"Jevi, sakit," Seena merintih tak berdaya di atas brankar. Sekujur tubuhnya penuh dengan bercak darah. Satu tangannya patah dan luka-luka. Tulang kaki bagian kanan tampak menyembul di antara koyakan daging. Seena menjerit kesakitan. Ia membiarkan Jevilo meremas tangannya yang lain kuat-kuat, memohon tanpa kata agar ia bertahan .
"Arjuna mana, Je? Suruh dia ke sini, plis, suruh dia ke sini," Seena merintih, kali ini bukan untuk sakit pada tubuhnya, melainkan hatinya.
"Gue udah nelpon dia. Bentar lagi dia pasti dateng," kata Jevilo terbata-bata. Demi Tuhan, melihat Seena yang tersiksa seperti ini membuatnya ikut merasakan sakit yang gadis itu rasakan. Bahkan Jevilo tak menyadari kala air matanya bertumpahan karena pilu.
"Tadi gue kan dateng nemuin dia, gue minta maaf! Tapi, dia diam aja Jevi! Dia nggak mau maafin gue! Gue pengin ketemu dia! Gue pengin dengar kalo dia maafin gue!" Seena berkata cepat seakan Malaikat Maut tengah menunggunya. Air mata bercampur darah mengalir perlahan dari pipinya. "Junaaaa ...," Untuk kesekian kalinya, Seena menyebut nama itu, berharap yang dipanggil akan datang.
"Sa-sakit, Je." Seena menjerit tertahan. Jevilo mengusap wajah Seena dengan penuh sayang.
"Bentar, ya. Gue telpon Juna lagi," Jevilo kemudian berlari ke luar ruangan, meninggalkan Seena dengan beberapa suster yang memohonnya untuk keluar.
"Anjing! Ke mana lo? Nggak bisa apa lo ke sini! Seena kecelakaan! Sekarat!" teriak Jevilo saat teleponnya diangkat.
Di seberang sana, Arjuna tengah memandang air hujan yang turun membasahi jalanan aspal. "Gue nggak bisa datang. Hujan."
"Anjing! t*i lo! Hujan nggak akan bikin lo mati, Juna! Lo liat sekarang Seena sekarat!" Jevilo meneriakinya sekuat yang ia bisa.
Arjuna menghela napas panjang. "Gue nggak bakal datang."
"Anj--"
Sebelum mendengar nama binatang itu ditujukan padanya untuk yang ke tiga kalinya, Arjuna mematikan telepon dan mamasukkannya ke dalam saku lalu kembali menatap kosong jalanan yang dilibas hujan deras.
"Ha-halo?" Jevilo meninju dinding di depannya dengan emosi yang sudah mencapai tingkat paling tinggi saat tahu telpon-nya diputus. Cepat-cepat ia kembali ke ruangan UGD, tempat Seena dirawat. Setibanya di sana, salah satu suster mengatakan pada Jevilo kalau Seena sudah meninggal dua menit yang lalu.
"Seena ...," Jevilo menghampiri tubuh kaku milik Seena yang ada di brankar. Dengan air mata yang menggenangi pelupuk matanya, Jevilo mengangkat tangan untuk mengusap wajah dingin Seena. Saat itu Jevilo tahu, mantan pacar yang merangkap sebagai sahabatnya itu tidak akan pernah menyahut panggilannya lagi.
Pada waktu yang sama, dengan tubuh basah yang diguyur hujan, Arjuna berlari memasuki Rumah Sakit. Ia berhenti di koridor saat melihat Jevilo berdiri tak jauh di depannya sambil menelpon.
Drrrt.
Arjuna tersentak waktu merasakan getaran di saku celananya. Layar ponsel itu berkelap-kelip menampakkan nama Jevilo. Dengan gusar, Arjuna pun mengangkat telepon itu.
"Hem?" sahut Arjuna, ia sembunyi di balik tembok saat melihat Jevilo berbalik.
"Seena ... meninggal," kata Jevilo dengan suara bergetar.
Deg. Untuk satu detik, Arjuna tidak merasakan detak jantungnya. Detik berikutnya, ia merasakan kedua lututnya tak berfungsi hingga ia nyaris jatuh ke lantai.
"Tadi, dia pengin ngomong sama lo. Dia pengin lo maafin dia. Tapi, lo nggak dateng. Lo emang b******k! t*i emang lo!" maki Jevilo.
Arjuna memejamkan matanya yang terasa perih, ikut memaki diri sendiri. Seena, gadis yang selalu menemaninya sejak SD itu kini telah tiada. Sekali pun gadis itu membuatnya sakit hati, demi Tuhan, di lubuk hatinya yang paling dalam, Arjuna masih sangat menyayanginya. Bahkan, ketika Seena belum meminta maaf, ia sudah memaafkannya.
Arjuna mau tak mau membiarkan setitik air mata jatuh di ke pipinya. Padahal, dua puluh menit yang lalu, Seena masih berdiri di hadapannya, masih bicara dengannya, tapi sekarang, gadis itu benar-benar pergi. Seperti yang Arjuna mau.
"Jangan pernah muncul di hadapan gue lagi. Itu aja."
***
Angin bertiup sepoi-sepoi, membuat rambut Arjuna dan Bintang bergerak lembut. Bintang menyelipkan sejumput rambut yang menutupi sebagian wajahnya ke balik telinga. Satu tangannya menyentuh tanah kuburan dan membiarkannya lama di sana. Dilihatnya Arjuna yang tersenyum pada batu nisan yang bertuliskan 'Seena Nazwa', senyum yang terlihat sedih, rindu, namun juga penyesalan.
"Nggak mungkin gue nggak maafin dia. Dulu, gue sama dia udah kayak kakak-adik. Ke mana-mana bareng. Dia selalu ada kalo gue butuh temen cerita. Dia baik banget. Dia ngerti gimana hubungan gue sama Jevi. Dia selalu berusaha buat gue baikan sama Jevi," satu per satu kata meluncur dari bibir Arjuna. Bintang mendengarkan dan sesekali mengangguk.
"Malam itu gue dateng. Tapi, terlambat. Hubungan gue sama Jevi makin buruk gara-gara itu."
Bintang mengangguk lagi.
"Mana mungkin gue nggak maafin Seena kan, Bintang?" Arjuna menengok Bintang. Matanya berkaca-kaca dan merah. "Harusnya, gue yang minta maaf sama dia. Kenapa juga gue cuek banget setelah kejadian gue tau dia sama Jevilo kayak gitu."
"Sekarang ... perasaan lo gimana? Apa lo masih belum bisa move-on dari Seena?" Akhirnya Bintang bertanya. Pertanyaan yang sebenarnya bukan bagian dari pertanyaan yang ingin ia tujukan. Tapi, entah kenapa, rasa penasaran itu memaksanya untuk bertanya hal itu.
Arjuna tersenyum. "Ternyata, rasa sayang gue sama Seena, seperti sayang seorang kakak sama adek-nya. Gue takut kehilangan Seena karena di dunia ini, cuma dia yang gue punya. Awalnya, gue mungkin memang suka sama dia. Tapi, nggak tau kenapa, perasaan melindungi itu muncul bukan sebagai pacar tapi seorang kakak laki-laki yang harus melindungi adeknya," katanya.
"...."
"Dan lo percaya nggak, Bintang?" Arjuna memberi jeda, membuat kening Bintang berkerut, "Gue nggak pernah cium Seena kayak Jevilo nyium lo," sambung Arjuna, nada suaranya terdengar kesal di akhir.
"Karena, setiap gue mau nyium dia, rasanya ... nggak pantes aja seorang kakak nyium adeknya."
Bintang ber-O kecil. Nggak tahu harus berkata apa. Matanya memicing sedikit saat melihat Arjuna senyum-senyum.
"Kenapa lo, senyam-senyum nggak jelas?"
Arjuna mendongak, mengerjap-ngerjap sok imut. "Lagi seneng, nih! Pulang, yuk?!" Arjuna berdiri, mengulurkan tangannya pada Bintang.
Bintang mengangkat satu alisnya, antara mau dan tidak menyambut uluran tangan itu. Belum sempat ia menjawab, Arjuna menarik tangan Bintang, menggenggamnya, dan membawanya menjauh dari makan Seena.
Dalam diamnya, Bintang berusaha bersikap tenang. Tapi, sialnya, jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Kenapa sih? Ada apa? Kok gini banget? Arjuna doang ini. Satu per satu pertanyaan muncul, membuatnya melamun lama. Belum lagi suara Vinka dan Maya yang ikutan muncul.
"Hati-hati lo, Bintang! Arjuna itu punya sejuta pesona, loh!"
"Kita semua tau, Arjuna bisa dapetin siapa aja. Termasuk kamu!"
"Bintang?" Arjuna menyentak lamunannya.
"Hem?" jawab Bintang agak kikuk.
"Gue punya pertanyaan."
"Apa?"
"Kalo memang gue gagal bikin lo jatuh cinta sama gue, emangnya lo mau minta gue ngelakuin apa?"
Bintang tersenyum. "Lo sama Jevi damai. Itu aja."
Mendengar jawaban yang seperti itu keluar dari bibir merah Bintang, Arjuna terkekeh kecil. "Lo pikir lo siapa bisa bikin gue sama dia baikan? Seena aja yang paling dekat sama gue nggak bisa ngelakuin itu."
Bintang lagi-lagi tersenyum lalu berkata, "Lo sama dia emang sama, ya. Sama-sama kepala batu. Padahal, gue tau, kalo kalian berdua cuma gengsi buat minta maaf."
Arjuna bungkam.
"Dan lo tau nggak Arjuna?"
"Huh?" Arjuna mengangkat satu alisnya.
"Dendam itu," Bintang kemudian menaruh telapak tangannya di d**a Arjuna, seolah ia menyentuh hatinya. "Bisa bikin hati lo mati. Cobalah berdamai dengan masa lalu, apa pun itu. Gue tau itu nggak gampang, tapi ... lo harus coba."
Arjuna tahu, hari itu, ia benar-benar jatuh cinta pada Bintang.
***
Sepulang dari makam Seena, Arjuna menawarkan diri untuk mengantarkan Bintang pulang. Sebenarnya, Bintang mau menolak. Masalahnya, Bintang masih merasa bersalah karena sudah berani bertanya tentang Seena yang ternyata sudah meninggal. Itu pasti membuat Arjuna sedih dan mau tak mau kembali mengingat Seena. Tapi, entah kenapa, saat pulang sekolah tadi, Arjuna mengajak Bintang untuk pulang bersamanya. Rupanya, Arjuna ingin membuktikan ucapannya kalau Seena benar-benar sudah meninggal dan supaya Bintang nggak lagi bertanya tentang gadis itu.
Dan sekarang, ia merasa sedikit berbangga hati karena Arjuna mau bercerita sedikit tentang masa lalunya. Padahal, Bintang pikir, Arjuna cowok yang terlalu santai menjalani hidup. Tapi ternyata, di balik semua canda tawa dan kegilaannya, Arjuna punya masalah keluarga dan masa lalu yang kelam.
"Bengong lagi, yuk, pulang!" kata Arjuna mengangetkannya.
***
Saat melewati sekolah Nagita, Arjuna cepat-cepat memarkirkan motornya karena melihat adiknya itu tengah berjongkok di depan gerbang sendirian.
"Nagita kok belum pulang?" tanya Bintang, Arjuna menggeleng dan segera menghampiri Nagita.
"Jelek, ngapain jongkok di sini? Pipis, ya?" tegur Arjuna setengah tertawa.
"Ih, Kak Arjuna apaan, sih?!" Nagita cemberut seraya berdiri. "Nagita dari tadi nungguin Kak Jevi, nih!" curhatnya.
"Harusnya kan, kamu udah pulang dari jam satu tadi! Ini udah mau jam dua, loh!" kata Arjuna.
"Nggak tau, ah! Sebel!"
"Ya udah kalo gitu, gue pulang naik angkot aja, deh. Lo pulang sama Nagita, ya," ujar Bintang.
"Nggak ada angkot di sini. Entar lo diculik gue gimana?"
"Apaan sih," cibir Bintang bete. Nagita yang melihatnya cekikikan.
"Pulang bareng, kita tartig!" Arjuna berjalan ke motornya.
"Cabe-cabean dong, Kak?!" seru Nagita. Mendengarnya Bintang nggak bisa untuk nggak tertawa.
"Bodo. Ayo, sini, Bintang di depan ya?"
"Loh, kok Kak Bintang yang di depan? Nagita dong!" Nagita protes, bibirnya makin panjang.
"Hehehe, iya, maksud Kakak juga gitu. Ayo, sini, Dek!" Arjuna naik ke motornya diikuti Nagita.
"Padahal kan, Nagita bisa di belakang sama gue," kata Bintang setelah naik diboncengan.
"Iya, sih, tapi ...," Arjuna senyum-senyum lalu menarik satu tangan Bintang dan menaruhnya di pinggangnya. "Lo harus pegangan sama gue."
Blush! Pipi Bintang merona saat itu juga. Antara malu, kesal, juga senang, ia membiarkan tangannya memegang pinggang Arjuna. Bintang bahkan lupa kalau rasa senang itu suatu kesalahan.
***
"Nagita mana, Bunda?" tanya Jevilo setibanya di rumah. Baju olahraga-nya kotor dari atas sampai bawah. Melihatnya, Bunda cuma bisa maklum. Dari dulu, Jevilo memang hobi banget main sepak bola. Selain karena itu kesukaannya, permainan itu juga bisa jadi jembatan penghubung antaranya dan sang ayah yang gila bola. Tapi, entah sejak kapan, apa pun yang dilakukan Jevilo, selalu salah di mata ayahnya. Begitu pun yang dilakukan Arjuna.
Itu juga yang membuat keluarga mereka seperti bukan keluarga. Orang-orang di dalam rumah ini seperti hidup untuk dirinya sendiri. Terkadang, ia merasa sedih ketika melihat Jevilo dan Arjuna saling memamerkan nilai-nilai rapor mereka yang tinggi pada suaminya, namun yang anak-anaknya dapat hanya kata-kata 'Pertahankan', tidak lebih.
Padahal ia tahu, kedua anak laki-lakinya itu ingin lebih dekat dengan suaminya. Baik Jevilo maupun Arjuna selalu gagal merebut perhatiannya.
"Belum pulang. Kan, biasanya kamu yang jemput," jawabnya kemudian saat Jevilo bertanya sekali lagi.
Jevilo menghentikan gerakannya membuka tali sepatu. "Tapi tadi Jevi udah minta tolong Ayah buat jemput Nagita," katanya.
Lantas, keduanya terdiam. Tak berapa lama kemudian, Jevilo berlari ke luar rumah dengan wajah cemas. "Emang tuh orangtua nggak tanggung jawab!" ucapnya sambil menyalakan motor lalu tancap gas menuju sekolah Nagita.
***
Bukannya langsung pulang, Nagita malah merengek minta diajakin main game di salah satu Mall yang kebetulan mereka lewati. Arjuna padahal udah menolak tapi Nagita terus-terus membujuknya. Baik itu dengan cara merayu, juga ngambek. Akhirnya, atas permintaan Bintang, Arjuna pun meng-iyakan permintaan Nagita.
"Ya udah deh, bawel emang kalian," kata Arjuna pada Bintang dan Nagita yang cekikikan di belakangnya. "Nggak jadi, deh. Males!" Arjuna tiba-tiba berbalik, Bintang dan Nagita langsung saja melotot padanya. "Hehe, ya udah yuk masuk. Gandengan ya, entar pada hilang lagi," lanjut Arjuna lalu menarik tangan Bintang dan Nagita secara bersamaan.
"Main yang itu, Kak! Bola basket!" teriak Nagita setelah tiba di arena permainan yang ada di lantai paling atas.
"Bentar ya, kita tungguin Kak Juna lagi beli koin," kata Bintang sambil celingukan. Dari tempatnya berdiri, bisa dilihatnya Arjuna sedang ngobrol seru dengan penjaga cewek yang juga senyum-senyum nggak jelas. Idih, apaan, sih? Dasar genit! Nggak tahu kenapa Bintang jadi bete banget sama Arjuna.
Pas Arjuna ngeliat, Bintang langsung buang muka.
"Sori lama, hehehe," kata Arjuna setelah berdiri di sebelahnya.
"Iyalah lama, kegenitan!" cibir Bintang. Arjuna cekikikan lalu mengacak-acak rambut Bintang.
"Mau digenitin juga, yak?"
"Apaan sih," ucap Bintang jutek.
Semenit kemudian, Bintang cuma berdiri ngeliatin Nagita dan Arjuna yang asyik melempar bola ke dalam ring. Arjuna kok tiba-tiba cuek gitu sih? Bukan ngajakin main! Ajakin kek, nawarin kek. Loh, kok Bintang jadi bete, sih?
"Bintang ngapain sih di situ? Sini, ikutan main!" seru Arjuna.
Kenapa nggak dari tadi coba? Bintang mendesis, pura-pura jual mahal.
"Ciyeee, ngambek kenapa sih, lo?" Arjuna menghampirinya. "Kenapa sih? Laper, ya? Habis ini kita makan, ya?"
Bintang masih pura-pura sok nggak butuh. "Hem."
"Haha, lucu banget sih, lo! Sumpah!" kata Arjuna lalu kembali ke dekat Nagita. "Ah, Nagita b**o banget, sih? Masa nggak ada yang masuk!"
"Bolanya tuh yang b**o, udah dilempar ke sana dia nggak mau masuk!" ucap Nagita membela diri. Arjuna cuma tertawa lalu mengusap-usap kepala Nagita.
Melihat cara Arjuna berbicara dengan Nagita, juga cara Arjuna memperlakukan Nagita, mengingatkannya dengan ucapan Jevilo yang mengatakan kalau Arjuna nggak pernah mau peduli dengan Nagita. Mungkin Jevilo nggak pernah tahu yang sebenarnya. Yang Bintang lihat sekarang adalah, Arjuna sangat menyayangi dan peduli pada Nagita. Semua itu natural, tulus, bukan dibuat-buat.
"Udah yuk, Dek! Kita cari makan, yuk? Liat tuh Kak Bintang mukanya sedih banget, kelaparan tuh dia."
"Heh!" Bintang protes, ia juga mencubit pinggang Arjuna karena berani mengatainya.
"Hemmm, oke deh!" kata Nagita meskipun terlihat agak sedih.
"Jangan cemberut, dong. Entar Kakak kasih ke b*****g mau?"
"Iih, Kak Juna apaan, sih? Nggak mauuu!" Nagita mencak-mencak sambil memukul-mukul perut Arjuna.
"Hahaha, makanya jangan cemberut terus. Laper nggak, sih?"
"Laper, dong!"
"Ya udah kita makan yuk!" ajak Arjuna. Nagita mengangguk semangat. Di belakang mereka, Bintang tersenyum melihat keakraban itu. Sayang banget ia nggak punya adik atau pun kakak. Andai saja ia punya, pasti rasanya seru banget. Nagita beruntung punya dua kakak yang sayang banget sama dia, tapi sayangnya, kedua kakak itu nggak pernah akur.
Dalam diamnya, Bintang berangan-angan melihat Jevilo ada di antara mereka, bercanda tawa bersama Nagita juga Arjuna. Andai saja seseorang bisa membuat semua itu menjadi nyata, Nagita pasti senang banget melihat kedua kakaknya akur.
"Bintang, foto-foto, yuk!" suara Arjuna di telinganya membuat Bintang bergidik.
"Jangan bisik-bisik, deh!" kata Bintang sebal. Yang diajak ngomong malah cengegesan.
"Foto-foto yuk, mumpung dekat tuh!" Arjuna menunjuk photo box yang nggak jauh dari tempat mereka makan.
"Nagita gimana?"
"Nagita di sini bentar, ya? Kak Juna sama Kak Bintang ke sana dulu!" ucap Arjuna, Nagita cuma manggut-manggut patuh aja sambil terus menyantap makanannya.
"Gue nggak mau, ah! Lo sendirian aja deh," tolak Bintang waktu Arjuna memaksanya untuk foto berdua setelah mereka masuk ke ruangan.
"Harus mau. Eh, senyum tuh, buruan!" Arjuna menunjuk kamera yang ada di depannya, Bintang menengoknya dengan bibir cemberut dan jepret, satu momen terabadikan. Lanjut ketika Bintang menatap monitor, Arjuna tersenyum dengan satu alis terangkat di belakangnya. Jepret, lagi.
Melihat betapa narsisnya seorang Arjuna, Bintang nggak mau kalah, ia pun tersenyum sok imut, Arjuna meliriknya pura-pura sebal. Jepret lagi. Kali ini, gerakan tak terduga, Arjuna melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bintang, mau nggak mau Bintang menoleh pada Arjuna dan ... jepret.
"Lucu pasti," kata Arjuna tanpa mau melepaskan tangannya dari pinggang Bintang.
"Lepasin dulu kali," cibir Bintang di antara degup jantungnya.
"Duh nggak bisa lepas, nih! Gimana, dong?!"
"Ihh, lepasin deh!" Bintang mencubit-cubit tangan Arjuna dengan gemas tapi cowok itu malah menggelitiknya.
"Ih, Bintang gendut. Perutnya buncit, nih!" kata Arjuna di sela tawanya. Bintang cemberut lalu detik berikutnya tertawa.
"Gue nggak buncit tau!"
"Buncit nih! Bintang gendut tapi nggak apa-apa deh, lucu, gemesin!"
Melihat cara Arjuna mengatainya, Bintang malah tertawa, tapi ia tetap berusaha melepaskan tangan Arjuna di pinggangnya. Sampai akhirnya, tirai tersibak dan seseorang muncul.
"Kak Bintang, Kak Juna, ngapain?" tanya Nagita saat melihat tangan Arjuna melingkar di pinggang Bintang. Serta merta Arjuna menarik tangannya lalu menggaruk-garuk hidungnya.
"Udah selesai makannya? Pulang yuk?" kata Arjuna salah tingkah.
Bintang tersenyum saat melihat hasil print foto mereka. Buru-buru ia memasukkan foto itu ke dalam tas lalu menyusul Arjuna dan Nagita. Entahlah, Bintang nggak tahu apa arti perasaan ini, yang pasti, ada di dekat Arjuna, Bintang merasa dicintai.
Brak!
"Astaga, Nagita!" seru Arjuna ketika tubuh mungil Nagita ambruk tepat di sebelahnya.
"Ya ampun, Nagita kenapa?" tanya Bintang panik. Nagita tampak pucat dan kelelahan.
"Kita pulang sekarang!"
"Nggak bawa ke Rumah Sakit aja?" saran Bintang.
"Kita pulang!" kata Arjuna tak terbantahkan lalu menggendong Nagita.
***
Jevilo sedang mondar-mandir di teras rumah saat mendengar suara motor berhenti di halaman. Ia menarik napas lega waktu tahu Arjuna pulang dengan Nagita di gendongannya. Dari tadi ia sudah curiga kalau yang menjemput Nagita pasti Arjuna. Karena kata penjual bakso yang tadi ditanyain Jevilo, mengatakan kalau ia melihat Nagita pulang dengan cowok seumurannya juga seorang cewek. Nggak perlu ditanya itu pasti Bintang.
Tapi, melihat ekspresi Arjuna yang seperti orang ketakutan, ia pun bertanya, "Nagita kenapa?"
Arjuna nggak menjawab, ia masuk ke rumah lalu merebahkan Nagita ke sofa.
"Dek, Nagita Sayang?" panggil Jevilo sambil menepuk-nepuk pipi Nagita pelan. "Nagita?" lirih Jevilo. Sadar kalau Nagita pingsan, Jevilo mendorong bahu Arjuna hingga membentur tembok.
"Lo bawa ke mana adek gue? Hah!" bentaknya lalu memberi satu bogem mentah ke wajah Arjuna.
"Jevi!" Bintang menarik tangan Jevilo yang siap melayangkan satu tinju lagi. Arjuna bergeming, menatap sedih Jevilo yang terlihat sangat marah.
"Bintang nggak usah ikut campur! Kamu ngapain juga pulang bareng dia?!" bentak Jevilo sambil mengibaskan kasar tangannya.
Bintang mengkeret, perlahan ia mundur dan menunduk dalam. Untuk kali pertama ia melihat Jevilo semarah ini.
"Gue pernah bilang sama lo, kan? Jangan dekat-dekat sama Nagita! Lo bawa ke mana adek gue, hah?! Ke mana?!" Jevilo berteriak tepat di wajah Arjuna.
"Gue," Arjuna susah payah menelan ludahnya. Ia hanya menatap Jevilo, secara langsung memohon untuk tenang. Tapi, Jevilo terlalu marah sampai-sampai ia melayangkan tangannya yang terkepal ke d**a Arjuna. Meninjunya kuat.
"b******k! Kalo terjadi apa-apa sama adek gue, awas lo!" makinya. Ia kemudian menghampiri Nagita, menariknya ke pelukannya dan mengusap kepalanya, dilihatnya Bintang yang berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat sekilas lalu pergi.
Arjuna menyentuh dadanya yang terasa sakit. Kedua kalinya Jevilo menghantam dadanya. Dia pikir nggak sakit apa? Arjuna cuma bisa menghela napas panjang sambil mengusap-usap dadanya. Dilihatnya Bintang yang kini memandangnya iba.
"Gue selalu salah di mata dia."
"Gue juga," kata Bintang sedih.
Arjuna terkekeh. "Bintang, makasih ya, untuk hari ini."
Bintang mengangguk kecil. "Sama-sama," katanya.
"Lo pulang gih, sori ya gue nggak bisa nganterin. Entar Jevilo makin marah sama kita."
Bintang mengangguk lagi lalu menghilang di balik pintu. Sebenarnya, dalam keadaan seperti ini, ia enggan untuk cepat-cepat pulang. Ia juga ingin tahu gimana keadaan Nagita nantinya. Tapi, melihat Jevilo yang sepertinya sangat marah, mau nggak mau, Bintang harus pulang dulu.
Jevilo melihat itu dengan rahang mengeras. Ingin ia mengejar Bintang saat itu juga dan meminta maaf atas sikapnya tadi. Tapi, entah kenapa, ia memutuskan untuk duduk di sebelah Nagita, mengelus kepalanya dan mengecup keningnya.
"Maafin Kak Jevi ya, udah ngingkarin janji untuk nggak mukul Kak Juna," kata Jevilo.
Arjuna mendengar itu dengan sangat jelas. Ia mengembuskan napas panjang lalu beranjak menuju kamarnya.
***
Next BAB SEBELAS
"Kamu minta maaf sana sama Bintang. Masa udah mau tiga hari berantemnya," kata Bunda pada Jevilo yang uring-uringan sejak pulang sekolah.
"Iya, sih, Bun. Habis Bintangnya sih ngeselin. Udah dibilangin jangan dekat-dekat Arjuna juga."
Bunda tersenyum lantas menepuk pundak Jevilo. "Sana gih temuin Bintang. Minta maaf."
"Hari ini Bintang ulang tahun Bunda. Jevilo kasih apa ya bagusnya?"
===================================
"Bintang?"
"Hem?"
"Lo kapan sih sukanya sama gue? Ini udah mau dua minggu tau."
"Katanya, lo bisa rasain kalo gue suka sama lo apa nggak, gimana sih," kata Bintang sambil menekan-nekan tuts piano-nya.
"Emang," kata Arjuna.
"Caranya?" tanya Bintang dan mendongak untuk melihat Arjuna.
"Lo yakin mau tau?"
"Emang gima—"
Bintang tak lagi melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba saja Arjuna menciumnya.