K a r m a n e l o | LIMA
"Nagita, Sayang?" panggil Jevilo saat tiba di rumah. Biasanya, jam segini, Nagita pastilah akan duduk di sofa ruang depan untuk menunggunya pulang. Dan kalau ia sudah berdiri di ambang pintu, Nagita akan setengah berlari menyambutnya dengan pelukan manja. Tapi, hari ini, adik kesayangannya itu entah di mana. Oh, Jevilo baru ingat, jam pulang sekolahnya dan Nagita sama. Mungkin, Nagita kecapean dan sedang istirahat sekarang.
Langkah Jevilo berhenti tepat di anak tangga saat mendengar suara dua orang tertawa dari kamar Arjuna. Jevilo termenung, salah satunya mirip suara Nagita. Kening Jevilo berkerut saat melanjutkan langkah menuju kamar Arjuna. Dari celah pintu yang terbuka, dilihatnya Arjuna dan Nagita sedang tertawa entah karena apa. Mereka duduk di depan piano, satu tangan Arjuna merangkul pundak Nagita.
Melihatnya, Jevilo langsung mengepalkan tangan. Ia bersandar di ambang pintu dan berkata dengan nada kesal, "Nagita?"
Nagita dan Arjuna menoleh bersamaan. Jevilo langsung menatap sinis Arjuna yang tampak santai-santai saja.
"Hai, Kak?" sapa Nagita lalu kembali menggerak-gerakkan jarinya di tuts piano. Baru kali ini Nagita mengabaikannya dan ada perasaan kesal saat Jevilo menyadarinya.
"Nagita sini, deh," panggil Jevilo dengan nada jengkel.
"Huh? Nagita lagi diajarin main piano sama Kak Arjuna...," lirih Nagita bersama dengan keningnya yang mengernyit.
Arjuna beranjak dan menghampiri Jevilo. "Biarin aja Nagita main di sini," katanya.
"Bukannya kemarin gue udah bilang sama lo, jangan dekat-dekat Nagita. Mau lo apa, sih?" tanya Jevilo. "Terus, apa yang udah lo omongin sama Bunda gue?" Jevilo harus bertanya. Ia tahu perubahan Arjuna bukan tanpa alasan.
"Apaan, sih. Baik salah, cuek salah. Bingung gue maunya apa...." ucap Arjuna sambil tertawa.
Jevilo tiba-tiba mencengkram kerah baju Arjuna. "Lo nggak akan bisa jadi bagian keluarga gue."
"Ya udah, nyantai ajalah. Emangnya, apa sih yang lo takutin kalo gue dekat-dekat sama orang-orang yang lo sayang?"
Jevilo nggak langsung menjawab. Apa yang ia takutkan? Entahlah, ia sendiri pun belum tahu jawabannya. Hanya saja, rasanya... tidak mengenakkan. Jevilo melepas cengkramannya lalu pergi. Apa yang ia takutkan? Dan anehnya pertanyaan itu membuat kepalanya pusing dan mood-nya memburuk. Kalau sudah begini, ia membutuhkan sandaran.
***
Bintang sedang duduk-duduk santai di paviliun rumahnya saat Jevilo datang sambil meneriakinya dengan nada manja. Baru juga ketemu di sekolah, udah ketemu lagi. Tapi, bukan berarti Bintang nggak suka, ya. Dia senang banget menghabiskan waktunya dengan Jevilo. Apalagi kalau sedang sendiri begini. Nggak ada yang bisa diajak ngobrol.
"Ngapain, Bebek?" tanya Jevilo setelah duduk di sebelah Bintang.
"Kok, kamu main ke sini nggak bilang-bilang dulu?"
"Males. Bete nih, Sayang."
"Kenapa lagi?" tanya Bintang. Seperti biasa, Jevilo akan menyandarkan kepalanya di bahu Bintang. Satu tangannya akan meraih jemari Bintang dan digenggamnya.
"Biasalah, Arjuna. Masa ya, dia dekat-dekat sama Nagita. Padahal, Papi udah bilang sama dia buat nggak dekat-dekat Nagita."
Bintang hanya tersenyum mendengar curhatannya Jevilo. Terkadang, pacarnya itu memang kekanakan. Dan kalau sudah begini, Jevilo selalu menggunakan kata 'Papi' untuk menyebut dirinya.
"Emangnya, kenapa kalau Arjuna dekat-dekat dengan Nagita?"
Entah kenapa, cara Bintang menyebut Arjuna terdengar menyebalkan di telinga Jevilo. "Nggak suka aja. Oh, iya, kalau di kelas besok, jangan dekat-dekat sama dia, ya? Jangan ngobrol sama dia. Kalau dia ngajak ngomong, cuekin aja. Pokoknya, Bebek jangan dekat-dekat dia. Titik!"
Bintang terkekeh. Ia kemudian merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Pipinya panas saat tahu kalau Jevilo menciumnya secara tiba-tiba, lagi. "Bebek, Papi takut, nih..."
"Takut kenapa?" tanya Bintang. Jantungnya masih berdebar-debar saat tangan Jevilo menyentuh pipinya.
"Takut kehilanganmu, eaaaak. Kwek kwek kwek!" jawab Jevilo sambil menggerakkan kedua tangannya. Satu jitakan mendarat di kepalanya saat itu juga.
"Nggak serius banget ngomongnya!" kata Bintang pura-pura ngambek.
"Oh, gitu? Jadi, mau yang serius-serius? Kamu yakin?" Jevilo menyeringai sambil memajukan wajahnya. Bintang meringis geli dan segera berdiri tapi kakinya keburu di tarik Jevilo. Kalau sudah begitu, Jevilo pasti akan menggelitik telapak kakinya.
"Geli, Jevi, geliii!" teriak Bintang sambil jambakin rambut Jevilo. Pacarnya itu cuma ketawa-ketawa senang dan baru akan melepaskan kaki Bintang kalau cewek itu cemberut.
"Bebek ngambek nih, udah biasa digelitikin juga," kata Jevilo sambil menoel-noel pipi Bintang.
"Apaan, geli tau." Bintang mencibir, melihatnya Jevilo jadi geram sendiri. Ia mengacak-acak rambut Bintang lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Bintang.
"Serius nih, Bebek. Tau kamu sekelas sama dia, rasanya nggak enak aja."
"Kamu takut ya, aku dekat-dekat sama dia? Kamu cemburu, ya? Ciyeee, belum apa-apa udah cemburu."
Jevilo tergelak. Lalu, ia kemudian menatap Bintang lurus-lurus dan serius. "Kalau suatu hari nanti, ada cowok lain yang bisa bikin kamu nyaman selain aku, kamu bilang, ya."
Bintang tertegun. "Kok, kamu ngomongnya gitu?"
Jevilo tersenyum, satu tangannya bergerak untuk menyentuh kepala Bintang. "Ada saatnya, hati kita diuji kesetiaannya. Kayak soal-soal ujian, selalu ada pilihan. Bedanya, dalam cinta, kita cuma ada dua pilihan. Mempertahankan, atau melepaskan. Benar atau tidaknya pilihan kita nanti, akan terjawab setelah kita menjalaninya."
"Mungkin nggak sih, kita jatuh cinta lagi di saat kita dimiliki dan memiliki?"
"Kalau bukan karena jatuh cinta lagi, nggak akan ada yang namanya pengkhianatan," kata Jevilo sembari tersenyum. Senyuman itu tampak menyimpan sebersit keraguan. Sorot mata Jevilo juga mengatakan hal yang sama. Apalagi kalau mengingat Bintang pernah menyukai Arjuna. Jevilo nggak mungkin lupa dengan nama-nama Arjuna yang ada di buku-buku pelajaran Bintang dulu.
Memang sih, Bintang mengakui kalau dulu ia pernah menyukai Arjuna. Tapi, itu dulu, saat ia baru menjadi anak SMA. Bintang juga cerita bagaimana ia dan Arjuna ketemu. Hari itu hari MOS terakhir, Arjuna dihukum lari keliling lapangan basket gara-gara nggak membawa salah satu atribut MOS. Selesai mengelilingi lapangan, tiba-tiba Arjuna menghampirinya dan meminta botol minumannya lalu meneguknya hingga habis. Arjuna tersenyum manis sekali waktu mengucapkan terima kasih. Iya, hanya begitu saja. Tapi, entah kenapa, sejak hari itu, Bintang jadi sering memperhatikan Arjuna dari jauh.
Dan, sadar karena perasaannya itu nggak akan pernah kesampaian, Bintang pun membuka hatinya untuk yang lain. Siapa sangka, kedatangan Jevilo, membuat hari-harinya menjadi jauh lebih baik dan berwarna, bahkan sampai hari ini.
Tapi, bagi Jevilo, siapa yang bisa menjamin hati seseorang untuk tetap setia? Jevilo tahu, Bintang nggak mungkin berkhianat. Hanya saja, jika nantinya cinta itu datang padanya, Jevilo bisa apa? Hati nggak bisa bohong, seperti apa pun ia mempertahankan Bintang, tapi kalau hati itu sudah terbagi? Apa yang bisa ia lakukan?
"Aku sayang kamu," kata Jevilo lalu mencium pipi Bintang. Wajah putih itu berubah merah jambu karenanya.
"Aku juga sayang kamu," balas Bintang seraya tersenyum malu-malu.
Dan langit jingga lagi-lagi menjadi saksi kebersamaan mereka yang manis.
***
BINTANG memasuki kelas dengan senyum lebar. Ia tiba-tiba berhenti waktu melihat Arjuna duduk manis di pojokan, tempat duduknya dan Vinka.
"Vinka mana?" tanya Bintang setelah berdiri di hadapan Arjuna. Cowok itu mendongak lalu tersenyum. Lesung pipinya, salah satu alasan kenapa dulu ia pernah menyukai Arjuna.
"Hai, Vinka duduknya sama Felly. Gue di sini. Kita sebangku!" jawab Arjuna riang.
Bintang mengernyit, jantungnya berdebar-debar saat Arjuna menyebut kata 'kita'. "Kok gitu? Kan, harusnya gue duduk sama Vinka!" protes Bintang, berusaha mengabaikan senyum manis Arjuna.
"Yah, gimana, yah. Gue mau duduknya di sini."
"Katanya, cewek-cowok nggak boleh sebangku," Bintang mencari-cari alasan. Dalam benaknya kini dipenuhi dengan sederet kata peringatan dari Jevilo. Jangan dekat-dekat dengan Arjuna!
"Boleh. Siapa bilang nggak boleh? Udahlah duduk aja. Gue nggak pelit kok, pas ulangan."
Bintang tahu kalau Arjuna itu cerdas. Tapi, duduk berdua dengan Arjuna? Cari mati. Arjuna itu kan, setan. Siapa pun tahu kalau Arjuna suka banget jahil sama cewek-cewek. Gimana kalau entar dia diapa-apain? Dicolek-colek?
"Ya udah gue pindah ke depan aja."
"Nggak boleh!" bentak Arjuna tiba-tiba, membuat teman-teman mereka yang baru datang langsung menoleh. "Lo duduk sama gue. Kalau nggak mau, lo nggak akan bisa nikmati masa-masa terakhir lo di SMA."
Dan Bintang tahu, Arjuna nggak main-main dengan ucapannya. Tapi, Bintang punya Jevilo. Siapa pun pasti takut kalau sudah berhubungan dengan Jevilo. Arjuna pasti termasuk orang-orang yang takut dengan Jevilo. Ada kesombongan yang diam-diam masuk ke dalam diri Bintang.
"Gue nggak peduli sama pacar lo. Yang jelas, gue mau duduk sama lo. Jadi, lo harus mau duduk sama gue. Percaya deh, nggak bakal gue apa-apain. Gue nggak seperti yang orang-orang bilang."
Jleb. Arjuna kok kayak cenayang aja, sih? Bete karena sekarang ia dan Arjuna jadi pusat perhatian, segera Bintang menaruh tasnya ke meja.
"Kenapa lo duduk sama gue?" tanya Bintang setelah ia duduk di sebelah Arjuna. Cowok itu menoleh dengan senyum lebar.
"Hemmm, kasih tau nggak, yah?" jawab Arjuna menyebalkan. Bintang jadi jengkel melihatnya. Apa coba maksud Arjuna bilang ia harus duduk dengan Arjuna?
"Mari kita lewati masa terakhir SMA bersama-sama! Semangat!" kata Arjuna tiba-tiba, membuat mereka kembali jadi pusat perhatian. Bintang hanya melengos, masa-masa terakhirnya di SMA nggak akan seindah yang ia bayangkan.
Gimana ya reaksi Jevilo kalau tahu ia dan Arjuna sebangku? Jevilo pastilah bakal marah banget. Tapi, Bintang kan tinggal ngomong kalau dia dipaksa Arjuna. Duh, kalau gitu, hubungan Jevilo dan Arjuna pasti makin nggak baik. Bintang jadi serba salah, nih. Dia harus apa, ya?
"Emangnya apa yang terjadi kalo kita sebangku? Lo nggak takut naksir sama gue, kan?" pertanyaan itu membuat Bintang mendesis sebal.
"Ya enggaklah," jawab Bintang ketus.
Arjuna tersenyum tipis lalu kemudian bertanya lagi, "Tapi, dulu lo pernah suka sama gue kan, Bintang?"
Bintang bungkam. Sedetik pun ia nggak berani mendongak untuk menatap Arjuna. Malu. Darimana Arjuna tahu tentang itu? Jevilo nggak mungkin cerita. Aduh, mati!
"Ya udah kalo nggak mau ngaku. Lagian itu kan, dulu. Sekarang, lo kan cinta mati sama Jevilo," Cara Arjuna menyebut nama Jevilo terdengar seperti ejekan. Seolah nama itu nggak pantas untuk diucapkan.
Bintang masih nggak bersuara saat Arjuna merebahkan kepala di atas meja dan menghadap ke arahnya. Sambil memejamkan mata, Arjuna berkata pelan, "Entar kalo udah bel, bangunin gue, ya."
Bintang mengerjap ketika melihat Arjuna tertidur. Ia nggak yakin cowok itu benar-benar tidur. Paling juga ngayal jorok. Tapi, lima menit kemudian, Arjuna masih bertahan dengan posisinya. Nggak pegal apa tuh kepala? Emang ngapain aja sih dia malamnya sampe bela-belain tidur di kelas? Emang cukup apa tidur 15 menitan? Kok, Bintang jadi mikirin Arjuna, sih?
Arjuna membuka matanya sedikit. Bisa dilihatnya Bintang tengah menopang dagu sambil cemberut. Sinar matahari yang menerobos celah jendela membuat warna rambutnya menjadi keemasan. Angin yang bertiup lembut juga memberi kesan lain pada rambut-rambut halus Bintang yang terlepas dari ikatan. Arjuna tahu, harusnya ia kembali menutup mata, tapi melihat perubahan ekspresi wajah Bintang setiap detiknya, malah membuatnya termangu dan terpesona.
Terlebih lagi saat Bintang melihatnya dengan mata bulatnya yang dilindungi bulu lentik, Arjuna merasakan darahnya berdesir. Untuk pertama kalinya, setelah dua tahun melepaskan Seena, perasaan itu muncul lagi. Arjuna belum lupa bagaimana rasanya jatuh cinta : jantung berdebar-debar dan ada perasaan bahagia yang menyergap.
Arjuna segera bangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Nggak boleh. Perasaan itu nggak boleh muncul. Ah, kenapa nggak boleh? Bukankah tujuan ia mendekati Bintang untuk merebut perhatiannya. Lantas, kenapa ia merasa... bersalah?
Kenapa sih, pengecut banget! Dulu juga Jevilo kayak gitu, kok. Bahkan, Jevilo berani mesra-mesraan sama mantannya di hadapannya. Jadi, ngapain takut dengan perasaan itu? Cinta? Emang kenapa kalau cinta? Yakin cinta sama Bintang? Palingan juga perasaan suka doang.
Arjuna manggut-manggut sendiri mendengar suara-suara itu meneriaki pikirannya. Benar sih, palingan juga perasaan suka doang. Tapi, bukannya rasa suka itu lama-lama bisa jadi cinta, ya?
Kenapa Arjuna jadi ragu-ragu gini, sih? Tujuannya cuma satu, bikin Jevilo merasa kehilangan. Dengan kehilangan Bintang, ia yakin Jevilo akan merasakan sakit yang dulu pernah dirasakannya. Jadi, mundur bukanlah pilihan.
***