K a r m a n e l o | TUJUH

1592 Words
K a r m a n e l o | TUJUH "Jevilo itu Kakak kamu, Juna. Sopan sedikit, dong! Harusnya kamu menghormati dia, bukan bersikap kayak gini terus-terusan!" "Males. Nggak butuh orang kayak dia." "Arjuna! Kamu harusnya sadar kita itu di sini numpang. Kamu tau diri, dong!" "Udahlah, Ma. Kita pindah aja dari sini. Lagian, Ayah juga nggak peduli sama kita." "...." "Bener, kan? Ayah itu nggak peduli. Udahlah, kita pindah dari sini. Entar, Arjuna nyari kerja sambilan buat makan kita." "Kamu kapan dewasanya sih, Juna?" "Arjuna udah dewasa dari dulu, Mama aja yang anggap Juna masih kayak anak kecil." *** JEVILO berhenti di anak tangga saat melihat tiga orang sedang tertawa bersama di meja makan. Nagita, Bunda, dan... Arjuna. Pemandangan yang tidak biasa. Jevilo mendesis lalu kembali melanjutkan langkah. Ia menarik kursi di sebelah Arjuna dengan kasar. "Pagi, Kak?" sapa Nagita seraya tersenyum. Jevilo membalas dengan senyum lebar lalu perlahan menoleh pada Arjuna yang tersenyum padanya. "Hai," kata Arjuna acuh tak acuh. "Hem," balas Jevilo nggak minat. Bunda tersenyum tipis melihat sikap Jevilo yang sepertinya belum bisa menerima kehadiran Arjuna di tengah-tengah mereka. Dengan sentuhan lembut, di usapnya punggung tangan Jevilo. Seakan memberi tahu kalau semua pasti akan baik-baik saja. Jevilo hanya menanggapi dengan deheman kecil lalu cepat-cepat melahap nasi goreng bagiannya. *** "Bentar ya, Sayang, kayaknya ada tamu, nih. Entar aku telpon, yah! Bye, muah!" Bintang terpaksa menutup telepon dari Jevilo saat mendengar pintu rumahnya diketuk berkali-kali. Dengan malas Bintang beranjak dari sofa menuju pintu depan. Bintang ternganga waktu melihat Arjuna berdiri di hadapannya sambil bersidekap. "Lama banget sih bukanya? Ngapain coba?" semprot Arjuna dengan bibir cemberut. Bintang memutar bola mata kesal lalu bertolak pinggang. "Ngapain lo di sini? Kok, lo tau rumah gue?" Arjuna mau tak mau tersenyum ketika suara khas Bintang menggelitik telinganya. "Biasa aja kali nanyanya. Mau mainlah," jawab Arjuna sambil terkekeh. Bintang memicingkan mata sedikit. "Dari mana lo tau alamat rumah gue?" "Hellooo, Bintang. Kita itu satu sekolah udah hampir tiga tahun. Gue juga sering kok, lewat sini. Gue sering juga perhatiin lo lagi nyabutin rumput di halaman." "Perhatiin?" kata Bintang tanpa sadar. "Maksud gue, eh... iya... gue sering perhatiin lo." Arjuna sengaja memanis-maniskan senyumnya. "Oh." Entah kenapa Bintang merasa aneh melihat senyum dan nada suara Arjuna barusan. Cowok itu terlihat salah tingkah. Tik.Tik. Tik. Ribuan rintik air yang menghantam genteng rumah membuat keduanya menoleh ke atas. Hujan. "Yah, hujan. Gue nggak disuruh masuk nih," keluh Arjuna pura-pura teraniaya. Bintang mau tak mau membuka lebar-lebar pintu rumahnya, membiarkan Arjuna masuk ke rumah sambil senyum-senyum. "Lo sama siapa di rumah?" tanya Arjuna setelah tiba di ruang tamu. Hujan terdengar semakin deras, kain gorden jendela berkibar-kibar hebat, membuat Bintang tanpa sepengetahuan Arjuna melompat ke sofa. "Eh, jendelanya tuh!" seru Arjuna lagi lalu menoleh pada Bintang yang duduk memeluk bantal sofa sambil menatapnya horor. "Tu... tupin, dong," kata Bintang antara malu dan penuh harap. "Huh?" Arjuna nyaris tertawa menyadari kalau ternyata Bintang sedang ketakutan. "Lo takut hujan?" "Gue...," Bintang nggak melanjutkan ucapannya saat melihat Arjuna beranjak menuju jendela. Dilihatnya Arjuna menutup jendela-jendela itu dengan tenang. "Kok takut sih sama hujan?" tanya Arjuna setelah kembali duduk. "Eng... gue takut sama anginnya doang," jawab Bintang dengan nada jutek. "Yakin?" goda Arjuna sambil setengah tertawa. Bintang mendongak untuk melihat wajah Arjuna yang kini tengah tersenyum hingga menampakkan lesung pipinya. "Lo ngapain ke sini?" "Hmm, mau mainlah. Kan, tadi gue udah bilang?" "Iya, tapi—" "Bintang, lupa, ya?" Arjuna memasang tampang serius, membuat bulu kuduk Bintang meremang. "Gue pengin kita jatuh cinta bersama." *** Jevilo memandang layar ponselnya dengan kening berkerut. Sudah lebih dari sepuluh kali ia menelepon nomor Bintang tapi tak kunjung diangkat. Mana hari hujan lagi. Jevilo tahu banget kalau pacarnya itu takut hujan, apalagi kalau anginnya kencang kayak sekarang. Ngapain dia sekarang? "Tidur kali, ya?" Jevilo mengira-ngira sambil memandang hujan yang turun membasahi kaca jendela kamarnya. Detik berikutnya, Jevilo tersenyum waktu mengingat kebersamaan ia dan Bintang saat hujan turun. Tepat saat Bintang ketakutan dan memeluk lengannya erat-erat, dengan perlahan Jevilo mencuri ciuman pertama Bintang. Wajah merona malu-malu Bintanglah membuatnya tersenyum saat mengingatnya. "s****n, kangen banget gue sama si Bebek. Bebek, angkat dong telpon gue!" Jevilo mendecak frustasi. *** "Mama gue tadi pergi," kata Bintang saat Arjuna bertanya sekali lagi. "Oh, asik dong, berduaan." "Jangan macam-macam, ya!" seru Bintang sambil mengacungkan tinjunya. "Haha, lucu banget sih lo. Emangnya gue mau ngapain coba?" Arjuna terkikik geli, membuat Bintang makin keki. Hening beberapa saat. Hujan tak kunjung reda, membuat perasaan Bintang makin gelisah. Sekarang, di depannya, ada cowok paling sok eksis di sekolah yang sengaja datang untuk main ke rumahnya. Cowok yang tidak lain adalah adik tiri dari pacarnya. Kalau ada yang tahu gimana? Dan kenapa sih, Arjuna datang pas lagi nggak ada mamanya di rumah? Entar, kalau Arjuna macam-macam gimana? Mana masih hujan lagi. "Kalo lo takut berduaan sama gue di sini, sana gih ke kamar aja. Kunci pintunya," kata Arjuna seakan membaca pikiran Bintang. "...." "Gue nggak sebrengsek itu, Bintang. Atau gue pamit pulang sekarang aja, deh?" Arjuna buru-buru tegak. Demi apa dia benar-benar nggak tega melihat Bintang gelisah setengah mampus kayak gini. "Masih hujan!" seru Bintang tiba-tiba. Apa harus ya Bintang ngomong jujur ia masih takut? Suara angin dan hujan yang beradu membuatnya benar-benar ketakutan. "Ya, biarin aja. Palingan juga basah," jawab Arjuna cuek lalu melangkah menuju pintu. "Eh!" Bintang meraih lengan Arjuna yang hangat, seketika langkah Arjuna berhenti. Saat ia memandang dua bola mata hitam Bintang, ribuan sayap kupu-kupu menggelitik perutnya. "Jangan pulang dulu," kata Bintang lirih. Arjuna bergeming. Sentuhan tangan Bintang membuatnya kehabisan kata-kata. Mana ia tahu kalau Bintang mampu membuatnya merasakan debaran aneh itu lagi. Persis seperti hari itu, ketika ia melihat wajah Bintang yang dihujani sinar matahari. Juga tabrakan singkat di depan toilet tempo hari. Intinya, Bintang telah menyentuh hatinya. "Lo mau minum apa?" Suara Bintang memecah keheningan. Tangan itu terlepas dari lengan Arjuna dan perasaan kehilangan tiba-tiba muncul ke permukaan. "Apa aja," katanya singkat. Bintang tersenyum kikuk lalu berlari kecil menuju dapur. Saat mendengar suara genteng rumah tetangga sebelah berbunyi keras, Bintang berjengkit kaget, membuat Arjuna tersenyum kecil. Arjuna lalu mengitari ruang tamu, ia baru menyadari kalau ada piano di pojok ruangan. Ia mengayunkan kakinya ke sana lalu duduk di depan piano tersebut sambil menekan tuts berwarna putih. Ting. "Hem?" Bintang sengaja berdeham lalu menaruh teh hangat di atas meja. "Lo suka main piano?" tanya Arjuna tanpa menoleh. "Dari kecil gue udah suka main piano." "Oh, boleh coba?" Arjuna mengangkat satu alisnya. Bintang menjawab dengan anggukan. Hujan menyisakan rintik-rintik dan udara dingin. Bintang memeluk tubuhnya sambil mengamati Arjuna yang baru meletakkan jari-jarinya di atas tuts. Cara Arjuna duduk mengingatkannya dengan Jevilo. Mirip. Sama-sama nyebelin. Batin Bintang. "Silent love... is calling faith... To shatter me, through your hallways," Suara Arjuna membuat Bintang termangu. "Into echoes you can feel... And rehearse the way you heal," Arjuna berdeham, membuat Bintang tersentak. "Nggak usah sampe bengong juga kali. Suara gue emang bagus." "Apaan, sih. Minum nih, abis itu pulang!" kata Bintang kembali galak. Arjuna beranjak dari depan piano lalu duduk di sebelah Bintang hingga lengan mereka bersentuhan. "Makasih. Kenapa nggak dari tadi, kan gue haus," kata Arjuna berusaha bersikap cuek. Bintang bergeser sambil mencibir. "Abis ini pulang ya, kan nggak hujan lagi." "Hem," jawab Arjuna masih pura-pura cuek. Sialan. Gue kenapa, sih? Arjuna hati-hati melirik Bintang yang sepertinya sedang memandangnya. Benar, Bintang sedang mengamatinya. "Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Arjuna salah tingkah. "Eng... nggak panas, ya? Tadi airnya baru mendidih soalnya. Kok, lo minumnya asik aja?" Prrrooot. Arjuna tanpa sengaja menyemburkan teh yang baru saja diminumnya. "Wanjir, bibir gue! Panas, blahblahblah!" Bintang nggak tahu harus ketawa atau gimana. Yang pasti reaksi Arjuna barusan membuatnya mau tak mau terkikik geli. "Kok lo nggak bilang sih kalo masih panas?" "Lah? Kok nyalahin gue? Yang minum siapa? Masa lo nggak nyadar kalo tehnya masih panas?" "Iya, itu karena lo ngeliatin gue!" "Gue ngeliatin lo karena heran kenapa lo nggak kepanasan?!" "Gue...," Arjuna nggak melanjutkan kata-katanya. "Ya udah deh, gue pulang." Arjuna segera beranjak sambil memegang pipinya yang terasa panas. "Anjir, gue grogi setan! Aduh, bibir gue jadi korban," gumam Arjuna kesal lalu berlari menuju motornya. Bintang mengintip Arjuna yang baru saja keluar dari pekarangan rumahnya. Tanpa sadar, Bintang tersenyum tipis. Entah kenapa, Bintang merasa kalau Arjuna tidak seburuk yang ia pikirkan. Tapi, bukan berarti ia akan membiarkan Arjuna menyentuh hatinya, loh. Baginya, Jevilo saja sudah cukup untuk membuatnya bahagia. Ia nggak butuh yang lain lagi. Tapi, sepertinya Bintang tidak menyadari satu hal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, bunga-bunga  yang pernah tumbuh tapi juga layu karena Arjuna, kini satu demi satu mekar kembali. *** Next BAB DELAPAN : "Aku nggak mungkin suka sama Arjuna," kata Bintang sambil menatap dalam-dalam mata Jevilo yang menyiratkan keraguan. "Tapi, kamu pernah suka sama dia, Bebek. Kita nggak tau apa yang terjadi besok, besok, dan besoknya lagi...," Jevilo berkata lirih sambil mengusap pipi Bintang dengan lembut. "Aku nggak mungkin suka sama Arjuna," Bintang mengulangi kalimatnya, berusaha meyakinkan Jevilo juga dirinya sendiri. Jevilo tersenyum lalu mencium Bintang tepat di bibirnya. Ciuman sebagai pengganti kata sayang dan juga ingin membuktikan kalau hubungan mereka masih memiliki rasa. Bukan hambar seperti yang Jevilo pikir. Di ambang pintu, Arjuna melihat itu dengan jantung berdebar. Keseluruhan hatinya hancur bersama dengan harapan yang tercampak menyedihkan. ============== "Bintang, lo tau nggak?" "Hem?" "Gue kalo udah suka sama satu cewek, pasti bakal terus gue kejar-kejar sampe dapat." "Huh?" "Gue nggak peduli dia punya pacar. Gue akan tetap berusaha." "Hah? Lo ngomongin siapa?" "Dan lo tau nggak?" "Apa lagi?" "I wanna kiss you," kata Arjuna setelah menekan bibir Bintang dengan ujung jempolnya. "b******k, lo!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD