K a r m a n e l o| SEMBILAN

2167 Words
"Aku tau, kamu masih marah sama aku. Tapi, jangan cuekin aku gini, dong, Juna. Aku ke sini mau minta maaf." Arjuna menengok wajah di depannya dengan ekpresi sedih, marah, tapi juga rindu. Seena tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Aku minta maaf." Seena berkata lirih, "untuk semuanya." "Jangan pernah temuin gue lagi. Itu aja." "Aku masih sayang sama kamu." Arjuna tertawa mengejek. " Sayang tapi kok nyakitin?" Seena mengerjapkan matanya yang terasa perih. Ia menarik tangan Arjuna dengan paksa lalu menjabatnya. "Suatu hari nanti, aku harap, kamu bisa maafin aku." Arjuna bergeming, memandang sedih kedua tangan mereka yang menyatu. Dulunya, kedua tangan itu  selalu bersama ke mana-mana. Dulunya, tangan itu akan memeluknya dengan penuh sayang dan persahabatan kala Arjuna butuh sandaran. Dulu, jari-jari mungil itu terasa sangat pas di tangannya, seolah memang di sanalah tempatnya. Dan sekarang, tangan itu tidak lagi sehangat dulu. Hambar. "Semoga, kamu temuin cewek yang lebih baik dari aku." Setelah mengatakan itu dengan mata basah, Seena pun beranjak pergi. Sejak hari itu, Arjuna tak pernah lagi melihat Seena muncul di hadapannya. Tak sehari pun. *** "May?!" Panggil Bintang pada seorang cewek berkacamata yang tengah duduk di kursi koridor. Cewek itu mendongak lalu tersenyum waktu tahu yang memanggilnya Bintang, teman sekelasnya waktu di kelas X. "Hei," sahut Maya ramah. "Masih hidup kamu, Tang?" "Ya masihlah!" jawab Bintang pura-pura sewot. "Jahat banget, sih? Sekalinya disamperin nanyanya gitu." "Hehe, bercanda kali. Ada perlu apa ya sama aku?" "Kok kayak sok penting gitu, sih?" cibir Bintang. "Hihi, mau ngapain sih? Tumben inget sama aku?" "Kebetulan inget," Bintang mengikuti cara bicara Maya yang selalu menyebalkan. "Jahat, nih. Pasti ada maunya nyariin aku, kan?" "Emang. Aku mau tau tanya-tanya nih." "Kalau mau tanya-tanya ke ask. fm aku aja, keles." "Maya!" "Iya, iya. Mau nanya apaan?" Maya cekikikan sambil menekan kacamatanya. "Kamu dulu satu SMP kan sama Jevi-Juna?" tanya Bintang dengan mimik serius. "Yep. Terus, kenapa?" "Ceritain dikit, dong, tentang mereka dulu waktu SMP?" "Lucu. Kan, kamu pacarnya Jevi, kenapa nggak minta dia cerita sendiri aja? Buang-buang waktuku aja." "Mayaaa, ceritaiin! Plisss!" rengek Bintang manja. "Iyaaa, iyaaa!" Maya menaikkan kedua kakinya untuk bersila, gerakannya diikuti Bintang. Mereka duduk berhadapan, sama-sama memasang wajah serius. "Sekarang, kamu mau tanya tentang apa?" "Waktu SMP dulu, Jevilo sama Arjuna punya masalah apa, sih?" "Lucu. Masa Jevi nggak pernah cerita, sih? Secara gitu, udah pacaran dua tahun!" "Jevi itu nggak pernah mau cerita tentang masa lalunya sama aku. Aku juga nggak pernah nanya-nanya, sih. Cuman, sejak sebangku sama Arjuna—" "Kamu sebangku sama Arjuna?" tanya Maya kaget. Bintang mengangguk cepat. "Wah, pasti Jevilo was-was, nih!" kata Maya sambil menjentikkan jarinya. "Was-was apaan?" "Dulu, Jevilo itu pernah ngerebut pacarnya Arjuna," kata Maya, "namanya Seena." "Serius, kamu?" Bintang melotot.  Suaranya sempat membuat Maya meringis. "Iya. Emangnya, kamu nggak pernah nanya-nanya Jevi mantannya siapa aja?" "Engga. Terus, terus?" "Terus sekarang, mending kamu  tanya aja sama Arjuna. Kan, kamu sebangku sama dia." Bintang diam sebentar. Ia menimbang-nimbang sebelum akhirnya bertanya lagi. "Apa itu ya, yang bikin mereka sampe sekarang perang dingin?" "Kamu pasti tau lebih banyak daripada aku, Tang. Kan, kamu pacarnya Jevi. Masa sih, kamu nggak tau masalah-masalahnya dia. Kamu kurang perhatian, ya?" "Enak aja. Aku sama Jevi itu nggak pernah mau mengungkit masa lalu, May. Buat aku, yang lalu yaudah biarin berlalu aja. Ngapain diinget-inget." "Tapi, sebagian orang, ada yang nggak bisa lepas dari masa lalunya, Bintang. Kalo kamu peka, kamu pasti ngerti. Oh, iya, sebagai teman, aku cuma mau ingetin kamu ...," Maya memegang bahu Bintang dengan lembut. "Hati-hati sama Arjuna, kita semua tau, dia bisa dapetin siapa aja. Termasuk kamu." "Apaan, sih? Aku tuh nggak sama kayak cewek-cewek lain yang suka ngejar-ngejar dia!" Bintang agak tersinggung. Emangnya, segampang itu apa dia didapetin Arjuna? "Arjuna bukan cuma cakep Bintang, tapi, dia itu punya hati yang baik. Dulu, dia sayang banget sama Seena. Sejak putus sama Seena, sifatnya jadi cuek bebek gitu sama cewek-cewek. Udah gitu, suka mandang rendah cewek lagi!" Bintang tertegun. Arjuna baik hati? Serius? Dan, Jevilo pernah ngerebut pacarnya Arjuna? Yang benar aja! Nggak nyangka! Mungkin itu salah satu yang jadi penyebab hubungan kedua kakak-adik itu nggak baik, selain karena masalah keluarga yang sampai sekarang Bintang juga nggak tahu apa masalahnya. "Udah ngelamunnya? Pipis, yuk?" Maya membuyarkan lamunan Bintang dengan mencolek pipinya. Bintang terkesiap dan dengan cepat mengangguk. "Yuk" *** "Kenapa ngeliatin gue dari tadi?" tanya Arjuna pada Bintang yang sedari tadi diam-diam memperhatikannya. Mendengar pertanyaan itu dilontarkan dengan nada jutek, Bintang mencibir sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. "Siapa juga yang ngeliatin?!" "Sana gih, Bintang. Gue lagi bete nih sama lo," kata Arjuna jujur. Bintang melongo. Apa-apaan si Arjuna ini? Berani banget dia ngomong kayak gitu sama dia? Jujur banget, sih. "Emang gue ngapain coba sampe bikin lo bete?" "Gara-gara ngeliat lo dicium, gue galau, sakit hati, males ngapa-ngapain. Udah sana pulang, males ngeliat lo lama-lama di sini," Dengan santai Arjuna mengatakan itu. Seolah ucapannya cuma kata-kata biasa yang nggak akan bikin Bintang cengo. "Apaan, sih ...," ucap Bintang antara sebal dan malu. Jadi, Arjuna ngeliat dia ciuman sama Jevilo kemaren? Aduh, Bintang kok jadi ngerasa malu banget gini, ya? "Hati gue berantakan, nih. Mungkin udah nggak ada bentuknya lagi. Tanggung jawab lo, Bintang!" Arjuna memasukkan buku-bukunya ke tas dengan gusar. Bintang mengamatinya masih dengan mulut setengah terbuka. "K-kok, gue sih," tanya Bintang mulai gugup karena sekarang Arjuna menatapnya lurus-lurus. "Ya, gara-gara lo gue kayak gini. Duh, nyesek!" Arjuna menepuk-nepuk dadanya dengan lebay. "Sakit jiwa!" kata Bintang lalu beranjak. Gara-gara berdebat sama Arjuna, Bintang sampai nggak nyadar kalau di kelas tinggal mereka berdua. "Dasar, nyebelin!" ucap Arjuna sambil lalu setelah melingkarkan tangannya sekilas di pinggang Bintang, menekannya dengan lembut. Bisa dibilang, itu pelukan singkat. Sialnya, Bintang merasa jantungnya berhenti saat itu juga. Lalu, debaran-debaran lain muncul. Debaran yang entah apa. Terlalu cepat hingga membuat kedua lututnya terasa lemas. Mungkin kaget, atau? "Genit banget sih tuh cowok!" katanya di sela debaran-debaran yang tak kunjung hilang. *** Setibanya di rumah, Bintang merasa wangi Arjuna ada di mana-mana. Di kamar, di ruang keluarga, di dapur, bahkan di kamar mandi. Bintang mencium seragam sekolahnya, mungkin aja parfum-nya Arjuna nempel di sana. "Nggak ada." Bintang menggeleng frustasi. Ia diam sambil memandang cermin dengan kedua tangan memegang wastafel. Bintang menghirup napas panjang, ternyata ... cuma perasaannya aja. Tapi, kok dia ngerasa nyium wangi Arjuna ya tadi? Hiii, udah kayak setan aja tuh anak. *** "Menurut gue ... kita putus aja, deh."  Seena terperanjat. Bola matanya yang cokelat menatap Jevilo tak percaya. "Putus?" "Gue nggak mau bikin Juna benci sama gue. Gimana-gimana, kan, gue Kakaknya juga. Lo juga, mending lo minta maaf sama dia." "Setelah apa yang gue lakuin sama dia? Lo pikir, segampang itu apa dia bisa maafin gue? Gue tau banget Arjuna itu susah lupa sama kesalahan orang. Kalau udah sakit hati, ya dia bakal sakit terus!" Jevilo diam, menarik napas pelan lalu memeluk kepala Seena. "Dia pasti mau maafin." "Arjuna itu pendendam. Gue nggak mau perasaan itu ngerusak hatinya sendiri," lirih Seena. Jevilo tersenyum tipis seraya mengusap rambut Seena. "Kita doain aja, semoga ada orang yang bisa nyadarin dia suatu hari nanti." Jevilo terbangun dari tidur dengan jantung berdebar kencang. s**l, belakangan ini dia sering banget mimpi tentang Seena. Cewek itu seakan menuntutnya untuk meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu. Memang, dulu Jevilo janji akan meminta maaf pada Arjuna di hari terakhir mereka bertemu. Tapi, karena suatu hal, Jevilo mengurungkan niatnya untuk meminta maaf. "Kalau aja waktu itu lo datang." Jevilo menatap langit-langit kamar. "Kita pasti nggak bakal sehancur ini. *** Pagi ini, Jevilo kaget melihat kedatangan Bintang yang tiba-tiba di rumahnya. Tumben aja Bintang main ke rumahnya tanpa diundang. Biasanya juga harus dipaksa-paksa dulu. "Ngapain, Bebek?" "Kok gitu? Nggak boleh nih main ke sini? Ya udah, aku pulang aja!" Bintang pura-pura ngambek. "Hemmm, sini-sini pacarku!" Jevilo menarik tangannya lalu mencium puncak kepala Bintang. "Tumben mau dateng ke sini sendiri?" "Mama pergi. Aku suntuk di rumah. Mumpung libur, jadi main-main ke sini, hehehe." Jevilo ikut tersenyum lalu mengacak-acak rambut pacarnya itu dengan sayang. "Aku mandi bentar, ya. Ngobrol sama Bunda aja, lagi di taman belakang," kata Jevilo sambil lalu. Bintang mengiyakan lalu bergegas menuju taman belakang rumah Jevilo. Setibanya di sana, Bintang melihat Bunda Jevilo tengah mengobrol seru dengan Arjuna. Awalnya sih, Bintang pengin mundur. Masalahnya, setiap ada Arjuna, ia merasa gimana gitu. Takut aja cowok itu curi-curi kesempatan untuk menyentuhnya. Arjuna itu kayak kabel yang terkelupas, kesenggol dikit nyentrum. Tapi, sialnya Arjuna udah keburu ngeliat dia. Malah, sekarang cowok itu setengah berlari ke arahnya. "Hai?" Arjuna mencubit pipi Bintang dengan santainya. "Katanya bete  sama gue," ucap Bintang sambil mengusap-usap pipinya. "Nggak lagi. Betenya udah ganti jadi kangen, hehehe," jawab Arjuna gembira. "Oh, ya udah!" Bintang berbalik tapi tangannya ditarik Arjuna. "Mau ke mana?" "Ketemu Jevilo-lah!" jawab Bintang sewot. "Ke kamarnya?" "Kalo iya, kenapa?" Entah kenapa, Bintang ingin tahu reaksi macam apa yang akan diberikan Arjuna. Baik itu ekspresi wajah, juga nada suaranya. "Ngapain, entar lo diapa-apain sama dia!" "Jevilo nggak pernah tuh macam-macam sama gue." "Nggak pernah apaan. Kayak gue nggak tau aja lo sering dicium dia kalo lagi nggak ada siapa-siapa." Setan! Perlu apa dibilangin. Bintang mengatup bibirnya rapat-rapat. Jadi, Arjuna selama ini suka ngintipin dia sama Jevilo pacaran? Iya? "Kan ciuman doang. Nggak ngapa-ngapain," Bintang nggak mau tau, dia perlu membela diri. "Ya sama aja. Itu namanya macam-macam!" Nada suara Arjuna meninggi. Sebenarnya, Bintang mau ketawa melihat eskpresi Arjuna yang kayak anak kecil ngambek. Mirip banget. Keningnya berkerut, bibirnya mencebik. Tapi, Bintang pura-pura nggak peduli aja. "Kenapa marah?" cibir Bintang. "Nyebelin emang jadi cewek," kata Arjuna sambil lalu setelah menabrak bahu Bintang dengan sengaja. Tuh kan? Suka banget deh Arjuna nabrak-nabrak dia kayak gitu. Genit, kan? "Lo juga kali nyebelin jadi cowok," balas Bintang. Detik berikutnya, ia terkikik geli membayangkan ekspresi Arjuna tadi. Di tempatnya duduk, Bunda mendengus melihat kelakukan Arjuna barusan, juga reaksi Bintang yang tertawa sendiri. Dua orang itu, bukan tidak mungkin menimbulkan masalah baru untuk Jevilo juga Arjuna. *** "Seena?" Jevilo terkejut waktu Bintang bertanya tentang siapa Seena. Dan lagi, dari mana Bintang tahu tentang Seena? "Iya, mantan kamu, kan?" tanya Bintang sembari tertawa kecil, menggodanya. "Gimana sih anaknya? Cantik, ya?" Jevilo tertawa garing, menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Bebek, ngapain nanyain dia?" "Mau tau aja. Gimana sih, anaknya? Cerita, dong, ceritaaa!" Bintang menggoyang-goyang lengannya manja. "Hemmm," Jevilo pura-pura akan menolak. "Ceritaaa!" Bintang mencubit pipinya. "Tapi, jangan cemburu, ya, kalo aku cerita tentang dia?" "Ngapain cemburu. Nggak akan!" Bintang mengacungkan jarinya berbentuk V. "Hemmm, namanya Seena Najwa. Cantik, lucu, pinter, baik juga. Paling males sama pelajaran Matematik. Pinter bahasa Mandarin, jago basket. Takut sama kucing tapi aksesorisnya gambar kucing semua," kata Jevilo, matanya seakan melihat Seena berdiri di hadapannya. Bintang berusaha menggambar sosok Seena di pikirannya. "Wah, menarik. Pantesan kamu sama Arjuna ngerebutin dia!" Senyum Jevilo pudar, bergantikan dengan ekspresi bingung. "Siapa yang bilang?" "Hehe, ada deh. Terus, sekarang, Seena di mana?" "Tanya Arjuna aja!" Jevilo beranjak dan masuk ke kamar, membanting pintu hingga membuat bahu Bintang terangkat karena kaget. "Kok marah?" sungut Bintang sambil menggaruk-garuk kepalanya. *** Karena nggak mendapat jawaban dari Jevilo, keesokan harinya, Bintang pun nekad bertanya sama Arjuna. Bukan apa-apa sih, Bintang cuma mau tahu aja sekarang cewek yang mereka rebutin dulu itu di mana? Apakah masih di kota ini? Kalau memang iya, Bintang pengin ketemu. Ya, sekedar berkenalan aja. Atau cuma tahu wajahnya aja juga boleh. Bintang penasaran, itu aja. "Seena?" Reaksi Arjuna persis seperti yang Bintang lihat pada Jevilo. Terkejut. "Iya. Mantan lo, kan?" "Tau dari siapa?" "Ada deh." Bintang udah janji sama Maya kalau dia nggak akan bawa-bawa nama Maya kalau jadi bertanya tentang Seena sama Jevilo maupun Arjuna. "Serius, lo tau dari mana tentang Seena?" "Udah deh, jawab aja. Seena itu pasti cantik banget, ya?" "Iya, saking cantiknya sampe direbut sama cowok lo!" kata Arjuna jutek. Nah! Jadi, bener, itu maksud kata-kata 'b******k' Arjuna kemarin. Bintang makin kepo nih, ia jadi pengen tahu banyak tentang Seena. "Iya, gue tau. Gue nggak nyangka kalo Jevi bisa kayak gitu. Mungkin, itu salah paham?" "Bintang, gue kasih tau sama lo, ya? Kalo lo nggak tau apa-apa, mending lo nggak usah tanya-tanya dan nggak usah ikut campur." "Gue kan nanya doang. Gue cuma pengin tau Seena itu gimana," kata Bintang sewot. "Yang jelas, Seena itu lebih cantik dari lo. Lebih baik dan nggak jutek kayak lo. Terus, dia juga jauh lebih pintar dari lo." Bintang mendecih. Nggak Jevilo, nggak Arjuna, bilang Seena itu cantik dan baik! Seperti apa sih orangnya? Kok, Bintang jadi merasa tersaingi, ya? Pasti istimewa banget sampe direbutin sama dua orang ini. "Terus, sekarang ... Seena di mana?" tanya Bintang akhirnya. Semoga aja Arjuna ngasih jawaban yang beda dari Jevilo. Dan benar, Arjuna memang menjawabnya, jawaban yang kemudian membuat bulu kuduk Bintang meremang. "Meninggal." *** Next BAB SEPULUH : "Kak Bintang, Kak Juna, ngapain?" tanya Nagita saat melihat tangan Juna melingkar di pinggang Bintang yang tertawa. Tapi, saat melihat Nagita, tawa Bintang lenyap seketika. =============== "Bintang?" "Hem?" "Gue punya pertanyaan." "Apa?" "Kalau emang gue gagal bikin lo jatuh cinta sama gue, memangnya ... lo minta gue ngelakuin apa?" Bintang tersenyum. "Lo sama Jevi damai. Itu aja." =====
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD