Bab. 6 - Firasat

1202 Words
Warning! Sebagian adegan mengandung unsur 18+ harap membaca sesuai umur dengan bijak. Terimakasih. ============================ Guci antik bernilai mahal yang pecah pastilah menimbulkan kemarahan pemilik. Sama halnya seperti rumah tangga yang retak karena sebuah kesalahpahaman, pastilah mendatangkan kesedihan mendalam ... *** "Ya! Anak ini anak kamu! Bukan anak Zidan! Tapi aku pastikan selamanya kamu nggak akan pernah bisa lihat anakmu lagi!" Kalimat Laras yang Zidan dengar diam-diam tempo lalu, membayang kembali dalam benak Zidan. Pria itu terpekur dengan sebatang rokok di tangan serta anggur di botol. Hatinya perih acap kali suara tinggi Laras itu mendengung tanpa permisi, seakan mencambuk batinnya sampai berdarah-darah. Memang benar niat Zidan menikahi Laras adalah demi pelunasan hutang. Namun, tak bisa dipungkiri bila ia juga mencintai istrinya sejak awal bertemu. Zidan yang dulu setia dan sangat patuh pada Laras akhirnya mulai memberontak. Dirinya terluka terlampau dalam. Seolah harga diri terinjak dan terhina atas uang dan kekuasaan. Ia merasa telah ditipu mentah-mentah. Mulanya ia kira Laras tulus mencintainya dan menerima dirinya apa adanya. Itu sebabnya Zidan berani mengambil langkah meminang salah satu putri konglomerat Rakabumi ini. Nyatanya, sepertinya Laras menerima dirinya hanya karena terpaksa dijodohkan oleh kedua orang tua serta untuk menanggung bayi dalam kandungannya. Kepala Zidan penat dipenuhi amarah. Hatinya gulana dalam gundah dan dilema. Cinta pertama yang ia pendam bertahun-tahun berhasil menggores luka terdalam di jiwanya. Sakit itu lah yang mendorong Zidan jatuh di lembah nestapa. Hingga uluran tangan Angel datang meraih. Menghadirkan perasaan baru dalam hidupnya. Zidan terjebak dengan kemolekan tubuh dan manis manja tutur kata sang gadis. Hingga berujung dirinya mengambil langkah pintas, bermain api di belakang istrinya. Suara ketukan pintu hotel terdengar, membangunkan Zidan dari kehampaan. Ia berdiri dan membukakan pintu. Senyum Angel tersuguh hangat di hadapannya. Untuk kesekian kali, Zidan terlena dengan sihir yang terpancar dari kecantikan wajah kekasih gelapnya. "Lama ya?" tanyanya. Ia baru kembali dari minimarket membeli beberapa camilan dan minuman kaleng. "Lumayan." Angel memeluk Zidan, mendaratkan sebuah kecupan di bibir pria itu. Tak menunggu lama, keduanya sudah beradu di atas peraduan. Entah berbagi cinta atau hanya sekadar berbagi hasrat. Sebab, keduanya terkungkung dalam hubungan terlarang yang salah. Alasan cinta tak pernah bisa dibenarkan dalam pengkhianatan. Tidak akan pernah. "Malam ini menginap saja ya?" bisik Zidan menggigit telinga Angel. Gadis itu menggelinjang geli. "Tumben? Nanti Bu Laras nyariin?" "Ngapain juga mikirin dia. Mending sama kamu, bikin puas," ucap Zidan lagi sembari meremas d**a Angel. "Zidan ... kamu sayang nggak sih sama aku?" "Kenapa tanya begitu?" "Kamu tahu kan, aku sayang banget sama kamu. Gimana kalau nanti kamu bosan sama aku?" "Tugasmu bikin supaya aku nggak bosan, Sayang ... " Dipagutnya bibir basah Angel. "Jangan tinggalin aku ... Zidan ... " rintih Angel di antara lenguhan napas yang memburu. "Selama kamu nurut, aku selalu di sini ... " bisik Zidan. ===== Di rumah Laras mondar-mandir tak karuan. Ekor matanya berulang kali mengecek jam di atas nakas dekat sofa. Sudah hampir pukul dua malam. Dan suaminya belum juga ada kabar. Nomornya tidak aktif. Laras tak tahu harus menghubungi siapa. Zidan terlalu tertutup atau memang dirinya yang kurang perhatian pada suami? "Ke mana sih jam segini belum pulang?! Nggak tahu apa istri khawatir!" Laras putus asa. Ia memutuskan untuk menghubungi kakaknya. "Halo, Kak?" "Jam berapa ini kamu telepon?! Kenapa, Ras?" Suara Gibran terdengar berat khas orang terpaksa bangun dari nyenyak tidurnya. "Kak, Zidan belum ada pulang sampai jam segini! Aku cemas!" pekik Laras mengadukan kegelisahan. "Udah coba ditelepon?" "Udah, tapi nggak bisa. Nomornya nggak aktif. Aku takut dia kenapa-kenapa di jalan." Terdengar helaan berat di seberang panggilan. "Besok kucari tahu. Sekarang kamu rehat aja, udah malem ini. Zidan pasti baik-baik aja." "Dari mana Kak Gibran tahu suamiku bakal baik-baik aja? Mana bisa tidur tenang aku? Gimana kalau dia kena begal di jalan? Atau kecelakaan? Atau apalah yang bahaya?" Laras makin panik. "Jangan mikir macem-macem. Udah kamu tenang aja. Kasihan bayi dalam perutmu." "Wait. Kak Gibran udah di Indonesia?" "Udah. Tapi jangan kasih tahu Bunda dulu. Aku malas kena ceramahan soal calon istri." "Makanya cepetan move on! Mantan udah ke pelaminan kok masih dipikirin." "Kamu mau minta tolong apa ngejek?!" Gibran mendengkus sebal. Laras sama saja dengan ibunya. Tukang ngomel dan pengejek handal. "Dua-duanya! Tapi, beneran bantuin ya?!" "Iya, bawel." Panggilan berakhir. Laras terduduk lesu di sofa. Matanya mulai berat dan ia tertidur pulas di sana. Dalam mimpi ia melihat suaminya berpelukan mesra di atas ranjang dalam kamar pengantin mereka. Tubuh Laras menggigil ngeri, ia terbangun dengan napas tersengal. "Astaghfirullah ... semoga cuma mimpi buruk," harapnya agak cemas. ===== Menjelang subuh Ines terbangun karena perutnya lapar. Ia lupa semalam ketiduran sangking capeknya belum sempat makan malam. Gadis itu menggeliat dan mengucek mata. Bangun dari kasur menuju dapur. "Masak mie aja kali ya, buat ganjel perut," gumamnya sambil mencari bungkusan mie instan di rak atas. Diliriknya kamar Angel, lampunya mati. Tidak biasanya Angel bisa tidur dalam keadaan gelap. Bermodal kecurigaan, ia mengecek kamar tersebut usai menyalakan kompor dan meletakkan panci berisi air di atasnya. Saat lampu kamar dinyalakan, tak ada siapa pun di dalam sana. "Angel nggak pulang? Masa iya gara-gara besok libur, terus dia nggak balik? Terus ke mana? Pulang ke Ciputat? Tapi, kenapa nggak bilang? Biasanya kan dia ngomong ke aku dulu." Ines bicara seorang diri, menebak-nebak kenapa temannya belum pulang. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi Angel tapi tidak diangkat. Kemudian mengecek satu per satu pesan w******p yang masuk, belum ada kiriman dari Angel. Sebagai teman ia agak khawatir. Diteleponnya lagi nomor Angel sampai empat kali, barulah si pemilik mengangkatnya. "Halo, Njel, lo di mana? Kok nggak balik? Lo baik-baik aja kan?" "Ehm, iya gue baik-baik aja,  Nes. Sorry, nggak sempet kasih tahu lo kalau gue nginep di rumah temen." "Oh gitu, yaudah kalau deh." "Okei, gue tutup ya, masih ngantuk banget." Sesaat sebelum telepon diakhiri, Ines mendengar suara erangan Angel yang mencurigakan. "Ah! Geli!" Lalu sambungan terputus. Pikiran buruk Ines terpecah ketika mendengar suara air mendidih. Ia tergesa berdiri. Tapi lengannya malah menyenggol gelas beling di sampingnya. Pecahan kaca berserakan di lantai. Ada yang mengenai punggung kaki Ines sampai berdarah. Perasaannya jadi tak enak. Ines mematikan kompor, lalu membersihkan pecahan di bawah sana. Perut laparnya makin meronta ditambah kebimbangan menyergap isi kepala. Seakan ada firasat buruk baru saja melintas tanpa sengaja. Setelah membereskan semua, ia kembali menyalakan  kompor dan melanjutkan untuk  merebus mie. Entah kenapa perasaan tak enak makin dirasakan oleh Ines. Biasanya ia begini bila akan terjadi sesuatu hal mengejutkan atau bisa jadi tak diinginkan. Ines melahap makanan dengan batin tak tenang. Tepat ketila azan subuh bergema, ia sempatkan membuka pesan dari teman-temannya. Sambil menunggu makananya matang. Defta_ Good night, Ines... Tari_ Besok bisa pinjem flashdisk laporan kemarin nggak, Nes? Icha_ Nes, gue nitip nasi uduk biasanya ya? Besok bawa ke kantor. Ntar gue ganti duitnya. Thanks. Ineke_ Mbak In, paketannya wis tekan tah? (Paketannya sudah sampai kah?) Disya_ Kak Ines, aku baru dapat kerjaan loh. Kapan-kapan kita makan bareng ya? Kutraktir  deh! Ines senyum membaca pesan dari Disya. Ia membalas satu persatu. Akan tetapi, guratan senyum itu meredup berganti keterkejutan. Mata Ines membola mendapati sebuah kiriman gambar dari Anisa semalam. Anisa_ Lo harus lihat ini, Nes! Ines mengunduh file gambar yang ia terima dari Anisa. (Foto Zidan merangkul Angel di sebuah kafe) =====♡Secret Lover♡===== Hai, kuy komen dan love-nya ditunggu. Biar makin semangat diriku garap naskah. Hehe. Maacih gais. Hari ini aku up 4 bab loh. ^^ =======================
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD