K a r m a n e l o | DELAPAN

2318 Words
K a r m a n e l o | DELAPAN  ARJUNA memutar bola di ujung jari telunjuknya sambil mengamati Bintang yang tengah mengobrol di teras kelas bersama teman-temannya. Ia tersenyum, lalu dengan sengaja Arjuna melempar bola itu ke sana. Tepat sasaran, bola itu menggelinding dan berhenti di ujung kaki Bintang. "Udah, biarin aja dia ambil sendiri!" kata Vinka. Bintang melihat Arjuna yang senyum-senyum di tengah lapangan. Seperti yang sering ia dengar dari Vinka, Arjuna itu paling suka tebar pesona. Caranya, ya itu, senyum-senyum nggak jelas. Memang sih, Arjuna itu cakep. Tapi, nggak genit juga kali. Dan lagi, ini sudah hari ketiga mereka sebangku, Arjuna selalu saja mencari-cari alasan untuk menyentuhnya. Misal, kayak bilangin di rambut Bintang ada sesuatu, atau saat ia berpapasan dengan Bintang, cowok itu sengaja menabrak bahu Bintang. Alhasil, Bintang menjadi gerah sendiri. Apa kayak gitu cara Arjuna membuatnya jatuh cinta? Yang ada, Bintang merasa kalau Arjuna itu genit dan otak m***m. Hiii. "Bintang, bolanya, dong?!" seru Arjuna. "Di antara kita, kenapa juga dia harus nyuruh lo, Bintang?" tanya Vinka, rada curiga. "Ya iyalah, Vinka, mereka kan temen sebangku. Wajarlah, Juna cuma inget Bintang doang," kata Mila, teman sebangku Vinka. "Tapi--" "Bintang, lo jadi wasit. Gantiin Yogi!" Tiba-tiba Arjuna sudah berdiri di hadapan mereka sambil bertolak pinggang. "Kenapa harus gue?" tanya Bintang bete. "Karena lo juga wasit di tim futsal cewek." "Males, ah. Yang lain aja, gih!" "Lama." Arjuna menarik tangan Bintang lalu menyeretnya ke tengah lapangan. "Nggak usah tarik-tarik juga kaliii," ucap Bintang sambil menarik-narik tangannya dari cengkraman tangan Arjuna. "Ops, sori!" Arjuna mengangkat kedua tangannya. "Kenapa harus gue, sih? Kan, yang lain bisa...," kata Bintang. Ia mengikat rambutnya menjadi satu. Melihatnya, Arjuna mendecak lalu mengangkat kedua tangannya untuk melepas ikatan tersebut. Lembut dan wangi rambut Bintang membuat Arjuna senyum-senyum sendiri, ia juga merapikan rambut Bintang dengan cara mengusap kepalanya tanpa peduli dengan Bintang yang melongo. Berani sekali Arjuna membelai-belainya di depan orang rame? "Gini lebih ... manis," kata Arjuna. Kata-kata itu meluncur begitu saja. Tulus dari hati. Dug. Bintang menendang lutut Arjuna hingga cowok itu mundur beberapa langkah karena kesakitan. "Jangan macam-macam, ya!" katanya galak. "Hehehe." Arjuna cengengesan sambil mengacungkan dua jari. Sementara itu, di kelasnya, Jevilo melihat adegan itu dengan rahang mengeras. Arjuna benar-benar ingin merebut Bintang darinya. Jevilo bukan tidak tahu kalau Arjuna sering mengajak Bintang mengobrol di kelas meskipun pacarnya itu kerap kali menolak. Jevilo tahu semuanya dari Vinka. Dari cewek cablak itu pula dia tahu kalau Arjuna sering banget merhatiin Bintang diam-diam. "Apaan, sih!" Jevilo mendecak. "Bebek juga, ngapain sih masih mau dekat-dekat Arjuna?" gumamnya bete maksimal. *** "Bintang, mending lo pindah aja deh duduknya! Kayaknya, Arjuna naksir deh, sama lo!" kata Vinka saat mereka keluar beriringan dari kelas. Bintang merespon ucapan Vinka dengan senyum tipis. "Woi, gue ngomong kaliii," Vinka mendelik kesal. "Iya, denger, kok." Bintang cemberut lantas mendengus. "Yang penting, gue nggak naksir sama dia. Iya, kan?" "Hellooo, Bintang. Arjuna itu, pintar iya, cakep iya, lucu iya, meskipun suka ngintipin kolor. Terus, dia juga nggak pelit. Juga, dia keknya tipe-tipe cowok romantis gitu, deh." "Ciyeee, lo tau banyak tentang dia. Jangan-jangan lo lagi yang naksir sama dia." Bintang menggoda Vinka sambil menyikut pinggang temannya itu. "Enak aja, lo. Semua cewek yang tau Arjuna juga pada ngomong gitu, kok. Gue cuma nerusin apa yang mereka bilang aja," Vinka membela diri. Bisa-bisanya Bintang mikir begitu. Liat Arjuna aja Vinka males. Mending Jevilo deh ke mana-mana. Eh, Vinka menepuk dahi menyadari pikiran bodohnya. "Kenapa lo?" "Engga. Tapi, emangnya, lo nggak ngerasa risih ya, deket-deket sama Arjuna gitu?" Bintang diam. Risih? Anehnya, justru Bintang merasa biasa aja dekat dengan Arjuna. Memang sih, Arjuna itu nyebelin, tapi terkadang ... ada sesuatu dari diri Arjuna yang membuat Bintang penasaran. Bukan berarti Bintang ingin lebih dekat dengan Arjuna, ya. Hanya saja, rasa penasaran itu mengajaknya untuk mengenal lebih dalam sosok Arjuna. "Engga. Biasa aja, sih." "Wah! Harus hati-hati lo, Tang. Arjuna punya sejuta pesona, loh." "Katanya lo bete sama dia, tapi lo puji juga dianya," cibir Bintang. Vinka hanya cengengesan mendengarnya. "Yah, karna kenyataannya emang gitu, kok. Tapi, kenapa ya tuh cowok sampe sekarang ngejomblo? Padahal, yang mau kan banyak!" "Mungkin, belom ada yang cocok kali." "Atau mungkin belom move-on." "Huh?" Bintang mengangkat satu alisnya. "Berarti dia baru putus, dong?" "Katanya sih, dulu Arjuna itu punya cewek. Mereka putus, nggak tau gara-gara apa. Gue dengar ceritanya dari si Maya. Dulu waktu SMP kan, Maya satu sekolah sama Arjuna, sama cowok lo juga," jelas Vinka. Setibanya di parkiran, Vinka pamit karena jemputannya sudah datang. "Bebek Sayang?" Tiba-tiba Jevilo muncul dari belakangnya lalu memberi ciuman singkat di kepalanya. "Aduh, Bebek apaan, sih?" Ia meringis saat Bintang mencubit perutnya. "Jangan cium-cium depan orang rame, deh." "Hemm?" Jevilo mengerling nakal. "Kalau nggak rame. Boleh?" godanya. Bintang memicingkan matanya sedikit lantas menjambak rambut pacarnya itu dengan gemas. "Nggaklah!" jawab Bintang pura-pura ngambek. "Hemm, gitu?" Jevilo menyeringai. "Main ke rumah Papi yuk, Bebek. Kemaren, Bunda nanyain kenapa kamu nggak pernah dateng lagi." Bintang diam, menimbang-nimbang. Memang, sudah hampir dua bulan ia nggak main ke rumah Jevilo. Selain bukan karena sibuk membantu katering mamanya, juga karena sibuk belajar, mengingat beberapa bulan lagi mereka Ujian Nasional. Sejujurnya sih, Bintang ingin bertemu dengan Nagita juga Bunda-nya Jevilo. Bisa dibilang Bintang udah dekat banget sama mereka. "Ya udah." Bintang mengangguk setuju. Jevilo bersorak lalu meraih jari-jari Bintang dan menggenggamnya erat. Bintang mengernyit, tidak biasanya genggaman ini terasa begitu erat. *** "Kak Bintang?!" seru Nagita ketika mendapati Bintang berdiri di depan kamarnya sambil tersenyum. "Hei, Cantik. Apa kabarnya, nih?" tanya Bintang seraya mengusap-usap kepala Nagita. "Baik. Kak Bintang ke mana aja, sih? Kok, baru main ke sini ...," jawab Nagita dengan raut sedih. "Hehe, Kakak sibuk belajar sama bantuin mamanya Kakak, Sayang. Kamu lagi ngapain, nih?" Nagita mengangguk paham. "Nagita mau main piano sama Kak Juna!" kata Nagita. "O, Kak Juna," Bintang membeo kecil. Nagita tersenyum, serta merta ia menarik tangan Bintang menuju kamar Arjuna yang pintunya setengah terbuka. "Kak Juna!" panggil Nagita, tangan mungilnya membuka pintu kamar lebar-lebar. "Ups!" Nagita menutup mulutnya saat melihat Arjuna yang hanya memakai celana boxer pendek. Bintang menelan ludah kering kala matanya dan mata Arjuna bertemu. Cowok itu sepertinya baru membuka baju sekolahnya. Sialnya ... kenapa Bintang sekarang bukannya menutup mata? Malah mengamati bentuk tubuh Arjuna yang diam-diam harus ia akui, untuk ukuran anak SMA, Arjuna keren banget. Arjuna mengerjap, berdeham, lalu pura-pura batuk. "Ngapain kalian di sini?" tanyanya pura-pura cuek dengan tatapan Bintang. "Kak Juna pake bajunya!" seru Nagita. "Nggak, ah. Males." "Ih, masa nggak malu sama Kak Bintang?!" Arjuna mengulum senyum lalu menengok Bintang. "Hai?" sapanya dengan senyum manis. Bintang gelagapan, ia memutar tubuh untuk segera kabur tapi suara Arjuna menahannya. "Bintang? Bentar, deh." Mau tak mau, Bintang pun menarik kembali kaki kanannya yang sudah melangkah. "Nagita, ambilin tas Kak Juna dong di atas kulkas. Tadi, Kakak lupa bawa," katanya pada Nagita. Tanpa berkata-kata, Nagita begegas turun, meninggalkan Bintang dan Arjuna yang diserbu kecanggungan luar biasa. Arjuna berdeham lalu berjalan ke pintu, tempat di mana Bintang berdiri. "Masih marah sama gue?" "Marah kenapa?" Bintang mengangkat satu alisnya. "Hemm, kalau lupa berarti udah nggak marah lagi, hehehe." Bintang nggak tahu harus memberi reaksi seperti apa. Nada dan cara bicara Arjuna seolah-olah cowok itu benar-benar tulus ingin mendekatinya. Apalagi, cara Arjuna memandangnya. "Bintang?" samar-samar terdengar suara Jevilo memanggil dari bawah. Bintang menarik napas lega. Setidaknya, panggilan itu menyelamatkannya dari situasi yang entahlah, membuat Bintang berdebar-debar. Bintang beranjak tapi tiba-tiba Arjuna menarik pergelangan tangannya. "Apaan sih, lepas nggak?!" Bintang menjerit tertahan, berusaha melepaskan cengkraman tangan Arjuna. "Males," katanya cuek. "Lepasin, deh!" Bintang mencubit-cubit lengan Arjuna supaya cowok itu melepaskannya. Tapi, Arjuna malah cekikikan. "Lo lucu ya kalo lagi cemberut. Gemas," Arjuna senyum-senyum nggak jelas. Tepat saat terdengar langkah kaki mendekat, Arjuna melepas tangan Bintang. Tanpa berkata apa-apa, Bintang segera berlari turun. Jantungnya seakan melompat waktu mendapati Jevilo sudah berdiri di tengah tangga, menatapnya curiga. "Dari mana?" "Eng ...," Bintang meremas ujung bajunya dengan cemas. Jevilo mencuri pandang pada pintu kamar Arjuna yang setengah terbuka. Ia tersenyum tipis. "Bebek, jangan dekat-dekat Arjuna, dong. Iya, aku udah terima kalo kamu duduk sebangku sama dia. Oke, nggak masalah. Tapi, jangan mau diajak ngobrol sama dia. Aku nggak suka," kata Jevilo jujur. Ia kemudian menarik Bintang, membuat posisi mereka saling berhadapan. "Kalau sampe kamu suka sama dia," Jevilo menarik napas dalam dan mengembuskannya seakan frustasi. "Sakitnya tuh, di sini ...," Jevilo menunjuk hatinya. Melihat itu, Bintang tertawa kecil. "Aku nggak mungkin suka sama Arjuna," kata Bintang sambil menatap dalam-dalam mata Jevilo yang menyiratkan keraguan. "Tapi, kamu pernah suka sama dia, Bebek. Kita nggak tau apa yang terjadi besok, besok, dan besoknya lagi...," Jevilo berkata lirih sambil mengusap pipi Bintang dengan lembut. "Aku nggak mungkin suka sama Arjuna," Bintang mengulangi kalimatnya, berusaha meyakinkan Jevilo juga dirinya sendiri. Jevilo tersenyum lalu membunuh jarak di antara mereka dengan cara menarik Bintang lebih dekat dengannya. Bintang tahu arti gerakan itu. Ia tersenyum malu-malu dan membiarkan Jevilo menciumnya tepat di bibir. Ciuman sebagai pengganti kata sayang dan juga ingin membuktikan kalau hubungan mereka masih memiliki rasa. Bukan hambar seperti yang Jevilo pikir. Di ambang pintu, Arjuna melihat itu dengan jantung berdebar. Keseluruhan hatinya hancur bersama dengan harapan yang tercampak menyedihkan. Ia mendesah panjang melihat Bintang begitu tenang berada dalam pelukan Jevilo. Mereka seperti dua orang yang benar-benar saling mencintai. Dengan seluruh hatinya yang berantakan, Arjuna menutup pintu kamarnya perlahan. Perasaan ini memang awalnya tak punya nama. Tapi, seiring berjalannya waktu dan seringnya pertemuan, Arjuna tahu, kalau Bintang telah menyentuh hatinya. Akhirnya, mau tak mau, Arjuna harus mengakui kalau perasaan ini bernama ... cemburu. *** "Kak Juna, makan malam, yuk!" Nagita setengah teriak saat memanggilnya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Dengan setengah mengantuk, Arjuna membuka pintu lalu mencubit pipi Nagita. "Iya, sabar, Jelek!" katanya. "Hihi, cepat, Kak!" Nagita menarik-narik tangannya dengan manja. "Eh, tunggu dulu, dong. Kakak belum mandi, tau." "Entar aja mandinya. Bunda nyuruh cepat, loh!" "Hemm, sama aja nih orang berdua, bawel!" cibir Arjuna. Nagita cekikikan mendengarnya. "Bentar. Kakak cuci muka dulu," Arjuna buru-buru ke kamar mandi. Dua menit kemudian, ia muncul dengan rambut setengah basah. Sambil bercanda, mereka menuruni tangga. Arjuna kaget waktu melihat Bintang masih di rumah ini. Antara marah, kesal, tapi juga kangen dan senang karena bisa melihat Bintang, ia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Bintang. "Kak Arjuna nggak mandi, loh!" celetuk Nagita. Pipi Arjuna merah karenanya. Belum lagi, ia mendengar suara tawa dari Bunda dan ... Bintang. "Hem, entar habis makan mandi," ucapnya membela diri. "Mandi malem nggak baik, loh," kata Bintang, "entar, kalo kebiasaan bisa jadi penyakit." Arjuna mendongak, menengok Bintang sekilas. "Biarin." "Hem," Jevilo berdeham tanpa menoleh pada Bintang maupun Arjuna. Bintang paham, ia mengurungkan niat untuk membalas ucapan Arjuna. Bunda diam-diam memperhatikan Arjuna yang mencuri-curi pandang pada Bintang. Rasa khawatir itu pun muncul. Ia mengembuskan napas sambil menggeleng kecil, berusaha menepis ketakutan itu. Arjuna tidak mungkin melakukan kesalahan yang dilakukan ibunya dulu. *** "Jevilo! Setan lo! Buka, woi!" Baru juga jam tujuh, tapi toilet cowok udah heboh. Mereka yang lewat di depan toilet cuma bisa menggeleng melihat Jevilo cekikikan di depan pintu. Dasar! Nggak perlu ditanya, pasti Jevilo ngunciin anak orang lagi di toilet. Emang penyakit. "Awas lo, ya! Sumpah, keluar dari sini gue jepit burung lo!" teriak satu di antara sepuluh cowok yang ada di dalam sana. Tawa Jevilo meledak. "Hahaha! Gue pergi, yaaaa? Daaah!" teriak Jevilo. "Woi! Buka dulu kali, Jev! Anjirlah!" "Bang Je, gue nggak tahan, nih. Bau banget di sini, Bang!" "Jevilo! Buka nggak, k*****t?!" "Males, ah! Daaah, gue pergi, yaaaa?" Jevilo teriak lagi. Cowok-cowok di toilet mencak-mencak. Dengan sekuat tenaga mereka mencoba mendobrak pintu tapi gagal. Lima detik kemudian, pintu terbuka tiba-tiba. Jevilo nyengir sambil mengacungkan jarinya yang berbentuk V. "Eh, gue mau minta tolong  dong sama kalian," kata Jevilo kemudian dengan mimik serius. *** Ini masih pagi. Udaranya juga masih sejuk. Tapi, omongan Arjuna entah kenapa bikin Bintang merasa gerah. Cowok itu nggak berhenti ngomong sejak Bintang tiba di kelas. Dan yang diomongin Arjuna juga entah apa, Bintang jadi bete dibuatnya. "Bintang, lo tau nggak?" Tuh, mulai lagi. Baru juga diam semenit. "Hem?" Bintang menjawab tanpa menoleh. Ia lebih memilih melihat teman-temannya yang keluar masuk kelas. "Gue kalo udah suka sama satu cewek, pasti bakal terus gue kejar-kejar sampe dapat." "Huh?" Kali ini Bintang menengok Arjuna. "Gue nggak peduli dia punya pacar. Gue akan tetap berusaha," Arjuna menyunggingkan senyum tipis, lebih kepada seringaian. "Hah? Lo ngomongin siapa?" "Dan lo tau nggak?" "Apa lagi?" Bintang mau tak mau menunjukkan ekspresi kesalnya. "I wanna kiss you," kata Arjuna lalu menekan bibir Bintang dengan jempolnya. Awalnya, Bintang terpaku dengan sorot mata Arjuna yang menyimpan sejuta rasa. Salah satunya : luka. Ia bahkan membiarkan Arjuna menyapu bibirnya perlahan dengan ibu jari Arjuna yang terasa agak kasar. "b******k, lo!" Bintang menepis kasar tangan Arjuna. Sinar mata Arjuna semakin redup. Ia tersenyum sedih lalu membuang muka, menghindari tatapan sengit Bintang. "Ia, gue emang b******k," kata Arjuna pelan, tapi Bintang dengan sangat jelas mendengarnya. "Harusnya, gue nggak ngelakuin apa yang dulu cowok lo lakuin. Kalo gini, sama aja gue brengseknya sama dia." "Maksud lo apa?" Bintang nggak bisa menahan diri untuk nggak bertanya. "Cari tau aja sendiri," Arjuna berkata sambil beranjak ke luar kelas. Bintang menatap punggung Arjuna dengan bibir cemberut. "Dasar cowok nyebelin!" rutuk Bintang kesal. "Emangnya, Jevilo ngelakuin apa, sih?" Sepertinya, Bintang memang harus mencari tahu tentang masa lalu kedua cowok itu. *** Next BAB SEMBILAN : "Dulu, Jevilo ngerebut pacarnya Arjuna!" kata Maya, "Namanya Seena." "Serius, kamu?" "Iya. Emangnya, kamu nggak pernah nanya-nanya Jevi mantannya siapa aja?" "Engga. Terus, terus?" "Terus sekarang, mending lo tanya sendiri aja sama Arjuna. Kan, lo sebangku sama dia." ============= "Yang jelas, Seena itu lebih cantik dari lo. Lebih baik dan nggak jutek kayak lo. Terus, dia juga jauh lebih pintar dari lo." Bintang mendecih. Nggak Jevilo, nggak Arjuna, bilang Seena itu cantik dan baik! Seperti apa sih orangnya? Kok, Bintang jadi merasa tersaingi, ya? Pasti istimewa banget sampe direbutin sama dua orang ini. "Terus, sekarang ... Seena di mana?" tanya Bintang akhirnya. =============
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD