Bab. 4 - Pingsan

1172 Words
Warning! Sebagian adegan mengandung unsur 18+ harap membaca sesuai umur dengan bijak. Terimakasih. ================================= Dalam hidup punya banyak kesempatan untuk berpikir. Tapi tak banyak kesempatan untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Sebab, manusia sering naif pada khilafnya sendiri... *** Ines panik dan terus berusaha menyadarkan Zidan. Ia kesulitan memapah tubuh Zidan untuk dipindahkan ke sofa. Badan pria itu terlalu berisi dan tegap bagi seukuran tubuh Ines yang ramping dan tak terlalu tinggi. Suara ketukan pintu terdengar, Ines langsung berteriak minta tolong. Icha dan Defta masuk membawa map. Namun, mereka sempat terkejut beberapa detik saat melihat Zidan bersandar dalam pelukan Ines. "Lo ngapain, Nes?!" bentak Defta tak senang. Terlihat api cemburu membakar hangus kepingan hatinya. Tentu saja hanya selayang pandang tergambar di bola matanya yang berkilat. Icha lebih kaget lagi. Si ratu gosip hampir saja berpikiran macam-macam. Untunglah Ines cepat tanggap dan sedikit menjelaskan. "Kalian jangan diem aja! Bantuin ini Pak Zidan pingsan!" omelnya. Segera Icha dan Defta meletakkan berkas mereka di atas meja dan membantu Ines memindahkan Zidan ke sofa. "Telepon dokter aja apa langsung bawa ke rumah sakit?" Icha bingung. Ia belum pernah menghadapi orang pingsan betulan semasa hidupnya. Bahkan ia pikir pingsan itu hanya ada dalam sinetron atau drama saja. "Nggak perlu, ambilin minyak kayu putih aja atau sejenisnya," pinta Defta usai mengecek pertukaran oksigen di hidung atasannya. Ia pernah jadi PMR dan sedikit banyak paham situasi macam ini. Ditambah kakaknya adalah dokter yang sering mengajarinya sekilas tentang hal-hal ringan dalam dunia medis. "Bentar, gue selalu bawa minyak kayu putih di tas, semoga nggak kelupaan," kata Ines langsung melesat menuju kubikelnya untuk mengambil benda tersebut. "Def, lo yakin Pak Zidan nggak pa-pa?" "Gue rasa sih cuma kelelahan atau darah rendah." "Sok tahu lo." "Ye, biar kita nggak panik harus positif thingking." Ines datang menyodorkan minyak kayu putih beraroma lavender pada Defta. Pria itu menuangkan sedikit di telunjuknya dan mengibaskannya di bawah lubang hidung Zidan. Tak sampai lima menit kelopak mata Zidan mulai berkedip, badannya mulai agak bergerak. Dan ia pun sadar kembali. "Pak Zidan perlu kita panggilin dokter?" Ines berusaha memastikan. "Nggak perlu, Nes," balas Zidan masih lumayan lemas dan pusing. Icha meraih gelas  dan mengambil air di dispenser untuk diberikan pada Zidan. "Kalian tolong tinggalkan saya, lanjutin kerjaan lagi aja," perintah Zidan seraya mengurut kening. Mereka pun beranjak. Icha dan Defta ke luar lebih dulu melupakan berkas mereka. Sedangkan Ines menyusul belakangan. Lengannya ditahan oleh Zidan. "Boleh minta tolong, Nes?" Gadis itu memicing bingung. Ada perasaan sungkan dan tak nyaman ketika lima jemari Zidan menyentuh pergelangan tangan kirinya. "Pak Zidan butuh sesuatu?" tanyanya ragu. Zidan menggeleng lunglai. "Tolong panggil Angel ke ruangan saya." "Angel?" Jelas saja Ines makin tak mengerti. Kenapa temannya harus datang ke ruangan Zidan? "Ah itu, saya tadi titip sesuatu ke dia." Meski masih menaruh kecurigaan, akhirnya Ines menuruti permintaan atasannya. Ia memanggil Angel di ruangan sebelah ruang divisinya. Ines makin tak paham mendapati raut muka Angel berubah pias dan khawatir sekali begitu mendengar Zidan habis pingsan. Tanpa peduli pandangan penuh tanya Ines, ia melesat meninggalkan temannya dalam pikiran yang berkecamuk tak terjawab. Derap langkah cepat Angel sempat mengalihkan perhatian para karyawan divisi admin dan bagian komplain. Sangking banyaknya pekerjaan, mereka tak acuh saja dan melanjutkan aktifitas masing-masing. Hal biasa bila ada karyawan tergesa menuju ruangan bos. Paling kalau bukan kena tegur akibat kesalahan dalam bekerja, ya dapat bonus bila kinerja bagus. "Kamu kenapa?!" seru Angel cemas. Ia duduk dengan gusar di samping Zidan yang pucat. Jemari lentiknya menjelajahi wajah sang kekasih penuh sayang. "Mukamu pucat banget," katanya iba. "Cuma telat makan dan banyak pikiran kayaknya." "Udah minum obat? Kupesanin makanan ya?" "Udah pesen barusan. Nggak perlu." "Masih mikirin soal kemarin?" "Nggak tahu apa aku sanggup lanjutin pernikahan kami." Angel menggenggam tangan Zidan. Seakan berusaha menyalurkan kekuatan dan ketegaran di sana. Dalam hati ia sangat bahagia bila memang akhirnya Zidan berpisah dengan istrinya. Lalu memilih bersama Angel selamanya. Membayangkan saja ia merasa sangat senang sekali. Sampai-sampai seperti ada banyak kupu-kupu melayang di sekitarnya. Hanya saja, masih ada sisa perasaan sebagai sesama wanita di dalam diri Angel. Sebagian rasa kasihan pada Laras. Ia memang ingin hidup bahagia dan memiliki Zidan secara utuh dan terang-terangan. Tapi, bukan dengan cara menghancurkan hati wanita lain. Ia belum ingin menjadi orang jahat. Meski pada kenyataannya, tanpa sadar Angel telah berperan sebagai antagonis sekaligus orang ketiga dalam rumah tangga Zidan. "Setidaknya kamu harus tunggu bayi kalian lahir," tukasnya ingin menenangkan Zidan. Bukannya tenang Zidan malah kesal. Tangannya terkepal seolah ingin meninju sesuatu. "Kamu tahu, Njel. Kalau aku bercerai dengan Laras apa yang akan terjadi?" "Apa?" "Aku harus membayar semua hutang keluargaku dan kehilangan pekerjaanku sekarang." Angel terkesiap mendengar kejujuran yang selama ini belum pernah ia selami. Ia kira kekasihnya bertahan karena tak tega pada istrinya. "Jadi maksud kamu, kamu takut kehilangan ini semua? Aku nggak ngerti sama kamu. Kerjaan banyak, bisa dicari. Apalagi kamu sarjana S2. Pengalaman nggak perlu diragukan. Soal hutang berapa pun itu, kalau ada kerjaan pasti bisa dicicil." Angel sok menasehati. Ia lupa Zidan benci digurui saat pikirannya tengah kacau balau. Ucapan panjang Angel nyaris menikam dirinya sendiri. Zidan marah karena Angel ternyata tak memahami maksud jelasnya. "Kamu pikir aku bisa melawan keluarga Rakabumi?! Namaku akan di-blacklist dari semua perusahaan besar, terlebih kolega mereka! Kamu pikir mudah dapat uang dua miliyar?! Mau berapa lama nyicil biar bisa lunas?!" Emosi Zidan terpancing. Suaranya meninggi. Untung ruangan itu kedap suara dan agak berjarak dari ruang divisi para karyawan. Kalau tidak, mungkin gosip akan segera melebar luas dalam hitungan jam saja. "Maaf. Aku nggak bermaksud begitu. Maaf ya? Aku nggak tahu kalau sebanyak itu hutang keluargamu dan resikonya separah itu." Angel tertegun. "Kamu kupanggil ke sini buat menghibur bukannya nambahin bebanku! Keluar!" pekik Zidan tak bisa lagi menahan kendali. Salah satu hal yang selalu jadi beban berat di atas punggungnya adalah masalah ini. Dan Angel tak mampu memberi solusi atau minimal semangat bagi Zidan. "Maaf, Sayang. Maaf ... " Zidan sudah terlanjur naik darah. Ia tak menggubris Angel dan berdiri dari tempatnya duduk. Bila dibiarkan larut, kemarahan Zidan pasti tak kunjung surut. Angel ambil inisiatif memeluk dari belakang. Tangannya lincah membelai d**a bidang pria itu. Ia tak boleh membiarka kemarahan Zida makin menjalar rata. Sudah jadi hal biasa baginya menghadapi emosionil Zidan yang sering naik turun tak tentu. Satu-satunya cara meredamnya adalah dengan hal ini. Benar saja, Angel hafal area sensitif Zidan. Pria itu membalik badan. Bibirnya mencari bibir Angel, memagutnya semakin dalam dan panas. "Emh ... di sini?" Angel tersengal mengatur nafas. "Why? Nggak akan ada yang lihat." "Tapi, ini kantor." "Nggak masalah, aman ... " "Tapi-" "Makanya jangan mancing-mancing dong, Sayang ... " Zidan memagut bibir Angel lagi. Dua tangannya bergriliya menyusuri lekuk tubuh gadis itu. Semakin panas keduanya saling bereaksi. Satu tangan Zidan menyusup dalam kemeja Angel yang entah sejak kapan kancingnya lepas semua. Jemarinya lincah bermain dengan kekenyalan d**a empuk di dalam sana. Erangan Angel menjadi-jadi tapi tertahan pelan. "Emh ... " Giliran tangan Angel mengelabui bagian bawah Zidan. Meremasnya kuat hingga pria itu mengerang nikmat. "Tapi janji jangan marah lagi ya?" bisik Angel mesra. Zidan tersenyum licik. "Tergantung servismu, Sayang ... " =====♡Secret Lover♡===== 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD