Bab. 3 - Masa Bodoh

1214 Words
Sering kita melihat tanpa mau memahami. Sering pula kita terluka tanpa mampu mengobati. Pada akhirnya yang terlihat melukai bisa jadi pengobat luka itu sendiri... *** Beberapa saat berada dalam puncak amarah dan dilema berkepanjangan, Disya memutuskan pura-pura tak peduli. Ia tak ingin ikut campur urusan rumah tangga kakak keduanya. Mengingat sifat dan sikap menyebalkan Laras semasa belum menikah, ia pikir mungkin Tuhan tengah menghukum kakaknya sehingga harus bersuamikan tukang selingkuh begini. Kalau boleh diingat lagi, Disya juga kesal pada keegoisan Laras. Sampai-sampai perhatian orang tuanya seakan lebih banyak tertuju pada sang kakak dibanding dirinya. Itu sebabnya Disya jadi punya watak pembangkang dan seenaknya sendiri. "Kapan sih kamu dewasa, Dis? Pilih cowok yang bener dan berkelas dong, jangan sembarangan comot dari pinggir jalan. Hidup susah itu nggak enak tahu?" "Memangnya nikah sama pengusaha kaya, milioner, atau pejabat sekali pun bisa jamin hidup bahagia?" "Dis, kamu itu masih kecil. Belum ngerti apa-apa. Nanti kalau udah tahu susahnya hidup apalagi di kota besar, baru tahu rasa. Inget peribahasa lama, uang bukan segalanya tapi segala-galanya butuh uang." "Dan inget juga, Kak, uang belum tentu bisa membeli kebahagiaan dan kesetiaan seseorang." "Oh ya? Aku bisa bikin cowok mana pun takluk cuma dengan uang. Siapa sih yang rela kehilangan bank berjalan kayak aku?" "Waktu akan membuktikan segalanya. Hati-hati kalau bicara, Kak. Jangan nantangin Yang Kuasa buat kasih teguran nanti." Dan benar saja. Perdebatan mereka baru saja membuahkan hasil buruk. Agaknya Laras harus menerima kenyataan bahwa ia termakan ucapan sendiri. Ada perasaan puas dalam hati Disya sebagai adik yang tertindas dan kalah saing, tapi juga ada rasa kasihan menyusup dalam dirinya. Tak tega mengingat kakaknya tengah hamil. Bila ia beritahu kelakuan suaminya di luar, kemungkinan jelek bisa saja terjadi. Disya memilih bungkam demi kebaikan bersama. Ia hanya bisa berdoa semoga kelak kebenaran  terbongkar tanpa sisa, walau tanpa campur tangan Disya yang sok memanasi keadaan. Disya berlalu masuk kamar Ines dan berbaring di sebelah si pemilik. Tentu saja sebelum tidur Ines telah berpesan agar gadis itu tidur di kamarnya saja, daripada di ruang tamu. Mereka berdua mudah akrab meski baru pertama kali bertemu. "Aku rasa Kak Ines cocok jadi jodohnya Kak Gibran," gumamnya seorang diri, saat mengingat ramah tamah dan kebaikan Ines padanya. Esoknya, Angel terkejut dengan kehadiran orang asing di kontrakan mereka. Ia berteriak histeris mengatai Disya penyusup di dapur. Ines keluar kamar masih sambil menyisir rambut. Ia melihat Disya asik makan nasi goreng di meja makan. Sementara Angel memegang handuk hendak ke kamar mandi. "Lo siapa?! Mau maling ya?! Ngapain makan di sini, lo kira ini warung nenek moyang lo apa?!" seru Angel naik pitam. Disya berdecak sinis. Mengingat kejadian semalam, ia risih dan tak suka. "Nggak punya sopan santun ya? Atau memang nggak pernah belajar sopan santun selama ini? Ada orang makan kok teriak-teriak nggak jelas," katanya tak acuh. "Orang baik kayak Kak Ines kok bisa kenal sama makhluk astral gini sih?!" gerutunya pelan. "What? Apa lo bilang?! Lo berani ngomong gitu sama gue? Siapa sih lo? Anak nyasar dari mana coba bisa masuk dan santai makan di dapur gue?" Angel berkacak pinggang. Handuk ia sampirkan ke pundak rampingnya. Matanya melotot emosi. "Udah-udah, kalian berdua baru ketemu udah kayak Tom and Jerry aja sih. Masih pagi ini, nggak baik ribut-ribut. Di dengar tetangga nggak enak juga kan," seloroh Ines menengahi keadaan. "Siapa sih nih anak songong, Nes? Kenalan lo? Belagu amat tampangnya," keluh Angel. "Iya, sorry Njel gue belum bilang semalem soalnya lo belum pulang. Namanya Disya. Tadi malem nginep di sini." Angel kelabakan. "Oh itu, gue lembur mendadak semalem," ucapnya cari alibi. "Ngelembur di kantor apa ngelembur di kamar ya?" sindir Disya sarkastis. "Lo ngoceh apa barusan?! Heh, bocah, kalau ngomong pakai tata krama ya?! Udah numpang, nggak tahu diri pula," cibir Angel tak mau kalah. Belakngan emosinya naik turun akibat telat datang bulan. Untungnya ia tidak hamil karena sudah cek dengan tespek. "Njel, lo kok sensi banget sih? Disya juga sama yang lebih tua harus sopan loh," nasehat Ines pada keduanya. Angel tak peduli, ia melengos dan berjalan ke arah kamar mandi. Sedangkan Disya baru mengangkat telepon dari temannya. Selagi Disya sibuk berkutat dengan obrolan, Ines melihat atas meja. Ada nasi goreng beserta lalapan tersaji atas sana. Tidak ketinggalan teh hangat terhidang pula. "Ini kamu masak sendiri?" tanya Ines begitu Disya menyudahi panggilan telepon. "Iya Kak. Tadi lihat isi kulkas dan pengen bikinin sarapan buat Kak Ines. Hitung-hitung balas budi sebagai ungkapan terimakasih. Maaf kalau kurang sopan." Ines heran kenapa sikap Disya berbanding terbalik saat berhadapan dengan Angel tadi. Tapi ia mengenyahkan kebingungan itu dan ikut duduk untuk sarapan. Lumayan hemat makan pagi tak perlu beli di warung. Sambil makan mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Dari mulai hobi, makanan kesukaan, sampai berapa kali pacaran. Disya sampai tak percaya kalau Ines belum pernah pacaran satu kali pun. Ines juga sulit percaya kalau Disya baru pacaran satu kali. Keduanya punya sedikit kesamaan dalam urusan cinta. Bedanya, Disya tak berhasil melanjutkan cinta pertama dan kandas begitu saja. Lalu Ines tak sempat menikmati romansa cinta pertama karena bertepuk sebelah tangan. "Oh iya, Kak Ines tahu Zidan Sanditama?" "Tahu. Beliau general manajer  di kantor. Kenapa?" "Kenal istrinya?" "Kenal sih nggak, cuma tahu dan pernah lihat beberapa kali." "Terus, kalau temen Kakak barusan, kira-kira punya pacar nggak?" Ines terkekeh mendengar pertanyaan aneh Disya. "Kenapa kepo sama dia? Tadi berantem, sekarang kayak pengen tahu gitu?" "Penasaran aja, cewek kasar kayak gitu jomblo apa nggak." "Eh, Angel tuh aslinya baik loh. Cuma kalau sama orang baru dia memang agak over waspada. Soalnya dia pernah kena tipu temennya dulu." "EGP sih Kak. Aku nggak respek sama dia." "Kok gitu? Kalian kan baru tatap muka sekali. Kamu aja sama aku bisa baik kan?" "Seperti yang Kak Ines bilang. Niat baik pasti dibalas baik. Kalau nggak baik ya jangan minta dibaikin sama orang lain." "Kenapa ngomongnya gitu? Memangnya dia ada salah apa sama kamu?" "Bukan sama aku sih tapi tetep aja aku nggak suka sama perbuatannya, Kak." Ines makin tak memahami maksud arah pembicaraan Disya. Dari situ Disya sadar kemungkinan besar Ines belum tahu tentang Angel diam-diam berhubungan spesial dengan atasannya yang sudah beristri. ===== Di kantor Ines sedang menyerahkan berkas pada Zidan. Mereka bicara seperlunya seputaran pekerjaan. Zidan dapat telepon dari istrinya. Ia berdiri menyingkir sebentar. Ines menunggu sambil mengecek berkas-berkasnya. Wajah Zidan berubah beku dan frustrasi usai menerima telepon. Kepalanya agak pusing, badannya limbung hampir jatuh. Ines bergegas mendekat dan membantu Zidan duduk. "Pak Zidan sakit?" paniknya. "Cuma kecapekan aja sih kayaknya." "Mau saya pesankan obat, Pak?" "Nggak perlu, Nes. Makasih." "Kalau gitu saya tinggal dulu, Pak. Berkasnya sudah saya rapikan." Ines melangkah tapi suara pecahan gelas menghentikan niatnya. Ines berbalik melihat Zidan memegangi kepala. Satu tangannya baru saja ingin meraih air putih dalam gelas. Namun karena kepala pusing, ia jadi tak punya cukup tenga untuk memegangi gelas dengan benar. "Pak Zidan! Pak Zidan kenapa?!" Ines berhambur memegangi bahu Zidan. Pria itu mendongak menatap wajah Ines yang begitu dekat. Entah kenapa, ada keteduhan di dalam mata indah itu. Sorot kecemasan yang baru pertama ia lihat untuk dirinya. "Kamu baik, Nes ... " lirih Zidan hampir tak terdengar. Dan ia pun pingsan dalam dekapan Ines. Detik itu Ines belum sadar, seolah datang  pertanda akan ada masalah panjang timbul ke permukaan. =====♡Secret Lover♡===== Hai? Sudah tap love dan simpan di library kalian? Wah, terimakasih kalau sudah. Ikutu terus ya perjalanan kisah Ines di Secret Lover.   ======================== 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD