K a r m a n e l o | ENAM

2128 Words
K a r m a n e l o | ENAM Karna mereka hanya mendengar, melihat... tetapi tidak merasa. Orang seperti mereka, tidak akan pernah mengerti. ARJUNA tahu, mendekati Bintang adalah satu kesalahan. Tak peduli dengan betapa angkuhnya seorang Jevilo karena menjadi pentolan sekolah, ia akan tetap mendekati Bintang. Kalau soal berantem, Arjuna nggak bakal kalah sama kemampuan bela diri Jevilo. Mereka sama-sama jago, kok. Bagi Arjuna, nggak ada yang lebih penting selain membuat Jevilo merasakan apa yang dulu ia rasakan. Damai? Hal itu, andai saja Arjuna bisa, ia pasti akan menerima, melupakan, merelakan apa pun yang Jevilo lakukan padanya dulu. Tapi, rasanya... sangat sulit. Bukan semudah yang mereka katakan, 'Sudahlah, lupakan, 'Sudahlah, ikhlaskan'. Ada bagian dari dalam diri Arjuna untuk terus bertahan, mantap pada pendiriannya, pada tekadnya, pada niatnya untuk mengenalkan Jevilo pada karma. Seena. Malam ini, entah kenapa, Arjuna teringat kenangannya dengan gadis itu. Senyum Seena di ingatannya membawanya mundur ke masa lalu, masa di mana ia dan Seena masih bersama. Seena Nazwa adalah gadis keturunan Jawa, bertutur lemah lembut, sopan, dan senyumnya selalu mampu membuat perasaan Arjuna nyaman. Ia memiliki satu lesung pipi di bagian kanan. Semua orang bilang mereka mirip dan cocok banget. Dua tahun bukan waktu singkat untuk dua orang saling sayang, kan? Tapi, bagaimana kalau tiba-tiba ada orang ketiga yang datang dan memporak-porandakan dua hati? Memilih mana? Melepaskan atau bertahan? Jevilo tahu Seena itu pacarnya. Awalnya, Arjuna biasa saja waktu melihat Jevilo sering menyapa Seena-nya. Ia juga masih biasa saja waktu Jevilo menghadang jalan Seena setiap kali pacarnya itu mau masuk ke kelas. Ia juga masih berusaha tenang saat Jevilo dengan santainya mengacak-acak rambut pacarnya di hadapannya. Masalah timbul saat Seena dengan senang hati mulai membiarkan Jevilo mengajaknya mengobrol lama-lama. Seena juga acap kali curi-curi pandang setiap kali ada Jevilo bermain bola di lapangan. Sebulan kemudian, Arjuna merasa Seena-nya berubah menjadi orang asing. Hubungan itu menjadi hambar. Seena juga mulai sering ngaret membalas pesan-pesannya. Dan yang paling menyakitkan bagi Arjuna adalah, diam-diam Seena menerima tawaran Jevilo untuk mengantarnya pulang sekolah. Tentu saja setelah Arjuna pulang lebih dulu. Arjuna juga tahu itu dari teman-temannya. Sejak hari itu pula, Arjuna mulai keras dan bertindak berlebihan terhadap semua aktifitas Seena. Baik di sekolah maupun di luar sekolah. Arjuna kerap kali melarang pacarnya itu untuk keluar kalau tidak dengannya. Rentetan penolakan keluar dari mulut Seena. Cewek itu juga mulai sering menuduh kalau-kalau Arjuna selalu mencari kesalahannya. Sampai akhirnya, di suatu sore yang dingin karena hujan deras, di ruang kelas yang sunyi, Arjuna mendengar obrolan antara Seena dan Jevilo. "Gimana, mau kan, jadi pacar gue?" "Lo apaan sih, Je. Gue nggak mungkinlah jadian sama lo. Lo tau sendiri gue tuh masih jadian sama Arjuna." "Tapi, katanya lo udah nggak sayang lagi sama dianya." "Iya, tapi... rasanya... gue salah kalo milih lo." Ada jeda sesaat. Arjuna menggertakkan gigi bersamaan dengan tangannya yang mengepal geram. "Tapi, lo kan udah janji... kalo gue berhasil bikin lo suka sama gue dalam sebulan, lo mau jadi pacar gue." "Tapi, gimana caranya mutusin Arjuna...." Belum ada lima detik Seena menyelesaikan ucapannya, Arjuna meninju kaca jendela hingga pecah dan membuat jari-jari tangannya yang terkepal mengeluarkan darah. Seena terperanjat saat melihat  Arjuna berdiri di luar kelas dengan kedua bola mata berkilat marah. Perlahan, Arjuna mengayunkan kakinya menghampiri mereka. Awalnya ia melirik Seena dengan tatapan sendu, penuh luka, juga kecewa. Tapi, cewek itu hanya bergeming dengan tubuh gemetar. Tidak mengatakan apa-apa. Ia malah mundur dan berlindung di belakang punggung Jevilo, menghancurkan hati Arjuna tanpa ia sadari. "Gue pernah dengar kata-kata ini dari seseorang." Arjuna mendesah, tertawa kecil lalu menatap dua orang di depannya dengan senyum sedih. "Lebih baik melepaskan orang yang kita sayang untuk mereka yang lebih membutuhkan. Karena pengkhianat dan penggoda itu cocok. Biarkan mereka hancur bersama." Hanya itu. Tidak butuh satu, dua, tiga pukulan. Arjuna lantas meninggalkan keduanya dengan tangan terkepal kuat-kuat. Ia  pergi menembus hujan dan angin kencang yang melibas tubuhnya keras-keras. Demi Tuhan, suatu hari nanti, jika waktunya tiba... ia akan membalas perbuatan Jevilo terhadapnya. Dan, waktu itu akhirnya tiba. *** "Pagi?" sapa Arjuna pada Bintang yang baru saja tiba. Arjuna juga sengaja menghalangi jalan Bintang yang mau masuk ke kelas. "Minggir, dong. Mau lewat, nih," kata Bintang agak jengkel. Perihal pemaksaan sehari lalu yang mengharuskan ia duduk dengan Arjuna membuat Bintang jadi bete banget ngeliat Arjuna. Sekalinya kenal kok malah nyebelin. "Silakan!" Arjuna bergeser ke kanan dan membiarkan Bintang lewat. Dengan tampang yang sengaja dibuat cemberut, Bintang masuk ke kelas. "Kenapa sih, kayak nggak seneng liat gue aja," kata Arjuna yang rupanya sengaja mengekori Bintang. "Biasa aja." Bintang menaruh tasnya ke meja lalu duduk. "Biasa aja tapi kok ngomongnya gitu banget. Jutek nggak jelas," sindir Arjuna lalu mengenyakkan tubuh di sebelah Bintang. "Serius nih ya, lo ngapain sih, maksa-maksa gue duduk sama lo? Kalo Jevilo tau bisa abis lo." Kali ini Bintang memberanikan diri menatap Arjuna lurus-lurus sekaligus membawa nama Jevilo dengan nada mengancam. Tapi Arjuna  malah menggigit-gigit bibir sambil menopang dagu. "Belagu banget," kata Bintang sewot karena perkataannya tak digubris. "Siapa yang belagu?" "Elo." "Cowok lo tuh yang belagu. Panggil ke sini deh biar gue hajar." Arjuna sengaja membuat panggung memanas. Bukan hanya karena suka mendengar suara Bintang, tapi juga ekspresi kesalnya yang terlihat lucu dan menggemaskan. Kayak anak kecil yang lagi ngambek karena mainannya diambil. "Kalo lo ada masalah sama cowok gue, ya ngomong aja langsung sama orangnya. Kenapa bilang belagunya sama gue." "Suka-suka guelah mau bilang siapa aja belagu, termasuk lo!" "Awas aja lo. Gue bilangin Jevi entar!" Kali ini Bintang serius dengan ucapannya. Mau dibilang kekanakan kek, apa kek, intinya Bintang bete mampus sama sikapnya Arjuna yang songong abis. Dia pikir dia siapa maksa-maksa Bintang duduk dengannya? "Bilangin aja. Malah itu yang gue tunggu," ucap Arjuna sembari tertawa kecil. Mendengarnya Bintang hanya mendengus pasrah. Satu yang ia tangkap, sifat Arjuna dan Jevilo emang nggak jauh beda. Sama-sama kepala batu dan susah ditebak apa maunya. Bintang jadi ingat gimana gencarnya Jevilo mengejar-ngejarnya dulu. Ya kayak Arjuna ini, maksa. Bukan berarti Bintang mikir Arjuna naksir dia, ya. Itu sama sekali nggak pernah terlintas di pikirannya. Hanya saja, sikap Arjuna ini benar-benar menimbulkan sejuta tanya di benaknya. "Bebek, kwek kwek kwek!" seru Jevilo dari ambang pintu. Senyumnya luntur seketika saat melihat Arjuna duduk di pojokan dengan Bintang. Apalagi saat itu posisi Bintang dan Arjuna lagi saling pandang. Hati Jevilo langsung nyes melihatnya. Ia memaki dengan suara kecil lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti di ambang pintu. "Ngapain lo di sini?" tanya Jevilo dengan tatapan tajam, seakan siap menguliti Arjuna hidup-hidup. "Gue duduk di sini. Gue sama dia sebangku," jawab Arjuna seraya tersenyum. Ia mengetuk-ngetuk meja sambil manggut-manggut. Bintang yang melihatnya sampai cengo, sikap Arjuna terlalu santai. Ini Jevilo, cowok paling ditakutin di sekolah karena suka bantingin anak orang yang berani nantangin dia. Rahang Jevilo mengeras, dilihatnya Bintang dengan sorot tajam. "Sejak kapan?" "Semalam," jawab Arjuna lalu beranjak. Sebelum keluar dari kelas, Arjuna sengaja berlama-lama di ambang pintu. Dugaannya benar, Bintang langsung diserbu pertanyaan tentang kenapa ia nggak bilang kalau mereka sudah sebangku sejak kemaren. Jevilo terlihat sangat marah waktu tahu kalau pacarnya sebangku dengan musuhnya sendiri. Sampai-sampai ia mengebrak meja saking kesalnya. "Bocah banget," cibir Arjuna lalu pergi. "Kamu kalo mau marah, jangan sama aku, dong! Kan, dia yang maksa aku duduk bareng dia!" Bintang membentak dengan suara bergetar. Berdebat dengan Jevilo benar-benar menguras tenaga. Cowok itu terlalu keras kepala dan selalu mengulang-ulang pertanyaan. Terkesan seolah ia nggak percaya dengan apa pun yang Bintang katakan. Inilah yang bikin Bintang sering banget kesal sama Jevilo, kalau sudah marah, Jevilo nggak bisa mengontrol emosinya. "Tuh anak maunya apa, sih?!" Masih dengan wajah merah karena kesal, cepat-cepat Jevilo keluar kelas. "Mampus, deh!" Bintang ikut beranjak dan setengah berlari mengejar Jevilo. Tepat di pertengahan koridor, dilihatnya Jevilo menarik paksa Arjuna menuju toilet. Tuh, bener dugaannya! Jevilo pasti mau ngajakin Arjuna adu jotos. Brak! Pintu toilet di tutup dengan kasar oleh Jevilo. Didorongnya Arjuna hingga membentur dinding toilet. Beberapa cowok yang ada di toilet mendadak bungkam dan tak berapa lama kemudian mereka memilih cabut.  Nggak mau deh jadi saksi matinya salah satu di antara dua cowok itu. Hiii. "Apaan, sih...." Arjuna menepis tangan Jevilo yang mencengkram kerah bajunya. "Mau lo apa? Kenapa lo maksa cewek gue duduk sama lo?" tanya Jevilo, menatap garang Arjuna yang tampak santai-santai saja. "Serius, pengin tau mau gue apa?" Arjuna menyeringai. "Gue juga pernah bilang sama lo, jangan pernah dekat-dekat sama Nagita dan Bunda gue, kan? Terus, kenapa lo masih dekat-dekat sama mereka, hah!" bentak Jevilo. Bintang meringis saat mendengar suara teriakan Jevilo. Sementara itu, beberapa murid berdatangan untuk mencari tahu. Bukan rahasia lagi kalau Arjuna dan Jevilo rival di sekolah. Keduanya juga sering terlibat perkelahian hanya karena masalah-masalah kecil. "Pada bubar, dong! Plis, pada bubar, ya!" seru Bintang dengan halus. Mau tak mau mereka pun membubarkan diri, membiarkan Bintang sendiri di depan toilet. "Baik salah, jahat salah, maunya apa, sih...." Arjuna terkekeh. Mendengar pertanyaannya begitu sepele di mata saudara tirinya, dengan frustasi Jevilo mengembuskan napas. "Apa yang lo mau dari gue?" Pertanyaan itu. Arjuna sangat menanti-nantinya dari hari kemarin. Sambil bersedekap, Arjuna menjawab. "Merasakan apa yang dulu pernah gue rasakan." "Apa yang dulu lo rasakan?" Jevilo terlihat gusar, ditatapnya lurus-lurus mata Arjuna yang nggak bisa ia pungkiri kalau ia dan Arjuna memiliki kemiripan dari alis dan juga garis mata mereka. "Kehilangan." Jevilo menelan ludah kering. "Kehilangan akan apa?" "Punya otak nggak, sih? Mikirlah!" Arjuna mendorong Jevilo dengan kasar lalu menarik gagang pintu. Bintang yang nggak tahu kalau pintu tempatnya bersandar akan terbuka, nggak sempat mencari pegangan dan terpaksa membiarkan tubuhnya jatuh dan membentur d**a Arjuna. Untuk beberapa saat keduanya saling pandang. Arjuna bisa merasakan lembutnya kulit Bintang yang menyentuh lengannya. Debar-debar tak menentu membuatnya cepat-cepat menepis tangan Bintang yang mencengkram tangannya kuat-kuat. *** Bintang mengembuskan napas panjang saat mendengar bel tanda istirahat berbunyi. Dari tadi ia berusaha menahan rasa ingin bertanyanya pada Arjuna perihal obrolannya dan Jevilo tadi pagi di toilet. Bintang dengar kok apa yang mereka bicarakan, tapi masalahnya, Bintang nggak mengerti apa maksud pembicaraan itu. "Maksud lo apa ngomong kayak gitu sama Jevilo?" tanya Bintang setelah kelas agak sepi. Masih ada beberapa cewek yang ngerumpi di pojokan. "Kepo," jawab Arjuna setengah tertawa. "Gue serius. Maksud lo apa ngomong kayak gitu? Masalah lo sama Jevi apa, sih? Gue tau lo nggak suka sama Nagita, Bundanya dia. Tapi—" "Lo tau apa, sih, Bintang? Udahlah, nggak usah ikut campur," kata Arjuna sinis. "Masalah Jevi itu masalah gue juga. Lagian, gue juga pengin tau dong kenapa lo maksa-maksa gue duduk bareng lo! Apa ada hubungannya dengan Jevilo?" Arjuna mendecak kesal, mau tak mau ia menengok Bintang. Cewek itu sedang cemberut, Arjuna ingin sekali tersenyum, baginya ekspresi cemberut Bintang benar-benar menggemaskan. "Lo nggak tau apa-apa, Bintang. Lo juga nggak akan ngerti." "Gue tau kalo lo sama Jevilo itu nggak pernah akur! Di rumah lo juga sering kan, nyuekin Nagita sama Bundanya dia! Nggak usah egoislah." "Lo bilang gue egois? Karena lo nggak tau aja rasanya jadi gue." Bintang bungkam. Senyum yang dilempar Arjuna padanya terlihat sedih. Lama Bintang nggak merespon ucapan Arjuna. Ia hanyut dalam pikirannya tentang masalah Jevilo dan Arjuna. Aneh, bisa gitu ya, satu rumah tapi nggak pernah bertegur sapa. Bermusuhan. Bintang tahu kalau Arjuna itu anak dari istri kedua ayahnya Jevilo. Apa sih, yang membuat Arjuna kelihatannya benci banget sama Jevilo. Dan kenapa juga Jevilo juga kelihatan begitu? "Gue mau nantangin lo!" kata Arjuna tiba-tiba. "Hah?" Bintang terperanjat. Lamunannya buyar seketika. "Kalo dalam sebulan gue bisa bikin lo suka sama gue, lo harus jadi pacar gue. Tapi, kalo ternyata dalam sebulan gue nggak bisa, gue janji akan ngelakuin apa pun yang lo bilang!" Bintang ternganga mendengarnya. Butuh semenit bagi Bintang mencerna ucapan Arjuna barusan. "Yakin lo? Apa pun yang gue bilang?" Bintang menyeringai. Menarik. "Iya. Berani?" Bintang tersenyum penuh arti. Suka sama Arjuna dalam sebulan? Emang bisa? Ya, enggaklah! Toh, Bintang udah punya Jevilo ini. Jadi, dengan senyum semanis mungkin, Bintang menjawab penuh keyakinan. "Berani." "Ini rahasia kita. Kalo Jevilo sampe tau, gue bisa ngelakuin apa aja sama lo. Sesuatu yang nggak pernah lo bayangkan." Bintang bergidik ngeri. Arjuna kadang terlihat manis dan melankolis, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya lumayan s***s. "Oke." "Tau nggak Bintang?" Arjuna menatap Bintang lekat-lekat sambil tersenyum. "Pasti nggak susah bikin lo suka lagi sama gue." "Sok tau banget sih lo. Lagian, gimana caranya lo tau kalo entar misalnya gue beneren suka sama lo?" Pertanyaan itu keluar begitu saja. Detik berikutnya, Bintang menyesali ucapannya. "Gue tau lo pasti nggak akan mau ngaku. Tapi, gue bisa rasain itu nanti," jawab Arjuna sambil senyum-senyum. Bintang mencibir. Sebulan itu nggak lama. Lagian, seluruh hatinya sudah berisi penuh dengan nama Jevilo. Arjuna juga kenapa kepedean, sih? Memang, dulu Bintang pernah suka dengannya. Tapi, itu udah lama banget. Bintang juga nggak ngerasain apa-apa kok dekat dengan Arjuna sekarang. Jadi, suka sama Arjuna lagi? Nggak mungkinlah segampang itu. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD