langsung, Jevilo mempersilakan Arjuna untuk masuk ke kamar. Nggak mau membuang waktu, Arjuna segera masuk dan menghampiri Nagita yang tertidur pulas di tempat tidurnya.
Arjuna menghela napas lega tahu kalau ternyata Nagita baik-baik saja. Dibelainya kepala Nagita yang putih pucat, juga pipinya yang terlihat membengkak. Arjuna mengerjap-ngerjapkan matanya, perasaan sedih yang berlebihan diam-diam menyelusup yang akhirnya membuatnya menangis dalam diam.
Anak seumuran kamu harusnya sekarang main-main di luar, Dek. Batinnya sedih.
"Setelah ini, jangan pernah dekat-dekat sama Nagita lagi ...," kata Jevilo setelah kembali ke kamar. "Juga Bintang."
***
Ini hari ketiga Arjuna nggak lagi mengganggu Bintang, bukan dalam artian yang sebenarnya. Maksudnya, biasanya kan, Arjuna akan terus mengajaknya ngobrol, mengajaknya main SOS, mengajaknya ngemil bareng waktu jam pelajaran, dan lain-lain. Tapi, hari ini, cowok itu lebih banyak diam dari biasanya.
Masalahnya adalah, Bintang merasa bingung dengan perubahan sikap Arjuna ini. Padahal, baru tiga hari yang lalu mereka ketawa-ketawa bareng. Bintang juga berpikir kalau hubungannya dan Arjuna menjadi baik sejak Arjuna cerita tentang Seena. Lantas, apa yang membuat Arjuna jadi berubah?
Tiga hari Bintang memikirkan sikap Arjuna ini. Entah kenapa, Bintang merasa Arjuna menghindarinya. Apa itu cuma perasaannya saja?
"Lo kenapa sih, kok akhir-akhir ini nggak nyebelin kayak biasanya?" tanya Bintang memberanikan diri.
Arjuna berhenti memasukkan buku-bukunya ke dalam tas lalu memandang Bintang. "Masa?" tanyanya dengan satu alis terangkat.
"Iya, biasanya, lo kan gangguin gue. Maksud gue," Bintang gelagapan waktu melihat ujung bibir Arjuna tertarik ke atas. "Lo kan biasanya nyebelin. Kenapa sih, kok lo banyak diem tiga hari ini? Gue ada salah, ya?"
Arjuna terkekeh, menyandarkan punggungnya ke kursi lalu memandang ke luar jendela. "Gue lagi ... males ngomong aja."
"Tapi sama Vinka, Lila, Pipi, Nadia, lo sering ngobrol tuh. Sampe ketawa-ketawa malah. Kenapa? Jujur aja. Gue ada salah? Kalo iya, gue minta maaf," cerocos Bintang.
Arjuna bergeming.
"Ya udah deh kalo gitu. Besok gue pindah duduk pokoknya gak mau tau!" kata Bintang lalu berdiri. Baru berjalan selangkah, suara Arjuna menahannya.
"Bintang ... Happy Birthday, ya. Entar malam gue ke rumah, boleh nggak?"
***
Setibanya di rumah, Bintang cepat-cepat masuk kamar. Sekarang, wangi Arjuna ada di mana-mana, lagi. Di semua ruangan. Bintang nggak tahu apa yang terjadi, yang jelas sejak Arjuna bilang dia mau datang ke rumah nanti malam, jantungnya lompat-lompat nggak karuan.
"Mamaaa! Baju Bintang kemaren yang baru dibeli itu mana, ya?" tanyanya pada mamanya yang tengah sibuk menyusun kue ke dalam bungkusan.
"Yang mana?"
"Itu loh, yang warnanya putih itu!" kata Bintang nggak sabaran.
"Yang putih mana? Baju kamu kebanyakan yang warna putih, tuh."
"Ck! Yang Bintang beli bulan kemaren itu, Ma."
"Oh, yang selutut itu?"
"Iyaaaa!" kata Bintang histeris, sampai-sampai mamanya menutup telinga.
"Ada tuh di lemari, coba diliat baik-baik," ujar Mama masih sabar. Bintang langsung ngacir ke kamarnya dan membongkar isi lemari sampai akhirnya ia menemukan baju yang dicari-carinya sejak tadi.
Bintang langsung mencocokkan baju itu ke tubuhnya, dipandanginya pantulan dirinya di cermin. Sambil tersenyum, Bintang memutar-mutar tubuhnya. Saking asyiknya bercermin, Bintang sampai tidak menyadari kalau ponselnya di dalam tas bergetar-getar.
***
Jevilo mondar-mandir di teras rumah sambil menggaruk-garuk kepala. Sesekali ia berhenti untuk memandang layar ponselnya. "Nggak diangkat," gumamnya putus asa. Entah sudah berapa kali ia menelepon Bintang dan sebanyak itu pula Bintang nggak menjawab telepon-nya. Apa pacarnya itu sedang sibuk sampai-sampai nggak punya waktu untuk mengangkat teleponnya?
Jevilo tiba-tiba merasa bersalah. Mungkin, pacarnya itu masih marah karena sikapnya tiga hari yang lalu. Tapi, nggak biasanya juga mereka berantem sampai selama ini. Kalau pun ada masalah, biasanya Bintang akan lebih dulu menghubunginya. Tapi hari itu, Jevilo nggak menerima SMS atau pun telepon dari Bintang. Apa cewek itu marah?
Di sekolah pun, ia nggak melihat Bintang berkeliaran. Biasanya, saat jam istirahat, Bintang akan menghampirinya ke kelas, mereka akan ngobrol banyak di pojokan. Atau sebaliknya, Jevilo yang datang ke kelasnya. Pokoknya, sudah hampir tiga hari ini mereka seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Dan demi apa pun, itu membuat Jevilo merasa kehilangan. Galau maksimal.
"Kamu minta maaf sana sama Bintang, masa udah mau tiga hari berantemnya," kata Bunda, mengangetkan Jevilo yang masih bengong sambil gigit jari.
"Iya, sih, Bun. Habis Bintang ngeselin sih. Udah dibilang jangan dekat-dekat sama Arjuna juga," curhatnya.
Bunda tersenyum. "Kalau dekat sebagai teman, apa salahnya?"
Jevilo memutar bola mata. "Jevi tau kok kalo Arjuna suka sama Bintang."
"Yang penting, Bintangnya nggak, kan?"
"Menurut Bunda?"
Pertanyaan itu membuat Bunda diam sebentar. Menurutnya? Entah itu hanya perasaannya saja, tapi sepertinya...
"Kamu harus tanya langsung sama Bintang," jawabnya, tidak mau berkata jujur.
Jevilo tersenyum tipis. "Jevilo sayang banget sama Bintang, Bun."
"Sana gih, temuin Bintang. Minta maaf," kata Bunda setelah menepuk pundaknya.
"Hari ini Bintang ulang tahun, Bunda. Bagusnya, kasih apa, ya?"
"Kamu dong yang tau apa kesukaannya. Bunda titip salam aja sama Bintang, ya."
Jevilo terkekeh lalu bersandar manja di pundak wanita kesayangannya itu. "Bunda, rasanya cinta orang yang kita sayang terbagi dua itu, sakit banget, ya?"
Kali ini, Bunda diam untuk waktu yang cukup lama. Setelah menghela napas panjang, ia berkata lirih, "Sakit."
Setelahnya, Jevilo tidak bertanya lebih lanjut. Justru yang ada, ia menyesal karena berani-beraninya mempertanyakan hal yang pastinya mengingatkan Bunda dengan masa lalunya yang penuh luka.
***
"Halo?" sahut Bintang setelah menempelkan gagang telepon ke telinganya.
"Bintang?"
"Arjuna?"
"Hem."
"Kok nelpon ke sini?" tanya Bintang rada gugup. Ia memilin-milin kabel telepon dengan gusar.
"Ya ampun, Bintang. Gue udah dari tadi nelpon ke Hp lo tapi nggak diangkat-angkat. Ngapain, sih?"
Bintang menepuk dahinya. "Sori, dari tadi gue nggak ada megang HP. Lo di mana? Jadi, ke rumahnya?" tanya Bintang harap-harap cemas.
"Enggak. Mau hujan, nih."
"Ooh," kata Bintang terdengar kecewa.
"Buka pintunya kali, gue udah dari tadi di luar nungguin lo kayak orang b**o," seru Arjuna setengah tertawa.
"Se-serius?"
"Eh, pulsa gue habis nih! Yah, yah, mati."
Tut-tut-tut.
Setelah menaruh gagang telepon ke tempatnya, tanpa ba-bi-bu, Bintang naik ke kamarnya. Bercermin sebentar, merapikan rambut, memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah muda, lalu turun sambil melompati dua anak tangga sekaligus sampai nyaris kepeleset.
"Sori," kata Bintang setelah membuka pintu rumah. Dilihatnya Arjuna berdiri dengan satu tangan di belakang, bibirnya cemberut. Tapi, tiga detik kemudian, lesung pipi Arjuna terlihat dan dia mulai deh kayak biasanya, banyak omong.
"Cieee, cantik banget, cieee."
Wajah Bintang terasa panas saat Arjuna mencubit pipinya. "Selamat ulang tahun, Bintang!" kata Arjuna lalu menarik tangan kanannya dari balik punggung. Ia menyodorkan sekuntum bunga putih pada Bintang sambil senyum-senyum.
Bintang termangu, agak gugup ia menerima bunga itu. Ada rasa senang ketika jari-jarinya menyentuh tangkai bunga dan bersentuhan dengan jari Arjuna. Bahkan Bintang tanpa sadar terlihat bodoh untuk beberapa detik. Melihatnya, Arjuna terkekeh lalu mengacak-acak rambut Bintang.
"Makasih," kata Bintang, nyaris kepada bisikan.
"Hehehe, iya, Bintang," ucap Arjuna, terang-terangan menunjukkan isi hatinya yang sedang gembira.
"Ma-masuk," Bintang mempersilakan dengan kikuk.
"Mama mana?" tanya Arjuna setelah masuk ke rumah.
"Barusan ke luar, mungkin ke rumah tetangga," jawab Bintang, ia menekuk wajah dalam-dalam sambil mencium bunga mawar yang diberikan Arjuna.
"Ouh, berduaan, dong!" Arjuna menggodanya dengan nada kekanak-kanakan.
"Jangan macam-macam, ya!" kata Bintang seraya mengangkat dagunya.
"Hehehe, nggak bakal," ucap Arjuna sambil cengengesan. Bukannya duduk di sofa, Arjuna malah duduk di depan piano, menekan-nekan tuts-nya sambil bersenandung kecil.
Bintang menaruh bunga mawar yang dipegangnya ke atas piano lalu duduk di sebelah Arjuna. "Nagita gimana keadaannya?" tanyanya kemudian.
"Hemmm, baik. Emang lo nggak ada nanya sama Jevilo?" Arjuna balik bertanya.
"Eng ... gue sama dia lagi nggak," Bintang menelan ludah kering, "ya gitu, deh. Mungkin, dia masih marah sama gue."
"Gara-gara pulang sama gue, ya?"
Bintang mengangguk kecil. Jantungnya berdebar waktu tangan Arjuna mengusap kepalanya. "Bintang?" panggil Arjuna setelah menarik tangannya dari kepala Bintang.
"Hem?"
"Lo kapan sih, sukanya sama gue? Ini udah mau dua minggu tau."
Mendengar itu, detak jantung Bintang makin nggak karuan. Belum lagi jarak duduknya dan Arjuna tanpa sadar semakin dekat. Sambil menekan-nekan tuts piano, Bintang menjawab, "Katanya, lo bisa rasain kalo gue suka sama lo apa enggak, gimana sih."
"Emang!"
"Caranya?" tanya Bintang lalu mendongak untuk melihat Arjuna.
"Lo yakin mau tau?" Arjuna mengangkat satu alisnya, bibirnya terus tersenyum, membuat Bintang diam-diam bahagia melihatnya.
"Emang gima—"
Bintang tak lagi melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba saja Arjuna menciumnya. Satu tangan Arjuna bergerak di pinggangnya, memeluk tubuhnya dan menariknya semakin dekat. Awalnya, Bintang ingin menolak, mendorong mundur tubuh Arjuna, tapi semua di luar kuasanya. Bagian lain dari dirinya menginginkan ini, lebih dekat dengan Arjuna, memeluknya, menyentuhnya.
Dan Bintang tahu, saat ia membalas ciuman Arjuna, hatinya telah mendua. Ia telah berkhianat. Ia telah mendusta. Ia ingkar pada semua janji setianya pada Jevilo. Pada akhirnya, ketika ciuman itu berakhir, Bintang tidak bisa menahan air matanya sebagai bentuk penyesalan.
Tanpa mereka tahu, di ambang pintu, sepasang mata tengah menatap mereka dengan hati hancur berkeping-keping. Dengan membawa seluruh rasa sakitnya, Jevilo mundur dan menutup pintu perlahan. Ia meremas buket bunga mawar putih yang sudah dipesannya sejak tadi pagi hingga hancur, serupa dengan bentuk hatinya yang juga hancur.
"Bintang?" Arjuna mengangkat dagu Bintang yang tertekuk dalam. "Hei, maaf. Maafin gue. Gue ... "Arjuna tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa penyesalannya karena sudah berani-beraninya mencium Bintang. Akhirnya ia hanya menyeka air mata Bintang dengan jari-jarinya.
"Maafin gue. Gue nggak sopan. Gue b******k. Tapi ... gue sayang sama lo, Bintang," kata Arjuna, tatapannya sarat akan penyesalan.
Di antara isak tangisnya, Bintang berkata pelan, "Gue ... cewek murahan, ya?"
Arjuna mendecak lantas memeluk Bintang erat-erat. "Lo ngomong apaan, sih?"
"Gue udah punya pacar, tapi gue ciuman sama cowok lain...."
Arjuna meringis mendengarnya. "Gue yang salah Bintang. Lo cewek baik-baik. Kalo bukan karena lo baik, gue nggak mungkin suka sama lo. Gue yang b******k. Harusnya gue nggak ngedeketin lo sampe kayak gini," kata Arjuna lagi. "Gue janji, setelah ini, gue nggak akan gangguin lo sama Jevilo lagi."
Arjuna tahu, janji itu akan sulit baginya. Tapi memang itulah tujuannya datang ke rumah Bintang malam ini. Ia hanya ingin mengikuti kemauan Jevilo. Ia akan berhenti mendekati semua orang-orang yang Jevilo sayang. Ia akan kembali ke kehidupannya yang dulu. Kembali ke dunianya yang sunyi. Dan yang terpenting, ia sudah melupakan sakit hatinya.
"Sebenarnya gue ke sini cuma mau bilang, kalo gue sayang sama lo, Bintang. Gue yakin, ciuman tadi nggak berarti apa-apa buat lo. Maafin gue, ya."
Bintang bergeming, ia meremas ujung baju Arjuna. Antara ingin menahannya dan melepaskannya.
"Mulai besok, gue nggak akan gangguin lo lagi. Lo boleh pindah duduk ke mana pun lo mau," kata Arjuna berat hati. Setelah memberikan Bintang satu ciuman di puncak kepalanya, Arjuna pun beranjak.
Setelah melepaskan semuanya, entah kenapa ia merasa sedikit lebih baik. Meskipun ia tahu, melepaskan membuatnya kehilangan dan sendiri lagi. Tapi, setidaknya, dendam itu berubah menjadi rasa simpati. Ia nggak ingin melangkah lebih jauh lagi. Mungkin memang beginilah seharus dan seterusnya. Ia nggak akan pernah mendapat perhatian dari sang ayah, ia akan tetap jauh dari Bunda dan Nagita.
***