K a r m a n e l o | TIGA

5555 Words
K a r m a n e l o | TIGA ARJUNA melirik jam tangannya untuk kesekian kali. Nagita udah pulang belum, ya? Apa anak-anak itu beneran mau berteman dengannya? Apa dia jajan sembarangan? Berbagai macam pertanyaan berkelebat dalam benaknya. Belum pernah ia merasa secemas ini di sekolah. Biasanya, sebelum berangkat sekolah, ia memastikan kalau Nagita baik-baik saja bersama Bunda di rumah. Kalaupun Arjuna nggak di rumah dan nggak bisa mengawasi Nagita, ia selalu menaruh kamera di salah satu ruangan tempat Nagita sering bermain, jadi dengan begitu ia bisa tahu apa pun yang adiknya itu lakukan. Tapi, kalau di sekolah, siapa yang bisa memastikan kalau Nagita baik-baik saja? Bunyi bel menyentak lamunannya, dengan segera ia beranjak dan keluar kelas. Ia harus menjemput Nagita. Tapi s**l, setibanya di sana, ia malah melihat Jevilo sudah bergandengan tangan dengan Nagita menuju motornya. Nagita juga terlihat sangat senang waktu tahu kalau Jevilo yang menjemputnya. Arjuna menghela napas serta membawa motornya menjauh dari sana, seenggaknya ia sudah berusaha peduli. *** Perasaan Jevilo tiba-tiba tak enak waktu Nagita cerita kalau yang mengantarnya ke sekolah adalah Arjuna. Nagita juga cerita waktu Arjuna bilang ke teman-teman barunya siapa yang nggak mau berteman dengannya akan didatangin pocong. Nagita melontarkan banyak pujian pada Arjuna dan itu membuat telinga Jevilo panas. Arjuna seharusnya nggak melewati garis merah itu. Bukankah itu sudah seperti perjanjian tak tertulis? Arjuna dilarang keras melewati batas wilayah teritorial-nya. Begitu pula dengannya, ia nggak akan pernah melewati garis pembatas yang dibuat oleh Arjuna. Jadi, setibanya di rumah, Jevilo langsung buru-buru ke kamar Arjuna. Digedornya pintu itu dengan tak sabar. Pintu terbuka dan tanpa pikir panjang Jevilo langsung mendorong Arjuna dengan gerakan kasar. “Jangan pernah bawa adek gue pergi lagi!” bentak Jevilo. Arjuna mendesis. Ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. “Lo kelamaan, lagian gue cuma nganterin dia sekolah. Nggak bawa dia ke mana-mana. Lucu banget, sih. Gitu aja marah.” “Gue nggak suka adek gue dekat-dekat sama lo! Ingat apa yang selalu lo lakuin sama dia?!” Jevilo mengepalkan tangannya. Tulang pipinya tegang saat ia mengatakan itu. Arjuna mengedikkan bahu dan melompat ke tempat tidur. “Oke.” “Gue kasih tau satu hal ya sama lo. Jangan coba-coba deketin orang-orang yang gue sayang. Lo nggak akan pernah dapetin itu! Lo nggak pantes buat mereka!” “Maksud lo apa?” Arjuna beranjak lalu berdiri menghadap Jevilo yang menatapnya sinis. “Gue nggak pantes apa? Jangan mentang-mentang lo punya segalanya terus lo ngomong sembarangan sama gue." Arjuna ikut mengepalkan tangannya. “Gue nggak ngomong sembarangan. Keluarga gue, bukan keluarga lo. Lo nggak akan bisa ngerebut perhatian mereka dari gue!" “Kenapa enggak? Lupa sama masa lalu? Perhatian siapa aja yang lo rebut dari gue?” Jevilo mendesis. “Gue nggak ngambil apa pun dari lo! Hidup lo yang emang menyedihkan!” Bugh. Satu bogem mentah melayang tepat di bibir Jevilo. Rasa pedih dari ujung bibirnya yang luka langsung menyerang. Ditatapnya garang Arjuna yang langsung bersedekap. “Selama ini gue coba sabar menghadapi sikap lo," kata Arjuna santai. "Apa yang keluar dari mulut lo isinya s****h semua." “Dan lo pikir selama ini gue nggak sabar ngeliat perlakuan lo  sama Nagita dan Bunda gue?” Jevilo mengusap bibirnya dengan punggung tangan. “Jadi… “Arjuna menyunggingkan senyum tipis. “Lo mau gue bersikap baik sama mereka atau apa? Lo nggak konsisten banget sih, sama omongan. Lo marah sama gue karena gue dekat sama Nagita. Tapi, di sisi lain lo benci ngeliat sikap gue yang cuek sama mereka. Gitu?” Arjuna tergelak lalu duduk di tempat tidur. "Konsisten dong, sama omongan. Labil. Kayaknya apa pun yang gue lakukan salah aja di mata lo. Maunya apa, sih?" “Lo selalu bikin mereka sedih…,” lirih Jevilo lalu melayangkan tinjunya tepat di d**a Arjuna. “Kalau lo punya hati, lo nggak mungkin tega bikin mereka sedih! Lo tau Nagita sakit, lo tau Bunda gue sakit! Kalau lo selama ini bertanya-tanya kenapa gue benci sama lo, itu jawabannya!” kata Jevilo tersulut emosi, setelah puas melihat Arjuna meringis kesakitan, ia keluar dari kamar. Selepas kepergian Jevilo, Arjuna merebahkan tubuhnya ke kasur dengan satu tangan memegang dadanya yang tadi ditinju Jevilo.  “f**k! Lo punya semuanya! Lo juga ngambil orang-orang yang gue sayang! Lo nggak tau rasanya jadi gue, kan?” Tiba-tiba saja air mata yang ia tahan keluar begitu saja. Arjuna mengusap air matanya dan memandang foto yang ada di dinding , foto yang berisi gambar ia dan mendiang mamanya. "Ma!" Arjuna kembali duduk. "Dia bukan kakak Juna, seperti yang pernah mama bilang. Dia musuh. Dia harus dapat balasan atas apa yang dilakukannya dulu sama Juna." Arjuna tersenyum dan mengerjapkan mata. “Dia harus tau apa artinya kehilangan." Arjuna sadar, jika ia sudah menyelesaikan kata-katanya, ia nggak akan pernah menariknya kembali. Jevilo harus mendapatkan karma atas apa yang dilakukannya. Harus. *** “Kak Arjuna?” Nagita memanggil Arjuna yang tengah duduk di depan piano. Arjuna kaget dengan kemunculan Nagita yang tiba-tiba. Bukannya menyahut, ia malah memalingkan wajah dan menggerakkan jari-jarinya di atas tuts piano, membiarkan Nagita yang terpesona memandanginya di ambang pintu. “Kak Arjuna jago kok, main piano!” seru Nagita setelah berdiri di belakang punggung Arjuna. Arjuna tersenyum miring. Ia tahu harus memulai­ semuanya dari Nagita. “Iya, dong. Gimana sekolahnya?” Wajah Nagita berseri-seri saat mendengar pertanyaan Arjuna. Serta merta ia duduk di sebelah Arjuna dan menggoyangkan kakinya karena gembira. “Seru. Nagita punya banyak teman.” “Jangan main panas-panasan di sekolah, ya. Jangan jajan sembarangan.” Arjuna melepas kupluk Nagita. Ia mengusap kepala Nagita dan menciumnya. “Mulai hari ini, Kak Juna mau ngajarin Nagita main piano.” Binar bahagia tampak jelas dari bola mata Nagita yang bulat. Ia kemudian memeluk Arjuna dengan penuh sayang. “Janji ya, Kak? Setiap hari!” “Setiap hari.” “Selamanya?” Arjuna terkekeh. “Masa selamanya, sih? Entar sebulan kamu juga udah jago kok main pianonya!” “Oh, iya, ya? Hehehe.” Nagita tertawa lembut, membuat perasaan Arjuna terenyuh. Pada Nagita, ia tak perlu berpura-pura, karena memang beginilah yang ia harap dari awal. Lagipula, sejak ia tahu Nagita mengidap penyakit Leukimia, bagian dalam dirinya ingin terus menjaga Nagita. Sebisa mungkin, ia nggak akan membuat Nagita bersedih lagi. *** Arjuna berhenti  di ambang pintu sebelum melanjutkan langkahnya. Hal tersulit. Di satu sisi Arjuna begitu peduli, tapi di sisi lain ia juga benci dengan wanita yang kini duduk di kursi roda tepat di depan jendela yang menghadap jalan. Bertahun-tahun ia berusaha melupakan rasa bencinya, rasa cemburunya, tapi perasaan itu selalu ada, seakan abadi. Arjuna ingat raut wajah mamanya saat melihat ayahnya tertawa bersama wanita itu. Ia ingat bagaimana suara tangis mamanya, ia ingat seberapa banyak wanita itu membuat mamanya menangis karena cemburu. Arjuna tidak bisa berbohong kalau ia sangat bersyukur atas penyakit yang diderita wanita itu setelah mamanya meninggal. Menurutnya itu balasan setimpal sebagai ganti kepergian mamanya. Jadi, ketika tadi malam ia berjanji untuk merebut orang-orang yang Jevilo sayang, ia tahu ia nggak akan mundur lagi. Mamanya juga sudah tiada, ia nggak akan menuntut banyak pada mama tirinya karena Tuhan sudah memberi balasan untuknya. Toh, sekarang saatnya berdamai dengan keadaan. Untuk membuat Jevilo merasa kehilangan, ia harus mengalihkan perhatian Nagita maupun Bunda karena memang mereka orang yang paling Jevilo sayang. Ia nggak perlu merebut perhatian ayah karena beliau juga nggak peduli dengan Jevilo. Tujuan Arjuna cuma satu, membuat orang-orang yang Jevilo sayang berhenti peduli. “Pagi, Bunda?” sapanya setelah mengetuk pintu. Wanita yang tengah menatap kosong pekarangan di luar jendela menoleh kaget. Ia termangu lama saat mendapati Arjuna berdiri tak jauh darinya seraya tersenyum. Jantungnya berdegup kencang saat langkah kaki Arjuna mendekatinya. Arjuna, anak tirinya yang sejak berumur sebelas tahun menghindarinya entah karena apa kini menyapanya dengan sopan dan tersenyum hangat. Ia memutar kursi rodanya untuk menghadap Arjuna. Menyentuh jari tangan Arjuna untuk memastikan kalau ia tidak sedang bermimpi. “Arjuna?” lirihnya. “Bunda udah sarapan, belum? Yuk, sarapan bareng Juna.” Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu, Arjuna mendorong kursi roda tersebut dan membawanya menuju ruang makan. Di sana, sudah ada Nagita yang sedang memakan bubur ayam. Gadis itu juga menyapa Arjuna dengan manja. Bunda termangu, dipandanginya Arjuna yang tersenyum padanya. Bahkan, sikap Arjuna yang selalu dingin kini berubah menjadi hangat. Ia mencubit pipi Nagita dengan gemas, mencium pipinya dengan tulus. Bukankah selama ini, Arjuna nggak pernah mau dekat-dekat dengan Nagita? Arjuna selalu menolak setiap kali Nagita minta diajarin main piano. Bahkan saat ada ayah di meja makan, ia sama sekali nggak memedulikan Nagita yang mengajaknya bicara. Lalu sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Arjuna tiba-tiba berubah? Bunda paham dan sangat maklum dengan sikap Arjuna selama ini. Arjuna menjadi pendiam, egois, dan kasar setelah mamanya meninggal. Ia ingat sekali saat hari pertama Arjuna datang bersama mamanya. Hubungannya dengan istri kedua suaminya itu baik-baik saja. Arjuna anak yang baik, ramah, dan suka bercanda. Setiap hari, Arjuna selalu bercerita dengannya di teras depan rumah. Tapi, ketika Arjuna mulai SMP, anak itu berubah drastis. Sikapnya mulai kasar kalau ia menegurnya. Arjuna juga kerap kali menghindarinya jika ia menyapa. Tapi, sekarang... Arjuna-nya yang dulu kembali dan menjadi sosok kakak yang penyayang. Ia nggak bisa menahan air matanya yang mengalir begitu saja karena terharu. Cepat-cepat ia menyapunya sebelum terlihat oleh Arjuna ataupun Nagita. “Bunda, Juna berangkat sekolah dulu, ya? Bye." Arjuna menyalami tangan Bunda dan mencium Nagita. Ia berdadah ria sebelum menghilang di balik pintu. “Pagi Bunda, pagi jelek!” Jevilo menuruni tangga sambil mengacak-acak rambutnya yang basah. Keningnya berkerut saat melihat Bunda senyum-senyum sambil melihat pintu depan yang terbuka. “Bunda kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?” tegur Jevilo sambil meneguk s**u milik Nagita. Ia langsung mendapat cubitan kecil dari Nagita. “Arjuna…,” lirih Bunda. “Huh?” “Arjuna berubah. Akhirnya dia mau menerima Bunda dan Nagita…” kata Bunda dengan mata berkaca-kaca. Ia menyeka sudut matanya dan meraih jari-jari Jevilo. “Kamu juga harus terima Arjuna jadi adik kamu, Je. Udah saatnya." Rahang Jevilo mengeras mendengarnya namun ia nggak mengatakan apa-apa. “Kak Juna tadi masakin Nagita sama Bunda bubur loh, Kak!” kata Nagita disela kunyahan buburnya yang terakhir. Setelahnya, ia meneguk s**u dan meraih tas-nya. Sudah waktunya berangkat ke sekolah. Jevilo mendesis lalu menarik napas dalam-dalam. Seharusnya Bunda tahu kalau ia nggak akan pernah menerima Arjuna menjadi adiknya, menjadi bagian dari keluarganya. “Nggak gampang, Bunda. Jevilo berangkat dulu. Yok, Dek… Kakak antar kamu.” Setelah mengucap salam dan mencium tangan Bundanya, Jevilo keluar rumah dan menendang pot bunga yang kebetulan ada di depannya. Pagi yang menyebalkan. *** Arjuna menyusuri koridor dengan senyum jahilnya. Saat melihat cewek-cewek, ia bersiul dan sengaja menabrakkan diri. Ada sebagian yang bete, ada juga yang merasa terbang ke langit ke tujuh. Arjuna memang genit tapi dia punya sejuta pesona, loh. Arjuna juga wangiii banget. Bikin betah siapapun yang ada di dekatnya. Ya, meskipun di sisi lain ia sering bikin ilfil cewek-cewek tapi tetap aja, Arjuna punya penggemar setia. Ia berhenti saat melihat seorang cewek berlari ke dalam kelas yang dilewatinya. Rambutnya diikat acak-acakan. Pipinya merona merah saat ia tertawa. Baginya gadis itu biasa saja. Nggak cantik-cantik amat. Apa spesialnya? Apa menariknya? Kenapa Jevilo sampe tergila-gila sama dia? “Bintaaaang! Kita sekelas!” teriak Vinka di ambang pintu. Cewek yang dipanggil Bintang itu menoleh dan tersenyum, menampakkan lesung pipinya. Diam-diam Arjuna menyentuh pipinya, kok sama? Arjuna juga punya lesung pipi di sebelah kanan. Dan dengan bangga Arjuna pernah mengatakan kalau itu adalah aset berharganya untuk membuat cewek tergila-gila. Arjuna juga pernah bilang kalau dia cuma mau pacaran sama cewek yang punya lesung pipi di sebelah kanan. Makanya sampe sekarang dianya jomblo. Bertahun-tahun Arjuna menanti, nggak ada tuh cewek yang punya lesung pipi sama dengannya. Ternyata ia bukan harus menunggu tapi juga mencari. “Serius? Kelas mana tuh, Vin?” tanya Bintang setelah berdiri di depan pintu, membelakangi Arjuna. Suaranya masuk dalam kategori ‘anak mami’ alias manja. “Kelas dua belas IPA tiga! Yeeey, entar kita sebangku, ya!” sorak Vinka senang. “Oh, gue belom ada liat mading. Liat lagi, yuk?” ajaknya sambil meraih lengan Vinka. Mereka bergandengan menuju mading. Arjuna mengikuti sambil memperhatikan Bintang dengan seksama. Mulai dari bawah sampai atas lalu turun lagi ke bawah. Cewek itu agak tinggi. Bentuk tubuhnya juga cukup menarik untuk ukuran anak SMA dan bagi Arjuna, masuklah dalam jajaran cewek-cewek bohai. Itu pasti karena Bintang suka olahraga jadi badannya lumayan. Arjuna tahu semuanya? Jelas, ia sering mendengar Jevilo memamerkan pacarnya itu pada Nagita dan Bunda. Bintang itu beginilah, begitulah. 'Si Bebek', begitu Jevilo memanggilnya. Dan nggak jarang sih, Jevilo mengajaknya ke rumah. Bintang berdiri di depan mading, berdesak-desakan dengan teman-temannya yang lain. Ia mendongak, mencari-cari namanya di antara kertas-kertas yang ditempel di sana. “Geser dikit, dong?” Suara itu membuatnya menoleh. Saat tahu kalau orang itu Arjuna, Bintang jadi salah tingkah karena  ia tahu siapa Arjuna. Bintang lalu tersenyum dan hendak bergeser tapi tiba-tiba Arjuna mengangkat tangan dan mengunci ruang geraknya. Tangan kanan Arjuna bertumpu pada mading dan tangan lainnya memegang pundak Bintang. “Cariin nama gue, dong!” kata Arjuna tepat di telinga Bintang, sampai-sampai Bintang bergidik. Bukan apa-apa, Bintang paling nggak suka kalau dibisikin. Memang sih Arjuna ngomongnya setengah teriak, jadi belum masuk kategori bisik-bisik. Tapi kan,  tetap aja geli. “Huh?” ia mengerjap pada Arjuna yang semakin merapat ke punggungnya. Ini posisi yang benar-benar nggak enak. Untungnya orang lagi rame jadi Bintang yakin nggak ada yang merhatiin. Tapi, bukan berarti Bintang suka ya dekat-dekat dengan Arjuna kayak gini. “Cariin nama gue. Arjuna,” kata Arjuna jutek. Dan entah kenapa Bintang mau melakukannya. Ia mencari-cari nama Arjuna di antara barisan kolom untuk kelas XII IPA 1. Nihil. Lalu lanjut ke daftar nama murid untuk kelas XII. IPA 2. Sama, nama Arjuna nggak masuk dalam daftar. Arjuna menyunggingkan senyum waktu Bintang mengeluh karena nggak menemukan namanya. Dan tiba-tiba, ia tersentak waktu dengan semangatnya Bintang berkata, “ARJUNA! KELAS DUA BELAS IPA TIGA! KITA SEKELAS!” Astaga. Apaan sih, toa banget. Arjuna mendadak bete karena gara-gara teriakan itu ia jadi pusat perhatian dan segera ia menarik tangannya dari pundak Bintang. “Yakin?" tanyanya pada Bintang yang mengangguk sambil tersenyum. Lesung pipi itu terlihat jelas, dan Arjuna mau nggak mau mengakui kalau Bintang jadi terlihat... manis. “Apa? Gue sekelas sama si Arjuna setan itu lagi?” komentar Vinka setelah mereka keluar dari kerumunan. “Bintang, serius si Arjuna sekelas sama kita?” “Iya. Emangnya kenapa, sih?” tanya Bintang bingung. “Aduuuh.” Vinka menggaruk-garuk pipinya. “Dia itu suka ngintipin kolor tau nggak? Kok tadi gue nggak liat namanya, ya?" Bintang berhenti berjalan dan memandang Vinka dengan kening mengerut. “Masa, sih?" “Sori,” kata Arjuna setelah menabrak bahu Bintang dengan sengaja. Bintang tertegun, ia dan Arjuna berpandangan untuk beberapa detik. “Tuh, tuh! Jangan liat dia lama-lama. Arjuna kalo udah gitu mau nyari perhatian!” kata Vinka gregetan sendiri. Bintang terkekeh. “Siapa yang ngeliatin.” “Tuh, barusan lo ngeliatin dia tau! Kalo mau ngeliatin cowok, yang itu tuh, manis!” Vinka menunjuk seorang cowok yang sedang berjalan di koridor. Rambutnya berantakan seperti biasa. Melihatnya Bintang langsung tersenyum. Itu kan, pacarnya. Jevilo. “Bebek!” sapa Jevilo sambil merentangkan tangannya. “Kangeeen!” Bintang memeletkan lidahnya dan membiarkan Jevilo mengacak-acak rambutnya. “Vinka! Waktu gue nggak masuk seminggu kemaren, Jevilo masih suka nggak masuk toilet cewek?” tanya Bintang ke Vinka yang langsung mengangguk cepat. “Masiiih bangeeeet!” “Vinka apaan, sih?” kata Jevilo sambil cemberut. Ia langsung mendapat jitakan di kepala dari Bintang. “Kapan tobatnya, sih?” ucap Bintang sambil bertolak pinggang. “Hihihi, namanya juga setan, nggak bakalan ada tobatnya, hihihi.” Vinka cekikikan puas. “Cuma iseng doang, kok. Kan, nggak ngapa-ngapain! Suer!” Jevilo mengangkat jarinya membentuk huruf V. “Nggak percaya. Pasti ngapa-ngapain, kan?!” “Nggak, Bebek. Suer!” “Bohong! Pasti ngapa-ngapain!” Vinka ngomporin, nggak peduli dengan Jevilo yang melotot padanya. “Udah ah, mau ke kelas dulu!” Bintang berbalik dan melangkah cepat menuju kelas barunya. Ia menoleh ke belakang dan semakin mempercepat langkah waktu tahu Jevilo mengejarnya. “Ciyeee, ciyeee, ngambek!” Jevilo menggelitik pinggang Bintang hingga pacarnya itu tertawa karena geli. “Apaan, sih? Sana nggak! Ih, geli tau!” kata Bintang sambil memukul-mukul tangan Jevilo yang menggelitik pinggangnya. Arjuna duduk bersila di atas meja sambil menatap Jevilo dan Bintang tanpa jeda dari pintu kelas yang terbuka lebar. Ia tahu kalau Jevilo sangat menyayangi cewek itu. Dan ya, Bintang masuk dalam daftar orang-orang yang akan direbutnya dari Jevilo, sebagai karma atas apa yang pernah dilakukan Jevilo dulu. Jevilo harus tau rasanya kehilangan. Termasuk kehilangan cinta, seperti yang dulu dirasakannya. *** A/n : Yah, mulai deh perang wkwkwkwk K a r m a n e l o | TIGA ARJUNA melirik jam tangannya untuk kesekian kali. Nagita udah pulang belum, ya? Apa anak-anak itu beneran mau berteman dengannya? Apa dia jajan sembarangan? Berbagai macam pertanyaan berkelebat dalam benaknya. Belum pernah ia merasa secemas ini di sekolah. Biasanya, sebelum berangkat sekolah, ia memastikan kalau Nagita baik-baik saja bersama Bunda di rumah. Kalaupun Arjuna nggak di rumah dan nggak bisa mengawasi Nagita, ia selalu menaruh kamera di salah satu ruangan tempat Nagita sering bermain, jadi dengan begitu ia bisa tahu apa pun yang adiknya itu lakukan. Tapi, kalau di sekolah, siapa yang bisa memastikan kalau Nagita baik-baik saja? Bunyi bel menyentak lamunannya, dengan segera ia beranjak dan keluar kelas. Ia harus menjemput Nagita. Tapi s**l, setibanya di sana, ia malah melihat Jevilo sudah bergandengan tangan dengan Nagita menuju motornya. Nagita juga terlihat sangat senang waktu tahu kalau Jevilo yang menjemputnya. Arjuna menghela napas serta membawa motornya menjauh dari sana, seenggaknya ia sudah berusaha peduli. *** Perasaan Jevilo tiba-tiba tak enak waktu Nagita cerita kalau yang mengantarnya ke sekolah adalah Arjuna. Nagita juga cerita waktu Arjuna bilang ke teman-teman barunya siapa yang nggak mau berteman dengannya akan didatangin pocong. Nagita melontarkan banyak pujian pada Arjuna dan itu membuat telinga Jevilo panas. Arjuna seharusnya nggak melewati garis merah itu. Bukankah itu sudah seperti perjanjian tak tertulis? Arjuna dilarang keras melewati batas wilayah teritorial-nya. Begitu pula dengannya, ia nggak akan pernah melewati garis pembatas yang dibuat oleh Arjuna. Jadi, setibanya di rumah, Jevilo langsung buru-buru ke kamar Arjuna. Digedornya pintu itu dengan tak sabar. Pintu terbuka dan tanpa pikir panjang Jevilo langsung mendorong Arjuna dengan gerakan kasar. “Jangan pernah bawa adek gue pergi lagi!” bentak Jevilo. Arjuna mendesis. Ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. “Lo kelamaan, lagian gue cuma nganterin dia sekolah. Nggak bawa dia ke mana-mana. Lucu banget, sih. Gitu aja marah.” “Gue nggak suka adek gue dekat-dekat sama lo! Ingat apa yang selalu lo lakuin sama dia?!” Jevilo mengepalkan tangannya. Tulang pipinya tegang saat ia mengatakan itu. Arjuna mengedikkan bahu dan melompat ke tempat tidur. “Oke.” “Gue kasih tau satu hal ya sama lo. Jangan coba-coba deketin orang-orang yang gue sayang. Lo nggak akan pernah dapetin itu! Lo nggak pantes buat mereka!” “Maksud lo apa?” Arjuna beranjak lalu berdiri menghadap Jevilo yang menatapnya sinis. “Gue nggak pantes apa? Jangan mentang-mentang lo punya segalanya terus lo ngomong sembarangan sama gue." Arjuna ikut mengepalkan tangannya. “Gue nggak ngomong sembarangan. Keluarga gue, bukan keluarga lo. Lo nggak akan bisa ngerebut perhatian mereka dari gue!" “Kenapa enggak? Lupa sama masa lalu? Perhatian siapa aja yang lo rebut dari gue?” Jevilo mendesis. “Gue nggak ngambil apa pun dari lo! Hidup lo yang emang menyedihkan!” Bugh. Satu bogem mentah melayang tepat di bibir Jevilo. Rasa pedih dari ujung bibirnya yang luka langsung menyerang. Ditatapnya garang Arjuna yang langsung bersedekap. “Selama ini gue coba sabar menghadapi sikap lo," kata Arjuna santai. "Apa yang keluar dari mulut lo isinya s****h semua." “Dan lo pikir selama ini gue nggak sabar ngeliat perlakuan lo  sama Nagita dan Bunda gue?” Jevilo mengusap bibirnya dengan punggung tangan. “Jadi… “Arjuna menyunggingkan senyum tipis. “Lo mau gue bersikap baik sama mereka atau apa? Lo nggak konsisten banget sih, sama omongan. Lo marah sama gue karena gue dekat sama Nagita. Tapi, di sisi lain lo benci ngeliat sikap gue yang cuek sama mereka. Gitu?” Arjuna tergelak lalu duduk di tempat tidur. "Konsisten dong, sama omongan. Labil. Kayaknya apa pun yang gue lakukan salah aja di mata lo. Maunya apa, sih?" “Lo selalu bikin mereka sedih…,” lirih Jevilo lalu melayangkan tinjunya tepat di d**a Arjuna. “Kalau lo punya hati, lo nggak mungkin tega bikin mereka sedih! Lo tau Nagita sakit, lo tau Bunda gue sakit! Kalau lo selama ini bertanya-tanya kenapa gue benci sama lo, itu jawabannya!” kata Jevilo tersulut emosi, setelah puas melihat Arjuna meringis kesakitan, ia keluar dari kamar. Selepas kepergian Jevilo, Arjuna merebahkan tubuhnya ke kasur dengan satu tangan memegang dadanya yang tadi ditinju Jevilo.  “f**k! Lo punya semuanya! Lo juga ngambil orang-orang yang gue sayang! Lo nggak tau rasanya jadi gue, kan?” Tiba-tiba saja air mata yang ia tahan keluar begitu saja. Arjuna mengusap air matanya dan memandang foto yang ada di dinding , foto yang berisi gambar ia dan mendiang mamanya. "Ma!" Arjuna kembali duduk. "Dia bukan kakak Juna, seperti yang pernah mama bilang. Dia musuh. Dia harus dapat balasan atas apa yang dilakukannya dulu sama Juna." Arjuna tersenyum dan mengerjapkan mata. “Dia harus tau apa artinya kehilangan." Arjuna sadar, jika ia sudah menyelesaikan kata-katanya, ia nggak akan pernah menariknya kembali. Jevilo harus mendapatkan karma atas apa yang dilakukannya. Harus. *** “Kak Arjuna?” Nagita memanggil Arjuna yang tengah duduk di depan piano. Arjuna kaget dengan kemunculan Nagita yang tiba-tiba. Bukannya menyahut, ia malah memalingkan wajah dan menggerakkan jari-jarinya di atas tuts piano, membiarkan Nagita yang terpesona memandanginya di ambang pintu. “Kak Arjuna jago kok, main piano!” seru Nagita setelah berdiri di belakang punggung Arjuna. Arjuna tersenyum miring. Ia tahu harus memulai­ semuanya dari Nagita. “Iya, dong. Gimana sekolahnya?” Wajah Nagita berseri-seri saat mendengar pertanyaan Arjuna. Serta merta ia duduk di sebelah Arjuna dan menggoyangkan kakinya karena gembira. “Seru. Nagita punya banyak teman.” “Jangan main panas-panasan di sekolah, ya. Jangan jajan sembarangan.” Arjuna melepas kupluk Nagita. Ia mengusap kepala Nagita dan menciumnya. “Mulai hari ini, Kak Juna mau ngajarin Nagita main piano.” Binar bahagia tampak jelas dari bola mata Nagita yang bulat. Ia kemudian memeluk Arjuna dengan penuh sayang. “Janji ya, Kak? Setiap hari!” “Setiap hari.” “Selamanya?” Arjuna terkekeh. “Masa selamanya, sih? Entar sebulan kamu juga udah jago kok main pianonya!” “Oh, iya, ya? Hehehe.” Nagita tertawa lembut, membuat perasaan Arjuna terenyuh. Pada Nagita, ia tak perlu berpura-pura, karena memang beginilah yang ia harap dari awal. Lagipula, sejak ia tahu Nagita mengidap penyakit Leukimia, bagian dalam dirinya ingin terus menjaga Nagita. Sebisa mungkin, ia nggak akan membuat Nagita bersedih lagi. *** Arjuna berhenti  di ambang pintu sebelum melanjutkan langkahnya. Hal tersulit. Di satu sisi Arjuna begitu peduli, tapi di sisi lain ia juga benci dengan wanita yang kini duduk di kursi roda tepat di depan jendela yang menghadap jalan. Bertahun-tahun ia berusaha melupakan rasa bencinya, rasa cemburunya, tapi perasaan itu selalu ada, seakan abadi. Arjuna ingat raut wajah mamanya saat melihat ayahnya tertawa bersama wanita itu. Ia ingat bagaimana suara tangis mamanya, ia ingat seberapa banyak wanita itu membuat mamanya menangis karena cemburu. Arjuna tidak bisa berbohong kalau ia sangat bersyukur atas penyakit yang diderita wanita itu setelah mamanya meninggal. Menurutnya itu balasan setimpal sebagai ganti kepergian mamanya. Jadi, ketika tadi malam ia berjanji untuk merebut orang-orang yang Jevilo sayang, ia tahu ia nggak akan mundur lagi. Mamanya juga sudah tiada, ia nggak akan menuntut banyak pada mama tirinya karena Tuhan sudah memberi balasan untuknya. Toh, sekarang saatnya berdamai dengan keadaan. Untuk membuat Jevilo merasa kehilangan, ia harus mengalihkan perhatian Nagita maupun Bunda karena memang mereka orang yang paling Jevilo sayang. Ia nggak perlu merebut perhatian ayah karena beliau juga nggak peduli dengan Jevilo. Tujuan Arjuna cuma satu, membuat orang-orang yang Jevilo sayang berhenti peduli. “Pagi, Bunda?” sapanya setelah mengetuk pintu. Wanita yang tengah menatap kosong pekarangan di luar jendela menoleh kaget. Ia termangu lama saat mendapati Arjuna berdiri tak jauh darinya seraya tersenyum. Jantungnya berdegup kencang saat langkah kaki Arjuna mendekatinya. Arjuna, anak tirinya yang sejak berumur sebelas tahun menghindarinya entah karena apa kini menyapanya dengan sopan dan tersenyum hangat. Ia memutar kursi rodanya untuk menghadap Arjuna. Menyentuh jari tangan Arjuna untuk memastikan kalau ia tidak sedang bermimpi. “Arjuna?” lirihnya. “Bunda udah sarapan, belum? Yuk, sarapan bareng Juna.” Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu, Arjuna mendorong kursi roda tersebut dan membawanya menuju ruang makan. Di sana, sudah ada Nagita yang sedang memakan bubur ayam. Gadis itu juga menyapa Arjuna dengan manja. Bunda termangu, dipandanginya Arjuna yang tersenyum padanya. Bahkan, sikap Arjuna yang selalu dingin kini berubah menjadi hangat. Ia mencubit pipi Nagita dengan gemas, mencium pipinya dengan tulus. Bukankah selama ini, Arjuna nggak pernah mau dekat-dekat dengan Nagita? Arjuna selalu menolak setiap kali Nagita minta diajarin main piano. Bahkan saat ada ayah di meja makan, ia sama sekali nggak memedulikan Nagita yang mengajaknya bicara. Lalu sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Arjuna tiba-tiba berubah? Bunda paham dan sangat maklum dengan sikap Arjuna selama ini. Arjuna menjadi pendiam, egois, dan kasar setelah mamanya meninggal. Ia ingat sekali saat hari pertama Arjuna datang bersama mamanya. Hubungannya dengan istri kedua suaminya itu baik-baik saja. Arjuna anak yang baik, ramah, dan suka bercanda. Setiap hari, Arjuna selalu bercerita dengannya di teras depan rumah. Tapi, ketika Arjuna mulai SMP, anak itu berubah drastis. Sikapnya mulai kasar kalau ia menegurnya. Arjuna juga kerap kali menghindarinya jika ia menyapa. Tapi, sekarang... Arjuna-nya yang dulu kembali dan menjadi sosok kakak yang penyayang. Ia nggak bisa menahan air matanya yang mengalir begitu saja karena terharu. Cepat-cepat ia menyapunya sebelum terlihat oleh Arjuna ataupun Nagita. “Bunda, Juna berangkat sekolah dulu, ya? Bye." Arjuna menyalami tangan Bunda dan mencium Nagita. Ia berdadah ria sebelum menghilang di balik pintu. “Pagi Bunda, pagi jelek!” Jevilo menuruni tangga sambil mengacak-acak rambutnya yang basah. Keningnya berkerut saat melihat Bunda senyum-senyum sambil melihat pintu depan yang terbuka. “Bunda kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?” tegur Jevilo sambil meneguk s**u milik Nagita. Ia langsung mendapat cubitan kecil dari Nagita. “Arjuna…,” lirih Bunda. “Huh?” “Arjuna berubah. Akhirnya dia mau menerima Bunda dan Nagita…” kata Bunda dengan mata berkaca-kaca. Ia menyeka sudut matanya dan meraih jari-jari Jevilo. “Kamu juga harus terima Arjuna jadi adik kamu, Je. Udah saatnya." Rahang Jevilo mengeras mendengarnya namun ia nggak mengatakan apa-apa. “Kak Juna tadi masakin Nagita sama Bunda bubur loh, Kak!” kata Nagita disela kunyahan buburnya yang terakhir. Setelahnya, ia meneguk s**u dan meraih tas-nya. Sudah waktunya berangkat ke sekolah. Jevilo mendesis lalu menarik napas dalam-dalam. Seharusnya Bunda tahu kalau ia nggak akan pernah menerima Arjuna menjadi adiknya, menjadi bagian dari keluarganya. “Nggak gampang, Bunda. Jevilo berangkat dulu. Yok, Dek… Kakak antar kamu.” Setelah mengucap salam dan mencium tangan Bundanya, Jevilo keluar rumah dan menendang pot bunga yang kebetulan ada di depannya. Pagi yang menyebalkan. *** Arjuna menyusuri koridor dengan senyum jahilnya. Saat melihat cewek-cewek, ia bersiul dan sengaja menabrakkan diri. Ada sebagian yang bete, ada juga yang merasa terbang ke langit ke tujuh. Arjuna memang genit tapi dia punya sejuta pesona, loh. Arjuna juga wangiii banget. Bikin betah siapapun yang ada di dekatnya. Ya, meskipun di sisi lain ia sering bikin ilfil cewek-cewek tapi tetap aja, Arjuna punya penggemar setia. Ia berhenti saat melihat seorang cewek berlari ke dalam kelas yang dilewatinya. Rambutnya diikat acak-acakan. Pipinya merona merah saat ia tertawa. Baginya gadis itu biasa saja. Nggak cantik-cantik amat. Apa spesialnya? Apa menariknya? Kenapa Jevilo sampe tergila-gila sama dia? “Bintaaaang! Kita sekelas!” teriak Vinka di ambang pintu. Cewek yang dipanggil Bintang itu menoleh dan tersenyum, menampakkan lesung pipinya. Diam-diam Arjuna menyentuh pipinya, kok sama? Arjuna juga punya lesung pipi di sebelah kanan. Dan dengan bangga Arjuna pernah mengatakan kalau itu adalah aset berharganya untuk membuat cewek tergila-gila. Arjuna juga pernah bilang kalau dia cuma mau pacaran sama cewek yang punya lesung pipi di sebelah kanan. Makanya sampe sekarang dianya jomblo. Bertahun-tahun Arjuna menanti, nggak ada tuh cewek yang punya lesung pipi sama dengannya. Ternyata ia bukan harus menunggu tapi juga mencari. “Serius? Kelas mana tuh, Vin?” tanya Bintang setelah berdiri di depan pintu, membelakangi Arjuna. Suaranya masuk dalam kategori ‘anak mami’ alias manja. “Kelas dua belas IPA tiga! Yeeey, entar kita sebangku, ya!” sorak Vinka senang. “Oh, gue belom ada liat mading. Liat lagi, yuk?” ajaknya sambil meraih lengan Vinka. Mereka bergandengan menuju mading. Arjuna mengikuti sambil memperhatikan Bintang dengan seksama. Mulai dari bawah sampai atas lalu turun lagi ke bawah. Cewek itu agak tinggi. Bentuk tubuhnya juga cukup menarik untuk ukuran anak SMA dan bagi Arjuna, masuklah dalam jajaran cewek-cewek bohai. Itu pasti karena Bintang suka olahraga jadi badannya lumayan. Arjuna tahu semuanya? Jelas, ia sering mendengar Jevilo memamerkan pacarnya itu pada Nagita dan Bunda. Bintang itu beginilah, begitulah. 'Si Bebek', begitu Jevilo memanggilnya. Dan nggak jarang sih, Jevilo mengajaknya ke rumah. Bintang berdiri di depan mading, berdesak-desakan dengan teman-temannya yang lain. Ia mendongak, mencari-cari namanya di antara kertas-kertas yang ditempel di sana. “Geser dikit, dong?” Suara itu membuatnya menoleh. Saat tahu kalau orang itu Arjuna, Bintang jadi salah tingkah karena  ia tahu siapa Arjuna. Bintang lalu tersenyum dan hendak bergeser tapi tiba-tiba Arjuna mengangkat tangan dan mengunci ruang geraknya. Tangan kanan Arjuna bertumpu pada mading dan tangan lainnya memegang pundak Bintang. “Cariin nama gue, dong!” kata Arjuna tepat di telinga Bintang, sampai-sampai Bintang bergidik. Bukan apa-apa, Bintang paling nggak suka kalau dibisikin. Memang sih Arjuna ngomongnya setengah teriak, jadi belum masuk kategori bisik-bisik. Tapi kan,  tetap aja geli. “Huh?” ia mengerjap pada Arjuna yang semakin merapat ke punggungnya. Ini posisi yang benar-benar nggak enak. Untungnya orang lagi rame jadi Bintang yakin nggak ada yang merhatiin. Tapi, bukan berarti Bintang suka ya dekat-dekat dengan Arjuna kayak gini. “Cariin nama gue. Arjuna,” kata Arjuna jutek. Dan entah kenapa Bintang mau melakukannya. Ia mencari-cari nama Arjuna di antara barisan kolom untuk kelas XII IPA 1. Nihil. Lalu lanjut ke daftar nama murid untuk kelas XII. IPA 2. Sama, nama Arjuna nggak masuk dalam daftar. Arjuna menyunggingkan senyum waktu Bintang mengeluh karena nggak menemukan namanya. Dan tiba-tiba, ia tersentak waktu dengan semangatnya Bintang berkata, “ARJUNA! KELAS DUA BELAS IPA TIGA! KITA SEKELAS!” Astaga. Apaan sih, toa banget. Arjuna mendadak bete karena gara-gara teriakan itu ia jadi pusat perhatian dan segera ia menarik tangannya dari pundak Bintang. “Yakin?" tanyanya pada Bintang yang mengangguk sambil tersenyum. Lesung pipi itu terlihat jelas, dan Arjuna mau nggak mau mengakui kalau Bintang jadi terlihat... manis. “Apa? Gue sekelas sama si Arjuna setan itu lagi?” komentar Vinka setelah mereka keluar dari kerumunan. “Bintang, serius si Arjuna sekelas sama kita?” “Iya. Emangnya kenapa, sih?” tanya Bintang bingung. “Aduuuh.” Vinka menggaruk-garuk pipinya. “Dia itu suka ngintipin kolor tau nggak? Kok tadi gue nggak liat namanya, ya?" Bintang berhenti berjalan dan memandang Vinka dengan kening mengerut. “Masa, sih?" “Sori,” kata Arjuna setelah menabrak bahu Bintang dengan sengaja. Bintang tertegun, ia dan Arjuna berpandangan untuk beberapa detik. “Tuh, tuh! Jangan liat dia lama-lama. Arjuna kalo udah gitu mau nyari perhatian!” kata Vinka gregetan sendiri. Bintang terkekeh. “Siapa yang ngeliatin.” “Tuh, barusan lo ngeliatin dia tau! Kalo mau ngeliatin cowok, yang itu tuh, manis!” Vinka menunjuk seorang cowok yang sedang berjalan di koridor. Rambutnya berantakan seperti biasa. Melihatnya Bintang langsung tersenyum. Itu kan, pacarnya. Jevilo. “Bebek!” sapa Jevilo sambil merentangkan tangannya. “Kangeeen!” Bintang memeletkan lidahnya dan membiarkan Jevilo mengacak-acak rambutnya. “Vinka! Waktu gue nggak masuk seminggu kemaren, Jevilo masih suka nggak masuk toilet cewek?” tanya Bintang ke Vinka yang langsung mengangguk cepat. “Masiiih bangeeeet!” “Vinka apaan, sih?” kata Jevilo sambil cemberut. Ia langsung mendapat jitakan di kepala dari Bintang. “Kapan tobatnya, sih?” ucap Bintang sambil bertolak pinggang. “Hihihi, namanya juga setan, nggak bakalan ada tobatnya, hihihi.” Vinka cekikikan puas. “Cuma iseng doang, kok. Kan, nggak ngapa-ngapain! Suer!” Jevilo mengangkat jarinya membentuk huruf V. “Nggak percaya. Pasti ngapa-ngapain, kan?!” “Nggak, Bebek. Suer!” “Bohong! Pasti ngapa-ngapain!” Vinka ngomporin, nggak peduli dengan Jevilo yang melotot padanya. “Udah ah, mau ke kelas dulu!” Bintang berbalik dan melangkah cepat menuju kelas barunya. Ia menoleh ke belakang dan semakin mempercepat langkah waktu tahu Jevilo mengejarnya. “Ciyeee, ciyeee, ngambek!” Jevilo menggelitik pinggang Bintang hingga pacarnya itu tertawa karena geli. “Apaan, sih? Sana nggak! Ih, geli tau!” kata Bintang sambil memukul-mukul tangan Jevilo yang menggelitik pinggangnya. Arjuna duduk bersila di atas meja sambil menatap Jevilo dan Bintang tanpa jeda dari pintu kelas yang terbuka lebar. Ia tahu kalau Jevilo sangat menyayangi cewek itu. Dan ya, Bintang masuk dalam daftar orang-orang yang akan direbutnya dari Jevilo, sebagai karma atas apa yang pernah dilakukan Jevilo dulu. Jevilo harus tau rasanya kehilangan. Termasuk kehilangan cinta, seperti yang dulu dirasakannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD