Bab. 5 - Tidak Kenal

1488 Words
Pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang. Tapi kubilang, yang kenal belum tentu juga sayang... -Catatan Ines- *** Malam hari di kediaman Rakabumi sedang berkumpul sebagian anggota keluarga utama. Mereka menikmati bakar ikan dan ayam di taman samping. Anak sulung dan anak bungsu pemilik rumah malah tak hadir. Laras menangis di samping ibunya, sembari berkeluh kesah tentang prahara rumah tangga yang ia hadapi. "Laras nggak tahu lagi, Bun, harus gimana? Udah sebulanan lebih Zidan sering pulang malam. Bahkan beberapa kali sampai hampir pagi. Memangnya kerjaan kantor sebanyak itu?" keluh Laras mulai frustrasi menghadapi perubahan sikap suaminya. Rahayu, ibunda Laras yang biasa dipanggil Bunda Ayu itu menepuk-nepuk pundak putri kesayangannya. Ia membenarkan kacamata dan meraih cangkir di meja. Menyesap teh jahe hangat dengan madu perlahan. "Kamu sudah bicara dan coba selesaikan baik-baik dengan suamimu? Mungkin suamimu sedang ada masalah serius?" "Bun, Laras yakin ada yang nggak beres. Sikapnya udah nggak sehangat dulu. Kalau ditanya jawabannya singkat dan nggak jelas. Kalau aku marah dia lebih marah." Laras menumpahkan curahan hati terdalamnya. "Terus bulan lalu dia ngumpet-ngumpet beli hape baru. Dipinjam nggak boleh. Laras curiga dia selingkuh, Bun!" "Jangan ngomong sembarangan kamu. Zidan itu laki-laki baik. Mana mungkin berani aneh-aneh. Bibit bebet bobotnya sudah nggak diragukan lagi. Sama Bunda juga sopan. Mana mungkin seperti itu." Sejak awal Rahayu memang sangat membanggakan dan mengidamkan menantu seperti Zidan. Dilihat dari fisik tidak mengecewakan, wajah pria itu cukup signifikan disebut tampan. Pembawaannya juga kharismatik dan berwibawa. Tutur katanya halus nan santun. Lebih-lebih cara berpikirnya dalam menyelesaikan setiap persoalan bisnis, patut diacungi jempol. Belum lagi dalam hal ibadah. Setiap kali keluarga mereka berkumpul, Zidan pasti mengajukan diri jadi imam. Bagaimana bisa Rahayu menilai ada cacat dalam pribadi menantu kesayangannya itu? Tentu ibu tiga anak ini tak percaya. Ia selalu memikirkan baik-baik masa depan anak-anaknya. Memilihkan calon pasangan sebaik mungkin. Terutama untuk anak-anak perempuannya. "Bunda selalu aja belain dia. Anak Bunda itu Laras bukan Zidan," timpal Laras emosi. "Yasudah, besok atau kapan-kapan kamu ajak Zidan ke sini. Biar Bunda yang bicara sama dia." "Percuma. Mana mungkin dia ngaku!" "Haduh, kamu ini maunya apa? Nanti Bunda pikirkan lagi. Mungkin Gibran bisa bantu buat cari tahu. Sudah, kamu jangan uring-uringan terus. Bunda nggak mau anak Bunda stres dan calon cucu Bunda kenapa-kenapa." "Bener ya, Bunda bantuin?" "Iya." Laras menyeka sisa air mata di pipinya dengan tisu. Ia meneguk minuman dalam gelas. Retinanya beredar ke segala sudut, sepertinya ada hal berisik yang kurang di rumah ini, tak seperti biasanya. "Ngomong-ngomong, si biang kerok ke mana,  Bun?" tanyanya begitu menyadari tak ada tanda-tanda kehadiran seseorang. "Siapa maksudmu?" "Siapa lagi biang kerok super rusuh di rumah ini Bun, kalau bukan Disya." "Adikmu sendiri kok dibilang biang kerok. Nggak tahu Bunda dia ke mana, biasa lah hobi lama kumat." "Kabur lagi dari rumah? Kok bisa?" Rahayu mengehela napas berat. Kepalanya sedikit pening bila ingat ulah anak bungsunya yang paling pembangkang dan susah diatur. "Paling nanti kalau uang habis dia pulang lagi. Biasanya kan juga begitu," tukasnya. Laras mengangguk setuju. Adiknya yang keras kepala dan tukang bantah satu ini memang punya tabiat aneh. Selalu kabur dari rumah kalau bertengkar dengan keluarga. Entah masalah apapun. Pernah sewaktu sekolah dulu Laras tak meminjamkan mobil pada sang adik. Mereka adu mulut dan berujung omelan Rahayu. Saat itu Rahayu membela Laras, karena Disya belum punya SIM. Tapi, karena tak terima disalahkan, akhirnya Disya kabur dari rumah. Tak sampai dua minggu anak itu pulang dengan alasan uangnya habis. Mungkin bila dihitung, sudah beberapa kali Disya melakukan hal sama. Sementara itu di tempat lain, Ines dan Angel tengah makan di warung dekat gang. Mereka menyempatkan diri mengisi perut karena Angel mengeluh kelaparan. Ia tak sempat istirahat makan siang tadi. Di rumah juga mereka belum masak apa-apa. Lebih baik sekalian mampir daripada bolak-balik. "Oh ya, Njel. Dari kemarin gue pengen tanya sesuatu." "Tanya apaan, Nes?" "Belakangan lo sering banget pulang malem?" "Biasa lah, lembur." Ines memicing. Minggu lalu ia juga lembur dua kali, tapi tak menemukan Angel di ruangan divisi MD. Ia tanya ke teman-temannya juga mereka bilang Angel tak pernah kebagian jatah lembur sebulan terakhir ini. Anehnya, meski demikian Ines pulang lebih dulu ketimbang Angel. "Bukannya gue mau suudzhon nih, Njel. Gue cuma khawatir aja lo salah pergaulan lagi." "Salah pergaulan gimana?" "Ya, sebagai sahabat baik lo, ada baiknya kita saling terbuka dan jujur kalau ada masalah. Siapa tahu gue bisa bantu." Angel menghentikan kunyahan, menelannya dan meminum air putih dalam botol Tuperware pink miliknya. "Gue nggak ngerti kenapa lo tiba-tiba ngomong gini?" "Udahlah lupain aja. Semoga hanya pikiran jelek sesaat gue." Ines tak ingin memperpanjang praduga tanpa dasar. Mereka beralih membahas hal lain terkait drama Korea yang sedang hits di sela makan. Dua orang pria masuk dan duduk di kursi sebelah kanan. Salah satu memesan menu, pria satunya lagi sibuk menatap ponsel entah memandangi apa. Ines melirik sebentar wajah maskulin yang tampak pernah ia lihat. Tapi ingatannya tak cukup bagus untuk mengingat beberapa hal tak penting menurutnya. Untuk beberapa detik wajah tampan itu mengingatkannya pada aktor India kesayangannya, Mahesh Babu. Untung belum ada yang bisa mengalahkan senyum maut sang idola di mata Ines. Ia belum tahu saja bagaimana bentuk senyum pria tersebut. "Di sini makanannya enak-enak, murah, dan deket kantor." Si pria mendongak dengan tatapan kesal. "Jadi, lo traktir orang sekelas gue cuma dengan makanan pinggir jalan?" protesnya. "Yaelah, Bos. Sekali-sekali lo kudu merakyat juga. Biar tahu nikmatnya makanan rakyat jelata. Selain nikmat di lidah, juga nikmat di kantong," celoteh temannya seraya meringis. "Buk, telor bertabur bintangnya double ya!" teriaknya pada ibu penjual makanan. Si ibuk memicing tak paham. "Telor bertabur bintang? Kita nggak ada, Bang," selorohnya. "Maksudnya telor dadar, Buk. Kan nggak polosan tuh. Anggap aja gitu," racau si pria berkumis tipis meringis mesem. Si ibu hanya geleng kepala. Melihat dan mendengar percakapan mereka, Ines malah tersenyum tak jelas. Seakan mengejek si pria tadi. Dari penampilan memang lumayan berkelas, tapi ia kira pria itu adalah sales. Setahu Ines, di kampungnya sering sales kompor gas atau kalung kesehatan berkeliling ke rumah-rumah menawarkan produk. Pakaian mereka juga sangat rapi, kemeja putih berdasi ditumpuk jas hitam necis. Celana kain hitam disetrika selicin mungkin. Bedanya, tampang dan perawakan mereka cenderung kurus-kurus atau tambun-tambun. Jarang ada yang ideal macam pria tersebut. "Nes! Ngelamunin apa sih?!" Angel menepuk lengan temannya. Dua kali pertanyaan Angel tak digubris Ines. Ia duduk di depan menghadap Ines, jadi tak lihat kalau Ines memperhatikan pria di seberang mereka. "Hah? Apa?" balas Ines terlihat dungu. Suaranya berhasil menggugah selera si pria untuk menoleh. Sekejap ia menimbang, mengingat-ingat sesuatu. Sementara ponsel Angel berbunyi, ia undur diri ke luar untuk menerima panggilan dari Zidan. "Ines Amalia?" panggilnya spontan. "Ya?" Ines sontak menoleh. Empat mata mereka bertemu satu garis lurus. Sama-sama terheran. Ines lebih bingung karena tak merasa mengenal pria tersebut. "Maaf, Anda kenal saya?" "Eh, Mbaknya suka koleksi Tuperware?" sela teman si pria. Mendapati ada botol bermerek tersebut di atas meja Ines. "Oh maaf Mas, saya nggak tertarik." Gadis itu salah paham. "Nggak apa, Mbak. Baru pertama ketemu biasanya belum terlalu menarik. Kalau sudah kenal baru tarik-tarikan. Kayak pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang," celetuknya lagi. Ines garuk kepala. "Tapi yang kenal pun belum tentu juga sayang," dumelnya ambigu. Ia lebih tertarik pada pria yang tadi memanggil namanya. Tapi baru akan membuka suara, Angel berteriak dari ambang pintu. "Nes, gue buru-buru ada urusan sama temen! Lo bayarin dulu ya! Thanks!" Lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan sekeliling. Botolnya sampai ditinggal begitu saja. Melihat temannya berlalu, Ines pun melanjutkan makan. Si pria berdiri dan pindah duduk di depan Ines. "Kamu Ines Amalia kan?" tanyanya lugas. Dua tangan ia sangga di dagunya. Semakin diperhatikan, semakin mempesona. Namun Ines tak berani terus memandang dengan kekaguman nyata. Sambil mengunyah Ines hanya mengangguk tanpa curiga. "Iya, Mas. Tapi maaf, saya nggak mau beli Tuperware." "Maksud kamu?" "Masnya sama temennya itu sales Tuperware kan? Daripada capek nawarin dan jelasin ke saya yang nggak minat, mending saya tolak dari awal." "What?!" Si teman pria tadi malah cekikikan menertawakan temannya. "Nasib lo, Bos, pamor lo anjlok drastis!" ejeknya. "Sialan lo!" balas si pria sensi. Ia menatap  balik ke Ines. "Kamu seriusan nggak-" Ucapannya terhenti mendapati Ines berdiri dan jalan menuju ibu penjual untuk membayar makanan. "Sialan! Gue dicuekin!" "Gibran Cakra Rakabumi dicuekin cewek! Karyawannya pula! Nasib lu ngenes amat, Bos!" goda Abrar, teman dekat Gibran. Selesai membayar makanan, Ines ke luar melalui pintu samping tanpa mempedulikan Gibran. Telinganya sudah disumpal headset, jadi tak sempat dengar jelas ucapan Abrar barusan. "Astaghfirullah ...  orang aneh," gumam Ines. Ia langsung menyimpan tanda pengenal ke dalam tas. Lagi-lagi ia sadar lupa melepasnya. "Harus lebih waspada! Banyak orang iseng sekarang!" gerutunya sambil jalan. Sedangkan Gibran mendengkus sebal. Satu tangannya mengepal, satunya lagi meraih botol aqua yang tersedia di tiap meja. Meneguk isinya hingga sisa separuh. "Tunggu aja nanti! Awas kalau masih bilang nggak kenal!" rutuknya tak terima. Ines yang berjalan sepanjang gang melewati area perumahan belum sadar, ia sedang di ambang masalah besar. Siapa yang tahu bila orang asing bisa saja punya kesempatan bertemu lagi dikemudian hari. =======♡Secret Lover♡======= 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD